RIAU POS
Mencermati Gerakan Hari Tanpa Televisi
Senin, 24 Juli 2006
Haruskah kita peduli pada siapa suami berikut Tamara Bleszinky atau Alya
Rohali? Bagaimana kisah kasih gelapnya Taufik Hidayat yang konon membuahkan
Exel? Lalu apa mobil terbaru Krisdayanti misalnya dan berapa nomor (maaf) bra
nya Sarah Azhari? Sebenarnya tidak ada yang penting sama sekali.
Namun faktanya, sekitar 60 juta anak Indonesia menonton acara yang
seperti itu di TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Apalagi kebanyakan
keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas kepada anak-anaknya. Seorang
ibu yang gemar telenovela atau sinetron biasanya tidak peduli apakah anaknya
tanpa sengaja ikut nonton juga meski masih di bawah umur misalnya.
Beberapa waktu polisi menemukan sesosok tubuh remaja puteri yang
tergantung di rumahnya dengan menggunakan scarf putih. Motif kematian sang
gadis ternyata bentuk peniruan dari cara yang digunakan sang puteri Huanzhu,
idolanya, dalam salah satu episode drama televisi populer di Negeri Tirai
Bambu, berjudul 'Puteri Huanzhu' dalam menghadapi masalah yang tidak teratasi.
Sebulan sebelumnya, si gadis tersebut mengubah model rambutnya mirip
puteri pujaannya dan seringkali berperilaku menyerupai tokoh favoritnya
tersebut. ''Televisi memang ibarat pisau bermata dua yang suatu saat bisa makan
tuannya,'' ujar Ketua Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN), Jhon
Herwanto SPsi MSi dalam sebuah bincangnya dengan Riau Pos akhir pekan lalu.
Menurutnya anak-anak dan juga remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan
punya sifat ingin tahu tentang banyak hal. Celakanya, demi memuaskan rasa ingin
tahu itu kebanyakan mereka mencoba mempraktikkan hal-hal negatif yang mereka
contoh dari tayangan yang mereka lihat di televisi.
Ia menekankan peran orang tua sangat besar sekali untuk mendampingi sang
anak dan remaja yang tengah mencari jati diri tidak tersesat kepada hal-hal
negatif karena kuatnya pengaruh tayangan televisi yang penuh dengan adegan
kekerasan, seks, mistik, intrik dan hedonisme lainnya.
Apalagi sebagian besar acara televisi saat ini memang memprihatinkan
karena dari hasil penelitian psikologi ternyata tayangan-tayangan negatif telah
memicu agresivitas pada anak. Tayangan negatif memperkuat teori Sigmuen Frued
bahwa tingkah laku manusia didominasi oleh prilaku libido seksual.
Redatin Parwadi, seorang yang berhasil mempertahankan disertasinya di
depan senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada 25 Juli 2002 mengatakan ada
relasi positif antara jenis tontonan televisi dan perilaku agresif responden.
Dan, uniknya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula
kecenderungan terjadi penyimpangan nilai dan perilaku seseorang.
Hal ini pula lah yang memicu seorang aktivis Yayasan Pengembangan Media
Anak (YPMA) di Jakarta, B Gunarto, menggagas Gerakan Hari Tanpa TV yang
disamakannya dengan peringatan Hari Anak Nasional yakni setiap 23 Juli.
B Gunarto mengatakan, hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki
berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan
waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV.
''Jutaan orangtua di Indonesia pada umumnya cemas dan khawatir dengan isi
siaran TV kita,'' ujarnya.
Pengamat acara televisi Firman Firdaus mendata hampir semua sinetron
remaja saat ini menggambarkan persekongkolan yang menjijikan di kalangan anak
sekolah, intrik asmara yang hiperbolis, cercaan terhadap pembantu, kata-kata
kasar pada orang tua, dan segudang laku minus lainnya, dengan jam tayang yang
sangat strategis: pukul 17.00-21.00 WIB.
Keberhasilan putera-puteri yang mengharumkan nama Indonesia lewat
olimpiade sains tingkat dunia seakan menghilang ditelan gemerlapnya warna-warni
lampu panggung Indonesian Idol. Kesuksesan luar biasa Septinus Saa dari Papua
-daerah yang katanya terbelakang- menjadi pemenang Nobel Junior, melalui
rumusannya mengenai bangun heksagonal, 'dieliminasi' nyanyian dan tarian para
peserta Akademi Fantasi Indosiar.
Menurutnya lagi pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu
membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan
menyiarkan acaranya. Sehingga, tidak ada pilihan lain kecuali individu sendiri
yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini.
Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk
menolak perilaku industri televisi kita, akan menjadi kekuatan yang besar
apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan
pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang luar
biasa besar.
Untuk itulah, menurut B Gunarto perlu ada ''Gerakan Hari Tanpa TV''.
Ahad, 23 Juli 2006 bertepatan dengan ''Hari Anak Nasional'' dipilih sebagai
Hari Tanpa TV sebagai bentuk keprihatinan. Ia menambahkan bahwa keberhasilan
dari gerakan ini akan membuktikan bahwa apabila masyarakat bisa bersatu
melakukan penolakan terhadap perilaku industri televisi, maka sejak saat itulah
kita bisa berharap ada perbaikan. Jadi, ia mengimbau pada hari itu, matikan TV
selama sehari dan ajaklah anak-anak untuk melakukan kegiatan yang lebih
bermanfaat.
Ia juga menggalang dukungan Gerakan Hari Tanpa TV ini kepada seluruh
masyarakat lewat web mail, www.kidia.org. Menurutnya, tayangan negatif
berdampak serius pada anak seperti sering terjadi gangguan psikologi dan
ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan,
persepsi yang keliru, budaya 'instan', pertanyaan-pertanyaan yang 'di luar
dugaan' dan sebagainya.
Semua potensi pengaruh televisi bagi perilaku sosial masyarakat yang
dapat dilihat dan dirasakan memang masih berada pada tataran
kecenderungan-kecenderungan, meski sebenarnya tidak kalah mengkhawatirkan.
Tidak lama lagi, (atau malah sudah?) kita akan mendapati masyarakat yang
hedonis, konsumtif, bebas nilai dan norma, serta bodoh.***
Helfizon Assyafei, wartawan Riau Pos.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/