04 March 2005
Tanggapi atas klaim Malaysia TNI 'Siap Perang' di Wilayah Sulut Selain mengerahkan KRI Wi-ratno, KRI Rencong, dan KRI Nuku, TNI melakukan gelar pa-sukan 'siap perang' di kawasan utara Sulawesi Utara, menyusul klaim Malaysia terhadap kawa-san ladang minyak tersebut. TNI AL mengakui telah mengirimkan tiga kapal perang tersebut, se-perti dikemukakan Kadispen Ko-mando Armada RI Kawasan Ti-mur (Koarmatim) Letkol Laut (P) Guntur Wahyudi. Guntur mengakui bahwa me-mang ada pesawat tentara diraja Malaysia yang memasuki wilayah NKRI, bahkan sempat melintas di buritan KRI Wiratno. Namun ia me-ngaku tidak tahu persis bagai-mana kontak melalui radio antara KRI Wiratno dengan pesawat ten-tara Malaysia itu. Dikatakannya, selain tiga kapal perang, TNI AL juga mengerah-kan dua pesawat intai maritim jenis Nomad, yakni P-820 dan P-834. Ketiga KRI dan pesawat itu mengawasi seluruh pelang-garan yang kemungkinan terjadi di perairan Indonesia, termasuk pelangaran pesawat udara asing. Harian Kompas hari ini membe-ritakan, dua kapal TNI AL sedang bergerak untuk mendukung KRI Wiratno, KRI Rencong, dan KRI Nuku. Sementara itu, Menteri Perta-hanan Juwono Soedarsono membenarkan ada pengerahan pasukan TNI di kawasan di uta-ra Sulawesi Utara. Menurut Menhan, pengerahan pasukan di kawasan itu merupakan ba-gian dari upaya Indonesia mem-pertahankan kawasan yang menjadi bagian dari wilayah NKRI. Ditanya target dari gelar pasukan tersebut, Menhan mengatakan antara lain agar suara Indonesia di dengar oleh pihak Malaysia. "Sebagai teka-nan agar penyelesaian secara diplomasi didengar. Sikap lebih lanjut atas persoalan itu," kata Menhan. Di sisi lain, Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga meminta pemerintah bertindak tegas atas pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan RI di Laut Sulawesi, yang belakangan di-klaim sebagai wilayah Malaysia. "Kita tahu persis bahwa kawa-san Ambalat di Laut Sulawesi itu adalah wilayah perairan kita," kata Theo Sambuaga. Oleh karena itu, kalau ada upa-ya-upaya pihak asing untuk menguasai wilayah tersebut melalui kehadiran kapal-kapal mereka, pergelaran tenaga-te-naga mereka, apalagi kalau sam-pai mereka menggelar pasukan di sana, maka pemerintah ha-rus mengambil tindakan tegas. Pemerintah Malaysia melalui PM Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi mengakui kawasan kaya migas di Laut Sulawesi itu sebagai milik Malaysia, yang diberikan Petronas kepada Shell. Sementara itu, Departe-men Luar Negeri RI menyam-paikan protes bahwa tindakan Malaysia itu dianggap sebagai melanggar kedaulatan Indone-sia dan Pemerintah RI telah me-nyampaikan protes itu sejak 1980. Pemerintah RI juga telah membuat kontrak pengelolaan Blok Ambalat dan Blok East Am-balat itu kepada investor asing. Seperti diberitakan sebelum-nya, Malaysia menyebut wila-yah sebagai Blok XYZ. Di dalam Blok XYZ itu Malaysia membe-rikan konsesi pertambangan minyak kepada perusahaan raksasa pertambangan minyak Inggris/Belanda, Shell. Konsesi tersebut terletak di Blok ND 7 dan ND, bagian dari Blok XYZ. Indonesia menyebut blok yang diklaim Malaysia itu sebagai Blok Ambalat dan Blok East Ambalat. Di Blok Ambalat, In-donesia telah memberikan kon-sesi kepada ENI (Italia) pada ta-hun 1999. Konsesi di Blok East Ambalat diberikan kepada Uno-cal (AS) pada tahun 2004. Status Blok Ambalat kini su-dah dalam tahap eksplorasi (pe-nambangan). Untuk Blok East Ambalat, kontrak baru ditan-datangani pada 13 Desember 2004 oleh Pemerintah RI dan Unocal. Namun, kontrak ini men-jadi kontroversial karena wila-yah tersebut diklaim Malaysia sebagai wilayahnya. Malaysia berpendapat bahwa wilayah pertambangan minyak dan gas lepas pantai di East Ambalat oto-matis menjadi milik Malaysia se-telah Pulau Sipadan dan Ligitan dinyatakan sebagai wilayah Ma-laysia beberapa waktu lalu ber-dasarkan keputusan interna-sional. Pada bagian lain, Presiden SBY telah mengadakan perte-muan mendadak dengan Pang-lima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Staf TNI Ang-katan Darat (KSAD) Letnan Jen-deral Djoko Santoso, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya Slamet Soe-bijanto, dan Kepala Staf TNI Ang-katan Udara (KSAU) Marsekal Madya Djoko Suyanto, memba-has masalah perbatasan Indo-nesia dengan Malaysia. Turut hadir dalam pertemuan di kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (03/03) sore, itu Menteri Perhubungan (Menhub) Hatta Radjasa dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Susilo memberi ara-han agar Menhub Hatta Rad-jasa menentukan titik-titik pa-tok perbatasan yang ada di wila-yah terluar Indonesia. "Antara lain titik di Pulau Karang Gu-marang," ujar Sekretaris Ka-binet Sudi Silalahi. Menhub juga diperintahkan mendirikan mercu suar di pu-lau tersebut. "Terkait dengan ma-salah tersebut, Dephub men-dapat tugas mendirikan mercu suar di Pulau Karang guma-rang, itu merupakan pulau ter-luar kita yang itu salah satu ba-gian yang diklaim Malaysia," tambah Panglima TNI. Panglima TNI mengatakan, In-donesia selalu berpegang pada prinsip hukum internasional. Menurut hukum internasional, Malaysia yang bukan negara kepulauan tidak bisa meng-klaim batas wilayah lautnya le-bih dari 12 mil laut. "Kita ber-patok pada hukum interna-sional yang tidak memberi hak kepada Malaysia yang bukan negara kepulauan untuk meng-klaim lebih dari 12 mil," ujar Endriartono. Sudi Silalahi menambahkan, Indonesia bukan negara yang suka menambah batas wilayah-nya. "Kita bukan negara yang ekspansif yang mencari-cari wilayah lain, kita punya wilayah sendiri itu yang kita perta-hankan," katanya. Presiden, kata Sudi, meminta Panglima tetap melaksanakan tugas pertahanan dengan tidak melakukan hal-hal yang eks-trem. Panglima TNI diminta te-tap melakukan tugas sesuai prosedur tetap pertahanan wi-layah.(kcm/*) � Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
