Enggak salah, jarang ada negara yang bisa menang perang sewaktu
menyerang negara lainnya.

Itulah istimewanya dengan Bush, dia berhasil menang di Afghanistant
maupun di Irak.  Irak mampu meng-obrak abrik Iran dan Kuwait, tapi
Amerika berhasil menduduki Irak dan membangun pemerintahan baru.

Russia gagal menduduki Afghanistant, dan Amerika berhasil bukan cuma
mendudukinya melainkan menghancurkan kekuatan utama terorist,
menghancurkan tempat pelatihannya, membubarkan negaranya, membangun
pemerintahan baru.

Saya yakin Sejarah Amerika akan mencatat keberhasilan Bush dengan
tinta emas, apalagi Bush berhasil membongkar semua konspirasi terorist
911, membekukan semua simpanan AlQaeda, dan menghancurkan semua
cell2nya diseluruh dunia.

Beda kasusnya dengan Sutyoso, dia bagus karirnya dalam membela pak
Harto dan keluarganya, dan dia juga mampu mempertahankan puluhan tahun
jadi gubernur DKI.  Boleh dikatakan Sutyoso adalah satu2nya gubernur
Jakarta yang paling lama menjadi gubernur.  Apakah dia bisa dikatakan
goblok???  Mungkin yang bisa dianggap goblok justru lawan2nya yang
gagal menjatuhkan dirinya.  Sutyoso merupakan gubernur terkorup juga,
namun tak ada yang mampu menangkapnya.  Masihkah termasuk gubernur
yang goblok atau mereka yang jadi penduduknya yang lebih goblok??? 
Sutyoso itu cerdas, dia tahu bahwa yang berkuasa bukanlah SBY tapi
tetap Suharto.  Itulah sebabnya dia tak pernah sowan ke SBY, tapi
rajin mengunjungi Cendana, itulah buktinya dia lebih cerdas daripada
mereka yang selalu gagal dalam kedudukannya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.









--- In [email protected], rezameutia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> 
> bedanya, 
> bush goblok lantaran 'spoil brat n alcoholic'.
> sutiyoso goblok lantaran sering ditempelengin.
> 
> 
> 
> =========
> 
> 
> 
> * AMERIKA CARI GARA-GARA UNTUK BISA MENGGEMPUR IRAN DAN BANJIR
JAKARTA MENGUNGKAP LANGKANYA PEMBANGUNAN PRASARANA
> 
> Perang yang salah, pada saat yang salah. Demikian komentar sebuah
kolom harian The International Herald Tribune tentang meningkatnya
ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Genderang perang sudah
ditabuh. Amerika cari gara-gara. Dan desakan mencari casus belli ini
membuat Kongres harus lebih kalem, sementara publik Amerika
bertanya-tanya. Isu pembenaran perang, seperti senjata nuklir Iran dan
keterlibatan Iran dalam petualangan Amerika di Irak, makin nyaring.
Tapi kolom Tribune ini mengingatkan, pengalaman abad silam menunjukkan
tidak ada negara yang memulai perang, berhasil mengakhirinya dengan
kemenangan. Sebaliknya, dalam 50 tahun terakhir, tidak ada perlawanan
nasionalis melawan
> pendudukan asing, yang akhirnya kalah.
> 
> Yang menarik, kolom ini ditulis oleh mantan pejabat dinas intelejens
CIA di Pakistan. Maka contohnya adalah perlawanan sukses Afganistan
melawan Soviet. Tapi kolomnis itu juga menarik pelajaran dari
petualangan di Korea. Korea Utara menyerang Korea Selatan tahun 50,
Amerika semula nonton, tapi
> ketika mau mengguncang Cina yang membantu Korea Utara, Amerika
gagal.  Begitu juga di Vietnam, Amerika tidak mau mengganggu Cina dan
Soviet yang mendukung Vietnam Utara, dan akhirnya Amerika keok di
Saigon.  Singkatnya, jangan main perang dengan memakai proxy atau
sekutu pengganti. Jadi, jangan sesekali mengawali perang. Itulah
pelajaran bagi Amerika saat menghadapi Iran dewasa ini. Demikian kolom
International Herald Tribune.
> 
> Tapi pelajaran apa yang dapat ditarik Jakarta dari musibah banjir
saat ini? Masih koran yang sama,
> The International Herald Tribune mencatat lebih dari 220an ribu
penduduk ibukota mengungsi dan 44 korban tewas. Ratusan orang bahkan
harus mengungsi di tengah pekuburan Karet yang letaknya lebih tinggi.
> Regu penolong sempat panik. "Kami ungsikan mereka ketika air surut,
tapi begitu sampai rumah, hujan turun deras lagi. Herald Tribune
mencatat di tengah drama banjir Jakarta itu, para pemulung sampah
> seperti kejatuhan rezeki. Ini panen bagus bagi kami, ujar seorang
pemulung.
> 
> Pelajaran dari musibah banjir menjadi sorotan khusus tajuk harian
Singapura The Straits Times. Jakarta membutuhkan bantuan cepat,
demikian judul editorial itu. Banjir besar ketiga di Jakarta dalam 10
tahun ini, adalah harga yang harus dibayar penduduknya akibat
investasi yang terlantar di bidang pra-sarana. Penduduk Jakarta makin
padat. Bangunan bangunan lukratif, yang membawa keuntungan keuangan
> yang besar, makin membanjiri ibukota. Daerah pinggiran yang dulu
hutan, dengan cepat menjadi kawasan perumahan, membuat Jakarta tidak
terlindungi lagi. Artinya, lahan-lahan resapan air, merosot hebat.
> Kawasan resapan yang 30 tahun lalu masih 40 persen, sekarang tinggal
10 persen saja.
> 
> Gubernur Sutiyoso lebih sibuk menangkis tuduhan salah kelola
ibukota, ketimbang membantu ratusan ribu pengungsi.  Sekarang PBB siap
membantu. Rehabilitasi Jakarta menuntut tekad politik
> besar dan kemampuan organisasi pemerintah DKI Jakarta. Di sini,
sejarah penguasa kolonial Belanda dapat memberi pencerahan. Belanda
yang separo wilayahnya berada di bawah permukaan laut, dulu membangun
sistim drainase untuk menambah kapasitas sungai menampung air. Toh,
drainase itu tidak memadai. Satu abad sebelum Indonesia merdeka,
Belanda juga pusing menghadapi bahaya banjir yang selalu mengancam
Batavia.  Masalahnya sekarang: bagaimana memutus putaran sejarah
banjir itu.
> 
> Demikian tajuk The Straits Times, dan sekian pula Ulasan pers kali ini.
> 
> 
> 
> =============================================
> 
> 
> 
>  
>
____________________________________________________________________________________
> Get your own web address.  
> Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
> http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL
>




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke