http://www.shnews.co/detile-7979-ketika-alam-tak-lagi-bersahabat-dengan-kehidupan-.html


Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat dengan Kehidupan 
Agus Sana’a | Senin, 17 September 2012 - 14:07:10 WIB


(dok/antara)
Profesi sebagai nelayan tidak lagi menjanjikan kelangsungan hidup keluarga.


Di masa lampau, masyarakat Indonesia sangat meyakini pepatah usang “hujan emas 
di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik”. Kini pepatah 
usang itu tampaknya tak lagi berlaku bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara 
(Sultra), terutama yang bermukim di wilayah kepulauan yang tandus dan gersang. 

Masyarakat di pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Buton, Muna atau Wakatobi, 
belakangan ini sudah lebih banyak merantau ke berbagai daerah di Indonesia, 
seperti Papua, Maluku, Tanjungpinang, bahkan ke luar negeri, Malaysia. Warga 
memilih meninggalkan kampung halaman karena alam yang selama ini menjadi tempat 
bernaung, tak lagi bersahabat dengan kehidupan warga. 

“Pendapatan menjadi nelayan tangkap ikan yang selama ini sebagai penopang hidup 
keluarga, saat ini tak bisa lagi diandalkan. Sekali melaut, sudah beruntung 
bisa mencukupi kebutuhan hari itu juga,” tutur La Ndiali (49), nelayan asal 
Desa Uwe Maasi, Pulau Kadatua, Kabupaten Buton saat hendak berangkat ke 
Malaysia, menumpang KM Bukit Siguntang. 

Di negara tetangga itu, Ndiali bersama 10 rekannya tdak peduli akan menjadi 
buruh kasar di sejumlah proyek pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Ini 
karena satu hari kerja mereka mendapatkan upah antara 30-50 ringgit Malaysia. 

“Kalau mendapatkan toke (majikan-red) yang baik, kami bisa mendapatkan upah 
kerja sampai 50 ringgit per hari. Jika tidak, hanya diupah di bawah 50 ringgit, 
paling rendah 30 ringgit,” kata Ndiali yang sudah ketiga kalinya ke Malaysia. 

Keterangan serupa diungkapkan La Ode Sunartion (25), warga Desa Banabungi, 
Pulau Kadatua, yang Jumat (24/8) lalu juga berangkat ke Malaysia menumpang 
kapal yang sama dengan Ndiali. 

Menurutnya, hidup sebagai nelayan tangkap ikan di Pulau Kadatua sudah tidak 
bisa diandalkan lagi untuk menghidupi keluarga. Hasil tangkapan ikan nelayan di 
Pulau Kadatua setiap harinya hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup untuk hari 
itu juga. 

Akibatnya, warga Pulau Kadatua yang saat ini berjumlah sekitar 8.000 jiwa 
berbondong-bondong merantau ke berbagai daerah di Indonesia seperti Maluku 
Utara, Maluku Tenggara, Papua, Tanjungpinang, termasuk ke luar negeri, 
Malaysia. 

Nasib yang dialami nelayan Pulau Kadatua tidak berbeda jauh dengan para petani 
jeruk manis di Pulau Siompu, tetangga Pulau Kadatua. Menurut La Ode Harsin, 
warga Desa Biwinapada, sejak beberapa tahun terakhir, tanaman jeruk manis yang 
pernah membanjiri pasar-pasar buah di berbagai kota di Indonesia, bukan hanya 
tidak produktif lagi, tapi untuk tumbuh pun sudah susah. 

“Kadang-kadang baru mau berbuah, tanaman jeruk langsung meranggas lalu mati. 
Jadi, tidak bisa menghasilkan apa-apa lagi,” kata Harsin yang juga siap 
berangkat ke Malaysia. Karena itu, kata Harsin, separuh dari sekitar 15.000 
penduduk Pulau Siompu sudah hidup di perantauan di berbagai daerah di 
Indonesia, termasuk di luar negeri, Malaysia. 

Mengadu Nasib 

Meski di Malaysia mereka tidak menghadapi hidup yang mudah, niat untuk bekerja 
di negara itu sangat kuat. Tidak sedikit di antara mereka yang mengadu nasib di 
negeri jiran itu harus kembali ke kampung dengan tangan hampa karena tertangkap 
polisi Malaysia saat bekerja menjadi buruh kasar di gedung-gedung bertingkat di 
negara itu. 

“Paspor yang kami pegang ini hanya berguna untuk masuk ke negara Malaysia. 
Setelah berada di Malaysia, kami harus main kucing-kucingan dengan polisi 
Malaysia karena keberadaan kami dianggap ilegal," kata La Ndiali. 

Lebih konyol lagi, ujar Ndiali, ketika warga Sultra yang berangkat sendiri 
tersebut mengalami kecelakaan kerja jatuh dari bangunan tempat bekerja yang 
menyebabkan kematian, tidak mendapatkan perlindungan apa pun. 

Jenazah yang mengalami kecelakaan pun tak dapat dipulangkan ke kampung halaman, 
karena tidak ada teman yang bisa mengurus pemulangan jenazah. “Ada di antara 
TKI asal Sultra yang masuk sendiri-sendiri ke Malaysia mengalami kecelakaan 
kerja, lalu meninggal dan dikubur di Malaysia,” katanya. 

Para TKI sebetulnya banyak yang tidak ingin ke Malaysia, jika alam tempat 
mereka bernaung masih memberikan harapan untuk keberlanjutan hidup keluarga. 
Namun, nelayan tangkap ikan Pulau Kadatua dan petani jeruk manis di Pulau 
Siompu, Buton serta petani jambu mete di Kabupaten Muna, tidak lagi mendapatkan 
kemampuan hidup bertahan di kampung halamannya. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke