Sudah baca tanggapan Rizal Malarangeng di Kompas? Beberapa tanggapan sejenis juga muncul dari nama-nama yang tercantum dalam iklan heboh itu di millist islib.
Yang menyedihkan, tanggapannya lebih terasa seperti bermain kung fu silat lidah ketika menggiring issuenya jadi issue kebebasan berpendapat, posisi intelektual & demokratisasi ini sangat kental bau -bau "ngeles" alias berkelit. Entah benar atau tidak, menurut saya issuenya bukan itu. Issuenya adalah kebijakan kenaikan bensin, dibungkus dengan propaganda yang buruk, dan bisa dimaknai sebagai kebohongan publik, atau setidaknya suatu upaya pembodohan. Dan issue ini jadi semakin penting, ketika 'ndilalah kalangan intelektual yang harum-harum bin wangi ternyata turut serta secara aktif berpartisipasi ambil bagian dalam upaya pembodohan pada rakyat. Memaknai sebagai suatu pembodohan itu sangat beralasan, pertama, karena istilah subsidi yang digunakan masih debatable. dalam tataran ilmiah dengan perhitungan eksak soal anggaran, biaya produksi minyak, dan tetek bengeknya sekaligus, istilah subsidi itu masih debatable. itu faktanya. Belum lagi propaganda yang menonjol-nonjolkan pemikiran bahwa masyarakat dari golongan miskin tidak tersentuh kenaikan bbm secara langsung, dan sebaliknya akan tersentuh dampak langsung program kompensasi yang diberikan. Padahal kebenaran (paling tidak tentang point yang kedua) bisa mudah diperoleh kalau mau melihat realita di masyarakat. Tapi gedung tinggi berAC sejuk tenan, dan kaca-kaca gelap di balik mobil, rupanya memang membuat realita di masyarakat jadi semakin kabur buat para intelek. Padahal, kita tinggal bangkit dari ruangan ber-AC yang nyaman, lalu hirup sejenak kopi bersama para tukang becak di warung kampung, atau di warteg pinggir jalan. Kita tinggal tinggalkan sejenak jok beludru dan alunan MP3 dari DVD yang muter di kendaraan pribadi, lalu naik angkot bareng-bareng ibu -ibu kepasar Lalu tanya : Berapa pendapatan keluarganya maksimum sebulan. Lalu tanya lagi : Berapa besar komponen transportasi dalam anggaran rumah tangganya setiap bulan. Untuk Jakarta, Pekerja dengan gaji maksimum satu juta, yang tinggal di Bekasi, Bojong, Depok, Tanggerang, dll, untuk ongkos perhari bisa 8000-9000 rupiah. Itu baru untuk bapaknya pergi kerja. Belum anaknya sekolah, belum ibunya ke pasar. Nilai rata-rata 30%-35% anggaran rumah tangga tersedot untuk transportasi adalah nilai yang mudah ditemukan dengan kalkulasi sederhana. Kalau akibat bensin naik, beban ongkos dalam anggaran rumah tangga jadi naik sampai 50% atau bahkan lebih, tentu bisa dibayangkan sendiri akibatnya. Ketika pendapatan satu juta tinggal bersisa 500 ribu (atau kurang dari itu), dan nilai itu harus digunakan untuk mencukupi makan, bayar listrik, kontrak rumah, berobat, dsb. selama satu bulan. (katakanlah untuk satu keluarga dengan minimal dua anak) maka peribahasa yang paling marak di masyarakat, bukan hanya "besar pasak daripada tiang", tapi juga "gali lubang tutup lubang". Berhutang bakal jadi budaya (pemerintah sih memang sudah membudayakan ini) karena itulah solusi alternatif yang paling masuk akal. Parahnya, pekerja dengan gaji satu juta perbulan, tidak termasuk keluarga miskin. Dan tidak berhak atas jatah beras miskin, pengobatan gratis, dll, yang menjadi program kompensasi Selain bakal ditolak mentah-mentah oleh petugas kelurahan, mereka juga malu kalau harus melabeli dirinya dengan sebutan "keluarga miskin" Dan rasa malu ini harus pula dihargai, karena mereka memang bukan kelas masyarakat yang sering dikatakan dengan label negatif "sampah masyarakat". Mereka bukan pengangguran, karena mereka punya pekerjaan. Mereka bukan penjahat, karena bahkan anak-anaknya masih diupayakan bersekolah Mereka juga sedikitnya termasuk pembayar pajak, karena mereka masih jadi pembeli barang dan jasa yang ditawarkan di pasaran. Bioleh jadi mereka malah penggeliat utama perekonomian negera ini, karena mereka adalah konsumen pelahap produk barang dan jasa yang ditawarkan dunia usaha. Dan kalau perhitungan komposisi rakyat di indonesia, yang tergolong miskin 30%, yang kaya 10% sampai 20% maka yang berpendapatan maksimum satu juta ini boleh jadi menjadi bagian terbesar dalam komposisi rakyat indonesia. Tapi anehnya, bagian terbesar masyarakat indonesia ini malah tidak diperhitungkan dalam kebijakan kenaikan bensin atau "penghapusan subsidi", dan mereka juga tidak tersentuh program kompensasi yang dijadikan substitusi "penghapusan subsisdi" tersebut. Realita ini yang menjadi issue yang terlupakan, atau sengaja dilupakan, atau malah ditutupi oleh pemerintah dalam propagandanya seputar kenaikan BBM, yang kemudian didukung para intelektual, ketika rame-rame menyokong lewat iklan satu halaman penuh. Bahwa apapun tujuan dan alasannya, tetap saja golongan terbesar dari rakyat indonesia (yaitu golongan menengah) akan terpengaruh secara besar perekonomian keluarganya saat harga bensin dinaikkan. Mulai dampak langsung berupa naiknya beban transportasi dalam anggaran rumah tangga, maupun penurunan daya beli akibat semakin sedikitnya sisa anggaran untuk membeli dan masih ditambah hantaman inflasi akibat naiknya harga barang Tapi... Paling miris saat membaca tanggapan, adalah ketika upaya membelokkan issue pada konteks iklim demokratisasi, lalu -entah sengaja atau tidak- memunculkan satu ujar yang menyerupai sebuah tantangan pada pihak penentang kebijakan untuk membuat iklan versi penentang serupa dengan iklan versi pro kebijakan. "kalau perlu dua halaman penuh" kurang lebih begitu katanya.. Ini benar-benar "sesuatu yang wah"... betul-betul menimbulkan decak kagum.. dan rasa mual luar biasa. Sentaby, DBaonk -- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Anti-Virus. Version: 7.0.300 / Virus Database: 266.5.2 - Release Date: 28/02/2005 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
