Bagi yang tinggal di luarnegeri atau yang terbiasa dengan segala hal yang serba terjamin dan terukur, tentu wajar mempertanyakan persyaratan standar atau apapun yang muncul di benak. Tetapi kawan-kawan di tanahair selalu bersyukur atas itikad & ikhtiar setiap warganegara di tengah segala kekurangan serta ketidakpedulian pemerintah. Termasuk, mensyukuri hadirnya rumahsakit-apung dr. Lie ini.
Pasti betul, rumahsakit-apung ini masih mengandung kelemahan. Maklum, tidak banyak negara kepulauan yang bisa dijadikan referensi soal ini. Padahal, sebagai negeri "terapung" paling besar di dunia, rumahsakit-apung menjadi kebutuhan mutlak untuk melayani masyarakat di pulau-pulau terpencil. Kalaupun ada pasien yang membutuhkan tindakan lebih intensif, setidaknya rumahsakit-apung ini bisa mengontak rumahsakit besar terdekat. Dari segi kelengkapan, rumahsakit-apung ini sudah lebih memadai dari suster-apung. Sudah menyamai Puskesmas atau Balai Kesehatan di tingkat kecamatan. Dan pasti, jauh lebih memadai dibanding dokter-terbang yang berpraktek di pedalaman Papua. Mengenai suster-apung, salahsatunya bisa dilihat di video ini, http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filmbox/filmbox.php?bid=2385&title=Suster%20Apung%20%28dengan%20subtitel%20Bahasa%20Inggris%29 Di situs itu juga ada sejumlah film dokumenter lain yang bisa memberi masukan tentang Indonesia atau sekedar melepas rindu melihat wajah anak bangsa. Dalam bahasa film dokumenter, tentunya. Selamat menyimak. --- "k.djie" <k.djie2@...> wrote: > Tidak tahu apa mungkin dapat diatasi dengan : > > Pakai alat2 yang mobile, yang dapat dipasang secara cepat supaya > tak bergerak dalam kapal. > > Kalau operatie tak dapat dilakukan dalam kapal, apa tidak dapat > dipasang secara cepat kamar operatie di pantai, > > Dan alat2 yang mobile dibawa ke kamar operatie darurat ? > > Dalam perang, operatie kan juga dilakukan dalam tenda2 darurat. > > > > From: tmaslam.2007@... > > > Bung Chan, > > > > Saya bukan dokter ya, tapi saya nggak bisa membayangkan sampai > > dimana ketelitian dari misalnya chirurg yang sedang operasi > > dengan menggunakan alat alat canggih yang butuh kestabilan letak > > atau berfungsinya aparaat? Makanya bisa dimengerti adanya > > kesulitan yang dikatakan dalam artikel tersebut, misalnya > > goncangan ombak. Lalu sampai dimana target mereka? > > > > Salam, > > > > Titiek Maslam > > > > -------Oorspronkelijk bericht------- > > Van: Chan CT <mailto:SADAR@...> > > > > > <http://health.detik.com/read/2013/03/18/102324/2196485/1201/dr-lie-dharmawan-perjuangan-bangun-rs-apung-swasta-pertama-indonesia?l992203755> > > > > > > http://health.detik.com/read/2013/03/18/102324/2196485/1201/dr-lie-dharmawan-perjuangan-bangun-rs-apung-swasta-pertama-indonesia?l992203755 > > > > > > > > > Doctor's Life > > > > > > Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama > > > Indonesia > > > > > > Putro Agus Harnowo - detikHealth > > > > > > Senin, 18/03/2013 10:32 WIB > > > > > > > > > Untuk melengkapi pemberitaan Detik, harap diketahui Foto-foto > > > dibawah bukan dari DETIK, tapi tambahkan dari yang saya > > > dapatkan. -- ChanCT > > > > > > RS_ApungDokterShare Dr.LieMemberiPenjelasan > > > > > > Perahu putih inilah RS Apung Swasta pertama Indonesia, dan dr > > > Lie A. Dharmawan Memberi Penjelasan pada Pasien sesaat masuk > > > Kamar Operasi di RS_Apung (Foto: Anton Halim) > > > > > > > > > Jakarta, Kepedulian terhadap warga miskin dan sulit mendapat > > > layanan kesehatan mendorong dr Lie Dharmawan membangun rumah > > > sakit apung. Setelah menghabiskan waktu 4 tahun, kapal yang > > > berfungsi sebagai rumah sakit ini siap mengarungi samudra > > > menyambangi masyarakat yang membutuhkan. > > > > > > "Ini adalah rumah sakit apung pertama milik swasta di > > > Indonesia. Saya yakin ini adalah rumah sakit apung pertama dan > > > akan diikuti banyak-banyak lagi rumah sakit lainnya yang pasti > > > akan membawakan keuntungan dan kebahagian bagi bangsa dan > > > negara kita," tegas dr Lie kepada detikHealth seperti ditulis > > > Senin (18/3/2013). > > > > > > Gagasan pembuatan rumah sakit apung ini sebenarnya sudah ada di > > > benak dr Lie sejak tahun 2008, namun baru bisa direalisasikan > > > tahun 2013. Lamanya proses ini disebabkan karena adanya pro dan > > > kontra, apalagi referensi mengenai rumah sakit apung di > > > Indonesia belum ada. > > > > > > Sebenarnya konsep rumah sakit apung di Indonesia sudah ada, > > > namun milik tentara dan hanya digunakan ketika perang, > > > sedangkan yang dimiliki swasta tidak ada. Maka lewat yayasan > > > doctorSHARE yang ia dirikan, dr Lie berupaya menggalang > > > bantuan, baik moriil dan materiil untuk mewujudkan idenya. > > > > > > Selama 4 tahun menyelesaikan proyek rumah sakit apung ini, tim > > > doctorSHARE awalnya sulit menemukan jenis kapal yang sesuai. > > > Beberapa jenis kapal dipertimbangkan untuk dicoba, termasuk > > > kapal tongkang, namun dianggap tidak layak karena badannya > > > terlalu lebar. > > > > > > Dari segi bahan juga demikian. Sempat diusulkan menggunakan > > > kapal berbahan fiber, namun urung karena mudah pecah ketika > > > menabrak. Akhirnya diputuskan menggunakan perahu nelayan yang > > > sederhana karena dianggap lebih memadai. Setelah jadi, kapal > > > itupun berganti nama menjadi 'Floating Hospital'. > > > > > > "Kapal ini memang secara fisik kecil, ini adalah floating > > > hosiptal yang terkecil di dunia. Tapi sebagai lawannya, sebagai > > > kebailkannya, semangat yang menggebu-gebu, semangat yang > > > membara tidak pernah putus asa selama 4 tahun merancang kapal > > > ini dan bekerja untuk keberhasilan kapal ini," terang dr Lie. > > > > > > Disebut kecil karena Floating Hospital ini sejatinya adalah > > > kapal berukuran panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot > > > mati 114 ton. Kapal ini terbagi menjadi tiga dek. Dek atas > > > untuk nahkoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi > > > ruangan steril dan ruang operasi, dek bawah adalah laboratorium. > > > > > > Pembangunan rumah sakit ini menghabiskan dana Rp 3 miliar dari > > > rencana semula Rp 6 miliar. Dana tersebut sepenuhnya diperoleh > > > dari sponsor. Menurut dr Lie, ada sponsor yang menyumbang > > > dengan cara memberikan diskon untuk peralatan dan perlengkapan > > > yang diperlukan, jadi bisa menghemat biaya sekian banyak. > > > > > > Sebagai pilot project, kapal ini melakukan pelayaran perdananya > > > pada 16 - 17 Maret lalu di pulau Panggang, kepulauan Seribu. > > > Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa penyuluhan, > > > pemeriksaan kesehatan, bedah minor dan bedah mayor. Sebanyak 25 > > > dokter dan 25 orang relawan disiapkan untuk melayani pasien. > > > > > > Yang istimewa, Floating Hospital ini dibangun untuk memberikan > > > pelayanan kesehatan cuma-cuma. Dr Lie tergerak hatinya karena > > > melihat kenyataan banyak masyarakat yang membutuhkan > > > pertolongan medis, tapi belum mendapat kesempatan karena > > > berbagai faktor, terutama faktor demografis dan faktor > > > finansial. > > > > > > "Kami akan berusaha mendapatkan dana dari donatur. Kami akan > > > membuka sebuah klinik di Jakarta dan penghasilannya digunakan > > > untuk membiayai kelangsungan hidup doctorSHARE. Kami belum tahu > > > apa lagi yang dapat kami lakukan untuk mendapatkan dana bagi > > > kelangsungan pelayanan yang terus kami kerjakan. Tapi satu yang > > > menjadi concern kami, masyarakat tidak akan kami bebani dengan > > > pembayaran," ungkap dr Lie. > > > > > > Dalam sehari, dr Lie berhasil melakukan 3 operasi di atas > > > kapal. Walau kapal sesekali bergoyang karena ombak, dokter yang > > > kesehariannya bertugas sebagai kepala dokter bedah di RS Husada > > > ini bisa melakukan operasi dengan baik. Direncanakan akan ada > > > 15 pasien yang menjalani operasi bedah di atas kapal, sedangkan > > > penyuluhan kesehatan dilakukan di Balai Karang Taruna. > > > > > > Ada beberapa kendala yang ditemui dalam pelayaran pertama > > > Floating Hospital ini, salah satunya adalah kecepatan kapal > > > yang hanya 6 - 7 knot. Jika dikonversikan, kecepatannya adalah > > > sekitar 11 - 13 km/jam, cukup lambat jika dibandingkan speed > > > boat. Kendala lain adalah beberapa peralatan yang belum bisa > > > dioperasikan, misalnya alat rontgen. > > > > > > "Sesudah pulang dari Kepulauan Seribu, kami akan mereview apa > > > yang menjadi kekurangan kami, misalnya kapal ini terlalu pelan > > > jalannya. Kalau memungkinkan, dari segi finansial kami bisa > > > mendapatkan dana, lalu secara teknis mesinnya bisa diganti, > > > kami akan mengganti dengan mesin yang lebih baik dan besar agar > > > kapal ini bisa lebih cepat jalannya," terang dr Lie. > > > > > > Masalah mesin tentu menjadi permasalahan yang cukup serius > > > karena kapal ini direncanakan menjelajah daerah-daerah > > > terpencil, lebih terpencil dari kepulauan seribu yang masih > > > masuk dalam wilayah DKI Jakarta. Jadi bisa dibayangkan, sarana > > > dan prasarananya tentu jauh lebih minim. > > > > > > Karena tidak memungut biaya dari pasien, dr Lie berharap bisa > > > menjalin kerjasama dengan aparat-aparat setempat. Misalnya jika > > > di suatu tempat sudah ada puskesmas, dokter setempat diharapkan > > > bisa menjadi ujung tombak mencari pasien yang butuh pelayanan. > > > Hal itu akan mempersingkat waktu singgah sehingga tim bisa > > > melanjutkan ke tempat lain. > > > > > > "Kami merencanakan tujuan kami berikutnya bulan April ini > > > Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Sesudah itu kami akan ke > > > Bali, Sumba, Flores, Timor Barat dan kepulauan Kei karena kami > > > sudah punya home base di sana. Kami punya 2 panti di sana, > > > Therapeutic Feeding Center KAI. Ada 2 pulau Kei besar dan Kei > > > kecil," terang dr Lie. > > > > > > DokterMudaDokterPOLRIpunIkut > > > > > > MengobatiLukaPasienRuangPeriksa > > > > > > Suasana Dokter Muda melakukan pemeriksaan/pengobatan pada > > > pasien dan ruang pemeriksaan di Pulau Seribu (Foto: Anton Halim) > > > > > > > > > > > > Profil > > > > > > Nama : Dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV (Li De Mei) > > > > > > Tempat, tanggal lahir : Padang, 16 April 1946 > > > > > > Orang tua : Lie Goan Hoey dan Pek Leng Kiau (Julita Diana) > > > > > > Isteri : Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan) > > > > > > Anak : > > > - Lie Mei Phing (29 April 1978) > > > - Lie Ching Ming (9 November 1980) > > > - Lie Mei Sing (16 September 1992) > > > > > > Pendidikan : > > > - SD Ying Shi, Padang > > > - SMP Katolik Pius, Padang > > > - SMA Don Bosco, Padang > > > - S1 Free University, Jerman > > > - S2 University Hospital, Cologne > > > - S3 Free University Berlin, Jerman > > > > > > Pekerjaan/kiprah organisasi > > > - Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971) > > > - Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984) > > > - Aktivis gereja Katolik, Jakarta (1985-sekarang) > > > - Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang) > > > - Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006) > > > - Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009) > > > - Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta > > > (2000-sekarang) > > > - Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang) > > > - Pendiri Yayasan Dokter Peduli/doctorSHARE (2008-sekarang) > > > > > > (pah/vta) > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
