http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19


Selasa, 06 Maret 2007

Demokrasi: Sebuah Malapetaka? 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


Dalam pembicaraan singkat dengan seorang warga Pakistan di Kuala Lumpur awal 
Februari lalu, saya menangkap lontaran ini: For Pakistan, democracy is a 
disaster. Lalu dipujinya Pervez Musharraf yang telah mengambilalih kekuasaan 
dari tangan sipil yang korup, sebagaimana berkali-kali terjadi di republik yang 
mengaku sebagai negara Islam itu. 

Bahwa Pakistan yang punya bom nuklir itu juga dikenal sebagai negara yang korup 
sudah lama kita dengar. Sekiranya diadakan olimpiade korupsi, pemenangnya jika 
tidak Pakistan, tentulah Republik Pancasila yang bernama Indonesia, bukan?

Warga Pakistan di atas tidak mempedulikan apakah sebuah negara memakai sistem 
otoritarian atau bukan menjadi tidak relevan. Yang penting baginya adalah 
terwujudnya kesejahteraan rakyat yang lebih merata. Jika demokrasi gagal 
mewujudkan harapan itu, maka tidak menjadi halangan untuk diruntuhkan melalui 
kudeta, karena dalam kenyataannya di Pakistan, demokrasi adalah sebuah 
malapetaka (disaster). Begitu alur pendapat yang berkembang di sana, terutama 
di kalangan pendukung Musharraf.

Di lapisan sementara orang desa di Indonesia, ungkapan di bawah ini juga telah 
agak lama kita dengar: "Kehidupan terasa lebih nyaman di era Orde Baru. Pupuk 
tidak sulit, beras melimpah, pengangguran tidak seburuk seperti sekarang, dan 
ada rasa aman." Pujian seperti ini menjadi mencuat karena era reformasi masih 
belum (atau tidak) berhasil memenuhi janji-janjinya untuk menegakkan keadilan 
dan menumpas KKN. Keadilan masih sangat jauh dan KKN masih tetap subur, 
terang-terangan atau secara diam-diam.

Memang rakyat kecil dan sebagian tokoh yang frustrasi dengan kondisi bangsa 
yang belum juga membaik, menjadi putus asa dengan sistem demokrasi plus 
politisi yang berwajah kumuh dan lapar. Mereka ingin agar keadaan cepat berubah 
ke arah yang lebih baik, sementara demokrasi tidak dapat memenuhi harapan itu. 
Lalu ingin kembali ke masa lalu yang dibayangkan serba elok.

Jika kita berunding dengan gagasan politik yang sangat menonjol di kalangan 
tokoh-tokoh pergerakan nasional di Indonesia, tidak ada pilihan lain bagi 
bangsa ini kecuali tegaknya sebuah demokrasi yang sehat dan kuat. Sistem inilah 
yang kita cobakan segera setelah proklamasi kemerdekaan pada Agustus 1945. 
Tetapi alangkah sukarnya cita-cita luhur itu dipraktikkan. Dalam rentang waktu 
hampir 62 tahun kita merdeka, kekuatan pembunuh demokrasi atas nama demokrasi 
(Terpimpin dan Pancasila) telah pula mendapat peluang untuk berkuasa di 
Indonesia, karena demokrasi dinilai gagal. Tetapi ujungnya sama: disaster.

Jika kenyataan memang demikian, semuanya berakhir dengan malapetaka, lalu 
sistem apa lagi yang sesuai dengan kondisi Indonesia yang masih saja merana 
sampai sekarang ini? Bagi saya jawabannya sederhana. Saya sepenuhnya berada di 
belakang gagasan tokoh-tokoh pergerakan nasional bahwa demokrasi yang sehat 
harus menjadi hari depan Indonesia. Tanpa demokrasi, percuma kita menjadi 
merdeka. Bukankah demokrasi tidak saja menjamin kemerdekaan bangsa, tetapi juga 
kemerdekaan setiap warga. Yang menjadi masalah sejak awal adalah kualitas 
kepemimpinan politik di Indonesia yang sempit hati dan mudah berpecah.

Di era reformasi, keadaannya jauh lebih kronis. Di samping sempit hati dan 
sempit akal, juga lapar. Karena lapangan kerja menyempit, maka politik 
dijadikan lapangan kerja dengan 1001 harapan untuk perbaikan ekonomi. Apalagi 
di dunia eksekutif dan legislatif, lapangan kerja itu sangat menggiurkan bagi 
mereka yang beruntung. Tetapi bagi mereka yang buntung, politik bisa menjadi 
sebuah disaster pula. 

Ya, sampai di sinilah baru kualitas peradaban kita sebagai bangsa merdeka sejak 
1945. Namun ini adalah bangsa kita yang tidak boleh dibiarkan terus meluncur ke 
posisi yang semakin memalukan. Bangsa ini harus kita bela, dengan jalan 
melontarkan kritik terus menerus terhadap pemimpin dan elite yang tidak becus 
dan tidak juga siuman, tanpa rasa takut. Di sinilah pentingnya demokrasi itu: 
memberi kebebasan kepada setiap orang untuk bersuara dalam batas-batas 
konstitusi dan kesopanan.

Sistem otoritarian di mana pun di muka bumi pasti akan menyumbat mulut warga 
untuk bersuara. Pilihan kita bukan antara demokrasi atau lapar, tetapi 
demokrasi plus keadilan dan kemakmuran!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke