RIAU POS

      Parpol dan Nasib Orang Kampung 

           
      06 Agustus 2007 Pukul 09:11  
      Belakangan ini, perbincangan mengenai partai politik (Parpol) kian hangat 
dan mengundang perhatian publik. Berbagai kajian dan survei menyebutkan bahwa 
kian hari tingkat kepercayaan publik terhadap partai mulai memudar dan 
menunjukkan grafik yang menurun. Ini hendaknya menjadi koreksi bagi kalangan 
aktivis partai. Apalagi dalam sepekan ini kita lagi "demam" membicarakan 
seputar calon independen dalam pemilihan kepala daerah secara langsung. Sudah 
barang tentu, produk hukum yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi (MK) membuat 
aktivis partai "kebakaran jengot" dan sebagian menyambut "gembira". Yang 
bergembira adalah kelompok-kelompok pro-independen. Dewi fortuna kali ini 
berpihak pada mereka. Harapan kita, secara substansial kelahiran keputusan 
hukum itu membuka ruang bagi proses berdemokrasi dan sekaligus ruang bagi 
setiap warga untuk terlibat aktif dalam proses-proses politik ke depan. 

       Dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, perdebatan mendirikan 
partai politik hingga persyaratan bisa lolos menjadi peserta Pemilu 2009 
terjadi pro-kontra antar partai. Polarisasi yang menjurus rivalitas kian 
menajam atas beragamnya usulan berkaitan persyaratan untuk bisa lolos menjadi 
peserta pemilu yang akan dinaikan dari tiga persen (Pemilu 2004) menjadi lima 
persen (Pemilu 2009) (baca: Electoral tresshold). Monuver pertemuan yang 
digagas oleh partai PAN, PKS, PKB, PPP, PBR, PBB, dan PDS tidak jauh dari 
agenda di atas.

      Sudah pasti, pertemuan di atas sejalan dengan silaturrahmi yang 
digagaskan oleh Golkar-PDIP (baca: Koalisi kuning merah) di Medan dan Palembang 
belum lama ini. Munculnya paradigma politik menaikan angka tiga persen menjadi 
lima persen, dilatari oleh sudah waktunya proses seleksi politik secara ketat 
terhadap sebuah partai politik untuk menjadi peserta pemilu merupakan 
keniscayaan politik. Dengan demikian, jumlah peserta pemilu pada Pemilu 2004 
yang lalu dengan jumlah 24 partai politik, diharapkan tinggal 7-9 partai 
politik saja. 

      Memang, keterlibatan seseorang dalam kancah politik praktis, amat 
menggoda sekaligus sebagai wujud tanggung jawab dalam membela kepentingan 
rakyat. Sekaligus masih ditemui pemahaman orang masuk partai politik 
semata-mata ingin merebut dan mempertahankan kekuasaan, namun kadang ada yang 
terlupakan bahwa ada tugas kenegaraan yang terkandung mulia dalam kerja politik 
ini, yaitu bagaimana memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Inilah yang 
sebenarnya substansi keberadaan sebuah partai di tengah-tengah masyarakat. 

      Oleh karena itu, kehadiran sebuah partai politik bukan saja menjelang 
pemilu tiba, namun pasca pemilu pun partai politik harus tetap menjalankan 
fungsinya dengan baik dan menunjukkan kiprahnya di tengah masyarakat (pemilih). 
Amat perlu dicermati, dengan keluarnya "fatwa" hukum oleh Mahkamah Konstitusi 
belum lama ini, menjadi tantangan sekaligus tanpa menutup mata melahirkan 
keresahan di kalangan partai bahwa wacana calon independen hendaklah dilihat 
dari munculnya kejenuhan dan kekecewaan publik atas perilaku partai-partai. 

      Orang Kampung, Siapa Mau Bela?
      Berdasarkan data yang ada, menyebutkan bahwa hampir mencapai 68 persen 
masyarakat di desa-desa (baca: Kampung) memberikan dukungan yang signifikan 
dalam pesta demokrasi di tanah air, tak terkecuali pada Pemilu Legislatif 2004 
yang lalu. Kekuatan dan potensi masyarakat kampung secara obyektif sangat 
menentukan dalam mengantar para calon wakil rakyat menjadi anggota DPR/DPRD, 
DPD dan untuk menjadi kepala daerah (baca: Pilkada). Oleh karena itu, muncul 
cibiran dan kritik tajam yang dilontarkan oleh orang-orang kampung, bahwa 
menjelang pemilu saja mereka disapa, ditengur, dan diminta memberikan dukungan, 
dengan aneka ragam strategi dibangun, agar memilihnya, tapi pasca pemilu bisa 
dihitungkan dengan jari wakil rakyat yang terpilih, mau datang ke desa-desa, 
membangun komunikasi politik dalam bentuk menyapa, bersenda gurau dan 
berdialog, termsuk melihat kondisi kehidupan orang-orang kampung. 

      Kasus contoh, sektor pembangunan infrastruktur kelistrikan. Kelangkaan 
listrik masuk kampung (baca: PLN) hampir merata dirasakan oleh orang kampung. 
Dimalam hari gelap gulita mulai dari pelabuhan hingga di ibu kota desa dan 
sudut-sudut kampung, adalah pemandangan yang menghiasi dinamika kehidupan orang 
kampung. Belum lagi, kondisi jalan desa dan antar desa khususnya di 
pulau-pulau, sebagai contoh Pulau Merbau masih berjalan tanah. Bisa dibayangkan 
kondisi hujan tiba, sangat menganggu mobilitas ekonomi dan akses pelayanan 
pendidikan bagi masyarakat di desa-desa yang bersangkutan. Belum lagi kondisi 
jembatan, cukup memprihatinkan. Urat nadi masyarakat kampung selain jalan, 
adalah pelabuhan. Tapi, kondisi pelabuhan-pelabuhan desa jauh dari harapan 
kita. 

      Selain soal pembangunan infrastruktur, adalah permasalahan pembangunan 
sumber daya manusia (SDM). Kondisi di bawah menggambarkan perlu dilakukan 
langkah-langkah radikal dalam rangka mensulap wajah pendidikan anak-anak 
kampung. Jikalau orang-orang tua mereka hanya tamat SD, atau tidak bersekolah, 
tapi jangan sampai terjadi anak-anak kampung seperti yang terjadi di Desa Sokop 
dan Beting Kecamatan Rangsang, serta Desa Kepau Baru, Kecamatan TebingTinggi 
masih ditemui putus sekolah karena tamat SD dan SMP tidak bisa melanjutkan ke 
SMA, sebuah kasus yang penulis temui di lapangan, yang disebabkan oleh faktor 
geografis (tinggal di pulau) dan faktor ekonomi orang tua. Di era modern dan 
serba canggih ini, apalagi anggaran yang sangat besar, masih ditemui anak-anak 
kampung tidak bersekolah.

      Oleh karena itu, mencermati kondisi obyektif kehidupan orang-orang 
kampung, maka eksistensi partai politik, termasuk para wakil rakyat yang 
terpilih pada Pemilu 2004 yang lalu, tidak bisa kita -khususnya bagi 
kawan-kawan aktivis partai-, berpangku tangan dan tanpa upaya konkret 
memperhatikan dan memperjuangkan orang-orang kampung tersebut. Mereka hari ini 
kehilangan figur dan memerlukan uluran tangan dari partai politik, termasuk 
wakil rakyat, pelan tapi pasti aroma kemajuan dan perubahan di kampung-kampung 
mereka rasakan betul-betul terjadi. Ingat, kehadiran calon independen dalam 
perebutan jabatan-jabatan politik strategis ke depan, sangat terbuka lebar 
mereka mengubah haluan politik untuk tidak lagi percaya dengan kalangan 
politisi (baca: Parpol), dan mengalihkan pilihan politik dalam perebutan 
jabatan politik stratetis (pilkada) kepada calon independen. Ingat, wahai 
akvitis partai, jangan sampai terjadi. 

      Kini, refleksi, evaluasi dan prediksi politik dalam rangka kerja-kerja 
sosial politik, sosial ekonomi dan kemasyarakatan tidak bisa dilakukan oleh 
partai, termasuk calon legislatif saat pesta demokrasi tiba (pemilu), akan 
tetapi jauh sebelumnya, baik menjelang pemilu dan pasca pemilu fungsi partai 
harus dijalankan dengan maksimal. Sebab tanpa kemauan kuat dan kesadaran tinggi 
dari kalangan partai, ke depan sangat mungkin rakyat makin kuat kehilangan 
kepercayaan dan figur dalam proses politik ke depan, termasuk Pemilu dan 
Pilkada. Sekian.***

      Zulfan Heri, anggota Fraksi 
      Partai Golkar DPRD Provinsi Riau. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke