---------- forwarded message ----------
From: ZoniCool (r) <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 7 Mei 2007 00:47
Subject: [tiberias] FW: WAWANCARA CBSN dgn Pdt Damanik ttg MUJIZAT di Meko
To: [EMAIL PROTECTED]



 Subject: WAWANCARA CBSN dgn Pdt Damanik ttg MUJIZAT di Meko

 CBSN : Selamat siang Pak Pendeta Damanik. Kami ingin wawancara dengan
 Bapak tentang peristiwa penyembuhan di Desa Meko. Bolehkah Bapak sebagai
 seorang tokoh dan pejuang kemanusiaan dan sebagai Pendeta memberikan
 pendapat tentang peristiwa tsb?

 Pdt. Rinaldy Damanik (RD) : Boleh, tetapi saya bukan tokoh dan bukan
 pejuang. Saya hanya seorang pendeta biasa, hanya rakyat biasa, ya,
 tepatnya... saya hanya seorang hamba. Ok, saya harus mulai dari mana ya?

 CBSN : Sejak kapan tepatnya peristiwa itu terjadi? Dan kami mendengar
 bahwa beberapa kali Bapak dipanggil langsung oleh anak yang melakukan
 mujizat itu, apa benar Pak?

 RD : Peristiwa penyembuhan itu terjadi sejak tanggal 6 Januari 2007.
 Tapi saya baru melihat langsung pada tanggal 17 Pebruari 2007.

 CBSN : Oh ya, kami dengar Bapak baru kembali dari Amerika tanggal 14
 Pebruari 2007, apakah itu dalam rangka peristiwa di Meko atau ...?

 RD : Bukan, saya ke Washington DC diundang oleh 5 Senator dan 7
 Congresman USA soal Teroris dan masalah-masalah di Poso. Tapi.... ok,
 maaf...lebih baik kita kembali ke substansi wawancara ini.

 CBSN : Maaf Pak, ya... silahkan pak.

 RD : Pada tanggal 16 Pebruari 2007, sekitar jam 21.30 malam, saya
 ditelepon oleh Selvin. Biasanya jika ada panggilan dari nomor yang belum
 tersimpan di hp saya, saya tidak merespons telepon tersebut, tetapi
 menunggu sms dari orang tsb.... bukan apa-apa, tapi anda maklumlah...
 kami ini tinggal di wilayah Poso ...Tetapi kali ini meskipun nomor itu
 tidak saya kenal, saya langsung merespons tlp tersebut. Ternyata yang
 menelepon saya adalah Selvin, anak yang diberi kemampuan untuk melakukan
 penyembuhan tersebut. Dia anak perempuan berusia sekitar 9 (sembilan)
 tahun, kelas 3 (tiga) SD, anak dari keluarga Guru SD, berdomisili di
 Desa Meko, wilayah Danau Poso, sekitar 30 Km dari Tentena, tempat saya
 berdomisili. Ya, desa Meko sekitar 87 Km dari kota Poso.

 CBSN : Kemudian, apa isi telepon dari Selvin tersebut ?

 RD : Selvin meminta saya untuk esok harinya, tanggal 17 Pebruari 2007,
 datang ke Desa Meko, ke rumahnya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung
 menjawab Ya !

 CBSN : Apa yang terjadi ketika Bapak bertemu dengan Selvin?

 RD : Tanggal 17 Pebruari 2007 pagi, sekitar jam 05.30 saya berangkat ke
 Meko, ditemani oleh seorang rekan Pdt. Oktavianus. Perjalanan ke Meko
 membutuhkan waktu 1 (satu) jam dari Tentena, meskipun jaraknya hanya
 sekitar 25 km, karena jalan kecil, meliuk-liuk di tepi pantai dan
 jurang-jurang terjal tepian Danau Poso. Sepanjang jalan saya berdoa di
 dalam hati. Pikiran saya dipenuhi oleh pertanyaan: Mengapa Selvin
 memanggil saya dan apa yang akan terjadi di sana?

 CBSN : Kemudian?

 RD : Ketika sampai di Meko, saya melihat ada banyak mobil, speda motor,
 banyak orang-orang sakit di Balai Desa, di Tenda-Tenda di lapangan, di
 sekitar Kantor Kecamatan, juga di emper dan di dalam rumah Selvin. Pada
 saat itu, perkiraan saya ada sekitar 10.000 orang. Hati saya sedih
 sekali, pilu, terharu luar biasa melihat orang-orang sakit dan
 orang-orang yang mengantar orang sakit. Ya... rumah keluarga Selvin
 sangat dan sangat sederhana... di depan rumah itu persis di belakang
 Balai Desa, dan di samping Balai Desa itu ada Kantor Kecamatan dan di
 depan Balai Desa tsb ada lapangan yang cukup luas. Ya... bagi saya,
 Tuhan memang telah memilih tempat yang strategis......
 Kemudian, saya masuk ke rumah tersebut, dengan sangat perlahan sambil
 menyalami orang-orang sakit yang terbaring beralas tikar di lantai. Di
 dalam rumah ada Selvin, Ibunya, Bapanya, ya.. banyak orang. Selvin
 langsung menyapa saya: "Selamat Pagi... Selamat datang Opa Pendeta... !"
 Saya terkejut karena Selvin memanggil saya "Opa" (Kakek), biasanya di
 wilayah ini saya dipanggil: Pendeta Damanik, atau Abang, atau Papa
 Nanda, atau Boba alias Botak, karena memang kepala saya sebagian sudah
 Botak. Karena itu, saya langsung menjawab: "Selamat pagi, tapi mengapa
 Selvin memanggil saya Opa ? Seorang Opa itu kan harus jadi teladan...
 walaupun saya seorang Pendeta, saya merasa saya banyak punya kelemahan
 dan dosa..." Selvin dengan mata yang bercahaya, tersenyum kepada saya
 dan memegang tangan saya, mengajak saya keluar dari ruangan itu dan
 mengajak saya untuk menemui dan mendoakan orang-orang sakit di Balai
 Desa dan sekitarnya. Luar biasa, puji Tuhan, untuk pertamakalinya seumur
 hidup saya, saya menyaksikan orang buta langsung bisa melihat, yang
 lumpuh dapat berdiri dan berjalan, yang bisu bisa berbicara, yang sakit
 ginjal dan berbagai penyakit lain...

 CBSN : Bagaimana cara atau proses penyembuhan itu?

 RD : Orang-orang yang sakit dan orang-orang yang mendampingi orang-orang
 sakit tersebut diajak menyanyikan nyanyian: "Allah Kuasa melakukan
 segala perkara", dan berdoa dengan doa "Bapa Kami", doa yang diajarkan
 oleh Tuhan Yesus Kristus, Matius 6 : 9 - 13. Juga membaca Epesus pasal
 5. Ada yang dijamah, misalnya matanya disentuh, atau tangan, atau kaki
 yang sakit, tetapi ada pula yang tanpa disentuh mengalami kesembuhan.
 Mujizat itu saya saksikan secara langsung, bahkan beberapa kali saya
 diminta, atau tepatnya ditugaskan oleh Selvin untuk berdoa, doa Bapa
 Kami.

 CBSN : Kami dengar, Ibunya Selvin juga bisa melakukan penyembuhan.
 Bagaimana itu pak?

 RD : Ya, benar, Ibunya Selvin juga dapat melakukannya, bahkan sekarang
 Ibunya Selvin yang dominan melakukannya, tetapi setelah mendapat isyarat
 dari Selvin. Ceritranya begini... hal ini diceriterakan oleh Ibunya
 Selvin kepada saya. Selvin mulai mendapat karunia penyembuhan itu sejak
 tanggal 6 Januari 2006. Pada malam hari Selvin memijit-mijit kaki Ibunya
 yang sakit, rematik. Esok paginya Ibu Selvin merasakan bahwa kakinya
 sembuh. Ibu tsb bertanya kepada Selvin, apa yang Selvin lakukan sehingga
 kaki Ibunya bisa sembuh? Selvin mengatakan bahwa pada malam hari, ketika
 ia memijit kaki Ibunya, ia melihat ada sinar terang di dalam kamarnya,
 dan Selvin melihat ada dua orang, yaitu Tuhan Yesus dan seorang
 Malaikat. Tuhan Yesus mengatakan kepada Selvin: "Saya akan memberikan
 karunia yang banyak kepadamu". Selvin menjawab: "Berapa? Lima ribu?".
 Tuhan Yesus menjawab: "Lebih banyak lagi, tetapi harus kau bagikan
 kepada orang-orang lain". Kemudian cahaya itu hilang. Ya, sejak itu
 Selvin mulai melakukan penyembuhan, mulai dari keluarganya, tetangganya,
 dan kemudian berita itu semakin tersebar luas. Selanjutnya, Selvin
 merasa letih, dia berdoa kepada Tuhan agar Ibunya diberi kemampuan untuk
 membantu Selvin, dan itu terjadi...

 CBSN : Pada tanggal 17 Pebruari 2007, ketika Bapak dipanggil oleh
 Selvin, apakah ada peristiwa yang lain?

 RD : Ya, pada waktu saya diminta oleh Selvin untuk mendampinginya berdoa
 dan melakukan penyembuhan (Tanggal 17 Pebruari 2007), saya menyaksikan
 banyak yang disembuhkan, sejak jam 07.00 s/d jam 11.00. Tetapi ada
 beberapa orang yang belum atau tidak sembuh. Kepada yang tidak sembuh
 itu, Selvin mengatakan, dengan berbisik, antara lain: "selesaikan dulu
 masalah keluarganya", atau "harus membiasakan diri berdoa". Atau "harus
 yakin dan percaya", atau "bertobat" dan sebagainya. Kemudian sekitar jam
 11.00, Selvin mengatakan kepada saya: "Opa sudah mau pulang? Pulanglah
 Opa... sebab di Tentena di rumah Opa, ada orang-orang yang memerlukan
 Opa..". Saya menjawab: "Ya, saya permisi pulang". Tetapi di pikiran saya
 timbul pertanyaan: "Siapa yang memerlukan saya di Tentena? Apa keperluan
 mereka? Dan dari mana Selvin mengetahui bahwa di rumah saya sudah ada
 orang yang menunggu saya? Luar biasa, benar ! ternyata setelah saya
 sampai di rumah sekitar pukul 12.30, sudah ada 7 orang yang menunggu
 saya untuk membicarakan masalah penting yang mereka alami..... Kemudian,
 sore hari, sekitar pukul 17.00, saya ditelepon oleh Selvin, meminta saya
 untuk datang lagi ke Desa Meko pada tanggal 19 Pebruari 2007, dan Selvin
 mengatakan bahwa ada yang akan dibicarakan di Siuri, yaitu satu tempat
 di pantai danau Poso, berada di antara Tentena - Meko.

 CBSN :Bapak memenuhi permintaan itu ?

 RD : Ya, sampai sekarang, setiap kali dia menghubungi saya dan
 menyampaikan pesan, saya langsung menjawab Ya ! meskipun ada agenda atau
 jadwal lain yang sudah direncanakan, langsung saya tunda. Jujur saya
 katakan bahwa saya sendiri heran melihat diri saya yang langsung
 mengatakan Ya terhadap semua yang dia katakan. Ok. Tanggal 19 Pebruari
 pagi saya berangkat, tiba di Meko sekitar pukul 07.00 pagi, langsung ke
 rumah Selvin. Saya melihat Selvin sedang duduk di atas tempat tidur, di
 depannya ada buku-buku pelajaran SD, dan ada Alkitab. Di tangannya ada
 selembar kertas, dan menunjukkan kepada saya gambar yang dia buat. Dia
 mengatakan: "Ini gambar rumah Opa, rumah ini akan jadi tempat
 persinggahan orang banyak". Sepintas saya lihat, walaupun gambar itu
 hanya berbentuk garis-garis, tapi persis model rumah saya; padahal
 setahu saya, Selvin belum pernah melihat rumah saya. Kemudian Selvin
 mengatakan kepada saya: "Opa, kita belum mau ke Siuri sekarang, masih
 lama, Opa pulang saja dulu, ada orang2 yang perlukan Opa di rumah Opa".
 Saya bertanya: "Jadi jam berapa kita ke Siuri?". Selvin menjawab: "Nanti
 jam 5 sore". Saya langsung pamit pulang, tanpa ada perasaan kecewa.
 Benar, saya tiba di rumah sekitar pukul 10.00 pagi dan sudah ada orang2
 yang menunggu di rumah. Selanjutnya sekitar pukul 4.30 sore saya sangat
 gelisah, karena supir dan mobil yang akan membawa saya belum tiba di
 rumah. Ada beberapa hal yang membuat saya gelisah. Pertama, saya tidak
 akan tepat waktu jam 5 tiba di Meko, apalagi dari Meko harus kembali ke
 Siuri. Kedua, jika saya tiba di Meko dan bersama Selvin meninggalkan
 Meko untuk berangkat ke Siuri, tentu akan membuat orang-orang sakit
 kecewa, sekurang-kurangnya mereka akan mengatakan mengapa saya tega
 membawa Selvin meninggalkan orang-orang sakit di Meko. Mereka tentu
 tidak mengetahui bahwa kami ke Siuri adalah karena permintaan Selvin.
 Ya, akhirnya dengan bergumul dan berdoa, sekitar pukul 04.35 mobil
 datang dan kami berangkat menuju ke Meko, saya ditemani supir dan
 seorang teman Pendeta. Ketika kami tiba di sekitar pantai Siuri, kami
 melihat ada mobil yang menuju ke arah kami, memberi isyarat lampu, dan
 di belakangnya ada banyak speda motor yang mengikuti mobil itu. Mobil
 itu berhenti dan kami juga berhenti, tepat di tempat parkir di Siuri, di
 dalam mobil itu ada Selvin, Ibunya, ada lima orang anak-anak, teman
 Selvin, dan ada sejumlah orang lain. Saya melihat jam tepat pukul 05.00
 sore. Artinya bahwa saya tidak harus ke Meko dan sudah bertemu di Siuri
 tepat waktu.
 CBSN : Hebat, itu berarti dua hal yang Bapak gelisahkan tadi tidak
 terjadi ya?
 RD : Ya benar ! Saya tepat waktu dan saya tidak harus ke meko. Kemudian,
 Selvin lansung menyapa kami dan mengatakan: "Mari Opa, di sini bagus
 kan?". Selvin berlari, bermain dengan teman-temannya, kemudian mereka
 mandi di pantai sambil bersenda gurau sebagaimana layaknya anak-anak.
 Kami bersama Ibunya dan orang-orang lain duduk di tepi pantai
 memperhatikan mereka sambil berbincang-bincang. Sekitar 15 menit, mereka
 selesai mandi dan Selvin meminta makan bersama. Sebelum makan, Selvin
 meminta saya untuk berdoa, dengan "Doa Bapa Kami". Setelah makan, Selvin
 berjalan di pantai, di atas pasir, sekitar seratus meter dari ujung ke
 ujung, beberapa kali dia pulang pergi, sambil matanya terus menatap ke
 tengah Danau Poso. Kami semua memperhatikan, termasuk anak-anak
 (teman-teman Selvin), bagaikan dihipnotis, kami semua diam. Tiba-tiba,
 sekitar 10 meter dari kami, Selvin berhenti, jongkok di pasir pantai dan
 mulai menggambar. Beberapa saat kemudian, dengan melambaikan tangannya,
 Selvin memanggil saya: " Opa, mari ke sini". Saya datang mendekati
 Selvin, saya berdiri di hadapannya, tidak ada sama sekali dorongan dalam
 hati saya untuk jongkok bersama Selvin dan Selvin pun tidak meminta saya
 jongkok atau duduk. Tetapi saya tetap berdiri di hadapannya, bagaikan
 seorang terdakwa. Selvin dengan posisi tetap jongkok, bertanya kepada
 saya, apa arti gambar yang dia buat di atas pasir. Gambar yang dibuat
 Selvin adalah gambar hati, di tengahnya ada huruf S, ada tanda panah ke
 atas, ke bawah, ke kiri dan ke kanan.

Saya menjawab: "Artinya, Selvin sayang kepada semua orang" . Selvin
 mengatakan: "Ya, tetapi yang sayang kepada semua orang adalah Tuhan
 Yesus". Selanjutnya Selvin mengatakan kepada saya: "Opa, tolong doakan
 orang-orang yang datang ke Meko, mereka sedang sakit, tapi saya tidak
 mengundang mereka, tetapi kasih Tuhan yang datangkan mereka. Kalau
 sembuh secara rohani itu berarti sembuh secara jasmani, iya kan Opa?" .
 Saya jawab: "Ya". Sesungguhnya saya terkejut mendengar kata-katanya,
 sebab, di dalam pikirin saya waktu itu, ini bukan layaknya kata-kata
 seorang anak usia 9 tahun. Selvin melanjutkan: "Tolong doakan mereka
 dengan Doa Bapa Kami, itukan satu-satunya doa yang diajarkan Tuhan
 Yesus, iya kan?". Saya jawab: "Ya". Selvin melanjutkan: "Itu kan Bapa
 Kami, bukan hanya Bapamu, bukan hanya Bapaku, Bapa semua orang kan?".
 Saya jawab "Ya". Selvin meneruskan kalimatnya: "Di dalam doa Bapa Kami
 disebut, berikan kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Karena
 itu, Opa harus bilang kepada semua orang suapa mereka jangan rakus.
 Gereja harus bertobat, melayani, jangan cuma pikir uang. Opa yang harus
 sampaikan itu kepada mereka" . Mendengar kata-kata itu, hati saya
 benar-benar terpukul dan gelisah, seperti demam rasanya, di dalam
 pikiran saya berkecamuk: saya sekarang bukan lagi Ketua Umum Sinode,
 saya juga orang berdosa, bagaimana saya harus menyampaikannya.
 Tiba-tiba, Selvin mengatakan, dengan telunjuknya mengarah ke saya: "Opa,
 'kan banyak cara, jangan kuatir?". Wah, Selvin ternyata mengetahui apa
 yang sedang saya pikirkan walaupun tidak saya ucapkan. Ketika Selvin
 mengatakan: jangan kuatir, saya merasa bagaikan disiram air dingin,
 sejuk dan damai. Kemudian Selvin mengatakan: "Di dalam Doa Bapa Kami
 sesuai Matius 6 : 9 - 13, ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti
 kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Tidak disebut dosa,
 tapi orang yang bersalah kepada kami, mengapa begitu Opa?" . Wah, saya
 terkejut, saya merasa sedang dalam ujian teologi. Beberapa saat saya
 berpikir, berdoa dalam hati agar Tuhan tolong saya untuk menjawab. Saya
 menjawab: "Ya, yang menentukan orang itu berdosa adalah Tuhan, bukan
 manusia. Yang menentukan orang ke Surga atau Neraka adalah Tuhan, bukan
 manusia". Selvin merespons: "Selvin merespons dengan kalimat: "Ya, yang
 bisa diukur oleh manusia hanyalah kesalahan, tetapi yang bisa mengukur
 dosa hanya Tuhan. Karena itu, Opa harus bilang kepada semua orang agar
 tidak saling menghakimi, si ini berdosa, si itu berdosa, itu salah, cuma
 Tuhan yang berhak ". Saya jawab: "Ya". Selanjutnya, Selvin mengatakan:
 "Opa, Opa sudah mau pulang?" . Saya bertanya: "Bukan kah saya harus
 antar Selvin ke Meko?" Selvin menjawab: "Opa kan kuatir kalau ke Meko,
 nanti orang-orang bilang apa? Mereka tentu akan salahkan Opa karena
 membawa saya ke Siuri". Wah, saya makin heran dan takjub, ternyata
 Selvin mengetahui pergumulan batin saya ketika tadi akan menjemputnya ke
 Meko.Selvin melanjutkan kata-katanya dengan tersenyum sambil berdiri:
 " Pulanglah Opa ke Tentena, di sana ada orang-orang yang memerlukan Opa"
 Selanjutnya, saya permisi, pamit kepada Ibunya dan semua orang di situ,
 dan kembali ke Tentena. Anehnya, saya merasa percakapan itu sangat
 singkat sekali. Dan... wow, benar di Tentena sudah ada orang-orang yang
 menantikan kedatangan saya.

 CBSN : Wah, peristiwa yang luar biasa. Kami dengar Pak Pendeta sudah
 mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Sinode GKST hanya karena
 komitmen memenuhi janji kepada Tibo Cs, jika mereka dihukum mati, maka
 Pak Pendeta mundur dari Sinode. Apa itu benar?

 RD : Ya, benar, saya berjanji kepada Tibo Cs di hadapan Tuhan dan dalam
 doa, pada tanggal 10 Januari 2001, ya sekitar tujuh tahun yang lalu.
 Karena saya memahami persis, bahwa mereka bukan orang-orang yang paling
 bertanggungjawab dalam peristiwa Kerusuhan Poso.

 CBSN : Itu janji terhadap Tibo Cs, bagaimana janji anda terhadap Tuhan?

 RD : Mungkin saja saya keliru, tetapi pemahaman saya adalah sesuatu yang
 sangat omong kosong saya bisa memenuhi janji terhadap Tuhan jika saya
 tidak dapat menuhi janji terhadap manusia . Tetapi yang pasti bahwa saya
 tetap sebagai Pendeta, sebagai hamba Tuhan dan jika Tuhan berkenan, saya
 siap melaksanakan tugas pelayanan, apapun taruhannya, meskipun saya
 harus kembali masuk penjara ataupun mati.

 CBSN : Luar biasa, sekarang justru Bapak mendapat penugasan, ya sejenis
 Surat Keputusan lisan dari Selvin.

 RD : Ya, itu faktanya dan saya sendiri heran, saya tidak bisa
 menghindari itu. Saya merasa kosong dan bodoh jika berhadapan dengan
 Selvin. Tapi saya juga yakin bahwa Selvin bukan Tuhan, tetapi Selvin
 adalah sarana Tuhan, seorang yang dipakai Tuhan. Apa yang Selvin lakukan
 dan katakan kepada saya, saya pahami sangat sesuai dengan isi Alkitab .

 CBSN : Katanya Bapak juga pernah mendampingi Ibunya Selvin untuk
 mendoakan dan melakukan penyembuhan.

 RD : Ya, sudah beberapa kali, dan itu juga di suruh oleh Selvin, bukan
 inisiatif dari saya. Saya diminta mendoakan Ibunya Selvin di dalam
 rumahnya, di kamarnya dan diminta berdoa agar Ibunya Selvin dikuatkan
 dan melakukan penyembuhan hanya untuk kemuliaan Tuhan, karena Tuhan
 tetap Tuhan dan kita semua adalah manusia biasa. Kemudian kami berjalan
 bersama Ibu tersebut menemui orang-orang sakit.

 CBSN : Kami dengar banyak juga yang beragama bukan Kristen yang
 disembuhkan.

 RD : Ya, benar, justru saya melihat langsung. Ya... di Meko terjadi
 rekonsiliasi yang luar biasa, terkumpul berbagai agama, Kristen, Islam,
 Budha, Hindu. Terasa damai di Meko. Kamis dan Jumat lalu, mungkin ada
 sekitar dua puluh ribu orang yang datang dari berbagai tempat. Bahkan
 ada yang dari jakarta, sakit ginjal, datang dengan 4 (empat) kantong
 darah menempel di tubuhnya, dan mengalami kesembuhan di Meko. Ada pula
 yang kanker payu dara, secara bertahap sembuh. Ya, proses penyembuhan
 itu terjadi di desa yang kecil, sederhana, becek kalau hujan, banyak
 sekali mobil yang datang, tapi tidak ada keributan, tidak ada bunyi
 klakson. Semua penuh damai, padahal tidak ada panitia yang mengatur,
 tidak ada publikasi, tidak ada stadion mewah, tidak ada gedung mewah.
 Orang-orang yang kaya dan miskin menjadi satu, duduk di lantai, di
 tenda-tenda sederhana, bahkan di tepi got yang becek, berbau, kumuh,
 tapi semuanya menjadi satu. Bahkan, Selvin, Ibunya dan keluarganya
 menolak pemberian uang dan lain-lain. Artinya: penyembuhan itu gratis.
 Dan juga tidak ada panitia yang mengajukan proposal dan publikasi. Maaf,
 saya tidak bermaksud melegitimasi, bukan karena Selvin dan keluarganya
 adalah warga GKST, tetapi yang saya nyatakan adalah hanya untuk
 kemuliaan Tuhan, dengan harapan yang kuat agar Rekonsiliasi Abadi yang
 tercipta di dalam kasih Tuhan benar-benar terjadi di wilayah Poso,
 bahkan di Indonesia dan di dunia.

 CBSN : Katanya, Ibunya Selvin mengatakan bahwa orang-orang yang beragama
 lain itu harus sembahyang menurut agamanya masing-masing.

 RD : Ya, saya sempat mendiskusikan hal itu dengan Ibunya Selvin. Ibu
 tersebut mengatakan, bahwa yang harus kita lakukan adalah melayani semua
 orang, tanpa terkecuali. Keputusan Iman seseorang tidak boleh dipaksa,
 Roh Kudus pasti akan berperan, dan orang-orang Kristen harus menunjukkan
 contoh yang baik, jangan sesama kita orang Kristen saling bertentangan,
 jangan orang Kristen yang berkata-kata dan berkelakuan tidak baik, kita
 harus jadi teladan. Dan tugas kita untuk selalu mendoakan mereka .
 Begitu yang Ibu itu katakan kepada saya. Puji Tuhan, cukup banyak
 orang-orang yang singgah juga ke rumah kami di sini, baik ketika akan ke
 Meko dan ketika kembali dari Meko, dan mereka sebagian besar bukan
 beragama Kristen. Wow, saya merasakan begitu indah rekonsiliasi natural
 yang berdasarkan kasih Tuhan, terjadi secara otomatis, tanpa paksaan,
 tanpa biaya dan tanpa panitia.

 CBSN : Katanya, di kalangan Kristen sendiri, antar denominasi, bahkan di
 tubuh GKST sendiri terjadi pro-kontra soal Meko. Ada yang mengatakan
 ajaran sesat, ada yang mengatakan bahwa di Meko ada iblis, ada foto yang
 hasilnya gambar ular, naga dan sebagainya. Bagaimana itu Pak?

 RD :Ya, itu benar, ada pro-kontra..... saya sedih... justru pro-kontra
 terjadi di kalangan Kristen. (Wajah Pak Pdt. Damanik dari yang
 berbinar-binar, tiba-tiba berubah suram, pucat dan kelihatan letih, dia
 minta ijin untuk minum air putih, kami yang mewawancarai beliau harus
 menunggu sesaat, dia mungkin masuk ke kamarnya, kami duga mungkin pak
 Pendeta berdoa menenangkan hatinya. Beberapa menit kemudian dia keluar
 dan menatap ke luar rumah. Dari rumah kediaman Pendeta Damanik yang
 sederhana tapi artistik, terpencil, di sekitarnya masih semak belukar,
 di atas bukit kecil, nampak jelas sungai poso yang mengalir, dan hampir
 seluruh kota Tentena dapat terlihat jelas, termasuk beberapa gereja
 terlihat berdiri megah. Red.)

 CBSN : Tempat ini sungguh indah dan sejuk ya Pak?

 RD : Ya, ini anugerah Tuhan. Di sini sejuk, tapi angin juga cukup
 kencang pada pagi dan malam hari. Kalau pagi hari sekitar jam enam pagi,
 ada serombongan besar burung putih yang menuju ke danau Poso, dan pada
 sore hari sekitar jam enam sore, rombongan burung itu kembali
 meninggalkan Danau Poso dan melintas tepat di atas sungai di depan rumah
 ini. Terlihat burung-burung putih itu akrab, kompak, dan tepat waktu
 berjuang bersama untuk kehidupannya. Begitulah setiap hari, tak perduli
 hujan atau panas, tetap konsisten.

 CBSN : Wah, bapak ini lagi menyindir manusia yang mana ya Pak?

 RD : (Sambil tersenyum) Entah apalah namanya... tapi kita tak boleh
 mengadili orang2 atau sakit hati, dendam dan sebagainya. Saya juga
 manusia biasa, tapi tentu kita harus punya tekad dan membuktikan bahwa
 dalam banyak hal kita harus diperbaharui oleh kasih Tuhan.

 CBSN : Terus, bagaimana dengan pro-kontra soal Meko itu pak?

 RD : Hal ini pernah kami diskusikan dengan Selvin dan Ibunya. Luar
 biasa, mereka mengatakan: "Jangan marah kepada mereka, tapi tugas kita
 adalah mendoakan mereka".

 CBSN : Kalau sikap Bapak sendiri bagaimana?

 RD : Ya, di dalam Injil, di sekitar Tuhan Yesus juga ada pro-kontra.
 Bahkan di sekitar Tuhan Yesus juga ada iblis yang selalu mencobaiNya.
 Apalagi di antara kita manusia. Saya juga berpendapat bahwa di mana-mana
 ada Iblis yang siap mencengkeram kita, termasuk di Meko, di rumah semua
 orang, mungkin juga di dalam gereja, mungkin juga dalam diri semua
 orang, mungkin juga dalam diri saya walaupun saya seorang pendeta. Bagi
 saya, yang harus dilakukan adalah: Pertama: Kita bersyukur kepada Tuhan
 bahwa di Meko terjadi banyak kesembuhan, dan terjadi rekonsiliasi
 natural dalam kasih Tuhan , pertemuan yang damai di antara manusia yang
 latarbelakang dan agamanya berbeda-beda, kaya dan miskin menjadi sama di
 Meko. Rekonsiliasi terjadi secara otomatis, tanpa paksaan, tanpa biaya
 dan tanpa panitia. Yang kita muliakan adalah Tuhan, bukan manusia. Jika
 ternyata ada beberapa yang belum sembuh, bahkan ada, sampai saat ini, 3
 (tiga) orang yang meninggal dunia sebelum disentuh. Tugas kita adalah
 dengan sunggguh-sungguh mendoakan mereka yang sakit, dan mendoakan
 keluarga-keluarga yang berdukacita agar dikuatkan dan dihiburkan oleh
 Tuhan. Kedua: Maaf, saya menolak perdebatan teologis tentang Meko,
 tetapi saya harus mengatakan bahwa saya belum pernah melihat atau
 mendengar ada ajaran sesat yang dilakukan atau disampaikan oleh Selvin
 atau Ibunya. Justru yang mereka lakukan adalah "Doa Bapa Kami", Doa yang
 diajarkan oleh Tuhan Yesus, mereka mengajak menyanyikan lagu: "Allah
 Kuasa Melakukan Segala Perkara", dan mereka mengajak untuk membaca dan
 melakukan Epesus pasal 5 . Bahkan mereka juga menolak pemberian uang
 dsbnya. Ketiga: Peristiwa Meko, adalah ujian untuk kita semua , semoga
 kita semua terhindar dari kesombongan, keangkuhan, kedengkian, iri hati,
 fitnah dan sebagainya. Hanya satu yang dapat menentukan, yaitu Tuhan.
 Hanya Tuhan ! sekali lagi hanya Tuhan yang maha tau apa sebenarnya yang
 terjadi di Meko, apa yang terjadi terhadap Selvin dan keluarganya, apa
 yang terjadi di dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Keempat:
 bukan hanya orang-orang tertentu yang harus bertobat, tetapi termasuk
 saya, para pendeta, para pekerja/pelayan gereja, harus menilai diri
 sendiri, mengaku kepada Tuhan, bertobat dan berjanji untuk dapat hidup
 lebih benar, peduli terhadap penderitaan orang lain, berani menyuarakan
 suara kenabian, menyatakan yang benar sebagai benar dan yang salah
 sebagai salah kepada semua orang, termasuk kepada penguasa dunia, tidak
 menjadi pengemis yang meminta-minta kepada pemerintah, tetapi harus
 mulai dengan menggali potensi yang ada di tubuh sendiri dan memperbaiki
 kebobrokan yang ada di tubuh sendiri, tidak melakukan fitnah, korupsi,
 selingkuh, mabuk, mabuk kekuasaan, jabatan dll. Seharusnya kita rela
 berkorban bagi orang lain, tidak hanya memikirkan diri sendiri,
 memikirkan gaji sendiri, memikirkan keluarga sendiri, suku sendiri,
 agama sendiri, tetapi peduli terhadap semua orang. Mari kita renungkan,
 mengapa Selvin bisa melakukan penyembuhan, mengapa bukan kami para
 Pendeta atau Penatua ? Jawabnya ada pada Tuhan dan ada pada pertobatan
 kita bersama. Kita tidak boleh menyepelekan anak kecil, menyepelekan
 orang kecil yang sederhana, miskin dsbnya, sebab jika Tuhan berkenan, Ia
 dapat melakukan segala sesuatu melalui siapa saja yang dipilihNya, Dan
 itu adalah otoritas Tuhan. Kelima: Peristiwa di Meko terjadi tanpa
 Panitia, bukan di dalam Stadion, Gedung, MAL, dan bukan dalam Gedung
 Gereja, tetapi di tempat yang sangat sederhana. Lihatlah di wilayah ini,
 betapa Gedung-gedung Gereja yang mewah dibangun. Saya yakin bahwa Tuhan
 Yesus Kristus tidak pernah memerintahkan kita untuk membangun Gedung
 Gereja yang besar dan megah di antara rumah-rumah warga gereja yang
 reyot-reyot, yang miskin, yang menderita . Apalagi memaksa warga gereja
 yang miskin itu untuk banting tulang, tenaga dan dana hanya untuk
 membangun gereja yang megah. Ya, ini koreksi untuk kita semua, apa
 sebenarnya yang harus kita prioritaskan dalam pelayanan kita. Mari kita
 ingat dan renungkan kembali lagu anak-anak sekolah minggu: "Gereja
 bukanlah gedung, tetapi Gereja adalah orangnya". Keenam: Doa Bapa Kami
 adalah doa yang langsung diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Isi Doa
 Bapa Kami adalah merupakan permohonan kepada Tuhan. Tetapi sekaligus,
 isi doa tersebut seharusnya kita lakukan bersama . Hendaknya Doa Bapa
 Kami tidak hanya sekedar saja diucapkan dalam ibadah-ibadah, atau jangan
 hanya jadi pelengkap, tetapi harus menjadi yang utama. Bahkan doa itu
 seharusnya tidak hanya dalam ibadah-ibadah formal, tetapi juga dalam doa
 pribadi, rumah tangga dsbnya.Ketujuh: Sekian dulu ya, sekali lagi,
 saya bukan Tuhan, saya bukan tokoh, saya bukan penguasa, saya bukan
 pahlawan. Saya hanya pendeta biasa, hanya hamba, saya hanya rakyat
 biasa. Saya juga punya banyak kelemahan. Saya boleh dikoreksi dan
 diingatkan jika saya salah.

 CBSN : Terimakasih atas waktu, kesaksian dan pikiran Bapak, tapi mohon
 ini yang terakhir, katanya Bapak bersama-sama Selvin ke Jakarta ?

 RD : Selvin ke Jakarta bersama-sama keluarganya yang berdomisi di
 Jakarta. Kalau saya tidak keliru, mereka berangkat tanggal 17 maret
 2007. Saya tidak bersama-sama dengan mereka, saya ke Jakarta pada hari
 yang lain.... ya, tanggal 22 Maret 2007. untuk menghadiri undangan
 sejenis Seminar sehari. Tetapi tanpa saya duga, ketika kembali dari
 Jakarta, tanggal 24 Maret 2007, saya bertemu dengan Selvin di Ruang
 Tunggu Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta, kami satu pesawat dari
 Jakarta ke Palu. Dia didampingi oleh Omanya, Pdt. Vivi Pandegirot dan 2
 orang lainnya. Ketika bertemu di Ruang Tunggu itu, saya sempat
 berbincang-bincang dengan Selvin. Selvin mengatakan bahwa dia sempat
 pergi ke Taman Safari Jakarta. Dia melihat banyak binatang di sana. Dan
 Selvin mengatakan, dia gembira karena cita-citanya tercapai, yaitu naik
 Keledai. Mendengar hal itu, spontan saya mengatakan: "Wah, itu penting !
 Bukankah Tuhan Yesus naik keledai memasuki Yerusalem menjelang Paskah?"
 ..Ya, Paskah tidak lama lagi diperingati, tinggal beberapa saat, yaitu
 tanggal 6 April dan 8 April 2007.

 CBSN : Wah, hebat ya Pak. Mungkin ada kata penutup Pak?

 RD : Mari kita doakan bersama dengan sungguh-sungguh, karena kita tentu
 masih menantikan kehendak Tuhan, apa yang akan terjadi kemudian di Meko
 dan terhadap diri kita masing-masing. Tetapi kita tentu yakin bahwa jika
 kita hanya berpengharapan kepada Tuhan dan tetap melakukan kehendakNya,
 maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik dan sesuai untuk kita
 semua. Terimakasih. (*.*)

Visit our website at http://www.ubs.com

 This message contains confidential information and is intended only
 for the individual named.If you are not the named addressee you
 should not disseminate, distribute or copy this e-mail.Please
 notify the sender immediately by e-mail if you have received this
 e-mail by mistake and delete this e-mail from your system.

 E-mails are not encrypted and cannot be guaranteed to be secure or
 error-free as information could be intercepted, corrupted, lost,
 destroyed, arrive late or incomplete, or contain viruses.The sender
 therefore does not accept liability for any errors or omissions in the
 contents of this message which arise as a result of e-mail transmission.

 If verification is required please request a hard-copy version.This
 message is provided for informational purposes and should not be
 construed as a solicitation or offer to buy or sell any securities
 or related financial instruments.

Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check out new cars at Yahoo! Autos.
 


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke