http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/20/utama/1762644.htm

 
Pemimpin Agama Perlu Bicara Bahasa Kemanusiaan 


Jakarta, Kompas - Pemimpin agama tidak cukup berbicara dengan bahasa agama 
masing-masing, melainkan juga perlu berbicara dengan bahasa kemanusiaan 
sehingga terlibat dalam dialog global dan perdamaian universal. Apalagi dalam 
sejarahnya tradisi keagamaan telah berperan besar membentuk peradaban.

Hal itu dikemukakan Prof Dr Tu Wei Ming, pakar filsafat Timur dari Harvard 
University, dalam seminar "Confucian Ethics in a Changing World", Kamis (19/5). 
Seminar diselenggarakan oleh Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur di 
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), Depok.

Sebagai pembahas hadir Guru Besar Psikologi UI Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, 
Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara JD Sudarminta, dan Guru Besar Filsafat 
UI Prof Dr Toeti Heraty Noerhadi.

Menurut Wei Ming, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam dialog global, 
seperti kekerasan, pelestarian lingkungan, bahkan kesetaraan jender, perlu 
direspons dengan bahasa kemanusiaan. "Ini mengingat nilai-nilai bawaan 
modernisasi yang umumnya berkiblat ke barat itu tidak mencukupi karena kurang 
sejalan dengan keberlanjutan lingkungan hidup dan solidaritas sosial," paparnya.

Kemanusiaan sebenarnya terkait erat dengan peningkatan keimanan karena dalam 
sebagian besar diri manusia tertanam konsep surga dan dunia. Surga sebagai 
kekuatan terbesar dan dunia sebagai tempat manusia mengambil bagian dalam 
transformasi sosial. Maka, manusia belajar menjadi manusia dan terkoneksi 
dengan komunitas, alam, sekaligus juga hal surgawi.

"Jadi tidak sepenuhnya konsep abstrak. Dalam etika konfusius, misalnya, manusia 
aktif berpartisipasi dalam aktivitas kosmis atau alam semesta, yakni bagaimana 
menjadi manusia dan berinteraksi antarmanusia. Ini terkait dengan konsep 
kepedulian (care) dan tanggung jawab (responsibility) yang dekat dengan 
penerapan hak asasi manusia," katanya.

Selain itu, dalam pergaulan global sifat terbuka atau inklusif agama 
diperlukan. Tanpa inklusivitas, tidak ada dialog atau belajar mendengarkan 
serta menghargai yang lain. "Sebaik apa pun suatu agama, termasuk konfusius, 
hanya merupakan satu dari sekian tradisi yang hidup di dunia," katanya.

Nilai bersama

Untuk itu perlu nilai bersama (share value) agar dapat mendengarkan dan 
menghargai. Nilai bersama yang relevan tersebut, menurut Tu Wei Ming, ialah 
kemanusiaan (humanity), kebenaran (righteousness), kesopanan (civility), 
kearifan (wisdom), kepercayaan (trust), dan perdamaian (peace).

Dengan nilai bersama itu, masyarakat dunia dapat hidup berdampingan. Dalam 
konfusius, misalnya, sifat inklusif berguna dalam dialog global karena membuat 
ajaran tersebut terbuka terhadap nilai-nilai besar (great values) lainnya.

Dalam menghadapi permasalahan global-antara lain ditandai adanya dehumanisasi- 
etika dan nilai konfusius terbilang relevan. Demikian pendapat Toeti Heraty.

Hal ini, lanjutnya, mengingat ajaran konfusius juga memiliki sisi pragmatis 
dalam proses belajar menjadi manusia.

Nilai dalam konfusius, seperti keharmonisan dengan alam, keharmonisan dengan 
manusia lain, keterikatan politik dalam komunitas, sejarah sebagai memori 
kolektif, dan orientasi kosmologi serta spiritual, berguna dalam menghadapi 
persoalan kontemporer. Misalnya, krisis lingkungan hidup, feminisme, nilai 
lokal etnik, dan isu jaringan maya (cyber).

Terlebih lagi dengan dorongan moral sebagai alat dalam membangun karakter 
melalui pengalaman empati, rasa malu, penghormatan, kejujuran, serta kesadaran 
akan kesejajaran dan hierarki.

Mendukung pendapat Wei Ming, Sarlito menyatakan bahwa pemimpin agama dapat 
menjadi faktor kunci untuk masyarakat yang stabil, damai, dan berkelanjutan 
sepanjang mampu bicara dengan dua bahasa: agama maupun sekular intelektual, 
termasuk di dalamnya bahasa kemanusiaan.

Sayangnya, fenomena yang ada di Indonesia belum seperti itu. Survei yang 
dilakukan Sarlito pada tahun 1997 menunjukkan, sebagian besar pemimpin agama di 
Indonesia mempunyai kecenderungan untuk bersikap eksklusif ketimbang terbuka 
terhadap gagasan dari kelompok lain.

Sebagian dari mereka lebih peduli dengan status, posisi, dan kekuasaan. Tidak 
hanya dari segi keagamaan, tetapi juga dari sisi politik, sosial, dan ekonomi. 
Para pemimpin agama juga belum semuanya menaruh kepedulian terhadap kebutuhan 
sesama manusia.

"Tidak mengherankan dialog dan kehidupan bersama umat beragama di negeri ini 
masih sulit terwujud. Bahkan, terjadi konflik berdarah antaragama seperti di 
Ambon dan beberapa area di Jawa," katanya.

Kehidupan bersama antarumat beragama akan terwujud jika pemimpin agama mau 
mengubah eksklusivitas tersebut menjadi inklusivitas.

Adaptasi etika konfusius

JD Sudarminta menambahkan, etika konfusius yang antara lain meningkatkan 
tanggung jawab individu, mengembangkan toleransi, dan kepedulian pada dasarnya 
dapat diadaptasi.

Namun, adaptasi etika konfusius harus dilakukan dengan melihat realitas 
multi-etnik dan multireligi di Indonesia, dalam artian lebih untuk mencari 
nilai bersama yang memang dibutuhkan. Konfusian saat ini belum diakui sebagai 
salah satu agama resmi oleh Pemerintah Indonesia.

Tu Wei Ming berpendapat, kesulitan memastikan tradisi konfusian sebagai agama, 
etika, atau filsafat memang merupakan masalah umum dan kerap disalahpahami. 
Meski demikian, di beberapa negara termasuk China, tradisi spiritual yang besar 
sudah dapat menjadi agama. (INE


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke