Management Intel Polisi di Indonesia Kalo anda pernah nonton filem2 Detektif Kriminal negara2 maju, tentu anda pernah melihat bagaimana polisi ataupun intel2nya mengejar dan menangkap pelaku2 kriminal yang terkadang disertai action perkelahian tangan maupun tembak2an. Disini saya bukan mau mengetengahkan adegan actionnya melainkan management-nya.
Misalnya saja, detektif polisi Hunter, mengikuti tersangka penjual narkotika untuk bisa ditangkap basah beserta barang2 buktinya. Tersangka terbang dengan pesawat keluar negeri, maka Hunter juga beli tiket ikut naik pesawat yang sama keluar negeri. Diwaktu tersangka panggil taksi dan pergi dengan taksi, maka hunter juga panggil taksi mengikuti tersangka dengan taksi. Waktu nonton kayaknya enak aja gampang semuanya, padahal kalo anda mau mikir sedikit tentu akan pusing gimana ngaturnya. Karena kalo anda yang jadi detektif Hunter, mana mungkin tersangka beli tiket naik pesawat bisa anda ikuti naik pesawat juga karena untuk beli tiket itu khan harus pakai uang, apakah tersedia uang cash disaku anda ataupun credit card untuk bayar tiket itu atau bayar supir taksi dengan tip-nya ??? Katakanlah, detektif bisa naik pesawat atau taksi untuk mengikut jejak tersangka itu akan dibayar nantinya oleh negara ataupun pemerintah. Bisa jadi anda yang jadi detektif berbohong, alasan mengikuti tersangka malah justru yang dilakukan jalan2 dengan pacar dengan alasan menemui jejak tersangka dijalanan. Akibatnya korupsi makin merebak, kebocoran makin parah semua itu tak perlu bukti. Dan cara seperti itu bukanlah cara2 detektif polisi di Indonesia. Negara RI yang sudah penuh dengan koruptor2 ini mana mungkin bisa ditipu oleh detektif2 polisi ala Hunter??? Detektif2 di-negara2 maju tidaklah demikian, mereka sudah ada system management yang rapih sehingga tidak bisa berbohong seperti itu karena ada cara2 yang bisa membuktikannya yang dalam hal ini bukan diskusi yang akan saya tulis disini. Saya sekedar menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu dan belum memiliki system management yang baik sehingga kebocoran di-mana2 bagaikan hujan yang menimpa rumah tanpa atap. Sekedar ilustrasi kerja intel polisi di Indonesia akan saya contohkan dalam tulisan dibawah ini: Kapolri mendapat laporan dari Polisi Hongkong bahwa ada pengedar Narkotik yang sudah diikuti oleh FBI di Amerika ternyata masuk ke Indonesia dan nginep di Hotel Horizon di Ancol. Kapolri memerintahkan bawahannya untuk menangkapnya langsung. Agar tersangka jangan lari, maka penggerebekannya tidak dilakukan dengan mobil polisi, cukup satu detektif yang bertugas melakukan pengawasan sebelum pasukan polisi menggerebeknya secara tiba2. Detektif Muslim diberi uang taksi untuk ke Ancol langsung ke hotel Horizon. Uang taksi cukup banyak, untuk menghematnya detektif Muslim yang terkenal hemat ini berpikir, kalo saja dia naik taksi maka uang lebihnya bisa diberikan kepada isteri untuk tambahan uang dapur. Maka detektif Muslim yang arif ini akhirnya naik bus ke Ancol. Detektif Muslim langsung kekamar hotel tanpa tanya ke lobby terlebih dulu untuk menghindari kemungkinan adanya komplotan tersangka yang memasang mata di lobby, dengan menggenggam pestol langsung lobby kamar yang disewa oleh tersangka, pintu kamar diketuk, dibuka oleh penghuninya, muka si penghuni langsung ditempelkan laras pestol, tentu sang penghuni kaget dan pucat mukanya. Tersangka sadar siapa yang dihadapinya, dan menyerah tanpa perlawanan. Dimeja tersangka ada bungkusan gepokan uang dollar. Detektif Muslim berpikir, kalo tersangka ditangkap maka barang bukti uang dollar ini harus diserahkan ke atasannya dan kebiasaan atasannya uang itu ludes tanpa anak buahnya kebagian, dan tersangkanya juga dilepas dengan alasan tak ada barang bukti. Sebagai seorang detektif tentunya pak Muslim ini orang yang berbakat dan cerdas sehingga cepat mengambil keputusan. Tersangka ditanya, dia datang kemari bersama berapa orang?, tersangka mengaku dia bersama tiga teman2nya yang tak ada sangkut paut dengan bisnis narkotika bahkan tidak tahu apa2. Lalu detektif Muslim tanya, apa tersangka mau ditangkap dan dipenjara di Indonesia enggak??? Tersangka juga cepat responsenya, oke deh pak katanya, saya bayar bapak uang 500 juta rupiah, sekarang tapi saya dikasih waktu kabur ke airport. Terjadi tawar menawar, akhirnya detektif Muslim berhasil dibayar 1 milyard rupiah. Sang tersangka minta agar detektif Muslim memberi waktu kepadanya sejam saja agar tersangka bisa naik taksi khusus langsung ke airport. Demikianlah, sang tersangka langsung kabur tidak lagi menunggu teman2nya. Setelah sejam berlalu, detektif Muslim mendatangi lobby dan pura2 menanyakan penghuni kamar nomor sekian sambil menunjukkan kartu Intel polisi. Dan menanyakan apakah tersangka masih disana dll. Setelah semua tanya2 basa basi, detektif Muslim menelepon team polisi untuk ikut menggerebeknya. Hasilnya tiga orang teman tersangka tertangkap, sayang tersangka utamanya berhasil lari tak tertangkap. Setelah diselidiki besoknya, kapolri mendapatkan laporan dari immigrasi bahwa tersangka sudah keluar dari Indonesia menuju Australia. Detektif Muslim akhir tahun mendapatkan kenaikan pangkat atas hasil menangkap tiga teman2 tersangka yang akhirnya juga dilepaskan karena tidak terlibat dengan aktifitas tersangka. Rejeki memang bagi detektif Muslim selain uang taksi bisa ditilep, malah uang sitaan yang harusnya disita negara untuk rame2 dikorupsi para pejabat bisa diselamatkan oleh sang detektif untuk kemashlatan umat dan keluarganya dirumah. Pengabdian detektif Muslim kepada lingkungan dan agama memang tak diragukan, sebagian uang itu disumbangkan untuk pembangunan dan perluasan mesjid, dan sebagian lagi untuk biasa anaknya yang mau sekolah di luar negeri. Apa yang dilakukan detektif Muslim bukanlah korupsi karena uang itu bukan milik negara. Juga detektif Muslim tidak bisa dituduh mencuri uang siapapun juga. Urusan tersangka yang diperkirakan penjual narkotika hanyalah kecurigaan yang tak beralasan, apalagi tuduhan itu diberikan oleh orang kafir yang tidak beriman kepada Allah sehingga bukan kesalahan detektif Muslim kalo tidak mau mempercayainya. Kalo saja anda wawancarai detektif Muslim dari hati kehati, maka detektif Muslim ini tidak merasa bersalah, karena kalopun tersangka itu ditangkapnya, pasti tersangka itu akhirnya juga dilepaskan atasannya yang dibayar tersangka dengan uang yang lebih banyak dan uang itupun tidak di-bagi2 kebawahan karena tak ada yang tahu. Bahkan secara hukum-pun tersangka tidak bisa ditahan karena tidak melakukan pelanggaran hukum diwilayah Indonesia. Demikian, filem Hunter sulit untuk bisa dipahami bangsa Indonesia, mana mungkin ada detektif bisa beli tiket pesawat ataupun bayar uang taksi !!! Ny. Muslim binti Muskitawati. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
