Ref: Alasan utama Otda dan Otsus adalah tidak lain dari pada menciptakan 
raja-raja kecil di berbagai pelosok Nusantara, agar supaya ekspolatasi dan 
penghisapan ekonomi berjalan lancar dan dengan begitu upeti bisa mudah langsung 
mengalir masuk tanpa rintangan kepada para petinggi berkuasa dan konco-konconya 
di pusat kekuasaan mau pun di luarnegeri. Bumi dicukur dan perutnya dikosongkan 
dalam puluhan tahun, apakah hasilnya membangunan kesejahteraan yang merubah 
dsar-dasar kehidupan penduduk setempat pemilik harta angurah Illahi menjadi 
baik dari miskin lebih baik atau kaya? Salah satu contoh jelas ialah 
pengambilan emas di Papua yang berpenduduk kurang lebih 3 juta. Apakah dengan 
mliar dollar dari Freeport tiap tahun ke kas NKRI untuk puluhan tahun, telah 
memberi perubahan signifikan bagi kehidupan penduduk setempat? Gelaja ini bukan 
saja terdapat di Papua, tetapi juga di berbagai tempat di Nusantra” yang 
disebut propinsi berkekayaan alam yang diesksplotasi selama puluhan tahun, 
mereka menjadi miskin dan termiskin, lihat saja pada hasil sensus BPS 2010. Di 
tempat-tempat tsb sering pula terjadi kekerasan bersifat pelanggaran HAM yang 
dilakukan oleh aparat kekuasaan negara dan ada kalanya juga kekerasan 
berlambang agama. Pada waktu ada kekayaan alam sedang diambil rakyat miskin, 
lantas apakah rakyat akan kaya dan sejahtera, jika kekayaan alam mereka sudah 
habis diambil?

http://www.shnews.co/detile-2285-otda-belum-sejahterakan-masyarakat.html


Otda Belum Sejahterakan Masyarakat

Deytri Aritonang | Jumat, 25 Mei 2012 - 15:30:00 WIB

Daerah otonom baru terbentuk sampai 205 kabupaten/kota selama 10 tahun ini. 
JAKARTA - Otonomi daerah (otda) telah berjalan hingga 13 tahun. Sayang, dampak 
nyata hanya terlihat pada keriuhan politik dalam pemilihan kepala daerah 
(pilkada). Sementara kesejahteraan masyarakat tidak bertumbuh seiring 
perkembangan politik. 

“Kesejahteraan masyarakat tidak tumbuh seiring perkembangan demokrasi. Mestinya 
ketika daerah otonomi berkembang, demokrasi berkembang, dibarengi dengan 
peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Otda 
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Djohermansyah Djohan dalam Seminar 
Nasional “Refleksi 11 Tahun Otonomi Daerah”, Kamis (24/5). 

Birokrat yang akrab disapa Djo itu mengatakan, salah satu indikator 
keberhasilan otda adalah pelaksanaan pilkada langsung oleh rakyat. Tetapi, 
keriaan pesta demokrasi itu tidak sejalan dengan pencapaian kesejahteraan 
masyarakat. 

Pascapenerbitan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, 
ungkapnya, secara politik, demokrasi berkembang secara masif. Disampaikannya, 
hingga saat ini, sudah terselenggara sekitar 800 pemilihan kepala daerah 
langsung. 

Di sisi lain, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia tidak membaik. Pada 
2008, Indonesia menduduki peringkat 109 dari 179 negara. Pada 2009, peringkat 
IPM Indonesia bahkan menurun menjadi 111. Pada 2010, Indonesia menduduki posisi 
108, namun peringkat kembali merosot pada 2011 menjadi 124. 

Dia menjelaskan, beberapa masalah terkait kebijakan otda dan desentralisasi, 
antara lain benturan kewenangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah 
daerah. Masalah koordinasi juga terjadi antara pemerintah antardaerah. Penyebab 
lain, kata Djo, adalah banyak peraturan yang tidak diharmonisasi, serta politik 
uang. 

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 
(FISIP) Universitas Indonesia Iberamsjah. Dia mengatakan, pilkada langsung saat 
ini hanya menjadi demokrasi prosedural. Dia menilai proses demokrasi yang hanya 
mengutamakan kekuasaan dan menghalalkan segala cara, termasuk politik, yang 
membuat tatanan politik tidak sehat. 

Dia menegaskan, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) 
semestinya membuat terobosan supaya kesejahteraan rakyat terwujud. Pemerintah 
daerah, ujar dia, semestinya bukan sekadar memaknai otda dengan pilkada 
langsung dan kewenangan kepala daerah. 

Ketua Apkasi Isran Noor mengaku gelisah lantaran para kepala daerah takut 
berinovasi dan berinisiatif dalam membangun wilayahnya. Disampaikannya, 
ketakutan itu muncul karena khawatir inovasi dinilai sebagai penyalahgunaan 
wewenang. “Nanti malah dituduh korupsi,” kata Isran. 

(Sinar Harapan) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke