Al Qur'an Merendahkan Wibawa Wali Nanggroe?
Teuku Zulkhairi | Mahasiswa Program Doktor IAIN Ar-Raniry
Senin, 05 November 2012 12:41 WIB

Sedih, pilu dan malu mendapati kabar tidak adanya syarat bisa baca Alqur’an 
dalam draft Qanun Wali Nanggroe. Di tengah upaya membumikan Alqur’an dalam 
semua tatanan kehidupan di Aceh, namun upaya untuk mendisfungsikan Alqur’an 
justru datang dari lembaga wakil rakyat, DPRA. Upaya mendisfungsikan Alqur’an 
dalam draft Qanun Wali Nanggroe terlihat dari logika yang disampaikan seorang 
anggota DPRA, Abdullah Saleh kenapa sehingga poin syarat bisa baca Alqur’an 
dalam draft Qanun itu ditiadakan.

Alasannya, poin syarat bisa baca Alqur’an bisa merendahkan wibawa, kharisma dan 
ghizah sang wali Nanggroe sehingga tidak elok bagi Wali Nanggroe untuk ditest 
baca Alqur’an di depan khalayak ramai. Test baca Alqur’an cukup tersebut secara 
implisit saja (acehkita.com/3/11/12).

Logika seperti ini bagi saya sangat menyesatkan. Karena posisi Alqur’an 
sesungguhnya lebih besar dan lebih penting dari sekedar menjaga wibawa calon 
Wali Nanggroe dengan segala kekuasaan dan tanggung jawab yang akan diembannya. 
Dengan logika yang sehat, kita pasti bisa memahami, bahwa hanya ketidaklulusan 
dalam test ini saja yang akan merendahkan wibawa calon Wali Nanggroe, karena 
memang bisa baca Alqur’an adalah kriteria paling mendasar bagi 
seorang muslim sehingga seorang muslim yang mampu baca Alqur’an akan lebih 
diutamakan menjadi pemimpin bagi umat Islam ketimbang seorang calon pemimpin 
yang tidak memiliki kemampuan untuk baca Alqur’an.

Sebaliknya, kemampuan seorang calon pemimpin untuk baca Alqur’an justru akan 
meninggikan wibawa dan derajatnya, di sisi Allah maupun di hadapan manusia. 
"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak 
mengetahui" (QS. az-Zumar : 9). Bahkan, dalam ayat lain Allah telah 
memperjelas: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan 
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."(Q.S al-Mujaadilah: 
11). Nah, apakah  mungkin kita akan melihat Wali Nanggroe terpilih nanti yang 
kemampuan baca Alqur’annya tidak diketahui khalayak ramai? Lalu, bagaimana 
mungkin wibawa itu akan muncul?

Urgensi test baca Alqur’an
Alqur’an adalah sumber rujukan seorang muslim dalam menjalani kehidupan yang 
singkat ini. Dengan kemampuannya membaca Alqur’an, seorang muslim akan menjadi 
mudah untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya sehingga darinya bisa terpancar 
cahaya keimanan, cahaya Islam yang akan menerangi dirinya, keluarga dan atau 
rakyat yang dia pimpin.

Sebaliknya, ketidakmampuan seorang muslim untuk membaca Alqur’an menandakan 
akan sulit baginya untuk berinteraksi dengan Alqur’an secara langsung, dan 
apalagi untuk menerjemahkan isinya. Alhasil, syarat bisa baca Alqur’an bagi 
seorang pemimpin di level dan tingkatan manapun niscaya sungguh tidak bisa 
ditawar-tawar lagi.

Lebih lagi, syarat mampu bisa Alqur’an saat ini sedang sangat digemakan dalam 
berbagai seleksi bagi siapapun yang berminat untuk mengemban amanah 
kepemimpinan di berbagai level dan tingkatan. Dan hal itu telah menjadi bagian 
yang tidak bisa dipisahkan masyarakat Aceh. Usaha seperti itu juga merupakan 
syi’ar menuju kehidupan Aceh yang lebih Islami sebagaimana pesan Allah dan 
RasulNya serta petuah para ulama.

Di samping itu, adanya syarat mampu baca Alqur’an dalam berbagai seleksi untuk 
menduduki sebuah jabatan atau untuk lulus dalam sebuah ujian akan memberikan 
sebuah stimulus besar dalam upaya “memberantas” buta huruf/melek Alqur’an di 
Aceh. Dengan menyadari bahwa seseorang tidak mungkin akan bisa lulus dalam 
sebuah ujian atau menduduki sebuah jabatan jika tidak mampu baca Alqur’an, maka 
ia akan mempersiapkan diri sedini mungkin. Persiapan-persiapan itu akan 
mendekatkannya kepada Alqur’an yang akan membantunya menuju kehidupan Islami, 
kehidupan yang damai, harmonis.

Adanya test mampu baca Alqur’an dalam setiap seleksi kepemimpinan selama ini 
membuktikan bahwa kita telah maju beberapa langkah dalam hal revitalisasi 
Alqur’an dan Hadits sebagai sumber hukum, landasan bergerak dan alasan menuju 
kebangkitan. Maka, menganggap poin syarat bisa baca Alqur’an dan di test di 
depan public bisa merendahkan derajat sang calon Wali Nanggroe bisa disebut 
sebagai upaya untuk kembali ke masa ‘kegelapan’.

Jangan maju ke belakang
Kita berharap statemen Abdullah Saleh tersebut tidak mewaliki Partai Aceh (PA) 
sebagai sebuah organisasi. Sebab, kepercayaan yang diberikan rakyat Aceh kepada 
para wakilnya dari PA mewakili segenap harapan terbesar rakyat Aceh sejak 
beberapa dekade silam. Keberadaan para wakil rakyat dari PA di DPRA mewakil 
semangat revolusioner dan kerinduan rakyat Aceh untuk kembali ke masa kejayaan. 
Bahkan, saya bisa menyamai kepemimpinan Partai Aceh di Aceh hampir “setara” 
fenomenalnya dengan kekuasaan yang diberikan rakyat Mesir kepada Partai 
Keadilan dan Pembebasan yang lahir dari gerakan perlawanan Ikhwanul Muslimin.

Obsesi utama rakyat Mesir memilih para wakil rakyat dari Ikhwanul Muslimin 
untuk duduk di legislatif dan eksekutif adalah karena perasaan kerinduan mereka 
untuk hidup dalam naungan Islam serta terbebas dari berbagai bentuk penindasan 
dan tirani rezim yang oportunis pimpinan Husni Mubarak yang resistensi terhadap 
hukum Allah di bumi Mesir. Di era Husni Mubarak, bahkan kampanye dengan 
menggunakan slogan “Islam adalah solusi” pun dilarang keras, para aktivis Islam 
banyak yang ditangkap dan disiksa hal mana yang kemudian melahirkan revolusi 
rakyat Mesir yang menggulingkan Husni Mubarak dari kursi kekuasaannya.

Dalam konteks Partai Aceh yang kita anggap sebagai kekuasaan yang lahir pasca 
“revolusi”, partai ini  telah melakukan beberapa kemajuan dalam hal membentuk 
kehidupan Aceh yang lebih Islami. Gubernur Aceh, Zaini Abdullah kita ketahui 
telah menunjukkan keinginan kerasnya untuk memberantas korupsi di Aceh. Bahkan, 
Wakil Gubernur Aceh yang juga pimpinan Partai Aceh, Tgk Muzakkir Manaf, di awal 
kepemimpinannya juga telah melemparkan sebuah wacana yang sangat indah dan 
urgen, yaitu melakukan pembangunan Aceh yang berbasiskan akhlak dan moralitas 
serta akan menjadikan para ulama sebagai pelita dalam membangun Aceh.

Jadi, dibawah kepemimpinan baru Aceh kita telah maju beberapa langkah, sehingga 
tidak mungkin harus mundur kembali. Test mampu baca Alqur’an di hadapan publik 
harus kembali dicantumkan dalam draft Qanun Wali Nanggroe. Semoga!

* Tulisan ini pertama sekali diterbitkan di Suara Aceh.


________________________________


 

  
ABDULAHA SALEH: SEBAB MALIK MAHMUD TAK BISA BACA AL-QURAN, MAKA SYARAT UNTUK 
ITU TELAH KITA HAPUS !!! 



  
Tak Ada Syarat Baca Quran di Pemilihan Wali, Ini Alasannya

OLEH: AGUS SETYADI - 02/11/2012 - 22:52 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dari Fraksi 
Partai Aceh Abdullah Saleh mengatakan, pemilihan Wali Nanggroe tidak sama 
dengan pemilihan kepala daerah lainnya yang harus dilakukan tes mampu baca 
Al-quran di depan umum.


Demo menolak pengesahan Qanun Lembaga Wali Nanggroe. | Agus Setyadi/ACEHKITA.COM

“Syarat mampu baca Al-Quran sebenarnya memang sudah termasuk secara implisit 
pada Qanun Wali Nanggroe dan perangkatnya. Tetapi secara ekplisit tidak kita 
bahasakan lagi,” kata Abdullah Saleh kepada wartawan di gedung DPRA, Jumat 
(2/11).


Sebelumnya, tiga fraksi di DPRA mengusulkan agar dalam Rancangan Qanun Lembaga 
Wali Nanggroe disebutkan syarat menjadi Wali Nanggroe harus mampu lulus uji 
baca Quran.

Persyaratan menjadi wali nanggroe di dokumen rancangan qanun yang diperoleh 
acehkita.com, tidak disebutkan harus lulus uji membaca Quran.

Abdullah Saleh beralasan, pemilihan wali nanggroe tidak dilakukan sama seperti 
pemilihan kepala daerah biasa atau anggota legislatif. Ini dilakukan untuk 
menjaga kewibawaan wali nanggroe.

“Kita tidak melakukan proses yang dapat menghilangkan kewibaannya,” jelasnya.

Untuk mengetahui kemampuan baca Quran, kata Abdullah Saleh, wali nanggroe 
dipilih oleh tuha peut, tuha lapan dan majelis fatwa.

“Ada kajian wali nanggroe ini dan juga perangkatya adalah pemimpin yang kita 
harapkan gezah kewibawaan dan kharisma,” ujar Abdullah Saleh.

Mantan politikus Partai Persatuan Pembangunan itu mengungkapkan, proses 
pemilihan wali nanggroe dilakukan dengan cara yang terhormat tidak seperti 
pemilihan biasa maupun proses rekrutmen untuk jabatan biasa yang mengharuskan 
mampu baca Al-Quran di depan umum.

“Jadi tidak kita perlakukan dengan cara-cara yang seperti orang biasalah, harus 
mampu baca Al-Quran di depan umum. Itu untuk jabatan yang umumlah,” ungkapnya.

Menanggapi pendapat anggota DPRA dari Fraksi Partai Demokrat yang mengusulkan 
agar Wali Nanggroe yang terpilih mampu menjadi khatib dan imam, Abdullah Saleh 
mengatakan bahwa mampu menjadi imam maupun khatib belum tentu mampu memimpin 
Aceh.

“Kapasitasnya dan integritasnya sebagai menjadi pemimpin yang kita lihat,” 
jelasnya. “Tapi secara implisit itu semua sudah masuk seperti mampu baca 
Al-Quran dan mampu jadi imam maupun khatib.”[]

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, 
Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com



________________________________




Tengku Hasan di Tiro: gandjéthat, 'aébteuh lagoina peuë njang ka teudjadi di 
atjèh

http://www.youtube.com/watch?v=vB76_c2Y6IA 

Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!

http://www.youtube.com/watch?v=V4k4RV-bCmM 

Tengku Hasan di Tiro: Peuë makna Indonesia ?
http://www.youtube.com/watch?v=tQx4CvMgg_k 


Tengku Hasan di Tiro: Minimum nibak keupeunténgan Bansa Atjèh

http://www.youtube.com/watch?v=TscD8C0MwfE 
 
Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng 
geutanjoë
http://www.youtube.com/watch?v=rgDKzi0j51I 

Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?
http://www.youtube.com/watch?v=TSOMK9zEKdQ 

Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !
http://www.youtube.com/watch?v=U8awekdidMQ 


Pham beugot seudjarah Atjèh @ Tudjuan Pendídékan Atjèh ! 
http://www.youtube.com/watch?v=psq5tz6w9wA&feature=related 

HIKAJAT SEUMANGAT IMAN. Uléh: Sjahid Tgk Idris Ahmad
http://www.youtube.com/watch?v=gCiemmLRlwg&feature=related 

KISAH SEUDJARAH BARÔ. Keunarang: Tgk M. Daud Husin
http://www.youtube.com/watch?v=PL4N61Pxq4E


Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 


###########################

"Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan 
kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada 
penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh 
Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang 
yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."
http://www.asnlf.org/ 

http://www.asnlf.org/files/5513/4955/4638/SuAM_02.pdf


###############################################################

Attachment(s) from Acheh Watch 
1 of 1 File(s)  
 SuAM_02.pdf

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke