Refleksi: Transmigrasi tidak membawa faedah bagi penduduk setempat, tetapi 
sebaliknya! Transmigrasi hanya pemindahan kemiskinan dan bencana! Benarkah? 
Bila tidak benar, apa buktinya?

KOMPAS
Jumat, 30 Maret 2007 

 
Transmigrasi
Mereka Berupaya Lepas dari Kemiskinan 


WISNU AJI DEWABRATA 

Transmigrasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan dengan memindahkan 
penduduk miskin ke daerah lain. Sayangnya, pemerintah terkesan setengah hati 
sehingga hanya seperti memindahkan kemiskinan meskipun banyak juga transmigran 
yang berhasil. 

Arbai ingat betul waktu pertama kali datang ke lokasi transmigrasi Unit VII di 
Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Waktu itu 
tahun 1976, Arbai baru berumur 12 tahun. Bersama orangtuanya, ia meninggalkan 
kampung halamannya di Lumajang, Jawa Timur. Tujuannya satu, mewujudkan mimpi 
lepas dari kemiskinan! 

Perjalanan itu tidak mudah dan melelahkan. "Dari Lumajang naik bus sampai 
Jakarta. Lalu pindah bus ke Merak, menyeberangi laut, naik bus lagi. Dari 
Pelabuhan Panjang, Lampung, naik kereta," katanya mengenang. 

Perlu waktu tiga hari tiga malam untuk sampai di Cempaka di Kabupaten Ogan 
Komering Ilir. "Dari sana, kami naik traktor," katanya. Sebab, jalan ke lokasi 
transmigrasi yang berjarak 10 kilometer dari Cempaka itu belum bisa dilalui 
kendaraan bermotor selain traktor. 

Begitu melihat kondisi lahan yang disediakan untuk para transmigran, Arbai 
sangat tak yakin mimpinya bisa diwujudkan. "Kalau bapak bisa mengolah tanah dan 
menanam, ke mana hasilnya akan dijual," keluhnya dalam hati. 

Lokasi transmigrasi itu memang masih terisolasi. Untuk menuju Palembang yang 
berjarak 120 kilometer, misalnya, diperlukan waktu dua hari dua malam naik 
perahu. Jalan raya dari Palembang menuju ke lokasi transmigrasi sendiri baru 
dibangun 10 tahun kemudian, 1986. 

Maka, tidak sedikit transmigran di Unit VII yang kini bernama Desa Bumi Harjo 
di Kecamatan Lempuing itu yang meninggalkan lokasi. Sejumlah transmigran yang 
tak punya uang untuk kembali ke Jawa memilih bertahan dengan berbagai cara. Ada 
yang merantau ke Palembang, ada pula yang membuka lahan baru di luar lokasi 
transmigrasi meski akhirnya gagal juga. 

Di antara mereka yang tetap bertahan di lokasi transmigrasi adalah orangtua 
Arbai yang tetap bertekad keluar dari kemiskinan. "Tanah Jawa memang subur, 
tetapi kalau tidak punya tanah sendiri mau apa?" Itulah kata-kata yang sering 
ia dengarnya dari bapaknya. 

Berkah karet 

Tahun-tahun pertama memang mereka harus bekerja keras. Tidak sedikit yang 
nyaris putus asa. Secercah harapan akhirnya muncul ketika tahun 1988 perkebunan 
karet mulai dibuka di lokasi transmigrasi. Apalagi jalan lintas timur Sumatera 
yang menghubungkan Palembang-Bandar Lampung juga mulai dibangun. 

Lokasi transmigrasi yang semula terisolasi pun terbuka. Bus dan truk pun hilir 
mudik meski jalan masih berupa tanah. Para transmigran yang semula meninggalkan 
lokasi pun banyak yang kembali. 

Kini lokasi transmigrasi itu berubah menjadi desa yang ramai. Generasi kedua 
yang merupakan anak-anak dari para transmigran, seperti Arbai, yang menikmati 
kerja keras orangtuanya. Mereka bisa menyekolahkan anaknya ke Jawa, membangun 
rumah, dan membeli berbagai perabot rumah tangga. 

Sarno (37), generasi kedua transmigran, kini menguasai 4,5 hektar kebun karet. 
Ia mengaku sangat berbahagia dengan keberhasilan yang dia capai di bumi 
transmigrasi. Hasil berkebun karetnya bisa untuk membangun dua rumah yang 
relatif mewah untuk ukuran desa transmigrasi. 

Keberhasilan juga diraih keluarga Purhadi (72), yang buyutnya "hijrah" dari 
Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, ke Lampung sejak zaman Belanda, tepatnya tahun 
1905. Purhadi merupakan generasi keempat dari keluarga Kartoredjo, transmigran 
yang datang sebagai tenaga kerja perkebunan Belanda bersama 42 orang lainnya. 

Menjadi contoh 

Keberhasilan transmigran konon sudah dijadikan contoh sejak zaman kolonial 
untuk merangsang lebih banyak pekerja kebun dari Pulau Jawa. Caranya, membawa 
para transmigran yang sudah lama bekerja di Sumatera ke Jawa sambil membawa 
hasil pertanian sebagai bukti keberhasilan. 

Cara itu ternyata efektif. Banyak orang Jawa yang mau diajak ke Sumatera untuk 
membuka wilayah baru. Meski mengalami pasang surut, transmigrasi ala kolonial 
itu terus berlangsung hingga tahun 1941 dengan total penduduk yang dipindahkan 
mencapai 222.586 jiwa. Daerah baru yang semula sepi berkembang menjadi ramai. 
Salah satu contohnya adalah Metro yang sekarang menjadi kota di Provinsi 
Lampung. 

Keberhasilan Belanda itu kemudian ditiru oleh Pemerintah RI. Sayangnya, 
pemerintah tidak serius menggarap program ini. Para transmigran umumnya merasa 
dibiarkan begitu saja setibanya di tanah harapan. 

Banyaknya transmigran menjadi kampanye buruk. Meski begitu kondisinya, banyak 
juga transmigran yang berhasil. 

Kini, tidak sedikit transmigran atau setidaknya anak cucu mereka yang berhasil 
menjadi tokoh penting di daerahnya. Entah itu pengusaha, politisi, atau pejabat 
publik. Sejumlah daerah eks lokasi transmigrasi juga sudah berkembang menjadi 
kota penting di daerah sebagai penyangga ekonomi


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke