http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=278113

Kamis, 29 Mar 2007,



Ternyata, Kita Juga Standar Ganda


Oleh Djoko Susilo 

RI dan Resolusi DK PBB
Sikap RI yang mendukung Resolusi DK PBB No 1747 tentang persoalan nuklir Iran 
menuai protes keras dari berbagai kalangan di Indonesia. Di DPR lebih dari 
seratus orang telah menandatangani interpelasi mempertanyakan keputusan 
tersebut. Mereka memprotes keputusan itu yang dianggap sebagai tidak 
solidaritas dengan dunia Islam dan lebih memihak dunia Barat. Indonesia 
dianggap telah melenceng dari politik bebas aktif.

Keputusan pemerintah RI yang memancing protes dari banyak pihak itu, rupanya, 
kurang disosialisasikan dengan baik. Itu yang menyebabkan terjadinya pendapat 
kurang pas dengan fakta dan realitas. Keberhasilan para diplomat RI di New York 
tidak mendapatkan apresiasi yang memadai. Sesungguhnya apa yang 
melatarbelakangi kemarahan sebagian kalangan terhadap sikap RI tersebut?

Dalam sebulan ini, RI dua kali mengambil sikap penting dalam voting di DK PBB. 
Pertama, Januari lalu yang menyatakan abstain terhadap resolusi tentang 
pelanggaran HAM di Burma. 

Kedua, resolusi DK PBB tentang isu nuklir Iran. Jika resolusi pertama tentang 
Burma bisa dikatakan hanya adem ayem, atau bisa dikatakan tidak ada reaksi sama 
sekali, untuk resolusi Iran, banyak yang protes keras. Ada apa sebenarnya?

Sangat mengherankan kita menggunakan standar ganda. Jika soal Iran banyak yang 
protes dan Indonesia dianggap melanggar kebijaksanaan luar negeri, mengapa 
dalam isu yang lebih mendasar, pelanggaran HAM dan penindasan politik di Burma, 
hampir tidak ada protes sama sekali? 

Apakah rezim Burma tidak layak dihukum dengan tindakan brutalnya terhadap 
rakyat sendiri, termasuk 5 juta Muslim Rohingya di Arakan? Apakah nasib jutaan 
warga muslim maupun non-Muslim yang sengsara di Burma tidak layak mendapatkan 
simpati kita?

Kebetulan, tanggal 21 sampai 26 Maret lalu saya selaku ketua AIPMC (ASEAN Inter 
Paliamentary on Myanmar Caucus) Indonesia mengunjungi kota Mae Sot di 
perbatasan Thai dan Burma. 

Saya menyaksikan ratusan ribu pengungsi yang hidup sengsara di kamp 
pengungsian. Jutaan lain menjadi migran di Thailand. Mereka yang hidup dengan 
jatah beras 1 kg sebulan dan tidak bisa melakukan kegiatan apa pun adalah 
pengungsi Muslim, Buddha, Kristen, maupun yang beragama lain. Ada yang sudah 
berada di kamp pengungsi sejak 20 tahun lalu.

Keberutalan rezim Burma sudah tercatat dengan baik. Serdadunya membunuh secara 
membabi buta, bahkan mereka memerkosa dan bertindak brutal lain terhadap rakyat 
sendiri. Bukan itu saja, rezim militer Burma merekrut anak-anak untuk dijadikan 
serdadu. Bayangkan, anak umur sembilan atau sepuluh tahun dilatih untuk menjadi 
pembunuh. 

Saya berjumpa sendiri serdadu anak-anak yang melarikan diri dan mereka 
menyatakan melihat dengan mata kepala sendiri perkosaan yang dilakukan tentara 
Burma terhadap bangsa sendiri. 

Anehnya, ketika Indonesia, menyatakan bersikap abstain dalam siding DK PBB, 
para tokoh agama, dan pemuka politik kita satu pun tidak ada yang keberatan. 
Bahkan, di DPR hanya anggota kaukus AIPMC saja yang menyuarakan penolakan. 

***

Jadi, kalau selama ini kita menuduh Amerika mempunyai standar ganda, apakah 
bangsa kita juga tidak demikian. Melihat kebiadaban di rumah tetangga sendiri 
tidak ada empati dan rasa prihatin, dengan apa yang terjadi di nun jauh di 
Iran, mereka meributkan.

Padahal, jika mau dikaji lebih jauh, resolusi yang didukung RI cukup berimbang 
dan adil. Bahkan, negara-negara Arab ikut mendukung, termasuk Qatar yang 
menjadi anggota DK PBB. Mengapa mereka senang? Sebab, atas tekanan RI, dalam 
resolusi tadi berhasil dimasukkan klausul yang menyerukan dibentuknya wilayah 
Timur Tengah yang bebas senjata pemusnah masal berikut alat pengirimnya. 

Konon, Amerika sempat meminta klausul tersebut dihapuskan dan memang sempat 
hilang sehari sebelum disahkan. Hanya, berkat kerja keras para diplomat RI di 
PBB, klausul itu masuk lagi. Jelas itu merupakan kemenangan diplomatik yang 
sangat gemilang.

Memang, seharusnya kita tidak berhenti hanya dengan menerima Resolusi DK PBB no 
1747, tetapi lebih jauh menindaklanjuti dengan mengajukan resolusi Timur Tengah 
yang Bebas Senjata Pemusnah Masal. Dengan adanya resolusi ini, akan bisa 
dilucuti senjata nuklir yang dimiliki Israel atau negara-negara lain di Timur 
Tengah. Itu merupakan kredit poin yang sangat penting bagi postur Indonesia di 
fora internasional. 

Seharusnya kita memberikan apresiasi kepada para diplomat RI yang telah bekerja 
keras dan berhasil memasukkan klausul yang sangat penting tersebut. Keputusan 
Indonesia pun sesungguhnya sudah diambil dengan pertimbangan matang. Masalah 
pokok di sini ialah di mana meletakkan kepentingan nasional dalam mengambil 
keputuisan penting itu. Apakah kita sejalan dengan mendukung Iran dalam isu 
nuklir? Ataukah memang dengan mendukung resolusi itu merupakan upaya terbaik?

Prinsip dasar dalam soal nuklir bagi RI ialah mendukung pengembangan nuklir 
untuk tujuan damai, tetapi menolak pengembangan nuklir untuk tujuan militer. 
Indonesia akan mendukung penuh posisi Iran yang ingin menguasai teknologi 
nuklir untuk tujuan damai. Namun, nyatanya, Iran tidak transparan terhadap 
IAEA, yakni Badan Pengawas Atom Internasional yang memonitor perkembangan 
nuklir. 

Iran adalah salah satu negara yang meneken perjanjian NPT (Non Proliferation 
Tretaty) atau negara yang berjanji tidak akan menyebarkan senjata nuklir.

Fakta bahwa Iran tidak nurut dengan inspeksi yang dilakukan IAEA memaksa RI 
tidak punya alternatif lain kecuali mendukung Resolusi 1747. Selain itu, 
sesungguhnya wakil wakil Iran di PBB lebih senang berunding dengan Amerika dan 
Barat daripada mengikutkan wakil wakil Indonesia. Dengan kata lain, mereka 
umumnya tidak memberikan apresiasi terhadap dukungan RI. Mereka lebih bangga 
berunding dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, dibanding bertemu dengan 
wakil-wakil Indonesia. 

Banyak yang tidak tahu bahwa para perunding nuklir Iran umumnya arogan dan 
tidak mau banyak menyapa wakil-wakil Negara Islam termasuk Indonesia. Tentu 
kondisi psikologis para diplomat ini sangat tidak menguntungkan. 

Jadi ketika dubes Iran di Jakarta sibuk melobi tokoh Islam dan politik atas 
nama solidaritas umat, wakil-wakil perunding Iran yang dipimpin Dr Ali Lariyani 
menganggap sepi peranan Indonesia, baik di New York maupun Jenewa. 

Atas dasar itu, kita pantas bertanya, siapa sesungguhnya yang tidak bersimpati 
dan mempunyai solidaritas atas dunia Islam?

Karena itu, saya menyarankan semua pihak sebelum melancarkan protes sebaiknya 
menatap dengan teliti soal Resolusi DK PBB no 1747. Dalam politik luar negeri, 
kepentingan nasional harus menjadi pertimbangan yang lebih diprioritaskan 
dibandingkan dengan membela kepentingan nasional negara lain.


Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR RI


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke