Republika

      Rabu, 01 Juni 2005

      Benang Kusut Kemiskinan Nelayan 




      Muhamad Karim

      Alumnus Sekolah Pascasarjana IPB

      Beberapa minggu terakhir media massa ibu kota termasuk koran ini 
memberitakan kasus kematian dan penangkapan nelayan Indonesia oleh aparat 
keamanan Australia. Pihak Australia menganggap mereka menangkap ikan di 
perairannya. Anehnya, pemerintah Indonesia tidak memiliki kepedulian sama 
sekali, sehingga seorang nelayan kita meninggal dunia. Kejadian ini semakin 
menguatkan tesis yang mengatakan bahwa penyebab kemiskinan nelayan adalah 
kemiskinan struktural. Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita mengharapkan 
pemerintah untuk mengembangkan kebijakan pembangunan yang menghargai harkat dan 
martabat nelayan miskin. 

      Problem kemiskinan
      Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya sebagian 
besar bersumber dari aktivitas menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut 
lainnya. Mereka umumnya hidup di kawasan pesisir pantai dan sangat dipengauhi 
kondisi alam terutama angin, gelombang, dan arus laut, sehingga aktivitas 
penangkapan ikan tidak berlangsung sepanjang tahun. Pada periode waktu tertentu 
nelayan melaut karena angin kencang, gelombang besar dan arus laut yang kuat. 
Kondisi alam ini kerapkali disebut musim paceklik yaitu suatu musim dimana 
nelayan tidak beraktivitas sama sekali. Guna mencukupi kebutuhan hidupnya, 
mereka umumnya mengutang pada juragan yakni pemilik kapal dan alat tangkap.

      Utang akan dibayar saat kondisi alam membaik dan hasil tangkapan ikan 
melimpah. Prasyaratnya adalah nelayan harus menjaul hasil tangkapannya pada 
juragan dengan harga ditentukan juragan. Dampaknya buruk dari hubungan nelayan 
dan juragan ini adalah pada saat musim ikan ternyata nelayan tidak memperoleh 
hasil yang memuaskan. Akibatnya, utang tidak mampu dilunasi dan menumpuk karena 
musim paceklik berikutnya nelayan kembali mengutang pada juragan. 

      Pola hubungan nelayan-juragan ini kerap disebut sebagai patron-client 
(patronase). Pola hubungan ini mengakibatkan kemiskinan struktural nelayan 
menjadi lestari. Penyebabnya adalah nelayan tidak memiliki mata pencaharian 
alternatif dan sumber keuangan untuk menutupi hidup saat musim paceklik. 
Kemiskinan struktural pada masyarakat nelayan juga disebabkan oleh pola bagi 
hasil antara buruh nelayan dan juragan yang tidak adil dan terkesan 
eksploitatif. Pola bagi hasil dalam perikanan tangkap ditentukan berdasarkan 
jenis alat tangkap yang digunakan, misalnya gill net, purse seine atau pukat 
layang. Contohnya, pola bagi hasil dengan menggunakan alat tangkap gill net 
yaitu 50:50. Artinya, juragan mendapatkan bagian dan buruh nelayan bagian 
setelah dikurangi biaya operasional. 

      Anehnya, pola bagi hasil ini diberlakukan sampai umur ekonomis alat 
tangkap itu habis. Padahal dalam sistem investasi terdapat penyusutan alat. 
Pola bagi hasil dalam perikanan tangkap tidak pernah memperhitungkan penyusutan 
alat, sehingga sekalipun kemampuan dan kapasitas alat tangkap menurun, tetap 
saja juragan mendapatkan bagian 50 persen sejak alat itu dioperasikan. Problem 
pola bagi hasil inilah yang terlupakan oleh Raymond Firth ketika menyebutkan 
karakteristik penyebab kemiskinan nelayan yakni pendapatan nelayan yang 
bersifat harian (daily increment) dan sulit ditentukan jumlahnya; dari aspek 
pendidikan, komunitas nelayan dan anak-anak nelayan pada umumnya rendah; dari 
sifat produk yang dihasilkan nelayan pada umumnya berhubungan dengan ekonomi 
tukar menukar karena produk yang dihasilkan bukan makanan pokok; sektor 
perikanan yang menjadi mata pencaharian nelayan membutuhkan investasi besar dan 
cenderung beresiko tinggi dibandingkan sektor lainnya; dan kehidupan nelayan 
yang miskin diliputi oleh kerentanan, misalnya terbatasnya anggota keluarga 
yang terlibat secara langsung dalam kegiatan produksi dan ketergantungam mata 
pencaharian pada kegiatan menangkap ikan. 

      Kemiskinan struktural nelayan di Indonesia juga berkaitan dengan tindakan 
ekspolitasi sumberdaya ikan yang dilakukan oleh pemodal besar dan mendapat 
dukungan dari penguasa dan aparat keamanan. Salah satu penyebab mengapa nelayan 
NTT menangkap ikan sampai memasuki perairan Australia adalah ketidakmampuan 
mereka bersaing dengan armada penangkapan modern baik legal maupun ilegal yang 
beroperasi di perairan Arafuru. Padahal perairan ini dulunya menjadi tempat 
mereka menangkap ikan. Beroperasinya armada perikanan modern pada akhirnya 
memarjinalkan nelayan tradisional yang menggunakan motor tempel ataupun perahu 
bermotor. Problem seperti ini terjadi karena hak dasar nelayan untuk 
mendapatkan akses terhadap sumberdaya ikan tidak dilindugi dan dupenuhi oleh 
negara. 

      Negara lebih mengutamakan pengusaha perikanan modern. Selain itu, 
perkembangan kawasan pesisir sebagai daerah wisata maupun perikanan tidak serta 
merta meningkatkan kesejahteraan nelayan. Hasil kajian penulis dengan 
menghitung indeks perkembangan wilayah tahun 2004 di Pelabuhanratu, Sukabumi, 
menggambarkan bahwa infrastruktur wilayah yang berkembang pesat tidak berdampak 
terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan. Justru di kawasan inil malahan 
menjadi kantong-kantong kemiskinan yang dicirikan oleh banyaknya perumahan 
kumuh, tingginya angka pengangguran, tingginya jumlah penduduk yang bermukim di 
bantaran sungai, dan penduduk pra-sejahtera dan sejahtera I. Dengan perkataan 
lain, perkembangan infrastruktur wilayah seperti PPN Pelabuhanratu dan Koperasi 
Mina ternyata tidak mampu menanggulangi kemiskinan nelayan. Hal ini berarti 
terjadi proses pembangunan kawasan pesisir untuk daerah wisata yang 
mengorbankan masyarakat komunitas nelayan di kawasan itu. Semua uraian ini 
meninjukkan bahwa problem kemiskinan nelayan bagaikan benang kusut yang belum 
dapat diurai secara tuntas.

      Paradigma baru
      Hal lain yang perlu dikritisi berkaitan dengan kebijakan pemerintah 
adalah ketidakjelasan implementasi program-program pemerintah dalam 
menanggulangi kemiskinan nelayan, misalnya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat 
Pesisir (PEMP). Program-program ini di hampir semua daerah mengalami kegagalan. 
Kalaupun ada yang berhasil itu hanya di atas kertas semata yaitu dalam laporan 
akhir proyek. Pada kenyataannya berbeda seratus delapan puluh derajat di 
lapangan. Penyebabnya adalah cara berpikir pengambil kebijakan di negeri ini 
tentang kemiskinan masih menggunakan prinsip neoliberal yaitu kemiskinan 
merupakan persoalan individu yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan atau 
pilihan-pilihan individu berangkutan. 

      Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar dan 
pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Oleh karenanya strategi yang 
harus diterapkan dalam penanggulangan kemiskikan adalah bersifat residual, 
sementara, dan hanya melibatkan keluarga, kelompok swadaya, atau lembaga 
keagamaan. Keterlibatan negara hanya sebagai ''penjaga malam'' yang baru ikut 
campur manakala lembaga-lembaga di atas tidak mampu lagi menjalankan tugasnya. 
Dalam program penanggulangan kemiskinan nelayan prinsip ini diterapkan dalam 
bentuk program bantuan alat tangkap, pelatihan manajemen keuangan dan bahkan 
intervensi kelembagaan yang dilakukan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) 
maupun Bappenas. 

      Hasil temuan penulis kurun waktu tahun 2002-2004 mengenai pemberdayaan 
nelayan di Deli Serdang, Asahan, Karawang, dan Sukabumi menunjukkan bahwa 
strategi ala neoliberalisme ini banyak diaplikasikan sehingga mengalami 
kegagalan pada tingkat implementasi. Dalam strategi ini bukan malahan 
meningkatkan kapasitas dan memperkuat organisasi nelayan itu sendiri. 
Melainkan, program-program itu lebih banyak dijalankan dan dikuasai kelompok 
elite pada lingkaran kekuasaan pemerintahan desa, intitusi bakul dan juragan 
serta pengelola KUD Mina. Mereka bahkan menutup sama sekali akses informasi 
bagi masyarakat lain yang ingin mengetahui program yang dikembangkan. Jadi, 
jangan berharap program itu akan berhasil dan berkelanjutan serta memberikan 
dampak terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan. 

      Persoalan kemiskinan termasuku komunitas nelayan ternyata tidak hanya 
mencakup dimensi ekonomi semata, tetapi lebih bersifat komperehensif dan 
terintegrasi yang mencakup kekuasaan politik, kelembagaan (hukum dan aturan 
main), kebijakan, budaya, dan lingkungan fisik termasuk kerusakan ekologis. 
Oleh karenanya memerlukan paradigma baru dalam dalam kebijakan mengurangi 
kemiskinan yaitu menganggap orang miskin sebagai manusia yang bermartabat.

      Oleh karenanya, kebijakan yang dibutuhkan bukanlah kebijakan yang memihak 
mereka, tetapi bagaimana kebijakan itu mampu membangkitkan kepentingan hak-hak 
dasar orang miskin. Strategi yang dikembangkan adalah memastikan bahwa hak-hak 
dasar orang miskin harus diakui, misalnya hak untuk mengakses terhadap 
sumberdaya alam dan ekonomi; hak-hak dasar orang miskin tidak dapat diberikan 
atau dicabut; negara melaksanakan tanggungjawabnya dan kewajibannya untuk 
menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak nelayan miskin; dan wilayah 
strategi penanggulangan kemiskinan sangat ditentukan oleh konteks wilayah dan 
sektor yang menjadi mata pencaharian pokok masyarakat miskin, umpamanya 
nelayan. 

      Maksudnya, kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak bersifat tunggal 
seperti apa yang disarankan pemerintah pusat, akan tetapi tergantung pada 
kebutuhan dan kepentingan orang miskin serta kondisi lingkungan mereka menetap. 
Dengan perspektif ini kita mengharapkan pemerintah memiliki cara pandang baru 
dalam penanggulangan kemiskinan nelayan. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke