Suara Karya

Pembangunan Kelautan di Persimpangan Jalan
Oleh Muhamad Karim 


Kamis, 19 Mei 2005
Sejak Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dilantik Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY), pembangunan kelautan berada di persimpangan jalan. Di satu 
sisi pemerintah menginginkan pembangaunan kelautan sebagai prime over 
pembangunan ekonomi nasional, khususnya di sektor perikanan dan industri. Namun 
di sisi lain pemerintahan SBY tidak memperlihatkan kemauan yang serius untuk 
membangun sektor kelautan. Bukti yang paling jelas adalah penghapusan dana 
komponsasi harga BBM bagi nelayan miskin yang merupakan komunitas terbesar 
masyarakat pesisir. Sementara, Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) tidak 
memiliki program yang jelas tentang pembangunan kelautan Indonesia ke depan. 

Sektor kelautan merupakan sektor yang multidimensi yang mencakup sub-sektor 
pertambangan lepas pantai, transportasi laut, perikanan, pariwisata bahari dan 
jasa-jasa kelautan. Diperkirakan pada tahun 2003 sektor ini jika dihitung 
secara agregat mampu menyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 22,53% 
dari total PDB nasional. (PKSPL-IPB, 2005). Pertanyaannya sekarang, mengapa 
pemerintahan SBY tidak mampu menciptakan program yang jelas untuk mengenjot 
sektor kelautan sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional? 

Pertanyaan ini penting karena sektor kelautan harus dipahami dalam konteks 
multisektoral dan lintas sektor dalam pembangunan ekonomi. Bersifat 
multisektoral karena sektor kelautan mencakup beberapa bidang pembangunan yang 
satu sama lain saling memiliki keterkaitan vertikal maupun horisontal, 
misalnya, transportasi laut dan kepelabuhanan, dan pariwisata bahari, perikanan 
dan industri pengolahan serta perkapalan. Bersifat lintas sektoral karena 
sektor kelautan melingkupi kewenangan beberapa institusi negara yang memiliki 
bidang kerja yang terkait laut, misalnya, perhubungan, pariwisata dan budaya, 
energi dan sumber daya mineral serta kelautan dan perikanan. 

Problemnya, institusi-institusi tersebut tidak memiliki platform dan arah 
kebijakan pembangunan yang sejalan dalam bidang kelautan. Masing-masing 
institusi negara berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang jelas. 
Jadi, tidak usah heran, di negara kita begitu ramainya kejadian pencurian ikan 
di tengah laut, penambangan pasir ilegal, penyelundupan BBM dan kayu 
gelondongan melalui jalur laut ke negara tetangga, serta penguasaan sektor 
transportasi laut oleh pihak asing. Inilah salah satu bukti "kegagalan" kita 
membangun sektor kelautan yang hanya setengah hati. 

Kolaborasi Pemikir


Sejauh mana peranan sektor kelautan dalam pembangunan ekonomi dan prospek 
pengembangannya, sebenarnya sudah banyak diberikan oleh hasil penelitian 
lembaga-lembaga studi kelautan di perguruan-perguruan tinggi. Namun, 
penelitian-penelitian tersebut kerapkali tidak ditanggapi serius oleh kalangan 
pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini karena adanya kelompok pemikir 
pembangunan di lingkaran kekuasaan pusat dan daerah yang menganut mainstream 
pemikiran dominan beraliran neo-liberalisme dan tidak memiliki latar belakang 
pemikiran yang munpuni dalam bidang kelautan. Padahal, jika kalangan pemikir 
mau berkolaborasi dan menghilangkan egosentris masing-masing, maka tidak 
menutup kemungkinan trade mark Indonesia sebagai negara kepulauan, ataupun 
negara maritim yang maju, benar-benar menjadi kenyataan. 

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pun yang dibentuk sejak 1999 tidak 
mampu menghadapi kekuatan hegemoni pemikiran mainstream, yang mendominasi rezim 
kekuasaan sejak 1999 hingga kini. Akibatnya, DKP tidak mampu melakukan 
terobosan dalam hal pembangunan kelautan. Jadi, wajar saja DKP tidak mampu 
mengurusi illegal fishing dan selalu kalah dalam meng-golkan kebijakan 
pembangunan. Contoh konkretnya adalah dihilangkannya dana kompensasi harga BBM 
bagi nelayan miskin. 

Makanya, sulit bagi DKP akan mampu membereskan hal-hal yang lebih besar lagi 
seperti kemiskinan nelayan ataupun memotong jaringan bisnis di sektor kelautan 
yang telanjur menggurita. Dipastikan DKP akan berhadapan dengan "tembok 
raksasa" yang memiliki akses ekonomi dan politik yang kuat terhadap lingkaran 
kekuasaan pemerintahan. 

Apabila kita menganalisis prospek sektor kelautan dalam pembangunan ekonomi, 
hasilnya cukup menjanjikan dengan mengacu pada beberapa indikator yang telah 
dihitung secara akademis. Indikator tersebut, pertama, Incremental Capital 
Output Ratio (ICOR) yang menggambarkan tingkat efisiensi investasi sektor 
ekonomi kelautan. Semakin kecil nilai ICOR menunjukkan investasi di sektor 
tersebut akan semakin efisien. Merujuk penelitian PKSPL-IPB tahun 2005 
diperoleh kesimpulan bahwa nilai ICOR perikanan 3,13, pertambangan laut 3,77, 
industri maritim 3,41, transportasi laut 3,69, pariwisata bahari 3,09, bangunan 
kelautan 4,22 dan jasa kelautan 3,39. Hasil penelitian ini mengambarkan 
investasi dengan tingkat efisiensi yang relatif tinggi seharusnya dilakukan 
pada sub-sektor pariwisata bahari, perikanan dan jasa kelautan. 

Kedua, Incremental Labour Output Ratio (ILOR) yang menggambarkan tingkat 
penyerapan tenaga kerja dalam sektor kelautan. Semakin besar nilai ILOR, maka 
penyerapan tenaga kerjanya akan semakin tinggi. Merujuk kembali pada hasil 
penelitian PKSPL-IPB 2005, menunjukkan bahwa nilai ILOR sektor kelautan adalah 
perikanan 14,02, pertambangan laut 10,14, industri maritim 11,16, transportasi 
laut 12,11, pariwisata bahari 13,90, bangunan kelautan 11,82 dan jasa kelautan 
13,20. Indikator ini menunjukkan bahwa sub-sektor perikanan, pariwisata bahari 
dan jasa kelautanlah yang memiliki daya serap tenaga kerja yang relatif tinggi. 

Dengan mengacu pada kedua indikator ini, maka program-program pembangunan 
kelautan yang menjadi prioritas utama adalah (i) perikanan yang terdiri dari 
penangkapan ikan laut, budidaya laut (marine culture), pembenihan, pengolahan 
biota laut serta budidaya perikanan darat; (ii) pariwisata bahari yakni 
pengembangan wisata pantai, olah raga air, panorama alam dan ecoturism di 
pulau-pulau kecil serta penunjang kegiatan wisata seperti hotel, penginapan, 
restoran, rumah makan, dan cindera mata; dan, (iii) jasa kelautan seperti 
pelayanan pelabuhan, pelayanan keselamatan pelayaran, perdagangan, pendidikan 
dan penelitian kelautan. 

Ketiga, peluang prospek ekspor hasil perikanan yang masih terbuka lebar. Jika 
kita melihat data-data perikanan negara-negara ASEAN, maka Indonesia tergolong 
menempati peringkat kedua setelah Thailand. Nilai ekspor produk perikanan 
Indonesia tahun 2003 mencapai 1.437,4 juta dolar AS, sedangkan Thailand 
mencapai 1.780,10 juta dolar AS pada tahun yang sama. Padahal kita semua tahu 
bahwa kapal-kapal Thailand "merampok" ikan di perairan Indonesia. 

Mengacu pada indikator-indikator di atas, seyogianyalah pemerintahan SBY 
merngubah cara berpikir konvensional, terlalu memandang sektor kelautan sebagai 
sektor yang membutuhkan biaya investasi dan mengandung risiko tinggi (high cost 
and risk investament). Pemerintahan SBY seharusnya mulai mengembangkan sektor 
ini dari sub-sektor riilnya seperti perikanan dan pariwisata bahari. Memang 
pada mulanya sub-sektor ini membutuhkan biaya yang relatif tinggi, akan tetapi 
masih lebih kecil dibandingkan dengan biaya investasi untuk pembangunan 
infrastruktur atau pembelian persenjataan militer. Harus dihindari, pemerintah 
berpikir "jalan pintas", yakni mendapatkan devisa yang cepat melalui 
eksploitasi sumber daya alam secara serampangan seperti penebangan hutan, baik 
secara legal maupun ilegal. 

Kita pernah mengalaminya di sektor kelautan, yaitu tatkala pemerintah dengan 
gampangnya mengizinkan penambangan pasir laut di perairan Riau yang kemudian 
diekspor ke Singapura. Memang pemerintah mendapatkan pemasukan melalui 
pendapatan negara bukan pajak (PNBP), akan tetapi dampak kerusakan lingkungan 
di daerah itu cukup parah, yakni hilangnya fishing ground dan mempengaruhi 
kehidupan nelayan tradisional di daerah tersebut yang akhirnya memerparah 
kemiskinan nelayan. Jadi, kita harus mulai berpikir bagaimana mengembangkan 
aktivitas ekonomi yang tidak hanya menghasilkan devisa tetapi mampu menyerap 
tenaga kerja. 

Supaya pembangunan kelautan memiliki visi dan arah yang jelas, stakeholders 
kelautan seharusnya melakukan langkah strategis dan politis agar pengambil 
kebijakan di negeri ini mulai berpikir dan mengedepankan kelautan sebagai 
penggerak alternatif pembangunan nasional. Semoga! *** 

(Penulis, peneliti CIDES Indonesia, tinggal di Bogor). 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke