http://www.sinarharapan.co.id/berita/0611/18/opi03.html

Wulung Basuki
Rumah Tanpa Sekat Agama

Oleh
Tutut Herlina



Yogyakarta - Hari itu, Rabu (8/11) siang mulai beranjak senja. Kesunyian Desa 
Bobok, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, tiba-tiba pecah oleh deru 
mesin beroda empat. 


Ya, saat itu, tiga truk yang bagian depannya ditempeli logo Yayasan Tanggul 
Bencana (YTB) beriring-iringan masuk ke desa membawa bagian-bagian rumah Wulung 
Basuki. Rumah yang terbuat dari bambu untuk berteduh para jelata yang terkena 
gempa tektonik pada Juni lalu. Di desa itu, sekitar 80 persen bangunan 
mengalami kerusakan yang parah. Meski hanya sedikit korban yang meninggal, 
korban luka-luka jumlahnya mencapai ratusan orang. "Stop...stop," kata salah 
seorang penduduk menghentikan laju kendaraan itu. 


Sejenak kemudian, setelah kendaraan terpakir rapi, orang-orang pun mulai 
menaiki truk. "Ayo..ayo. Gek ndang di duk ake. Ayo gek direwangi. Ben ndang 
gelis. (cepat diturunkan. Ayo tolong dibantu, biar cepat selesai," kata salah 
seorang warga Bobok lainnya. "Sido entuk omah (jadi dapat rumah). Sido entuk 
omah," imbuh seorang perempuan yang tak jauh dari tempat itu.


Saat itu, YTB tidak hanya mendistribusikan bantuan rumah ke Bobok. Ada 16 
daerah lainnya yang juga menerima bantuan serupa, di antaranya Dusun Gaduh, 
Trirenggo, dan Pelem Sewu yang semuanya ada di Kabupaten Bantul. Di daerah 
Klaten, Jawa Tengah, bantuan rumah di antaranya diberikan ke Dusun Birit, 
Rogobayan, Mutihan, Pule, Kotesan, dan Taman Martani. Total jumlah bantuannya 
sebanyak 1.000 buah rumah siap rakit. 
Bantuan rumah ini pertama kali diberikan dua bulan setelah gempa. Menurut Yudi 
Kartika Nugraha, staf YTB yang menggagas rumah Wulung Basuki, pemberian itu 
dilakukan dengan mempertimbangkan skala prioritas. 


"Kami minta dari Pak RT, mana warga yang benar-benar membutuhkan," katanya. 
Berbeda dengan rumah bambu lainnya, rumah ini memiliki keunikan tersendiri. 
Rumah ini memiliki ukuran 4x6 meter dan beratapkan daun ijuk. Atap ini sengaja 
untuk mengurangi panas terik matahari. Spesifikasi lainnya adalah pintu geser 
yang didesain supaya tidak makan tempat. Tak pelak rumah ini pun tampak seperti 
sebuah sanggar kesenian. 


"Setiap warga yang mendapatkan bantuan rumah, akan menerima satu paket rumah 
siap rakit dan lantai dari semen. Tapi kalau ingin tambahan, warga bisa 
memodifikasinya sendiri," paparnya. 


Lantas bagaimana warga menerimanya? Kunto Edi Sunaryantoro, warga Dusun Bibis 
Pajar, Kabupaten Bantul, mengaku rumah Wulung Basuki tersebut sangat bermanfaat 
untuk keluarganya. Setidaknya ketika bantuan pemerintah tak kunjung datang, 
rumah itu kini menjadi alternatif untuk berteduh di tengah musim penghujan dan 
menghindari udara dingin yang setiap saat membuat ngilu tulang. 


Karena terbuat dari bambu, risiko ketika terjadi gempa pun juga akan lebih 
kecil dibandingkan dengan rumah yang terbuat dari beton. 
Menurut Edi, warga yang menerima bantuan umumnya tidak terpengaruh dengan YTB 
yang memiliki relasi dengan Gereja Kristen Jawa (GKJ). Selain dengan GKJ, YTB 
juga menjalin relasi dengan PGI (Persatuan Gereja Indonesia). Buat mereka agama 
tak pernah menjadi masalah untuk menerima bantuan itu. "Kita enggak peduli dari 
agama apa. Lha kita itu sekarang butuh rumah. Dari pada ribut-ribut soal agama 
tapi bantuan enggak ada terus gimana? Kan susah juga. Jadi pokoknya siapa yang 
cepat memberi bantuan itu yang kita anggap serius dalam membantu warga," papar 
Edi. 


Tri Wahyuni, warga dusun, Pelem Sewu juga menyatakan hal senada. Bantuan rumah 
yang di dapatkannya sekitar dua bulan lalu itu telah menolongnya untuk bisa 
menyambung hidup. Di rumah baru itu, ia kini kembali mulai menjalankan 
pekerjaannya, berjualan lotek (gado-gado jawa) seperti sebelum musibah datang. 


Sebelumnya, ia bersama keluarganya tinggal di tenda. Rumah yang menjadi 
tempatnya berteduh hancur dan hanya meninggalkan lantai semen. Yang tersisa 
hanya beberapa kursi, meja yang digunakan untuk berjualan. Sepeda ayun 
kesayangannya digunakan untuk membeli keperluannya menambah dagangan. "Kami 
enggak pernah mikir macam-macam. Kami tahu kalau YTB terpaut Kristen. Tapi kami 
gak apa-apa, yang penting terima rumah. Dari pada hidup di tenda, kalau siang 
panas dan kalau malam dingin. Sekarang walaupun bambu tapi kan rumah lebih bisa 
dipakai untuk berteduh dan berusaha," katanya sambil menghidangkan lotek. 
Ketidakpedulian juga diungkapkan oleh Dwi, warga Klaten. Dwi mencoba 
menunjukkan bahwa rumahnya yang hancur hampir separuh akibat gempa itu kini 
dapat berdiri kokoh karena mendapatkan bantuan dari berbagai macam lembaga. 
Bahkan, bantuan juga diberikan langsung oleh gereja maupun masjid. 


Sama seperti yang lainnya, buat Dwi, bisa kembali tinggal di rumah-walau 
seadanya-membuat jiwanya lebih tenteram. Apalagi, dia masih memiliki anak yang 
berusia balita yang tidak sehat jika hidup terlalu lama di tenda. "Tiang itu 
yang ngasih gereja. Itu yang ngasih masjid. Pokoknya siapa ngasih apa kita 
pasang. Kami tidak mikir agama, tapi yang penting bagaimana rumah ini bisa ada. 
Kita sudah susah jangan dibikin susah lagi," katanya. Anak dalam pangkuannya 
menangis dan dia pun beranjak pergi. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke