Refleksi:  Pak Presiden, apa politik ekonomi  Anda untuk memerangi kemiskinan 
dan keterbelakangan di Indonesia?


http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=141415


SBY, MDGs dan Negara Berkembang
Oleh Zaenal A. Budiyono 


Rabu, 19 April 2006
Pada Pertemuan Tingkat Menteri Komisi Ekonomi dan Sosial Asia Pasifik PBB (UN - 
ESCAP) yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) mengingatkan kembali kesungguhan dan komitmen negara-negara 
maju dalam membantu peningkatan negara-negara miskin di dunia melalui program 
Millenium Development Goals (MDGs). 

Menurut SBY, proyek MDGs hanya bisa direalisasikan dengan kerja keras dan kerja 
sama dari semua pihak, khususnya antara negara maju dan berkembang. MDGs 
merupakan proyek pembangunan global yang dideklarasikan oleh 189 negara anggota 
PBB tahun 2000, menandai awal milenium baru. Dalam proyek ini, negara maju 
diwajibkan menyisihkan 0,7 persen dari PDB-nya guna membantu mengatasi 
kemiskinan di seluruh dunia. 

Tujuan utama proyek global ini adalah untuk mengurangi jumlah orang yang hidup 
di bawah garis kemiskinan di seluruh dunia. Parameter dari target MDGs adalah 
mereka yang hidup dengan biaya kurang dari 2 dolar AS per hari. Diperkirakan, 
saat ini ada sekitar 1,3 miliar orang yang masuk ketegori tersebut. Dari jumlah 
ini, 800 juta penduduk dunia menderita kelaparan dan kekurangan gizi, 600 juta 
tidak memiliki akses air bersih dan sebanyak 115 juta tidak mampu mengakses 
pendidikan. 

Nah, MDGs diharapkan dapat mengusir "hantu" kemiskinan global, dengan target 
tahun 2015 nanti jumlah penyandang kemiskinan dapat berkurang menjadi 
setengahnya. Instrumen MDGs antara lain melalui bantuan langsung, pengurangan 
utang dan terbukanya akses perdagangan bagi negara miskin. 

Upaya tersebut dipandang oleh banyak kalangan sebagai proyek yang terlalu 
ambisius. Faktanya, sampai dengan tahun keenam sejak MDGs dideklarasikan, tak 
ada terobosan berarti dari negara-negara maju guna mengangkat harkat hidup dan 
kesejahteraan masyarakat di negara berkembang. 

Melihat kondisi demikian, pada momentum yang tepat pula, SBY selaku Presiden 
Indonesia (sekaligus mewakili suara negara berkembang) mengkritik komitmen 
negara maju yang ternyata hanya jargon semata. 

Sebagaimana dikatakan SBY, biaya yang dibutuhkan untuk pemenuhan pendidikan 
dasar --sebagai salah satu tujuan MDGs-- diperkirakan mencapai 10 miliar dolar 
AS per tahun. 

Jumlah tersebut setara dengan dana yang dikeluarkan Eropa untuk membeli es krim 
setiap tahunnya. Sementara untuk pemenuhan gizi negara berkembang dibutuhkan 
dana sekitar 13 miliar dolar AS per tahun. Angka ini setara dengan pengeluaran 
AS dan Eropa untuk makanan hewan peliharaannya. 

Secara general, dana yang dibutuhkan guna menyukseskan MDGs sekitar 100 miliar 
dolar AS per tahunnya. Jika MDGs dimulai tahun 2000, maka tahun ini seharusnya 
negara-negara maju sudah mencairkan tak kurang dari 600 miliar dolar AS ke 
negara berkembang. Sayangnya, komitmen di awal millenium tersebut sulit 
direalisasikan. Hingga saat ini dana yang terkumpul dari sumbangan negara maju 
hanya 50 miliar dolar AS. 

Kritik terhadap efektifvitas MGDs tak hanya dari SBY. Para akademisi di Barat 
juga meragukan upaya global dalam melawan kemiskinan ini. William Easterly dari 
New York University pernah mengatakan, upaya mengakhiri kemiskinan dunia 
melalui MDGs adalah utopia. Dia juga menyebut Jeffrey Sachs sebagai intelectual 
leader of utopian, dan mengkritik laporan Millennium Project yang 
merekomendasikan sejumlah intervensi untuk mengurangi kemiskinan di 
negara-negara miskin sebagai easy solutions emerged as worry about terorist 
havens in poor states. 

Di mata Easterly pendekatan MDGs tak ubahnya sebagai suatu pendekatan top-down. 
Menurut dia, masalah yang terjadi di negara-negara miskin berakar dalam 
institusi di negara itu sendiri, di mana pasar tidak bekerja, dan politisi 
serta pelayan publik tidak bertanggung jawab kepada warga negaranya. 

Negara maju diminta melakukan investasi tidak saja di negara berkembang yang 
tergolong besar (dari segi jumlah penduduk atau wilayah), tetapi juga di negara 
berkembang berukuran relatif kecil dan terbelakang. Suara dari Afrika juga 
senada dengan aspirasi negara berkembang di belahan lain. Uni Afrika meminta 
agar konsensus yang sudah disepakati di Monterrey dilaksanakan. Lebih lanjut, 
Uni Afrika menekankan butir-butir Konsensus Monterrey, terutama mengenai sistem 
perdagangan yang tidak diskriminatif. 

Setelah enam tahun MGDs berjalan, hasil yang dicapai tak sesuai harapan. 
Sebagaimana laporan UNDP tahun lalu, yang mengungkapkan fakta bahwa sekitar 50 
negara, dengan jumlah populasi 900 juta, terbukti gagal mencapai paling sedikit 
satu target yang ada dalam MDGs. Dari jumlah itu, sebanyak 24 negara adalah 
negara di sub-Sahara dan Afrika, sedangkan 65 negara lainnya berisiko untuk 
sama sekali gagal mencapai paling tidak satu MDGs hingga 2040. Mereka akan 
gagal mencapai MDGs hingga satu generasi ke depan. 

Adalah benar bahwa dalam upaya memerangi kemiskinan di dunia diperlukan 
komitmen global. Tetapi komitmen yang dibangun seharusnya mencerminkan pola 
hubungan yang sejajar antara negara berkembang dan negara maju. Negara maju 
memiliki "utang" sejarah dengan negara-negara berkembang yang harus dilunasi. 
Utang tersebut adalah sumber daya alam yang telah dikeruk selama 
bertahun-tahun. 

Masalahnya, tak mudah menekan negara maju untuk mematuhi kewajibannya 
sebagaimana komitmen awal MDGs. Untuk itu negara-negara berkembang harus mampu 
mengatasi perbedaan satu sama lain guna meningkatkan posisi tawar terhadap 
negara maju. Selama ini negara maju relatif dominan terhadap negara berkembang 
karena negara berkembang berjalan sendiri-sendiri. 

Oleh karenanya, Kelompok 77 sebagai organisasi negara berkembang harus 
ditingkatkan perannya menjadi pressure group terhadap negara maju demi 
menggolkan kepentingan negara berkembang. Indonesia dengan populasi 220 juta 
penduduk merupakan negara berkembang yang memiliki peran strategis dalam upaya 
mewujudkan dunia yang lebih baik ke depan. Presiden SBY yang menjadi nominator 
Nobel Perdamaian tahun ini memiliki modal dan momentum untuk menaikkan posisi 
Indonesia di pergaulan internasional.*** 

Penulis adalah pengamat ekonomi. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke