coba lihat nih, tulisan ente kacau balau...
tapi ada progress sih...  hehehe ntar klo ogut ke indo, pingin mampir ke 
Solo...  sekalian wisata kuliner...  

> Ga ada sebangsa gubernur, walikota atau bupati jg pemdanya udah jalan sendiri 
> krn instansi masing2 jg tau apa tugasnya.

Tem bagian ini kagak di komen? 

> --- On Fri, 6/1/12, arra_s <arra_s@...> wrote:
> 
> seperti juga Jusfiq dan Item abu, jadi pingin tahu pekerjaan nya apa...
> ustad bukan, pendakwah bukan, tetapi memakai referensi yg sama dengan ke 2 
> profesi ini...
> kesimpulan sementara : mungkin saja mereka ber dua fans berat nya "ustad"
> 

--- In [email protected], item abu <itemabu@...> wrote:
>
> Tolol, apa lu udah liat kota Solo itu kayak apa dan gimana perkembangannya? 
> Ga ada kemajuan, malahan mundur.
> Si Jokowi itu paling2 cuma bikin proyek car free day atau suruh orang jualan 
> di jalan di malam hari. Sisanya, nol gede.
> Solo itu lama2 jadi kota mati.
> Pejabat di Indonesia itu ga becus sama sekali unt memajukan daerahnya, 
> kerjanya cuma korupsi doang.
> Ga ada sebangsa gubernur, walikota atau bupati jg pemdanya udah jalan sendiri 
> krn instansi masing2 jg tau apa tugasnya.
> 
> 
> --- On Fri, 6/1/12, arra_s <arra_s@...> wrote:
> 
> 
> From: arra_s <arra_s@...>
> Subject: [proletar] Re: Empat Belas Tahun Reformasi
> To: [email protected]
> Date: Friday, June 1, 2012, 12:24 AM
> 
> 
> urun pendapat, 
> kalau sulit untuk membandingkan dengan negara lain, sekarang sudah ada contoh 
> dari dalam negeri sendiri... Solo oleh walikota Jodo widodo.
> pengelolaan kota yg pro rakyat...
> 
> bisa dijadikan contoh " pengelolaan kota yg berhasil"
> namun mengapa tidak ada gaung nya??
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=imjqSzpZ95k&feature=youtu.be
> 
> saya surprise juga melihat GDP indo yg telah naik berlipat lipat..
> adakah ini menunjukan peningkatan kesejahteraan rakyat?
> 
> kalau boleh memilih, saya pilih indikator kesejahteraan rakyat saja seperti :
> Adanya jaminan kesehatan, free buat sebahagian rakyat
> jaminan mengenyam pendidikan, idem
> jaminan hukum, tanpa diskriminatif
> jaminan tersedia pekerjaan
> support kegiatan eksport
> kebersihan kota
> mass transportasi yg baik
> dll seperti yg dilakukan oleh walikota yg satu ini.... joko widodo...
> 
> sebagai walikota, jokowi tahu apa pekerjaan nya, 
> apakah presiden kita dan wakil wakil terhormat tahu apa pekerjaan nya?
> perlu di pertanyakan...
> 
> seperti juga Jusfiq dan Item abu, jadi pingin tahu pekerjaan nya apa...
> ustad bukan, pendakwah bukan, tetapi memakai referensi yg sama dengan ke 2 
> profesi ini...
> kesimpulan sementara : mungkin saja mereka ber dua fans berat nya "ustad"
> 
> --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> >
> > 
> > --- "rezameutia" <rezameutia@> wrote:
> > > 
> > > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> > > >
> > > > Maju enggaknya masyarakat nggak bisa diukur dari ruang 
> > > > (dibandingkan dengan negara lain) dan waktu (masa lalu/depan), 
> > > > tapi dari kemampuannya mengatasi masalah-masalahnya sendiri. 
> > > > Sudah berdikarikah dia atau masih berdiri di kaki orang lain 
> > > > (dititah-titah macam balita belajar jalan). 
> > > 
> > > kemajuan dan kesejahteraan negara tentu saja diliat dari 
> > > performance nya dulu dan sekarang karena variabel hitungannya tetap 
> > > sama, seperti gdp, fdi, cadangan devisa, expor-import, bukannya 
> > > membandingkan dengan negara lain. 
> > 
> > Kemajuan suatu bangsa memang nggak bisa dibandingkan 
> > dengan bangsa / negara lain, tapi diukur dari kemampuannya 
> > mengatasi masalah yang dihadapi. 
> > 
> > Sekedar contoh, kalau sopir gua (si bleki :) mengganti nopol 
> > mobil majikannya dengan nopol palsu apakah polisi juga akan membiarkan 
> > pelanggaran si bleki seperti mereka membiarkan 
> > pelanggaran si Anas Urba? 
> > 
> > Kalau iya (membiarkan) berarti polisi memang tegas menegakkan 'kesetaraan' 
> > orang di depan hukum. Hukum telah berlaku untuk 
> > semua orang dan bukan cuma boleh dinikmati ketua partai seorang. 
> > Selanjutnya, mari kita rame-rame tukar nopol kendaraan masing-
> > masing dengan nopol palsu, dan lihat akibatnya terhadap pajak kendaraan, 
> > jual-beli kendaraan dst. 
> > 
> > Kalau urusan nopol palsu ini polisi bersikap diskriminatif, 
> > tentu urusan-urusan lain pun ada yang dipermudah dan banyak 
> > yang dipersulit. Urusan-urusan masyarakat menjadi tidak lancar 
> > karena masalah-masalah yang ada tak kunjung diatasi. 
> > 
> > Pada skala perorangan misalnya, bagaimana mungkin si uplik 
> > dikata maju sedangkan dia terus kuwalahan mengatasi masalah-
> > masalahnya. Coba, apa upayanya untuk mengatasi kepalanya 
> > yang berketombe & mulutnya berbakteri? Nggak ada selain membuat masalah 
> > baru dengan mengutuki orang-orang yang kasih nasehat. 
> > 
> > Atau, taruhlah performa statistik si uplik, baik GDP maupun 
> > tabungan pensiunnya teraduhai di dunia. Lalu, dengan onggokan 
> > problem pribadi yang bikin dia sibuk mengutuki semua orang 
> > yang lewat, apa bisa dia disebut maju? Jelas enggak. 
> > 
> > Jadi, performa statistik perlu juga bandingkan dengan tampilan 
> > sehari-hari, baik itu masyarakat maupun individu. 
> > 
> > 
> > > 
> > > kalo analoginya dari berdikari seperti balita yang ditatih sih 
> > > nggak relevan karena balita itu ada pelindungnya dan dapet support 
> > > abis dari ortu. 
> > 
> > Balita pemula nggak ada yang berdikari, dan faktanya memang ada 
> > kan yang 'umur jigo kelakuan nol'.. 
> > 
> > 
> > > 
> > > negara indonesia tidak mungkin bisa memenuhi semua kebutuhannya 
> > > sendiri, seperti jargonnya soekarno. apalagi, sekarang ini jaman 
> > > globalisasi, tambah nggak mungkin untuk bisa memenuhi kebutuhannya 
> > > sendiri. 
> > 
> > Kenapa enggak? 
> > 
> > Di pedesaan / pedalaman Indonesia masih banyak masyarakat 
> > yang memenuhi sendiri semua kebutuhannya. Persoalannya lebih 
> > terletak pada tingkat kebutuhan. Tingkat kebutuhan di pedesaan 
> > & perkotaan pasti berbeda. Di perkotaan nggak bisa enggak 
> > kebutuhan akan terkait dengan teknologi tinggi sebagai akibat / 
> > konsekuensi pergaulan internasional. 
> > 
> > Sedangkan yang dimaksud Soekarno tentu saja seiring perkembangan jaman kita 
> > harus juga memenuhi sendiri kebutuhan akan teknologi 
> > tersebut. 
> > 
> > Indonesia punya peluang untuk itu. Sebab, hampir nggak ada 
> > teknologi yang bahan mentahnya kita nggak punya. Semua ada. 
> > Tinggal, bagaimana mengolah semua bahan mentah itu menjadi 
> > barang-barang yang kita butuhkan. 
> > 
> > Singkatnya, berdikari yang kita mau (bukan cuma maunya Soekarno) adalah, 
> > Indonesia harus memproduksi & memenuhi semaksimal mungkin kebutuhan 
> > sendiri, dan tidak melulu berperan sebagai konsumen / 
> > pasar bagi negara lain -- yang justru rame-rame mengeruk bahan 
> > mentah dari tanahair Indonesia. Pemenuhan kebutuhan dengan memproduk 
> > sendiri termasuk bagian dari mengatasi masalah-masalah. 
> > 
> > 
> > > 
> > > kecuali kalo kata 'berdikari' diartikan sebagai kehormatan bangsa, 
> > > seperti sejak presiden soeharto sampe presiden sekarang selalu 
> > > nunduk2 ke amerika dan diatur sama amerka. dalam hal ini. 
> > > indonesia memang belum berdikari. 
> > 
> > Siapa yang nggak geli waktu pesawat produk IPTN dibarter 
> > beras ketan dengan Muangthai? Banyak juga yang ngakak, kan? 
> > 
> > Tapi ketika sistem barter ini dikembangkan ke luar AsTeng 
> > (sampai ke Timur Jauh bahkan Afrika) mulai terasa ada sesuatu 
> > yang tersembunyi. Yaitu "kemarahan" Soeharto kepada AS sejak 
> > pos dubes di JKT dibiarkan kosong terlalu lama, sebelum akhirnya 
> > dikirim Wolfowitz. Ditambah dengan berulang-ulang dia bicara 
> > keuntungan menjual 1 pesawat dibanding menjual puluhan mobil, 
> > yang disebutnya "bisa untuk mempercepat pelunasan utang", kita 
> > boleh curiga saat itu Soeharto sedang melakukan pembangkangan 
> > terhadap tukang kredit internasional. 
> > 
> > Sialnya, peluang Indonesia untuk mempercepat pelunasan utang itu 
> > dihalangi secara kasar, yaitu dengan tidak dikeluarkannya 
> > sertifikat dari FAA (sekalipun beberapa ahlinya secara pribadi 
> > mengakui produk IPTN -terutama CN235- adalah yang terbaik di 
> > kelasnya). Sehingga produk IPTN tidak dapat tempat di pasaran. 
> > Penghalangan ini jelas berbau politis ketimbang teknologi. 
> > 
> > Memang menyakitkan. Tapi nggak menghalangi Soeharto untuk tetap 
> > cengengesan dan mengambil langkah politis juga yang sangat berani: 
> > barter! Bagi yang ngerti politik-ekonomi pasti ngerti apa yang 
> > dilakukan Soeharto adalah penggalangan dunia III menghadapi para 
> > kapitalis internasional. 
> > 
> > Artinya, si sontoloyo Soeharto bukan cuma mencoba berdikari dengan 
> > menegakkan harga diri, tapi juga dengan memproduksi barang. 
> > 
> > Coba, apa kerja presiden yang sekarang untuk harga diri & produk 
> > dalam negeri.
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke