Igama – Selama ini dunia pesantren dikenal sangat lekat dengan nuansa
agama. Setiap pagi, siang, sore hingga malam hari kegiatan-kegiatan yang
diajarkan di pesantren selalu berkaitan dengan (pendalaman) agama. Ngaji,
tadarus, shalat berjamaah adalah beberapa kegiatan rutin di dalamnya.

Namun, siapa yang mengira di balik kentalnya nuansa agama yang ada di
pesantren ternyata menyimpan cerita-cerita miris yang sangat bertentangan
dengan (doktrin) agama? Buku dengan judul Mairil, Sepenggal Kisah Biru di
Pesantren yang ditulis oleh Syarifuddin ini mengungkap secara transparan
perilaku-perilaku menyimpang di dunia pesantren, terutama yang berkaitan
dengan penyimpangan seksual santri.

Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan
hasrat libido santri pada santri lain. Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku
hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Di
pesantren kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan umumnya
dilakukan di tengah malam ketika “korban” sedang tertidur lelap.

Yang lebih mencengangkan, praktik seperti ini dilakukan antarsesama jenis
kelamin (laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan). Seks
antarsesama jenis kelamin inilah yang menjadi titik tekan buku ini. Di
pesantren budaya ini bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah mentradisi secara
turun-temurun hingga kini. Sehingga sukar menghilangkan budaya itu karena
sang pelaku dalam menjalankan aksinya sangat rapi, di luar pengetahuan
orang lain.

Jangankan orang lain, kadang yang menjadi korban sendiri tidak menyadari
kalau dirinya pernah dijadikan pelampiasan nafsu seks orang lain. Biasanya
korban baru menyadari kalau dirinya telah menjadi pelampiasan seksual orang
lain ketika bangun tidur. Karena hubungan seks ala pesantren bukan
didasarkan suka sama suka tetapi secara sembunyi-sembunyi, ketika korban
sudah terlelap.

Budaya itu kemudian dikenal dengan istilah nyempet dan mairil. Menurut
penulis, nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan
kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang
memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang
yang sejenis (hlm. 25).

Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil
relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara
nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat
dalam hubungan seksual satu jenis kelamin.

Kondisi sosiologis dunia pesantren dengan pembinaan moral dan akhlak secara
otomatis interaksi antara santri putra dan putri begitu ketat. Keseharian
santri dalam komunitas sejenis, mulai bangun tidur, belajar, hingga tidur
kembali. Santri bisa bertemu dengan orang lain jenis ketika sedang mendapat
tamu. Itu pun jika masih ada hubungan keluarga.

Praktis, ketika ada di pesantren –terutama pesantren salaf (tradisional)–
tidak ada kesempatan untuk bertemu dan bertutur sapa dengan santri beda
kelamin.

Di samping tempat asrama putra dan putri berbeda, hukuman yang harus
dijalankan begitu berat, bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren, jika ada
santri putra dan putri ketahuan bersama. Kondisi seperti inilah yang
menyebabkan perilaku nyempet di kalangan santri di pesantren begitu marak
(hlm. 31).

Perilaku nyempet dan mairil biasnya dilakukan oleh santri tua (senior),
tidak jarang pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah. Dari
hasil penelitian penulis, kegiatan nyempet hanya terjadi ketika masih
menetap di pesantren tetapi ketika sudah lulus dari pesantren budaya
seperti itu ditinggalkan.

Terbukti, kehidupan mereka normal dan tidak ditemukan kasus mereka menjadi
homo atau lesbi. Mereka semua berkeluarga dan mempunyai anak. Karena orang
yang melakukan itu hanya iseng bukan tergolong homoseksual (bagi kaum
laki-laki) atau lesbian (bagi kaum wanita). Mereka melakukan penyimpangan
seks itu sekadar menyalurkan libido seksualnya yang memuncak.

Umumnya yang menjadi korban nyempet dan mairil adalah santri yang memiliki
wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face. Hampir pasti santri (baru) yang
memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri
senior. Bahkan tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain
terlibat saling jotos, adu mulut, bertengkar (konflik) untuk mendapatkannya.

Di pesantren berlaku hukum tidak tertulis yang harus dijalankan bagi orang
yang memiliki mairil. Misalnya jika si A sudah menjadi mairil orang, maka
si mairil tersebut akan dimanja, diperhatikan, diberi uang jajan, uang
makan, dicucikan pakainnya, dan sebagainya; layaknya sepasang kekasih
(pacaran). Jika si mairil dekat dengan orang lain pasti orang yang merasa
memiliki si mairil tersebut akan cemburu berat.
Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menceritakan pelaku nyempet dan
mairil dalam suasana santai, kocak, tetapi serius. Gaya penulisanya
bertutur hampir menyerupai novel. Misalnya ketika penulis menceritakan
tentang santri bernama Subadar yang akan nyempet santri lain.

Di beranda joglo masjid tanpa penerangan lampu, Subadar sambil berpura-pura
tidur, terus merangsek mendekati santri yang masih kecil yang beberapa hari
terakhir menjadi incarannya. “Harus bisa,” gumam Subadar dalam hati.

Namun naas nasibnya kali ini, baru saja mulai angkat sarung korban,
tiba-tiba lampu beranda joglo dinyalakan petugas piket yang seketika itu
membuat Subadar terkejut bukan kepalang…

Penulis buku ini tentu paham betul tentang budaya nyempet dan mairil yang
ada di pesantren. Karena dia juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren
Wonorejo dan Jombang, Jawa Timur.

Boleh dikatakan buku ini adalah hasil temuannya langsung saat dia hidup di
dunia pesantren selama kurang lebih enam tahun lamanya. Membaca buku ini
kita akan terkejut dan mengernyitkan dahi, “Ah yang bener aja.”

Meski peristiwa yang diceritakan dalam buku ini lebih mengandalkan
inprovisasi penulis, pembaca bisa melacak sendiri bahwa peristiwa seperti
ini dalam dunia pesantren, terutama saat malam menjelang, benar adanya.
Atau boleh jadi mereka yang pernah dibesarkan di pesantren akan tersenyum
kecut atau mengakui dan menyangkal peristiwa kebenaran cerita ini.

(Ditulis oleh Zamaahsari A. Ramzah, mahasiswa FISIPOL, Universitas
Muhammdiyah Yogyakarta, alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton
Probolinggo)


Mohammad SAW a Pedophile
Mohammad SAW anak wedus
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke