http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5611&Itemid=75
Sejarah dan Makna Tiong Chiu
Kamis, 05 Oktober 2006
Oleh: Anly Cenggana SH*)
Depresi Sosial Budaya Tionghoa
erkataan Tiong Chiu berasar dari kata Tiong berarti tengah dan Chiu
berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara
harafiah berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih
kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia sebenarnya penyebutan ini tidak
tepat/salah kaprah namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
Perayaan sembahyang kue bulan tahunan setiap tanggal 15 bulan delapan
kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2557 tanggalan masehi
jatuh pada tanggal 6 Oktober 2006. Pada hari itulah bulan paling bulat dan
paling terang sepanjang tahun, karena pada hari itu jarak bulan dengan bumi dan
bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi.
Sejarah
Bicara Tiong Chiu Pia dapat dibagi dalam tiga bagian (1) Adat Sembahyang
Dewi Bulan, (2) kisah Dewi Bulan, (3) Kue.
Pertama, sebelum Dinasty Qin 221-206 SM rakyat China sudah mengenal
tradisi/adat sembahyang Dewi Bulan yang dihubungkan dengan posisi bulan bagi
masyarakat untuk cocok tanam (agraris). Karena dianggapnya sinar rembulan dapat
memberikan kesuburan dalam ekosistem tanah bagi kaum petani dan dimalam purnama
memang bulan terterang sepanjang tahun juga diikuti musim panen.
Kedua, menurut legenda zaman dahulu kala terdapat 10 matahari yang sangat
mempengaruhi ekosistem bumi sehingga oleh Dewa Ho Yi pemanah Jitu
Khayangan/langit, dipanalah matahari hingga sisa satu. Peristiwa ini Yi Wang Ta
Tie (Tuhan) sangat malah dan menghukum HOYI dan istrinya Chang Er dengan cara
menjadikan pasangan ini menjadi masyarakat biasa/ hidup di duniawi. Suatu hari
mereka menemukan obat awet muda sepanjang masa dan dimakan oleh istrinya Chang
Er sehingga tubuhnya ringan dan terbang menuju bulan. Dari sinilah asal muasal
sembahyang Dewi Bulan
Ketiga, kue Tiong Chiu Pia. Pada tahun 1206 M China dijajah Monggoria
pimpinan Tieh Mu Chen hingga tahun 1368 M berarti selama 89 China dijajah
Monggoria. China berhasil merebut kembali dari Monggoria berkat upaya kepala
pengemis Zhu Yan Chang menjelang sembahyang Dewi Bulan mengedarkan pesan-pesan
dalam kue-kue agar pada malam purnama (Tiong Chiu) kita merebut kekuasaan
kembali dari tangan Monggoria dan ternyata berhasil bertepatan pada tanggal 9
September 1368 M. Semenjak itulah kue Tiong Chiu mengalami perkembangan hingga
dewasa ini. Dan semenjak inilah berdirinya kerajaan pertama di Tiongkok dengan
sebutan Dinasty Ming (1368-1644 M). Masa kepemimpinan Tieh Mu Chen 1206-1368 M
oleh adiknya bernama Hu Pit Lei Han dinamai Dinasty Yan (1206-1368) M.
Tradisi
Tradisi ini dalam aktualisasi kegiatan selalu dilengkapi atribut seni
budaya Tionghoa terutama hiasan "lampion". Memang atribut yang paling menonjol
dalam penyambutan bulan purnama adalah Lampion karena disaat malam
lampion-lampion dinyalakan lampu akan tampak menawan dan mempunyai suatu
keindahan tersendiri. Kini lampion ini telah berkembang hingga dalam berbagai
bentuk dan ukuran raksasa memberikan tontonan keindahan tersendiri.
Soal lampion dalam penyambutan bulan purnama bahkan pernah tercatat
dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) atas pemasangan lampion terbanyak tahun
2002 sebanyak 4500 di Sanggar Agung pantai ria kenjeran Surabaya Jawa Timur,
namun demikian rekor tersebut telah dipecahkan oleh Batam tahun ini dalam
nuansa yang berbeda ketika menyambut malam Cap Go Me Imlek 2537/masehi 12
Februari 2006 lalu, yang tercatat dalam Musium Rekor Indonesia atas pemasangan
lampion terbanyak di Indonesia sebanyak 5077 atas prakarsai Even Organizer
Lialogue pimpinan Mellita bersama Harsono Ketua Pitun Batam
Nuansa ini juga selalu diikuti pertunjukan seni budaya di lokasi yang
lapang dan menawan seperti telaga, danau, pantai. Lokasi semacam ini dimasa
lampau masih memungkinkan, namun di era modernisasi dengan pembangunan yang
pesat konsekuensinya lokasi yang baik dan strategis nyaris tidak memungkinkan
lagi. Yang memungkinkan adanya panggung pentas seni dan masih terpelihara oleh
sebagian rumah ibadah klenteng dewasa ini dalam kegiatan malam hiburan rakyat
atas swadaya masyarakat.
Orang Tionghoa zaman dahulu jarang berpergian terlebih kaum hawa, pada
perayaan malam purnama ini dimanfaatkan oleh para muda-mudi untuk meniknamati
hiburan rakyat dan sekaligus memungkinkan saling tatap muka/berkenalan yang
dimanfaatkan saling mencari persahabatan bahkan ada yang hingga menuju kursi
plaminan/perknikahan.
Adakalanya bangsawan tertentu yang mempersuntingkan putrinya dengan
melemparkan anyaman bola kain kepada pemuda yang memenuhi kriteria jika
mendapatkan bola akan diambil sebagai menantu. Hal unik ini di era kini sudah
tidak memungkinkan lagi karena adanya interaksi sosial yang efektif.
Di era kini soal perjodohan masih diperlukan sehingga biro jodohpun
sudah banjir dan juga dengan pengaturan semakin baik dan banyak terutama
melalui media cetak maupun elekronik, kesempatan ini masyarakat banyak juga
yang memanfaatkan
Religius
Sembahyangan Tiong Chiu diselenggarakan pada tanggal 15 bulan delapan
Imlek (Pue Gwee Cap Go) secara religius sebagai pernyataan syukur kepada
Malaikat Bumi (Too Ti Kong/Hok Tik Cing Sien). Penyambutan disaat bulan purnama
di pertengahan musim rontok di belahan bumi Utara. Saat itu cuasa baik dan
bulan nampak sangat cemerlang. Para petani sibuk dan gembira karena berada di
tengah musim panen. Maka musim itu dihayati sebagai saat-saat yang penuh berkah
Tuhan Yang Maha Esa lewat bumi yang menghasilkan berbagai hasil bumi, sehingga
malaikat Bumilah disembahyangi terutama bagi negara agraris yang terdapat empat
musim seperti Tiongkok.
Pada saat purnama yang cemerlang itu dilakukan sembahyang kepada Malaikat
Bumi sebagai pernyataan syukur atas berkah yang diperoleh. Sebagai sajian
khususnya ialah Tiong Chiu Pia yang melukiskan rembulan juga melambangkan
Malaikat Bumi. Di dalam Upacara sembahyang Besar Tiong Chiu hendaknya dihayati
makna yang tersirat bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan segenap berkah
karunia itu hendaknya mendorong dan meneguhkan Iman, menjunjung dan memuliakan
kebajikan karena makna Malaikat Bumi membawakan berkah atas kebajikan.
Menghormati Malaikat Bumi hendaknya mengingatkan pula kepada Sabda Nabi Ie Ien
yang berbunyi "sungguh milikilah yang satu-satunya, yaitu "kebajikan", Dialah
yang benar-benar berkenan di hati Tuhan. Jangan berkata Tuhan memihak kepadaku,
hanya Tuhan senantiasa melindungi yang satu, yakni kebajikan".
Selain sembahyang Malaikat Bumi, masyarakat justru banyak yang
sembahyang kepada Dewi Bulan di malam hari. Soal spiritual tidak ada yang bisa
menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah dan yang penting adanya niat
untuk memberikan kelurusan dalam hati dengan membuka pintu rohani menunaikan
ibadah untuk memberikan kenyamanan bathin bagi yang melaksanakannya. Justru
kemelian perayaan malam purnama adanya persembahyangan kepada Dewi Bulan Selain
sajian kue bulan juga bermakna mendoakan mendapatkan kecantikan bagaikan Dewi
Bulan sepanjang jagad yang disimbolkan dengan bedak untuk dipakai oleh para
pemuja.
Dalam kontek kebangsaan yang Berbhineka Tunggal Ika turut mengakui akan
perbedaan namun tetap satu, sehingga secara tidak langsung segala kebudayaan
yang terpelihara dalam masyarakat akan memperkaya khasanah kebudayaan nasional
sepanjang tidak bertentangan dengan norma sosial budaya, keamanan, ketertiban
dan kesusilaan.***
*)Anly Cenggana SH, anggota Tim Pakar INTI Provinsi Kepri.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/