Mongol, Penakluk Yang Tertaklukkan

Kedigdayaan militer sebuah bangsa tak otomatis menjadikannya mampu memberikan 
pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang ditaklukkan

Oleh: Alwi Alatas* 

Hidayatullah.com--Pada tulisan tentang "Mozarabic Christian" telah digambarkan 
betapa bangsa yang kalah, cenderung mengikuti bangsa yang menaklukkannya dalam 
hal cara berpakaian, berbahasa, dan dalam berbagai aspek kebudayaan lainnya. 
Namun, ada kalanya bangsa penakluk yang justru pada akhirnya terpengaruh oleh 
bangsa yang ditaklukkannya.

Fenomena semacam ini sebetulnya bisa dilihat pada kasus raja-raja Norman yang 
menguasai Sisilia. Mereka merebut dan menguasai pulau di Italia Selatan itu 
dari tangan kaum Muslimin, tapi kemudian mereka sendiri terpengaruh oleh 
kebudayaan kaum Muslimin di wilayah tersebut yang memang lebih maju dari 
kebudayaan Barat pada masa itu. Hanya saja, hal ini tidak berlangsung terus 
menerus, dan kaum Norman sendiri tidak pernah memeluk Islam sebagai agama 
mereka. Pada akhirnya, populasi Muslim di wilayah tersebut semakin menyusut dan 
ketika kendali gereja Katolik makin kuat, maka pengaruh Islam di wilayah 
tersebut bisa dikatakan lenyap sama sekali.

Tulisan kali ini akan membahas kisah penaklukkan besar-besaran oleh sebuah 
bangsa yang belakangan justru takluk dan tunduk pada kepercayaan dan kebudayaan 
bangsa yang ditaklukkannya. Ya, para penakluk tersebut adalah bangsa Mongol, 
dan yang ditaklukkannya adalah kaum Muslimin, di samping bangsa-bangsa lainnya. 
Ini terjadi pada abad ke-13. Fenomena ini memperlihatkan kepada kita bahwa 
kedigdayaan militer sebuah bangsa tidak otomatis menjadikan bangsa tersebut 
mampu memberikan pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang 
berhasil ditaklukkannya. Kekuatan militer hanya memberikan kemampuan kontrol 
secara fisik saja. Pengaruh terbesar tidak datang dari kekuatan fisik semacam 
ini, melainkan dari sistem keyakinan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih 
unggul. Kedua hal yang terakhir ini tidak dimiliki secara baik oleh bangsa 
Mongol.

Dunia di abad ke-13 tidak pernah membayangkan akan lahir seorang seperti 
Temujin dan akan ada penaklukkan besar-besaran oleh bangsa Mongol. Hal semacam 
itu sudah lama berlalu sejak era Attila the Hun dan Alexander the Great. 
Temujin berhasil menyatukan suku-suku Mongolia di bawah kepemimpinnya dan 
mendapat gelar Genghis Khan pada tahun 1206. Penyatuan suku-suku Mongol 
ternyata tidak menjadi tujuan akhir Temujin, melainkan hanya permulaannya saja. 
Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan, "ketika kamu makan, nafsu makanmu 
bertambah." Ini juga yang berlaku pada bangsa Mongol di bawah kepemimpinan 
Genghis Khan dan anak cucunya. Ketika sebuah wilayah berhasil ditaklukkan, 
nafsu untuk menaklukkan wilayah lainnya tidak berhenti, malah semakin kuat.

Bersatunya bangsa yang masih terbilang barbarik itu, menjadi suatu ledakan yang 
apinya menjalar cepat dan meruntuhkan peradaban-peradaban yang jauh lebih maju 
di sekitarnya. Satu per satu kerajaan-kerajaan di China dan Rusia, 
kesultanan-kesultanan Islam di Afghanistan, Asia Tengah, Persia, bahkan pusat 
kekhalifahan di Baghdad, hingga wilayah-wilayah  Eropa Timur, rontok dan tak 
mampu membendung laju kuda-kuda Mongol yang agak pendek dan gesit itu. Bagi 
dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu 
pendahuluan, sekaligus miniatur keluarnya Ya'juj Ma'juj pada akhir zaman.

Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah 
diserbu oleh pasukan Genghis Khan. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike 
Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang berlaku tujuh 
setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. "Hanya 
sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!" 
seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National 
Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima 
nasib buruk dari pasukan Mongol.

Wilayah China Utara diinvasi oleh Mongol pada tahun 1211. Cucu Genghis Khan, 
Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan China pada tahun 1279, sekitar 
setengah abad setelah kakeknya meninggal. Dinasti Mongol di China dikenal 
sebagai Dinasti Yuan.

Pada tahun 1219, pasukan Mongol menyerang kesultanan Khawarizmi dan merebut 
kota-kota penting, seperti Bukhara dan Samarkand. Dari sana, pasukannya 
menyerbu ke Utara dan mengalahkan pasukan Rusia. Kemudian berbalik arah lagi 
dan menaklukkan wilayah-wilayah Afghanistan dan Iran. Setelah kematian Genghis 
Khan, proses penaklukkan sama sekali tidak berhenti, malah semakin kuat. Pada 
tahun 1258, Hulagu Khan bahkan menyerang ibukota Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 
di Baghdad dan menyebabkan simbol utama kepemimpinan dunia Islam itu runtuh. 
Dari sana, pasukan Mongol terus menginvasi Syria dan Palestina, serta berusaha 
masuk ke Mesir, tapi tertahan oleh tentara-tentara Mamluk Mesir melalui 
pertempuran Ayn Jalut. Penaklukkan Mongol atas dunia Islam terhenti di situ. 
Sementara di Utara, tentara-tentaranya terus menginvasi Eropa Timur hingga ke 
Laut Adriatik, dan nyaris meneruskannya hingga ke Eropa Barat.

Terlepas dari kemampuan militernya yang hebat, Mongol tidak menonjol secara 
kebudayaan. Walaupun para pemimpin Mongol mengundang para ahli ke pusat 
pemerintahannya untuk membangun negeri itu, tetapi bangsa Mongol sendiri tidak 
tampil sebagai ilmuwan, sastrawan, atau arsitek. Mereka tetap memainkan peran 
yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sebagai tentara dan penunggang kuda 
yang tangguh. Kekosongan di lapangan peradaban otomatis diisi oleh 
bangsa-bangsa lainnya, dan kaum Muslimin memiliki peranan yang besar dalam hal 
ini.

Sejak awal perkembangannya, Genghis Khan sendiri sudah mengambil aspek 
kebudayaan Muslim untuk diterapkan bagi kemajuan bangsanya. Ia mengadopasi 
aksara Uyghur ke dalam bahasa Mongol dan memercayakan pendidikan anak-anak 
lelakinya pada kalangan Uyghur juga. Kendati bersikap sangat kejam terhadap 
lawan-lawan yang ditaklukkannya, sikap para pemimpin Mongol di luar pertempuran 
terhadap para ulama dan agamawan serta tempat-tempat ibadah relatif toleran. 
Hampir sebagian besar aspek peradaban di wilayah-wilayah Muslim yang 
ditaklukkan tetap diisi dan dikembangkan oleh para ahli Muslim. Bahkan 
satu-persatu pemimpin Mongol sendiri akhirnya masuk Islam.

Berke Khan (kami akan menulis secara khusus tentang beliau dan wilayah Golden 
Horde yang dipimpinnya pada kesempatan lain), salah satu pemimpin Mongol di 
wilayah Golden Horde yang mencakup Rusia dan sebagian Asia Tengah, termasuk 
yang awal masuk Islam. Ia ikut berperan menghalangi Hulagu Khan yang masih 
terhitung familinya sendiri dari upayanya menguasai seluruh Syria serta dari 
keinginannya merebut Mesir. Berke marah dan memerangi Hulagu karena yang 
terakhir ini telah meruntuhkan kekhalifahan Islam di Baghdad. Dinasti Il-Khan 
yang didirikan Hulagu sendiri pada akhirnya berubah menjadi dinasti Muslim. 
Sejarah Mongol ditulis terutama oleh para sejarawan Persia Muslim seperti Ala 
al-Din Juwaini dan Rashid al-Din Hamadani yang bekerja pada pemerintahan Mongol.

Keadaan di China tidak kalah menarik. Di bawah Dinasti Yuan, banyak posisi 
penting pemerintahan dan ilmu pengetahuan diisi oleh orang-orang Islam. Ketika 
dinasti ini runtuh pada pertengahan abad ke-14, posisinya digantikan oleh 
Dinasti Ming yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai sebuah dinasti 
Muslim. Sejak masa Dinasti Yuan, kaum Muslimin di China sudah dikenal sebagai 
orang-orang yang terpelajar. Pada masa Dinasti Ming, peran mereka jadi lebih 
menonjol lagi. Cheng Ho, yang dikenal sebagai salah satu admiral terbesar 
sepanjang sejarah dan disebut-sebut telah tiba di benua Amerika tiga perempat 
abad lebih dulu dari Colombus, merupakan pelaut Muslim yang mengabdi pada masa 
awal keberadaan Dinasti Ming. Kaum Muslimin memang telah ditaklukkan oleh 
bangsa Mongol yang bersatu padu dan kuat secara militer. Namun pada akhirnya 
justru mereka yang menaklukkan bangsa Mongol melalui sistem keyakinan dan 
pengetahuan mereka yang lebih menonjol.

Pada hari ini, kaum Muslimin juga telah takluk oleh peradaban Barat yang lebih 
ungul dalam hal militer dan pengetahuan. Namun, di sela-sela kekalahan 
tersebut, kita masih dibuat heran dengan begitu banyaknya masyarakat Eropa dan 
Amerika yang masuk Islam. Umat Islam berada di posisi yang lemah dan tak 
berdaya. Tidak sedikit dari mereka yang terpengaruh kebudayaan Barat. Tetapi 
itu ternyata tidak menghalangi masyarakat Barat sekarang ini berbondong-bondong 
masuk Islam. Begitu juga tidak sedikit gereja-gereja di Eropa dan Amerika 
Serikat yang dijual dan kemudian berubah menjadi masjid. Akankah fenomena yang 
pernah terjadi pada bangsa Mongol akan terjadi juga pada bangsa Barat, walaupun 
yang terakhir ini memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan bangsa Mongol? 
Akankah pada akhirnya Barat akan menundukkan diri dan menerima Islam, agama 
dari peradaban yang telah mereka taklukkan? Wallahu a'lam bis showab. 

Shalom,
Tawangalun.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke