http://www.indomedia.com/poskup/2007/03/06/edisi06/opini.htm
Bencana alam dalam paradoks (Bergumul di antara kemahakuasaan Allah dan keterbatasan insani) Oleh Pdt. Nelman A Weny, S.Th * INDONESIA adalah "negeri bencana". Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi kita saat ini. Betapa tidak! Begitu kita menginjakkan kaki di tahun 2007, dengan segera kita ditimpa serangkaian tragedi bencana alam, mulai dari jatuhnya pesawat Adam Air; tenggelamnya KM Senopati Nusantara, anjloknya rel kereta api di beberapa tempat di Jawa hingga banjir di Jakarta di awal Februari 2007 dengan ratusan ribu korban jiwa; dan terakhir, tenggelamnya bangkai KM Levina 1 yang merenggut nyawa sejumlah personil kepolisian dan jurnalis. Rangkaian bencana ini kemudian dipahami tidak saja sebagai persoalan sosial-ekonomi dan politik (human error, error managament), namun menjadi pertanyaan teologis bagi agama-agama di Indonesia. Bahasan tentang topik ini dimulai dengan tiga pertanyaan eksistensil: 1) Mengapa ada bencana alam; 2) Haruskah bencana selalu dipandang sebagai hukuman Tuhan lantaran dosa dan kejahatan manusia; dan 3) Apakah bencana alam membuktikan dunia ciptaan Tuhan menjadi semakin tua? Ataukah memang ada penyebab lain yang sama sekali tidak dapat ditangkap dengan nalar akaliah manusia? Rentetan pertanyaan di atas dikaji secara variatif dalam buku Teologi Bencana terbitan sebuah Kelompok Studi Teologi yang disponsori STT INTIM di Makassar. Sub judul yang cukup menantang "Pergumulan Iman dalam Konteks Bencana Alam dan Bencana Sosial" berusaha untuk membuktikan bahwa baik bencana alam maupun bencana sosial yang sementara terjadi di Indonesia merupakan bagian hakiki dari tugas dan pergumulan teologis gereja-gereja di Indonesia dan karenanya tidak bisa dipandang enteng. Singkatnya, menurut hemat saya, bagaimana kekristenan bersama komunitas keagamaan lainnya memberikan tanggapan iman baik secara konseptual maupun praksis dalam upaya berteologinya? Bencana sebagai sebuah paradoks Tidak dapat dipungkiri bahwa timbulnya bencana selalu diikuti serangkaian pertanyaan baik filosofis-kosmologis maupun teologis. Pemikiran fiosofis-kosmologis berusaha untuk mengaitkan berbagai fenomena alam dunia dengan "amarah para dewa" sebagai akibat dari ketidakseimbangan dalam tatanan kosmos. Mengingat bahwa setiap bencana alam selalu dipahami dan dijelaskan dalam kerangka berpikir semacam ini, maka tertutup kemungkinan bagi manusia untuk melihat bencana dari perspektif lain. Sementara itu, di pihak lainnya secara teologis kekristenan lebih banyak melihatnya dari persoalan penyelenggaraan kekuasaan Ilahi yang tak terbatas (teodice), yang dalam teologi Islam disebut "takdir atau keputusan ilahi berdasarkan kemahakuasaanNya" atau "cobaan dari Allah" dan oleh karenanya harus diterima dengan penuh keikhlasan serta kepasrahan hati. Sementara itu, Hinduisme memahami bencana sebagai bagian dari proses menjadi tanpa akhir (samsara); Budhisme memahaminya sebagai dukkha ,"bagian dari lingkaran kehidupan manusia: penderitaan, kehendak, perbuatan, akibat, yang dikenal sebagai "Empat Kebenaran Agung" yang merupakan struktur dasar dari penderitaan umat manusia. Dan supaya manusia dilepaskan dari penderitaan, maka ia harus dilepaskan dari kehendak yang akarnya terletak dalam eksistensi manusia. Masalahnya terletak di sini: bahwa paradigma berpikir serta keyakinan semacam ini secara umum menempati posisi yang sentral dalam komunitas sosial maupun agama-posisi yang dilematis sekaligus mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap bencana. Perbedaan konteks sosial-kultural, agama, latarbelakang teologi gereja serta pandangan pribadi yang sangat bervariasi tentu saja harus dipertimbangkan secara cermat. Karena itu, bagi saya, tanpa bermaksud untuk mengurangi rasa hormat kepada para penulis, diperlukan satu penegasan tentang "teologi' bencana macam apakah yang hendak direkonstruksi di sini; sesuatu yang kalaupun berhasil belum tentu dapat diterima secara umum. Berhadapan dengan posisi yang paradoks dan dilematis inilah, menurut hemat saya, ada sejumlah tema krusial yang perlu untuk ditelaah secara proporsional dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan baik secara 'teologis' maupun dari perspektif ilmu pengetahuan empiris. Sejalan dengan itu, maka berkaitan dengan tugas kita untuk "merancang-bangun" sebuah teologi mengenai bencana di Indonesia, saya mengajukan dua tema penting masing-masing: pertama, Allah yang berdaulat namun yang "tidak berdaya" mengatasi bencana? Dan kedua, bencana adalah bukti dari "ke-alam-an" alam-semesta. Ambivalensi, atau lebih tepatnya dialektika berpikir semacam ini, memberikan implikasi yang bersifat imperatif bagi agama-agama, yakni tuntutan adanya pemahaman yang bertanggung jawab mengenai teologi agama-agama pada satu pihak, serta kearifan lokal (kontekstual) pada pihak lainnya, bagi usaha-usaha merekonstruksi "teologi dialektis" tentang bencana. Dengan kata lain, bahwa teologi bencana yang kita maksudkan mesti direkonstruksi dalam kerangka dialektika ini. Kendatipun "pendekatan dialektis" ini bukan merupakan solusi akhir, namun menurut saya, setidak-tidaknya menolong kita untuk untuk tidak terlalu gegabah "menghakimi" Allah atau sebaliknya manusia saja sebagai penyebab segala bencana. Dengan pendekatan dialektis ini pun, teologi dan agama-agama diajak untuk memahami sebab-musabab dan implikasi dari bencana secara lebih proporsional dan seimbang. Allah tidak berdaya? Pertama-tama mesti ditegaskan bahwa sudah menjadi kelaziman, hakikat Allah selalu dilihat dari dua perspektif, yakni Allah Pencipta yang berdaulat atas segala ciptaan, namun demikian pada saat yang sama Allah dikesankan sebagai yang membiarkan penderitaan menimpa umat manusia. Hal tersebut memperoleh penekanan yang sedemikian kuat dalam pandangan beberapa penulis yang secara sadar mengangkat kembali pertanyaan-pertanyaan: Jika Allah itu Mahakuasa, maka persoalannya adalah mengapa dalam kemahakuasaanNya, Allah justru sama sekali tidak berdaya untuk mengatasi penderitaan atau setidak-tidaknya meluputkan manusia dari bencana? Dalam kekristenan, para teolog selalu bertolak dari peristiwa penyaliban Yesus sebagai "puncak penderitaan Allah sekaligus bukti ketidakberdayaan Allah untuk menyelamatkan diriNya sendiri". Ada dua pemikir kristen yang dominan di sini, masing-masing Hendrik Berkhoff dan Kazoh Kitamori. Berangkat dari kata-kata Yesus "Eli,Eli, lama sabachtani", Hendrik Berkhoff, misalnya, menyatakan bahwa kedaulatan Allah adalah sebuah fakta iman yang tak terbantahkan, namun serentak dengan itu kata-kata itu sesungguhnya hendak mengungkapkan "ketidakberdayaan dari pihak Allah" untuk menolong PutraNya sendiri. Peristiwa salib, menurut Berkhoff secara jelas telah membuktikan bahwa Allah yang Mahakuasa menjadi Pribadi yang sama sekali tidak berdaya ketika menyaksikan PutraNya disalibkan. Namun ia melanjutkan bahwa justru di sinilah Allah yang Mahakuasa mengidentifikasikan diriNya dengan manusia yang tidak berdaya untuk membebaskan dirinya dari berbagai macam penderitaan. Selain Berkhoff, teolog Jepang Kitamori, yang mengemukakan gagasannya mengenai "Allah yang menderita", mengutip kata-kata Luther "da strydet Gott mit Gott" (di sanalah Allah bergumul dengan Allah). Menurutnya peristiwa Salib-di mana Anak Allah mati- bukanlah sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah. Menurut Kitamori, justru pada salib, Allah 'mematikan' diriNya dengan demikian menyelesaikan masalah kematian kita. Mengacu pada teks Ibrani 2:10, ia berpendapat bahwa penderitaan memang sesuai (Yun: eprepen) dengan hakikat Allah sendiri dan yang sekaligus memberikan kepada kita kunci, kendatipun sifatnya ajaib dan misterius, untuk memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari hakikat Allah. Penderitaan di salib, menurut Kitamori adalah 'bagian dari keberadaanNya yang kekal. Dari perspektif inilah menurut hemat saya perlu disimak juga pandangan teolog India MM Thomas. Ia memahami Allah sebagai Pribadi yang hadir dalam kesusahan dan kesengsaraan manusia melalui wajah Kristus yang menangis. Thomas dengan keras menolak gagasan mengenai "pemahaman statis tentang Providentia Dei" (Pemeliharaan Allah-yang menganggap manusia bahwa Allah telah menentukan nasib manusia sekali untuk selama-lamanya-serta himbauannya akan suatu gagasan Providentia yang dinamis, haruslah dipandang dalam kerangka "Allah yang mengikutsertakan diriNya dalam penderitaan manusia"). Dengan demikian, maka benang merah dari keseluruhan gagasan di atas ialah bahwa" Allah adalah Dia yang turut serta mengambil bagian dalam penderitaan manusia; itulah hakikat "ke-Allah-an"-Nya, sebab jika tidak demikian, maka Dia bukan Allah. Bencana, bukti "ke-alam-an" makhluk ciptaan Allah Pertanyaan penting yang diajukan di sini adalah: jika Allah menciptakan alam semesta sedemikian sempurna dan yang menempatkan manusia selaku kawan sekerja untuk mengelola alam semesta, mengapa Allah membiarkan bencana memporakporandakan ciptaanNya yang berbuntut pada penderitaan umat manusia? Tegakah Dia yang penuh cinta kasih dan kerahiman itu membiarkan umatNya menderita? Atau lebih ekstrim lagi, sedemikian jahatkah Allah sehingga Ia membiarkan manusia yang tidak berdaya itu dimusnahkan oleh bencana? Pertanyaan yang klasik ini tidak dapat disangkali, malah justru telah menjadi pertanyaan yang sangat eksistensil dan sudah populer di kalangan agama-agama. Harold Kushner, seorang rabbi Yahudi misalnya, menuangkan apa yang dialaminya sendiri dalam karyanya Derita, Kutuk dan Rahmat (Edisi Belandanya: Als het Kwaaad Goede Menschen Treft). Melalui bukunya yang terkenal ini, beliau berpendapat bahwa penderitaan memang termasuk di dalam kemanusiaannya manusia. Sebagai manusia, kita harus menderita, dan karena itu maka penderitaan haruslah dipahami dan dijalani sebagai "kemanusiaan"-nya manusia sebagai yang memiliki keterbatasan dalam usahanya untuk memahami kemahakuasaan Sang Pencipta. Hal yang sama dapat kita katakan mengenai alam: Karena disebut alam, maka ia harus menimbulkan bencana; Sebab jika tidak demikian, maka ia tidak dapat disebut alam. Dengan demikian maka bencana merupakan bagian hakiki dari alam. Dari sisi antropologis, dapat dikatakan bahwa alam memiliki "hukum"-nya sendiri dan bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari hukum itu; tugas manusia adalah mengelola alam secara seimbang bertanggung jawab dengan merujuk pada hukum-hukum tersebut, dan bukan berusaha mengendalikan alam sesuai hukum-hukum manusia yang lebih cenderung kepada pemuasan keinginannya. Dengan merujuk pada gagasan-gagasan atas, maka menurut saya, cukup beralasan bagi kita untuk merekonstruksi "teologi-teologi" tentang bencana. Konstruksi teologi yang saya maksudkan di sini adalah corak teolog yang dapat diterima secara universal, atau paling tidak bisa menjembatani sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi agama-agama dan kepercayaan untuk secara intens melakukan refleksi dan praksis, sebagai tanggapan imannya terhadap bencana. Dengan demikian maka yang hendak direkonstruksi bukan hanya satu teologi atau teologi satu agama tertentu saja, apalagi kekristenan; melainkan teologi yang tidak hanya "berkata-kata" tetapi yang berdimensi praksis-melalui keberpihakan pada mereka (:manusia dan lingkungannya) yang dikorbankan tanpa mempersoalkan latar belakang sosial, agama dan suku-demi kemanusiaan yang utuh serta keberlangsungan segenap ciptaan Allah. Teologi bencana dalam sebuah ketegangan yang kreatif Menurut saya, merekonstruksi teologi-teologi tentang bencana merupakan keharusan sekaligus sebuah tantangan bagi komunitas agama-agama di Indonesia, yang selama hampir satu dekade terakhir mengalami berbagai bencana, baik yang alamiah maupun sosial-politis. Dikatakan sebagai keharusan, karena setiap bencana selalu memberikan dampak tidak hanya bersifat fisik dan psikis, tetapi juga teologis, artinya mempengaruhi hubungan setiap individu dan komunitas dengan Tuhannya. Seiring dengan itu disebut sebagai tantangan, oleh karena teologi dan bahkan agama-agama-meminjam istilah Moltmann-akan diperhadapmukakan dengan dua macam krisis yakni krisis relevansi dan krisis identitas: bahwa semakin teologi dan agama berusaha mempertahankan dogma-dogmanya yang tradisional dan kaku, maka teologi dan agama-agama akan semakin tidak berpihak pada konteks dan karenya semakin tidak dipercaya. Sebaliknya, semakin teologi dan agama-agama menempatkan diri sebagai "obat mujarab" untuk menyelesaikan penderitaan demi menjaga relevansinya dengan konteks-celakanya apabila teologi dan gereja itu sendiri gagal dalam tugasnya-maka dengan sendirinya teologi dan agama-agama kehilangan identitasnya. Dengan demikian, maka kedua krisis ini pada akhirnya berpotensi untuk melahirkan sikap ketidakpercayaan kepada agama. Dalam rangka "menyelamatkan" teologi dan agama-agama dari kemungkinan ini, maka menurut saya tugas bahkan keharusan bagi agama-agama adalah terus berusaha untuk menafsir-ulangkan (mereinterpretasi) imannya, melakukan auto-kritik bahkan membuka ruang yang seluas-luasnya bagi kritikan terhadap kehadirannya, sambil secara terus-menerus mempertanyakan apakah masih berpihak kepada mereka yang dikorbankan serta sama sekali tidak berdaya mengatasi penderitaan yang disebabkan oleh bencana? Jika demikian, teologi macam apakah yang hendak direkonstruksi di sini? Hemat saya, corak teologi bencana yang dimaksudkan mesti mengacu pada dua tema substantif-universal saling berkaitan: Geo-teologis dan sosio- antropologis dan politis. Bencana alam : perspektif geo-teologis Bencana alam mesti dilihat dari perspektif tindakan ilahi yang kadang-kadang sulit dipahami oleh manusia. Artinya bahwa memang benar Allah itu mahakasih, namun dalam hakikatNya yang demikian, Ia juga bebas untuk "mengizinkan" terjadinya bencana alam untuk maksud-maksud tertentu, misalnya menghukum sekaligus sebagai media pembelajaran bagi manusia, dengannya manusia tidak bersikap tamak dan sekehendak hati mengeksploitasi isi alam untuk memenuhi keinginannya sendiri. Namun demikian, pada saat yang sama pula bencana alam harus dilihat dari aspek creatio continou (penciptaan yang terus-menerus atau suatu proses pembaharuan ciptaan), yaitu bahwa karya Allah dalam penciptaan bukanlah sesuatu yang sekali jadi, tetapi bahwa Allah Pencipta yang bekerja dalam sejarah itu terus-menerus memperbaharui alam semesta. Pendekatan teologis semacam ini (yang lebih dipengaruhi teologi proses) cukup menarik untuk dijelaskan dalam konteks bencana sebagai bagian integral dari sebuah proses. Yang saya maksudkan ialah bahwa bumi ciptaan Allah yang berada dalam sebuah proses "menjadi" selalu memberikan implikasi bagi umat manusia. Andaikata pembaruan itu terjadi (kendatipun melalui bencana alam), jikalau tidak ada gerakan yang mengangkat tanah baru maka sudah lama tanah dan gunung terkikis oleh erosi sampai permukaan bumi menjadi rata; semuanya lautan dan tidak ada lagi tempat yang kering bagi makhluk hidup terutama manusia; maka bisa dibayangkan bahwa miliaran umat manusia dan binatang buas akan saling memperebutkan tanah yang kering, dan bahwa peperangan yang tak terlukiskan keberingasannya sangat mungkin terjadi. Implikasi teologis dari cara pandang seperti ini adalah bencana alam, dalam hal ini tsunami, gempa bumi dan letusan gunung perlu dilihat dan dipahami sebagai sebuah proses pembaharuan ciptaan yang diprakarsai oleh Allah. Dan dalam konteks ini pula, bencana alamiah dapat dibahas dalam kerangka sebuah eko-teologi, yakni teologi yang alam semesta sebagai suatu keutuhan, di dalam mana Allah tidak hanya menciptakan, tetapi sekaligus aktif bekerja melalui keterlibatan manusia guna menjaga keselarasan, keseimbangan serta keberlangsungannya. Penebangan hutan yang dilakukan tanpa mempedulikan keseimbangan ekosistem sehingga menimbulkan malapetaka seperti banjir bandang; eksploitasi kandungan bumi tanpa memperhitungkan harkat dan masa masa depan masyarakat lokal seperti di Papua, bahkan kasus semburan lumpur panas akibat pengeboran gas di Sidoarjo belakangan ini; mesti dilihat sebagai bentuk kejahatan politik yang sistematis terhadap ekologi; atau meminjam bahasa Karel Erari, sebuah ecocida yang juga berarti genocide (suatu bentuk pembantaian yang sistemis terhadap kelompok etnis tertentu) dan bahwa keduanya merupakan suatu Deicida, yakni "pembunuhan" atau sabotase terhadap kedaulatan Allah. Bencana sosial: Perspektif sosio-antropologis dan politis Tidak mungkin untuk mengkategorikan bencana sosial seperti kerusuhan massal, konflik sosial, perang saudara bahkan perang antar bangsa sebagai insiden yang diizinkan oleh Allah. Alasannya adalah bahwa Allah yang Maharahim itu justru menghendaki agar damai sejahtera dan persaudaraan yang rukun tanpa sikap diskrimitaif itu dapat dinikmati oleh segenap ciptaanNya. Pernyataan ini penting dalam rangka mencegah umat beragama (yang menjadi korban bencana) jatuh ke dalam sikap melegitimasi setiap bencana sosial sebagai hal yang dikehendaki oleh Allah. Kecenderungan berpikir semacam ini memperoleh bentuknya yang aktual melalui sikap terhadap serangkaian kerusuhan berbau SARA di Ambon, Sulawesi, NTT dan sejumlah daerah di Jawa; di mana masing-masing kelompok agama mengklaim bahwa apa yang sedang terjadi di sana adalah pelaksanaan kehendak Allah dan karenanya Allah sungguh hadir melalui perjuangan mereka. Implikasi yang lebih membahayakan eksistensi agama-agama itu sendiri adalah bahwa keyakinan yang sama pun dapat dipakai untuk menjustisfikasi kekerasan struktural di bidang sosial-politik dan ekonomi. Sejalan dengan itu, dari perspektif sosio-politis dan antropologis, hendaknya digarisbawahi bahwa kekerasan yang terencana dan sistematis sering terjadi sebagai akibat ulah manusia, baik secara individual maupun melalui negara atau kelompok-kelompok radikal dalam agama tertentu. Di sini, faktor human error harus mendapat prioritas; dan itu berarti bahwa tugas teologi dan agama-agama adalah tidak tergesa-gesa untuk mencari afirmasi-afirmasi teologis dalam kitab suci guna membenarkan sebuah kekerasan struktural yang tersistematisasi demi melayani kepentingan ideologi politik maupun agama tertentu. Namun sebaliknya lagi-lagi harus dicatat bahwa Allah tidak bersikap masa bodoh manakala korban nyawa berjatuhan. Kita yakin bahwa Dia Mahahadir itu sedang berada di tengah umatNya-siapapun dan agama apapun dia-sembari mengungkapkan keberpihakanNya dengan mereka yang tidak berdaya dan yang disingkirkan. Dengan demikian, bersikap mawas diri dan proaktif mengantisipasi bencana serta komitmen untuk keluar dari lingkaran penderitaan yang disebabkan oleh bencana alam dan bencana sosial mencegah kita untuk jatuh ke dalam kepanikan-kepanikan. Sebaliknya, budaya pasrah, tabah dan menerima setiap penderitaan dengan tulus ikhlas malah justru menjerumuskan kita ke dalam sebuah fatalisme yang tidak seharusnya terjadi, apalagi memahami penderitaan karena bencana sebagai perbuatan amal yang mesti dijalani dengan sukarela. * Penulis, Pendeta GMIT Kupang, Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Agama-agama STT Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
