Wolfowitz dan Bank Dunia 
 By Revrisond Baswir  
 
 Saya yakin, tidak banyak di antara kita yang menaruh perhatian 
terhadap peristiwa pergantian pimpinan Bank Dunia yang berlangsung
akhir Maret lalu. Selain kita memang sedang tenggelam oleh berbagai
bencana nasional, tsunami di Aceh, kenaikan harga BBM, dan gempa di
Nias, penunjukan Paul
 Wolfowitz, deputi sekretaris pertahanan Amerika, sebagai presiden 
ke-10 Bank Dunia, mungkin cenderung dipandang sebagai peristiwa
''langit'', yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari kita
di sini.
 Walaupun demikian, bagi sebagian di antara kita yang sempat menaruh
 perhatian terhadap peristiwa tersebut, tentu sempat timbul pertanyaan 
yang kira-kira berbunyi sebagai berikut, ''Bagaimana mungkin seseorang 
yang selama lebih dari 20 tahun bergelut dalam urusan pertahanan dan 
politik internaional, serta dikenal sebagai arsitek invasi Amerika ke
Irak, tiba-tiba dipercaya memimpin sebuah lembaga keuangan
multilateral yang berfungsi menyalurkan 'bantuan pembangunan' ke
negara-negara sedang berkembang?''
 Sepintas lalu, terutama dilihat dari sudut profesionalisme, 
pertanyaan itu tentu tampak cukup masuk akal. Tetapi, saya kira, pokok
masalahnya justru terletak di situ. 
 Disadari atau tidak, selama ini banyak di antara kita yang telanjur
 memiliki persepsi keliru mengenai Bank Dunia. Lembaga keuangan
 multilateral yang pendiriannya diprakarsai oleh Amerika itu, selama 
ini cenderung dipandang seperti sebuah lembaga amal. Padahal, sesuai 
dengan struktur ekonomi dunia dan kedudukan Amerika sebagai pusat
ekonomi dunia, pendirian lembaga tersebut sejak awal jelas-jelas
dimaksudkan sebagai instrumen ekspansi dan hegemoni ekonomi Amerika ke
seluruh penjuru dunia.
 Gambaran yang lebih terinci mengenai keberadaan Bank Dunia sebagai
 instrumen ekspansi dan hegemoni ekonomi Amerika itu dapat ditelusuri 
pada sejarah kelahiran Bank Dunia. Sebagaimana diketahui, gagasan 
pendirian ''Bank Internasional'' pertama kali tercetus pada tahun 1922
di Genoa, Italia. Tetapi gagasan yang dimotori oleh Menteri Keuangan
Jerman, Walter
 Rathenau, tersebut, ketika itu gagal memperoleh dukungan. Amerika, 
sebagai kekuatan ekonomi utama, kurang tertarik dengan gagasan tersebut.
 Setelah gagal pada tahun 1922, gagasan serupa baru muncul kembali dua
 puluh tahun kemudian, yaitu beberapa saat menjelang 
diselenggarakannya Konferensi Bretton Wood di New Hempshire, Amerika,
tahun 1944. 
Bertolak belakang dari keadaan tahun 1922, gagasan itu kini justru
dimotori oleh Menteri Keuangan Amerika, Henry Morgenthau, berdasarkan
sebuah proposal yang ditulis oleh penasihat ekonomi internasionalnya,
Harry Dexter White
 (Rich, 1999).
 Perlu diketahui, bersamaan dengan munculnya proposal White, dengan
 dukungan pemerintah Inggris, John Maynard Keynes juga sedang bekerja
 menyusun sebuah proposal untuk membentuk lembaga kliring 
internasional,
 yang disebutnya sebagai International Clearing Union. Bahkan, pada 
Agustus 1942, Keynes sudah menginformasikan proposal pembentukan
lembaga kliring internasional itu kepada Amerika.
 Jika dilakukan perbandingan antara kedua proposal tersebut, proposal
 Keynes jauh lebih ambisius. Sebab, dalam lembaga kliring 
internasional yang diusulkannya, juga tercakup beberapa fungsi bank
seperti diusulkan
 White. Tetapi, berbeda dari proposal White, proposal Keynes sama 
sekali tidak menyinggung soal pembangunan, konstruksi, dan investasi
 internasional. Gagasan mengenai ketiga hal yang terakhir ini, murni
 berasal dari White. 
 Singkat cerita, selain menyepakati pembentukan Dana Moneter 
Internasional (IMF), Konferensi Bretton Woods akhirnya sepakat
membentuk International
 Bank for Reconstruction and Development (IBRD), yang secara populer
 dikenal sebagai Bank Dunia. 
 Sesuai dengan anggaran dasarnya, tujuan utama Bank Dunia adalah untuk
 membantu pelaksanaan pembangunan di negara-negara anggotanya, yaitu 
dengan menyediakan fasilitas pembiayaan bagi investasi-investasi yang 
bersifat produktif. Selain itu, Bank Dunia juga bertujuan untuk
mendorong pertumbuhan perdagangan dan investasi secara internasional.
Secara khusus,
 kecuali dalam keadaan tertentu, fasilitas pembiayaan Bank Dunia 
dibatasi peruntukannya bagi proyek-proyek pembangunan seperti
pembangunan bendungan, jalan raya, pembangkit listrik, dan
proyek-proyek sejenis
 lainnya.
 Secara operasional, pemberian pinjaman-pinjaman proyek tersebut akan
 dilakukan oleh Bank Dunia dengan menjamin investasi swasta. Ini erat
 kaitannya dengan kondisi permodalan Bank Dunia. Pada saat berdiri, 
dengan anggota 44 negara, modal Bank Dunia ditetapkan sebesar 10 miliar 
dolar AS.
 Dari keseluruhan modal tersebut, hanya 20 persen yang tersedia secara
 tunai. Sisanya, sebesar 80 persen, akan dicantumkan sebagai ''dana
 penjaminan.'' 
 Sebagai perbandingan, tahun 1993, dengan anggota 176 negara, modal 
Bank Dunia meningkat menjadi 165 miliar dolar AS. Namun, dari jumlah 
tersebut, hanya 10 miliar dolar AS yang tersedia secara tunai.
Sisanya, 155 
miliar dollar AS, hanya tercatat dalam pembukuan sebagai ''dana 
penjaminan.'' Penyelenggaraan sehari-hari Bank Dunia dilakukan oleh
para direktur eksekutif. Sedangkan proses pengambilan keputusannya
dilakukan berdasarkan
 jumlah saham tiap-tiap negara anggota. Pada saat berdiri, hak suara
 Amerika mencapai 36 persen. Tahun 1993, hak suara Amerika turun 
menjadi 17,5 persen. Tetapi, hak suara sepuluh negara industri
terkaya, pada tahun 1993, mencapai 52 persen. 
 Berdasarkan tujuan pendirian, pola pembiayaan, dan proses pengambilan
 keputusan tersebut, dapat disaksikan dengan jelas, pertama, pendirian 
Bank Dunia (dan IMF) sedari awal memang dimaksudkan oleh negara-negara 
industri kaya sebagai proses sistematis untuk melembagakan dan
mengubah pola relasi
 pusat-pinggiran dalam tatan ekonomi dunia, dari berpola bilateral 
menjadi berpola multilateral.
 Kedua, khusus menyangkut kedudukan Amerika, dengan ditetapkannya 
dolar AS sebagai alat pembayaran internasional dan dikukuhkannya
kedudukan negara
 itu sebagai pemilik tunggal hak veto di Bank Dunia, keberadaan 
lembaga keuangan yang berkantor pusat di Washington DC tersebut,
sedari awal memang dimaksudkan sebagai pelembagaan proses ekspansi dan
hegemoni ekonomi Amerika ke seluruh penjuru dunia. 
 Kenyataan yang terakhir itu diperkuat oleh fakta dimonopolinya 
jabatan presiden Bank Dunia oleh Amerika. Dengan demikian, ditopang
oleh negara-negara industri kaya lainnya, keberadaan Bank Dunia (dan
IMF) sesungguhnya lebih tepat dipandang sebagai upaya sistematis 
pusat-pusat kapitalisme dunia dalam menghadirkan pola baru
kolonialisme di bawah
 kepemimpinan Amerika. 
 Kesimpulannya, dengan fungsi seperti itu, penunjukan Wolfowitz 
sebagai presiden baru Bank Dunia, di tengah-tengah menguatnya tuntutan
untuk membubarkan lembaga tersebut, justru patut dipandang sebagai
sebuah pilihan yang ''tepat''. Selamat ''bekerja'', Meneer. 
 (Revrisond Baswir ) 
 
 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke