http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/04/15/ArticleHtmls/TERENCE-HULL-Wajah-Indonesia-dalam-Angka-15042012011007.shtml?Mode=0

    
TERENCE HULL: Wajah Indonesia dalam Angka 

Kendati putus-sambung, hubungan Terrence “Terry“ K Hull dengan Indonesia erat 
terjalin hingga kini, sekitar empat dekade. Semuanya berawal pada 1968, saat 
dia mempelajari negara-negara kepu lauan Asia Tenggara di Universitas Hawaii. 
Pada1972 dia datang ke Indonesia untuk pertama kalinya guna menggarap 
penelitian bagi tesisnya. Antara 1975 dan 1979, peneliti asal Australia 
tersebut membantu Profesor Masri Singarimbun, Kepala Pusat Studi Kependudukan 
dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

Sosiolog dan ahli demografi berusia 65 tahun ini adalah profesor yang disegani 
di Australian National University.
Bersama istrinya,Valerie, Terry giat mendampingi Masri menggarap sejumlah 
proyek penelitian yang berhubungan dengan Keluarga Berencana, ibu menyusui, 
intertilitas, dan tren demografi di Indonesia. Dia juga sempat mengajar 
beberapa tahun di Universitas Indonesia, Jakarta, sebagai dosen tamu.

Kekuatan Terrence Hull sebagai peneliti kependudukan melibatkan dia secara 
aktif dalam sejumlah proyek nasional cacah jiwa Indonesia. Dari enam sensus 
yang pernah dilangsungkan, dia ikut membantu empat cacah jiwa terakhir.“Saya 
bangga, selama 40 tahun bisa ikut dalam analisa perubahan sosial yang 
revolusioner,“ujar Terry. Program imunisasi dia sebut sebagai “revolusi 
mortalitas“, dengan hasil luar biasa: tingkat kematian anak-anak terjun bebas 
melalui keberhasilan imunisasi.

Cacah jiwa Indonesia pada 2010, menurut Terry, memberi kejutan amat 
menarik.Yakni perubahan dalam pola perkawinan di Indonesia.“Untuk pertama 
kalinya kami menemukan tren usia menikah di Indonesia menjadi lebih 
muda,“ujarnya.“Ini perubahan sosial yang amat menarik,“dia menambahkan. 
Pemerintah Indonesia mempercayainya sebagai satu dari lima penasihat utama pada 
sensus 2010.

Selama menjadi peneliti di negeri ini,Terry tinggal sampai berbulan-bulan di 
berbagai wilayah pelosok Indonesia. Bahasa Indonesianya yang sempurna--nyaris 
tanpa aksen-adalah modal utamanya berkomunikasi dengan penduduk.

Tiga pekan lalu,Vice President ASEAN Population Association ini mampir ke 
Jakarta selama sepekan. Di sela jadwal kerjanya yang padat, sang Profesor 
menerima wartawan Tempo Hermien Y. Kleden, Ririn Agustia, serta juru foto 
Aditia Noviansyah untuk satu wawancara khusus.

Berikut ini petikannya



+++
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/04/15/ArticleHtmls/Apakah-ada-temuan-besar-dari-sensus-penduduk-Indonesia-15042012012016.shtml?Mode=0


Otonomi daerah bukan masalah pokok dalam hal ini.
Tetapi pertentangan antara pusat dan daerah itu yang jadi masalah.


Apakah ada temuan besar dari sensus penduduk Indonesia terbaru?
Ya, pola perkawinan. Ada perubahan amat besar yang baru saya lihat pada sensus 
kali ini. Selama hampir 100 tahun terakhir, ada usaha, terutama dari kalangan 
wanita, untuk mengubah pola perkawinan. Pola perjodohan beralih menjadi memilih 
pasangan sendiri. Perubahan pola di atas membuat usia orang menikah terus 
meningkat di daerah perkotaan dan pedesaan. Tadinya 21 menjadi 22 dan 23. Baru 
pada sensus 2010, umur menikah menurun menjadi lebih muda.

Belum pernahkah hal ini ditemukan dalam lima sensus terdahulu?
Kami baru melihat fakta ini pada sensus 2010. Saya terkejut karena saya ikut 
sensus dari permulaan. Nah, di sensus kan ada data agama. Di beberapa provinsi, 
antara lain Jawa Timur, umur pernikahan penduduk beragama Islam menurun. Ini 
perubahan sosial amat menarik.

Mengapa?
Dalam demografi, kita selalu melihat angka. Tapi, sebagai sosiolog, saya 
mengobrol dengan banyak orang setelah melihat perubahan tren usia menikah pada 
sensus terakhir. Masyarakat umumnya selalu senang mengobrol mengenai harapan. 
Misalnya,“Wah, saya harap perkawinan itu begini.“(Dari situ) saya melihat ada 
perubahan yang muncul di masyarakat tentang perkawinan.

Pemicu perubahan tersebut apa saja?
Family-centeredness menjadi isu luar biasa penting, dan diutamakan. Pada 20 
tahun yang lalu, kalau saya bicara dengan wanita, mereka akan bicara mengenai 
harapan punya pekerjaan ini-itu.
Soal punya suami, kata mereka: “Ya terserah, kalau ketemu yang cocok.“Tapi 
sekarang mereka dijodohkan oleh teman-teman kelompok agama peer group-nya.
Di sini (di Indonesia), bujangan kan selalu disalahkan.

Disalahkan bagaimana?
Tidak boleh berhubungan seks, tidak boleh ini-itu, tidak boleh ambil pelayanan 
KB. Padahal ini orang sudah pada umur dewasa, sudah bayar pajak, sudah ada hak 
pilih, tapi tidak boleh meminta kondom ke BKKBN. Kok seperti bukan warga 
negara. Padahal pemerintah ikut perjanjian internasional Kairo mengenai hak 
asasi reproduksi (pada 1994).

Bisa berikan tonggak terpenting dari pemetaan penduduk Indonesia melalui sensus 
yang pernah Anda ikuti?
Selama 40 tahun (terlibat dalam sensus di Indonesia, setiap 10 tahun sekali), 
saya bangga bi sa ikut dalam analisa perubahan sosial yang boleh dikatakan 
revolusioner. Revolusi demografi yaitu menurunnya tingkat fertilitas dari 
tinggi ke sedang, mortalitas sudah menurun dari tahun 20-30 dan turun dengan 
pelan.
Imunisasi adalah revolusi mortalitas luar biasa (di Indonesia).

Ya, revolusi fertilitas membuat jumlah pengguna KB Indonesia naik hingga 60 
persen--dari yang tadinya hanya 10 persen....
Itu berarti 50 persen wanita yang dulu tidak pakai KB sekarang menggunakannya. 
Indonesia di zaman Haryono Suyono (menjadi Ketua BKKBN), itu (fasilitas KB) 
dijamin ada. Sekarang pilihannya terbatas. Ada banyak faktor, salah satunya 
(yang penting) adalah otonomi daerah. Jadi, amat bergantung pada pimpinan 
daerah itu kasih prioritas atau tidak pada KB. Kalau tidak, wanita akan 
menderita.Tapi ada faktor aneh: revolusi itu sudah keluar dari rel. Sekarang 
pilihan (alat KB) terbatas. Proporsi wanita yang menggunakan metode kontrasepsi 
selain suntik semua menurun.

Kok hanya suntik yang naik?
Karena faktor bidan yang sekarang tidak lagi mendapat kedudukan sebagai PTT 
(pegawai tidak tetap). Mereka menjadi swasta setelah kontrak habis.
Mereka menjual suntikan dan mendapat untung dari situ. Pelayanan suntik 
sekarang paling laku karena dari menjual kondom dan pil tidak dapat untung. 
Mereka juga tidak terlatih memakai implan. Akibatnya, wanita sekarang banyak 
yang memakai metode yang tidak pas dengan umur dan jumlah anak. Padahal metode 
harus selalu disesuaikan dengan keadaan, keinginan, dan pengalaman ibu.

Apakah program Keluarga Be rencana sebaiknya kembali ke cara sentralisasi?
Otonomi daerah bukan masalah pokok dalam hal ini, tetapi pertentangan antara 
pusat dan daerah itu yang jadi masalah. Jadi, bukan karena daerah punya 
kekuatan atau pusat yang lebih berkuasa, tapi lebih pada mereka tidak sadar 
akan kepentingan masyarakat dalam kegiatan Keluarga Berencana.

Seberapa besar peran demografi terhadap pengambilan kebijakan pemerintah?
Demografi adalah ilmu paling penting dalam sebuah pembangunan, dalam demokrasi. 
Demografi dan demokrasi itu sama, dari kata demos: rakyat. Kita bisa tahu siapa 
kita, dan kita bisa tahu proses regenerasi melalui demografi. Pengetahuan 
demografi yang mendalam membuat kita bisa mengembangkan pikiran mengenai apa 
arti masyarakat, kewarganegaraan, keanggotaan. Dengan demografi, kita bisa tahu 
apa nasib seluruh warga Indonesia--dan tidak terbatas pada kelompok tertentu.

Adakah kaitan hasil sensus 2010 dengan politik, terutama pada jumlah pemilih 
2014?
Saya melihat sensus 2010 sebagai sensus terbaik dalam sejarah Indonesia. Sejak 
merdeka, negara ini sudah melakukan enam kali sensus, setiap 10 tahun.

Terbaik dalam aspek apa saja?
Jangkauan pada penduduk; proporsi penduduk yang di-interview; anggaran untuk 
Papua naik sehingga (sensus bisa mencapai) daerah-daerah pelosok; jangkauan di 
Indonesia timur cukup bagus.Tapi tantangannya juga berat. Misalnya, 50 
pertanyaan dalam kuesioner bukan jenis yang gampang untuk ukuran sensus, 
apalagi untuk pewawancara yang hanya dilatih tiga hari (sebelum ke lapangan). 
Dalam sensus terdahulu (tahun 2000), ada 9 juta penduduk tidak tercatat.

Siapa saja mereka?
TKI (tenaga kerja Indonesia) susah dicatat, begitu pula yang di apartemen. Tapi 
sensus kali ini memakai pendekatan teknologi canggih, yaitu SMS. Ada 700 ribu 
interviewer--yang disyaratka harus punya telepon genggam (HP). Mereka pakai HP 
untuk mengatur, memberitahukan, kalau ada masalah. Teknologi berperan amat 
penting dalam sensus 2010.

Apa perbaikan signifikan dalam kualitas data penduduk Indonesia dari sensus 
2010?
Umur! Sekarang Indonesia sudah mendapat ukuran umur yang memenuhi syarat PBB. 
Laporan mengenai umur di Indonesia sudah dianggap baik, 40 tahun lalu dianggap 
jelek. Sebab, waktu itu penduduk tidak tahu umur mereka karena buta huruf.
Itu berarti tingkat pendidikan untuk orang tua sekarang makin lama makin tinggi.

Tapi Indonesia akan punya masalah dengan aging population karena sekitar 10 
persen orang Indonesia akan segera mencapai umur 60 tahun....
Orang tua sekarang jauh lebih berpendidikan, lebih berpengalaman dibanding 40 
tahun lalu.
Jadi, mutu orang tua (Indonesia) naik, kenapa kita tidak memperhatikan itu? 
Memang orang tua gampang mendapat penyakit, harus mendapat bantuan kesehatan, 
dan lain-lain. Tapi mudah-mudahan, dengan bantuan asuransi kesehatan, sekarang 
bisa lebih efisien.

Anda juga membuat penelitian dan menulis buku tentang prostitusi di Indonesia 
beberapa tahun lalu. Apa perubahan terbaru yang Anda lihat?
Harus saya tegaskan, buku maupun penelitian tentang prostitusi di Indonesia 
bukan hasil kerja saya sendiri, melainkan bersama beberapa rekan peneliti lain. 
Saya terkejut melihat perkembangan bisnis seks di Jakarta.

Kenapa?
Wanita-wanita (pekerja seks) dari mainland China ada di apartemen-apartemen di 
Glodok.
Industri seks, saya tidak tahu batasnya apa--tapi, seperti halnya makanan, ada 
kelas elite, ada kelas pinggir jalan. Dalam budaya Indonesia, eksploitasi 
wanita (umumnya) terjadi di pabrik, di kantor. Ada peran agama untuk menjamin 
keselamatan wanita.
Misalnya, wanita memakai jilbab bisa untuk menjaga diri. Tapi kita harus 
membedakan agama sebagai kepercayaan dan kelompok sosial.

Apa penelitian terkini yang sedang Anda kerjakan?
Kematian anak-anak (infant mortality) dan revitalisasi Keluarga Berencana.

    
TOP
    
Powered by Pressmart Media Ltd
    
    

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke