REPUBLIKA
Senin, 01 Agustus 2005



MUI di Tengah Pemikiran Liberalis dan Fundamentalis 

Dalmeri
Alumnus Program Studi Agama dan Filsafat Pascasarjana UIN Yogyakarta, Anggota 
JIMM


Dalam pidato pembukaan Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (Munas MUI) 
pada Selasa 26 Juli lalu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono sangat menaruh 
harapan kepada MUI untuk berperan serta dalam merespons berbagai permasalahan 
keagamaan yang terjadi di Tanah Air. Termasuk dalam hal ini, perkembangan 
pemikiran dan aliran keagamaan Islam Indonesia.

Dinamika perkembangan dalam pemikiran Islam di Indonesia telah berjalan baik, 
meski hal itu berimplikasi terhadap timbulnya berbagai aliran dalam merespons 
derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Fenomena ini bisa dibedakan menjadi 
dua aliran besar, yaitu fundamentalis dan liberalis. 

Gerakan fundamentalis diasumsikan sebagai aliran yang melawan arus globalisasi 
dan modernisasi, sedangkan gerakan liberalis merupakan aliran yang menerima 
globalisasi dan modernisasi, bahkan terkadang 'berselingkuh' dengan peradaban 
yang sepenuhnya berasal dari Barat. Dalam perkembangannya, penulis menyayangkan 
karena kedua aliran tersebut tidak rela hidup berdampingan, malah saling 
menafikan. 

Kontroversi kedua aliran tersebut, belakangan ini semakin menghangat ketika 
generasi muda dari NU dan Muhammadiyah, berupaya mencari sinergisitas terhadap 
permasalahan global yang dihadapi umat Islam Indonesia. Menurut hemat penulis, 
dalam setiap perkembangan pemikiran Islam, senantiasa muncul gesekan-gesekan 
yang pada akhirnya menjadi suatu dinamika pemikiran Islam.

Dalam sejarah pemikiran Islam, hal ini bisa diamati sejak munculnya pemikiran 
filsafat dalam Islam yang dipelopori Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. 
Gagasan mereka tentang filsafat kemudian direspons oleh Al-Ghazali dalam 
Tahafut al-Falasifah. Pemikiran Al-Ghazali ini pun, kemudian ditanggapi oleh 
Ibnu Rusyd dengan Tahafut al-Tahafut. Pola seperti ini terus berkembang hingga 
masa Ibnu Taimiyah yang dianggap sebagai pemikir konservatif dan 
gagasan-gagasannya menjadi inspirasi bagi kalangan fundamentalis. 

Akan tetapi, berbeda halnya ketika gagasan-gagasan Ibnu Taimiyah tersebut 
kemudian direspons serta dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang 
bisa dikategorikan sebagai pemikir yang beraliran liberalis dengan gerakan 
Al-Manarnya memberi spirit bagi umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan 
serta melawan berbagai bentuk kolonialisme yang dialami oleh sebagian besar 
umat Islam, termasuk Indonesia. 

Jadi, dinamika dalam perkembangan pemikiran Islam sebenarnya merespons apa yang 
terjadi di kalangan umat Islam sendiri, dan polanya tentu berbeda-beda. Ada 
yang liberalis dan ada pula yang fundamentalis. Hal ini pada akhirnya menjadi 
fenomena yang menunjukkan kekayaan pemikiran Islam ketika menghadapi kemajuan 
ilmu pengetahuan, globalisasi, dan modernisasi.

Ekspresi yang berbeda
Globalisasi dan modernisasi merupakan kondisi yang telah menimbulkan fenomena 
fundamentalis di kalangan umat beragama di seluruh dunia termasuk umat Islam 
sebagaimana dikemukakan oleh Bruce B. Lawrence. Menurutnya, fundamentalisme 
tidak akan muncul jika globalisasi terutama modernisme tidak muncul sebagai 
tantangan terhadap pandangan dunia agama tradisional (Bruce B. Lawrence, 1989). 

Dalam menghadapi globalisasi dan modernisasi, kalangan fundamentalis bisa 
dibedakan ke dalam dua sifat yaitu apologetis dan eskapetis. Kalangan 
apologetis merupakan orang-orang modern dalam komunitas religius yang menerima 
infrastruktur material dunia modern, tetapi menolak sebagian besar 
suprastruktur mentalnya. Mereka seringkali menolak gagasan dari pemikian modern 
yang berasal dari dunia Barat. 

Sebaliknya, mereka mempunyai keyakinan bahwa gagasan dari pemikiran Islam yang 
bersumber dari Alquran dan Hadis Nabi, jauh lebih baik serta lebih sempurna 
daripada gagasan para pemikir Barat modern. Meski demikian, mereka tetap 
mengunakan dan mengonsumsi fasilitas-fasilitas yang telah diciptakan oleh dunia 
Barat, seperti komputer, televisi, handphone dan lain sebagainya.

Sedangkan kalangan eskapetis, yaitu kelompok Islam yang mengkonstruksikan 
gagasan dari globalisasi dan modernisasi sebagai hal yang harus dihindari oleh 
umat Islam. Mereka sangat prihatin terhadap dampak negatif yang ditimbulkan 
peradaban Barat. Karena itu, mereka bermaksud mengembalikan Islam kepada ajaran 
fundamentalnya serta memertahankan Islam supaya tidak terpengaruh oleh 
globalisasi dan modernisasi yang mereka asumsikan telah melakukan penyingkiran 
terhadap agama Islam.

Adapun kalangan liberalis yang memosisikan diri sebagai agent of change dalam 
pemikiran Islam masa sekarang, melihat globalisasi dan modernisasi dengan cara 
yang agak berbeda. Mereka yang berada dalam kelompok ini merespons globalisasi 
dan modernisasi sebagai dinamika sejarah pemikiran manusia. Maka dari itu, 
pemikiran Islam pun perlu ditawarkan dengan wajah yang tidak jauh berbeda 
dengan pemikiran yang sedang berkembang di kawasan Barat. Kaum liberalis ingin 
menghadirkan Islam yang bukan ortodoks, tetapi Islam yang berwajah modern, 
kompatibel terhadap perubahan zaman, dan berorientasi ke depan.

Salah satu ciri khas dari kelompok liberalis dalam merespons globalisasi ialah 
memahami dan menafsirkan kembali ajaran-ajaran Islam, serta mengolaborasikannya 
dengan isu-isu global yang sedang berkembang seperti Hak Asasi Manusia, 
Pluralisme, Demokrasi, Gender, dan lain-lain. Sebagaimana yang telah dilakukan 
oleh tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amin Abdullah, 
Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, Moeslim Abdurrahman, Nasaruddin Umar, dan 
lain sebagainya. 

Mereka melakukan pembacaan ulang terhadap tradisi-tradisi Islam serta membangun 
kembali pemahaman keagamaan umat Islam dalam menghadapi arus globalisasi dan 
modernisasi yang semakin tidak terbendung.

Bagaimana MUI sebaiknya
Memang harus diakui bahwa globalisasi dan modernisasi menjadi masalah serius 
bagi seluruh umat beragama, termasuk umat Islam. Belakangan ini, ahli-ahli 
agama telah mulai mengenali apa yang dibayangkan oleh berbagai kelompok agama, 
baik itu fundamentalis maupun liberalis. Dampak negatif dari globalisasi dan 
modernisasi menjadi masalah yang harus dihadapi bersama. Persoalan 
diskriminasi, ketidakadilan, dan kemiskinan yang dialami oleh umat Islam di 
berbagai penjuru dunia --termasuk di Indonesia-- merupakan persoalan yang harus 
mendapat perhatian dari semua kalangan intelektual dan aktivis Islam, termasuk 
dalam hal ini MUI.

Pergulatan ide-ide dan visi sosial perlu ditempatkan pada posisi untuk 
menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh umat Islam sebagai akibat 
dari kuatnya pengaruh globalisasi dan modernisasi. Pada aspek inilah relevansi 
mempelajari dinamika keanekaragaman historis dalam pemikiran Islam sebagai 
salah satu cara untuk memahami perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam. 
Bila rekonstruksi-rekonstruksi yang dilakukan hanya untuk melegitimasi satu 
aliran dan menafikan aliran lainnya, pada aspek inilah dilema yang dihadapi 
oleh Islam dan umatnya dewasa ini. Permasalahannya adalah bagaimana MUI bisa 
merespons perkembangan pemikiran yang terjadi pada umat Islam Indonesia 
sekarang ini


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hdkhojb/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1122946977/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke