http://www.bangkapos.com/berita.php?id=53095&halaman=1&topik=13
SBY tak Tahan Diolok Jum'at, 25 May 2007 22:52 JAKARTA--Prahara Politik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menabuh genderang politik, menyerang balik salah satu rivalnya pada Pemilihan Presiden 2004, Amien Rais.Mengaku sudah tidak tahan lagi diperolok-olok dan dituduh mcam-macam selama lebih dua setengah tahun menjadi presiden, SBY bereaksi keras untuk mematahkan manuver lawan. Jumat (25/5) pukul 14.00 WIB, presiden menggelar jumpa wartawan di halaman istana presiden di Jakarta, dan pada acara itu menyebut nama Amien Rais sebanyak 15 kali. Saat memberi keterangan kepada wartawan, penampilan SBY tampak bebeda dari lazimnya. Tidak banyak mengumbar senyum. Sedikit gerakan tangan. Rawut wajah memerah, raham agak keras ketika menekankan kata-kata dengan artikulasinya tegas. Sebagai presiden sekarang maupun Capres pada Pilpres 2004, SBY mengklarifikasi posisinya yang banyak diterpa isu-isu kecipratan aliran dana dari mantan Menteri Kelautan dan Pertanian Rokhmin Dahuri, dan bantuan asing. SBY berdiri di depan podium didampingi mantan Sekjen Partai Amanat Nasional selaku Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Di awal penjelasannya, presiden mengatakan sebagai kepala negara yang ingin mengembangkan amanah untuk membangun nilai dan budaya masyarakat yang jauh dari fitnah-memfitnah, tuntut-menuntut dan kegaduhan sejenis. Dia tidak ingin melibatkan diri dalam urusan dan wacana seperti ini. Namun karena kehabisan kesabaran, SBY memilih membuat pernyataan resmi. "Lebih dari dua setengah tahun saya mengemban tugas sebagai kepala negara. Selama ini saya terus menahan diri dan tidak ingin menanggapi komentar kecaman, dan serangan dengan kata-kata bahkan tindakan memperolok-olok saya oleh saudara Amien Rais di berbagai forum dan kegiatan-kegiatan publik. Tapi kali ini, saya ingin menyampaikan secara tegas dan gamblang penjelasan saya yang sesungguhnya, lebih saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Saya tidak ingin ada gangguan hubungan batin antara saya dengan rakyat sebab saya bekerja siang dan malam, juga untuk mereka, rakyat kita," ujar presiden SBY. Menggemparkan Bagaimana Amien Rais menyikapi kegeraman Presiden SBY yang menyebut namanya berulang-ulang sampai 15 kali? "Saya harus hati-hati dan saya tidak pernah menyebut nama. Kalau kemudian ada pihak yang mengacu pada saya, itu sesungguhnya ya hak dia sendiri," ujar Amien Rais. Namun demikian, agar semua persoalan menjadi jelas, pendiri dan mantan Ketua PAN itu meminta KPU membeberkan sumber-sumber dana Capres pada Pilpres 2004. "Ada dana Capres yang sudah dilaporkan ke KPU, dan banyak misterinya itu mesti dibongkar. Saya belum bisa memberitahu tapi saya yakin sekali kalau dibuka nanti cukup menggemparkan," katanya. Amien menyampaikan dua pilihan. Opsi pertama, kejadian yang sudah berlalu, dilupakan saja. Alasannya, kita bangsa besar yang tahu keadaan bangsa. Opsi kedua, yang menerima DKP itu supaya jujur ke atas permukaan dan hakimnya itu secara obyektif dan transparan, berikanlah keputusan yang betul-betul adil. "Kalau memang maunya buka-bukaan, mungkin ini hands of God. Mungkin ini rencana dari langit, masalah yang kecil kok bisa melebar dan meluas. Jadi karena ini sudah kepalang basah, saya akan meminta Panwaslu untuk bertemu kembali dan kemudian KPU yang dipenjara untuk." Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam telekomferens kemarin mengatakan, tidak pernah mengungkap nama-nama penerima dana yang dikelola departemennya. "Saya ingin tegaskan bahwa informasi terkuak soal aliran dana DKP ke mana itu adalah dari fakta persidangan. Waktu pada persidangan, ada seorang saksi namanya Pak Didi Sadeli yang mengelola dana nonbudgeter. Jadi bukan saya yang mengungkapkan, tapi saksi-saksi di persidangan. Saya selaku menteri waktu itu hanya mendisposisi kalau ada proposal melalui tertulis maupun lisan," kata Rokhmin. Menyesatkan Seperti diwartakan sebelumnya, pada persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Rabu (23/5), Didi Sadeli, Kepala Biro Umum Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang ditugasi Rokhmin mengelola dana nonbudgeter DKP sebanyak Rp 24 miliar antara 2001 hingga tahun 2004. Pengeluaran dana itu, ia mengaku mencatat Rp 600 juta untuk mantan Ketua Umum MPR/Capres dari PAN Amien Rais. Selain Amien Rais, tercatat nama-nama politisi atau tim sukses saat kampanye Pilpres 2004. Tim kampanye Capres 2004 pun juga kecipratan dana. Steven dari Mega Center (kampanye Megawati-Hasyim Muzadi) kebagian Rp 200 juta, tim kampanye pasangan SBY-JK Rp 450 juta. Menyangkut isu dana Departemen Kelautan dan Perikanan, laki-laki kelahiran Pacitan 9 September 1949 ini mengajak semuanya untuk mengembalikan kepada pokok permasalahan, inti permasalahan yang sesungguhnya. "Apa inti permasalahannya? Rokhim Dahuri didakwa melakukan pelanggaran hukum atau korupsi oleh KPK yang kita kenal kemudian sebagai kasus dana DKP. Dalam kaitan ini saudara Amien Rais mengaku dan menerima dana DKP yang bermasalah itu. Ini inti permasalahan sebenarnya. Dan bagi saya ini benar-benar masalah hukum, silakan KPK menyelesaikan apakah Rokhim Dahuri atau Amien Rais bersalah atau tidak." SBY juga mengajak semua pihak agar tidak mengintervensi dan tidak boleh mencampuri proses hukum yang ditangani KPK. "Saya dan Jusuf Kalla jelas sekali lagi tidak menerima dana DKP. Dengan demikian opini yang dibangun benar-benar menyesatkan dan tidak sehat. Diberitakan juga, sejumlah nama yang disebutkan sebagai tim kampanye SBY-JK juga menerima dana DKP tersebut. Kita sudah mendengar sendiri dari mereka yang disebut-sebut, mereka bukan anggota tim kampanye SBY-JK dan bahkan dari mereka mengatakan saya pun tidak pernah menerima dana DKP itu," ucap sang pensiunan Jenderal. (JBP/ade/yat/amb) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
