Neng, sebut saja begitu, ponakan cantik centil ceria yang
tinggal bersama kami, berapa hari belakangan mendadak
rada judes. Setiap pagi suara serak sexynya cuma ber "daah..
daah.. daaah..." ke semua orang saat pamit berangkat kerja.

Tidak biasanya dia begitu. Diantara ponakan lain yang juga
tinggal di sini, Neng paling rajin menyapa orang-orang
yang dipamiti. Terutama, "Aku berangkat ya maay..." kepada
ma'e yang menjadi ibu asuhnya. Lalu "Berangkat ya yaahh..."
kepada laki si ma'e yang sudah dianggap ayah sendiri.

Pernah juga suatu sore serak sexynya menjadi protestan,
"Ini siapa mau bikin apa yaaa..." protesnya waktu menemukan
mug berisi kopi di meja teras dapur yang sedang menunggu
air bergolak. Saat itu dia mau menyelesaikan tugas kantor
di meja favorit dekat taman berudara segar tapi rupanya
terganggu oleh keberadaan mug yang tak jelas itu. Padahal,
siapa pun di rumah ini tahu bahwa itu adalah mug kesayangan 
si ayah. Bagus. Salah sendiri, kenapa masak air ditinggal.
Ya nggak?

Tapi untuk ukuran Neng, protes itu jadi luarbiasa. Sebab
biasanya kalau menemukan hal-hal menggantung seperti itu
dia cukup ringan tangan untuk membereskannya. Atau, kalau pun
tangannya terlalu berat ya paling ditinggal saja tanpa suara,
tanpa kata-kata, tanpa harus menjadi protestan. Mulut
mungilnya memang istimewa. Bisa terus berkicau tentang apa
saja yang dijumpainya sepanjang hari sembari tangannya cekatan
mengerjakan ini-itu seolah mulut dan tangannya punya nyawa
sendiri-sendiri. Tapi untuk protes, untuk judes, jelas bukan
karakter Neng. Simpan saja dulu protes dan judes itu untuk
suamimu kelak.

Itulah kenapa kejudesan Neng, yang buat anak perempuan lain
barangkali tergolong ringan, langsung mencemari atmosfir rumah.
Kurang jelas apa yang menyebabkan dia mendadak jadi alien di
rumah. Firasat ma'e, Neng sedang beranteman dengan Ujang,
sebut saja begitu, sang gacoan yang sudah dipacarinya 3 tahun.
Gosipnya, ada yang disamber orang. Entah yang mana.

Wah..

Tapi cihuy!

Seperti Pitung menemukan pelor emas, aku mulai cari garagara
untuk menertibkan atmosfir rumah. Sekali pelor emas jatuh
ke tangan si Pitung, modal kumpeni cuma tinggal biji melinjo
yang kelewat letoy buat menggores kulit Pitung sekalipun.
Demikian pepatah rusia.

Operasi garagara dimulai dengan menyebar pertanyaan ke seisi
rumah (kecuali Neng). Pertanyaan seperti, "Ujang sudah datang?"
atau, "Ujang telpon nggak?" dlsb kuledakkan di segala ruangan
hingga letusannya terdengar sampai kamar Neng berikut jawaban
dari orang-orang. Sudah tentu jawabannya negatif semua. Tapi
kan bukan itu tujuannya. Yang terpenting saat ini adalah
menggugah kesadaran setiap penghuni rumah tentang menghilangnya
Ujang dari penglihatan dan pendengaran. Cuma dalam hitungan hari,
bermunculanlah mimik prihatin hingga ke wajah orang-orang dapur.

Bagus. Tapi tolong copot mimik itu di depan Neng. Cukup saja
maklumi hatinya yang lagi susah.

Tahap berikutnya, pertanyaan mulai kubidik langsung ke Neng.
Awalnya dia menjawab tangkas. "Belum kontak tuh.." atau,
"Hari ini aku sibuk yah, gak sempet.." atau, "Oh dia lagi ke
sana ke sini (luar kota maksudnya)". Terserahlah. Akan terus
kubidik sampai perawan molek itu kehabisan cara mengelak.

Namun dasar anak asuh ma'e, dia pilih mengelak dengan diam.
Setelah kehabisan cara, dia mulai menjawab cuma dengan senyuman 
lesung pipitnya disertai tatapan tajam tanpa menunjukkan minat 
pada topik pembicaraan. Cuek bebek. Hmm.. keren...

Hampir satu bulan proses ini berlangsung. Sementara itu, dua
jagoanku kalau kebetulan kumpul di rumah juga sengaja menggoda
adik perempuannya dengan mainkan No One To Depend On, Santana.
"ain't got nobody..." Tapi karena berbahan centil, Neng malah
cekikikan sambil goyang entah cha-cha entah samba entah rumba,
sambil melorotkan leher oblong hingga pundaknya melongok dunia.
Oh, goyang tali beha itu namanya.

Ketika senyum jawaban mulai mencong ke kiri mencong ke kanan,
makin keliatan judesnya, barulah kukeluarkan pelor emas dari
buntelan kumalnya. Kugosok sampai cukup mengkilap untuk 
dijadikan kalung di dada. Lalu koordinasi dengan perkembangan 
operasi rahasia ma'e dan sepupunya (ibu kandung Neng) yang 
coba meyakinkan Ujang untuk bertahan dan pantang mundur. Dua 
emak-emak itu terpaksa berpihak ke Ujang setelah gagal membujuk 
buah hatinya untuk melunak. Rasain. Buah jatuh nggak ke mana.

Setelah dapat ijin dari Ujang untuk masuk arena pertempuran,
kucari waktu yang enak buat pamer kalung pelor emas ke Neng.
Suatu kali di akhir pekan, di meja sarapan aku nyeletuk 
sembarangan. "Kemarin aku dong ketemu Ujang. Sama cewek..." 

Neng melirik sekilas, "Iya?". Kaget dia, kok tiba-tiba aku
kalungan pelor emas. "Biarin deh.." timpalnya sembarangan juga. 
Tetap tak berminat pada topik pembicaraan tapi melengos. 
Berusaha mengendalikan diri. Kehilangan nyali untuk menatap 
tajam seperti biasa. 

"Cakep juga ya ceweknya.." Hap! Potongan terakhir pisang 
goreng masuk mulut.

Neng bingung. Antara pengin kabur dan mendengar kelanjutannya.
Untung dia cuma bungkam. Kalau enggak, giliran aku yang bakal 
kebingungan kalau Neng minta ciri-ciri itu cewek. Lha wong itu 
cewek imajiner untuk intimidasi belaka. 

Pada saat yang hampir bersamaan, ma'e dan sepupunya meramaikan 
fb keluarga dengan topik "kerennya Ujang". Dan, sejak sarapan 
pelor itu konon di fb terjadi perang terbuka antara Neng dan 
Ujang. Mereka saling ledek, saling sindir, saling pamer pacar 
baru masing-masing. 

Keluarga besar di seluruh jagat, geger. Lalu sepakat membentuk 
dua kubu, pendukung Neng dan pendukung Ujang dengan niat 
membuat hidup tambah hidup. Alias, ngomporin. Ada juga sih 
sedulur saderek tipe "ilmuwan" yang berusaha netral dengan 
nasihat-nasihat yang heu-euh. Tapi tidak cukup untuk 
menyelamatkan posisi Neng yang agak terpojok. Lebih-lebih lagi 
dua emak tersayangnya justru berpihak ke musuh besarnya. 
Sebagai penonton fb aku cuma bisa garuk kepala. 

Seru. Kocak. Rame. Tapi jangan sampai berlarut. Bagaimana pun 
hiburan kali ini menyangkut dua perasaan membara yang sesekali 
memunculkan jilatan api. Kudorong Ujang untuk segera menurunkan 
beat. Sukur-sukur menyudahinya. Runding punya runding, 
kupercayakan sepenuhnya pada Ujang untuk menempuh cara apa. 

Tak dinyana tak diharap, jomblo keren berbadan tegap itu (lebih 
guede dari gua!) menunjukkan sisi manusianya, tertunduk lemas 
menyembunyikan matanya, berpikir keras. Aha, bagusnya tempat 
minum ini lumayan remang. Kalau enggak, bisa-bisa mata ini 
ikutan becek. Kutinggalkan bodi sterk itu berpikir sendirian. 

Berhari-hari kontak dengan Ujang belum menghasilkan kata sepakat. 
Tapi dia setuju untuk meredam suasana dengan mengurangi 
kehadirannya di fb. Sampai suatu hari, para ponakan di rumah 
pada ramai terkekeh sepanjang hari menanggapi update Ujang di fb. 
Persisnya lupa. Tapi kira-kira bunyinya begini, "Neng nggak tau 
barusan gue dinner sama pacar selingkuhannya..." 

Entah dari mana si Ujang dapat ide menulis ini. Yang pasti, 
kalimat becandaan itu sangat ajaib! Membuat centilku seperti 
tersengat kreativitas Ujang yang merangsang. Mungkin juga 
membuatnya teringat akan apa yang dia rindukan dari sosok yang 
selama ini dipacarinya. 

Matanya kembali berbinar tanda hatinya melumer. Ceriwisnya 
tidak lagi judes, dan lesung pipitnya yang menentramkan itu 
memenuhi lagi atmosfir rumah. Cintanya bersemi kembali... 


* 

Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun lalu. Dan kemarin, 
Sabtu 16 Februari 2013 - konon bertepatan ciuman pertama mereka, 
Neng dan Ujang mengikat janji untuk terus melanjutkan hidup bersama-sama. 

Berdua. 

Tanpa pacar selingkuhan masing-masing... 
hahaha! kissing is healthy.. 


http://www.youtube.com/watch_popup?v=EucT4JCEFy4&vq=large

mencintai angin 
harus menjadi silir

mencintai air 
harus menjadi ricik

mencintai gunung 
harus menjadi terjal

mencintai api 
harus menjadi jiwa

mencintai cakrawala 
harus menebas jarak

mencintaimu... 







------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke