KOMPAS, MINGGU, 25 NOVEMBER 2012 JAZZ DI BAWAH POHON DURIAN
Pertama di dunia, festival jazz digelar di bawah pohon durian, di dekat kandang ayam, dan dibuka oleh pak lurah. Itulah Ngayogjazz di Desa Brayut, Kecamatan Pendowoharji, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu (18/11) pekan lalu. Panggung jazz itu hanya berjarak 4 meter dari kandang ayam. Ketika musik mengalun, ayam dan entok berkeliaran di halaman mencari makan, berbaur dengan penonton. Di depan panggung ada pohon pisang. Di belakangnya adalah rumpun bambu. Di kiri-kanan pentas ada pohon rambutan dan nangka yang semuanya tengah berbuah. Di seberang halaman tempat panggung berdiri ada kebun salak yang teduh. Panggung Keprak, itulah nama panggung dekat kandang ayam itu. Keprak adalah nama alat pengusir burung, terbuat dari bambu yang digunakan petani di sawah. Nama panggung lainnya berbau dunia pertanian, seperti panggung Luku (bajak), Caping, Pacul (cangkul), Lesung, dan Ani-ani. Jazz hujan Begitulah hajatan musik Ngayogjazz digelar di tengah pedesaan, dengan suasana ayem tentrem, alami. Artinya, alam berperan dalam menciptakan atmosfer bagi musisi dan penonton. Bahkan hujan pun seolah menjadi bagian dari perhelatan. Ketika orkes Sinten Remen tampil di Panggung Lesung, hujan turun menderas. Namun, kelompok musik pimpinan Djaduk Ferianto itu tetap bermain. Keyboard terpaksa setengah ditutup plastik supaya tidak kebasahan. Dengan sedikit kerepotan, pemain keyboard masih bisa beraksi. "Hujan deras, masih mau dilanjutkan enggak?" teriak Djaduk dari panggung. Penonton menjawab "Mauuuk... (mereka bukan penonton upahan lho....!") Puluhan penonton tetap berdiri dalam hujan. Mereka mengenakan mantel plastik yang dijual di arena. Sebagian berteduh di bawah pohon mangga dan pohon durian yang berdiri persis di depan panggung (beruntung tidak ada durian runtuh). Sinten Remen dengan penyanyi Silir Pujiwati membawakan lagu seperti "Ekspresi" milik Indra Lesmana, "Esok Masih Ada" sebagai penghormatan pada Utha Likumahuwa, dan "All Night Long"-nya Lionel Richie. "Kita memang diberi jam session oleh alam. Kita tak menolak hujan, ini berkah," kata Djaduk, penggagas Ngayogjazz yang sudah enam kali digelar. "Aku terharu melihat orang-orang nonton kehujanan tanpa komplain sama sekali," kata Syaharani yang tampil bersama kelompoknya, Syaharani and Queenfireworks. Dari atas panggung, Syaharani menangkap isyarat bahwa penonton telah memahami apa yang dia sebut sebagai jazz attitude. Ini adalah sikap terbuka, bebas, spontan, dan improvisatif dalam bermusik. Sikap penonton itu memberi stimulus, energi kreatif bagi musisi yang akhirnya akan dikembalikan kepada penonton. "Mutualnya dapat. Dalam konser jazz itu, koneksi (antara musisi dan penonton) itu penting. Nah, malam itu connection-nya enak. Aku jadi sueneng (senang) banget," kata Syaharani memuji penonton. Komunitas Sejumlah musisi ternama di negeri tampil, seperti Benny Likumahuwa, Barry Likimahuwa Project, Idang Rasjidi, Shadow Puppet dengan Irsa Destiwi-nya, trumpetis Rio Sidik, pianis Erik Sondhy, Indro Hardjodikoro, dan Syaharani and Queenfireworks. Ngayogjazz juga merangkul komunitas jazz dari Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Salatiga, dan lainnya. Ngayogjazz memand dilandasi semangat komunitas, kebersamaan antara penyelenggara, musisi, dan penonton. Gratis. Sejak awal mula dicetuskan, konser Ngayogjazz tak pernah memungut biaya tiket kepada penonton. "Hubungannya bukan komersial, melainkan, gerakan budaya. Untuk menyelenggarakan acara ini kami mencari sumbangan, sponsor, dan pendukung dari mana-mana," ujar Djaduk Ferianto. Pemerhati Ngayogjazz dari Yogyakarta, Warno, mengatakan, selama lima tahun terakhir, Ngayogjazz telah menjadi terminologi perlawanan terhadap citra jazz sendiri. Dalam Ngayogjazz, jazz tidak digunakan sebagai genre musik, tetapi ditambahkan pada kata ngayog (dari kata Ngayogyakarta). "Ini adalah sebuah spirit perlawanan. Musik jazz formal biasa dinikmati dengan membayar, di di ruang tertutup, serta penonton yang rapi dan berbau wangi. Namun, Ngayogjazz bisa dinikmati siapa pun dengan bebas, boleh bersandal jepit, berkalung sarung, dan tak perlu memakai deodoran. Ini peristiwa budaya yang melampaui sekedar musik," katanya. Budi Utomo, warga Desa Brayut, mengungkapkan, awalnya ia ragu saat desanya dipilih menjadi arena Ngayogjazz. Sebab, jazz terkenal sebagai musik kelas atas. "Tapi setelah kami tahu bahwa ini gerakan budaya, kami menerima," kata Budi. Gerakan budaya itu bisa dilihat dari makanan yang dijual di arena. Bukan burger atau hotdog, melainkan legondo, semacam lemper dari ketan, tetapi berisi pisang. "Ini makanan khas Brayut," kata Bambang, Lurah Brayut yang membuka Ngayogjazz. Ngayogjazz seperti melucuti elitisme jazz. Jazz yang terlanjur disalahkaprahkan sebagai musik rumit, njelimet, milik kalangan menengah ke atas, di hajatan ini di-nol-kan. Di Ngayogjazz, tidak ada lagi batas-batas "ndeso" dan kota. Sejauh orang punya telinga, mereka sudah sah menikmati musik apa saja yang terdengar di sana, termasuk apa yang mereka anggap sebagai jazz. Kalau tidak, mana mungkin ribuan orang rela datang berbecek-becek, dari siang hingga malam. (ALOYSIUS B KURNIAWAN / FRANS SARTONO) ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
