http://www.indomedia.com/bpost/072006/24/depan/utama5.htm

Stop Kekerasan Di Sekolah



Banjarmasin, BPost
Hari Anak Nasional, 23 Juli menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk 
membersihkan kekerasan dari lingkungan sekolah. Maklum, berdasar hasil 
penelitian di sejumlah daerah, kekerasan terhadap siswa cukup tinggi.

Menurut Erick Van Diesel dari National Child Protection Adviser Save the 
Children United Kingdom, pemukulan merupakan bentuk kekerasan fisik yang paling 
sering terjadi. Ironisnya, kekerasan ini justru kerap terjadi di lingkungan 
sekolah.

Erick memaparkan, di Maluku Utara dan Timor Leste, dari 800 anak, 70 persen di 
antaranya mengalami kekerasan fisik. Bahkan sebagian anak-anak tersebut dihukum 
hampir setiap hari dengan luka yang cukup parah. 

Di Banjarmasin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Iskandar Zulkarnain 
memimpikan tidak ada lagi keluhan dari orangtua dan siswa terhadap 'hukuman' 
yang diberikan guru kepada anak didiknya.

"Saya sangat mendukung komitmen membebaskan sekolah dari kekerasan. Sebab, jika 
anak dididik dalam lingkungan yang penuh kekerasan, kelak bakal menjadi orang 
keras dan suka memberontak," kata Iskandar kepada BPost, malam tadi. 

Sebaliknya, jika dibesarkan dalam lingkungan penuh kasih sayang, dia bakal 
menjadi orang dewasa yang ramah dan taat. 

Makanya, pola pengajaran yang dilakukan di sekolah harus penuh kasih sayang, 
bukan kekerasan. Dan sebagian besar sekolah sudah melaksanakan hal itu. 
Artinya, siswa diperlakukan selayaknya anak sendiri yang penuh dengan kasih 
sayang. 

Sehingga, jika ada sekolah atau guru yang melakukan kekerasan, tidak menutup 
kemungkinan bakal dikenai sanksi. 

Ketika ditanya tingkat kekerasan di sekolah selama ini, pihaknya belum 
mengetahui secara pasti. Artinya masih relatif. Karena sebagian besar sekolah, 
sudah menerapkan pola pengajaran kekeluargaan tersebut. 

Sehingga, jika ada siswa melakukan kesalahan fatal, maka orangtuanya dipanggil 
untuk dimintai keterangan. Sebab perilaku anak, pada umumnya masih terkait 
dengan kondisi hubungan di keluarga. "Dengan memanggil orangtua untuk diketahui 
akar persoalan tersebut," cetusnya.

Upaya lainnya untuk menghindari kekerasan di sekolah, Disdik melakukan 
serangkaian pelatihan mengenai penanganan siswa terhadap guru bidang studi 
maupun guru bimbingan konseling (BK). 

" Sehingga, sudah tidak bingung jika ada siswa nakal maupun berperilaku lain," 
ujarnya. 

Terkait siswa yang nakal, menurut Iskandar, saat ini sudah bisa diberlakukan 
secara wajar. Artinya, siswa tersebut tidak pernah dikucilkan atau diberlakukan 
secara kasar beda dengan dulu yang pasti dihukum secara fisik. Ketua PGRI 
Kalsel, Dahri tidak menampik kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan 
sekolah. "Hanya saja saya menilai bentuk kekerasan yang terjadi di sekolah itu 
tidaklah bersifat menyakiti," ujarnya. 

Ketua Lembaga Perlindungan Anak, Yurliani juga mengakui, kekerasan terhadap 
anak bukan hanya terjadi di lingkungan keluarga, tetapi juga bisa di sekolah. 
Padahal perlakuan itu akan mempengaruhi perkembangan anak. "Sebetulnya salah 
jika hal itu mendidik, karena arahnya ke jalur yang tidak baik di kemudian hari 
nanti. Karena dia berpijak dari pengalaman seperti itu," jeasnya. 

Oleh karena itu, imbuh dia, diharapkan kepada para guru jangan sampai 
memperlakukan siswanya dengan perbuatan yang kurang baik. Sebab dampaknya nanti 
tidak bagus. coi/mdn/ck6


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke