06/10/07 14:46

Catatan Rosihan Anwar: Mengenang Misi ke Burma

Jakarta (ANTARA News) - Melihat pada layar televisi demonstrasi para
bhiksu Myanmar (dulu Burma) disusul tindakan tentara yang menembak,
memukuli orang sipil, saya heran orang Burma tega berlaku kejam
terhadap sesama bangsa. Sebab sebuah gambaran yang saya bawa dalam
benak selama ini orang Burma itu baik, ramah, santun, terbuka, dan
bersahabat.

Teringat lagi saya pengalaman pada tahun 1954 tatkala Republik
Indonesia mengirim misi muhibah untuk pertama kali ke Burma.

"Goodwill mission" itu dipimpin oleh Raja Yogyakarta Sri Sultan
Hamengku Buwono IX terdiri atas anggota parlemen antara lain wakil
ketua parlemen Z Abidin Achmad (Masyumi), pejabat tinggi pemerintah
seperti Kepala Sekretariat Kabinet Maria Ulfah Santoso, dan tiga
wartawan yakni Mochtar Lubis (Pemred Indonesia Raya), saya selaku
Pemred Pedoman, dan Dayat Hardjakusuma dari Kantor Berita ANTARA.

Burma waktu itu baru enam tahun merdeka. Pada awal kedaulatannya
Perdana Menteri Jenderal Aung San (ayah Aung San Suu Kyi) saat
memimpin sidang kabinet diasasinasi oleh kelompok oposisi bersenjata
yang dipimpin oleh politisi di zaman Jepang Dr U Ba Maw yang jadi
Presiden negara boneka Burma bikinan Jepang.

Burma punya tempat khusus di kalbu pemimpin RI zaman revolusi sebab
berkat bantuannya sejumlah pemuda pejuang Indonesia di Rangoon di
bawah pimpinan penerbang Wiweko berhasil membentuk perusahaan
Indonesia Airways yang dengan sebuah pesawat bekas Dakota secara
reguler mengadakan hubungan penerbangan antara Rangoon dengan Mandalay
pada tahun 1949.

"Goodwill mission" pimpinan Sultan Yogya ingin menyampaikan terima
kasih Indonesia kepada Burma.

Waktu itu Dutabesar RI di Burma Dr Sudarsono yang merangkap Dubes RI
untuk India, Kuasa Usaha Ali Algadrie, dan Sekretaris Atase Politik
Aboe Bakar Loebis. Ketiga diplomat itu pengikut mantan Perdana Menteri
Sjahrir (Ketua Partai Sosialis Indonesia).

Adapun pemerintah Burma juga dari Partai Sosialis Burma. Presiden Uni
Burma seorang dari golongan etnik dari Shan State, tetapi Perdana
Menteri U Kyaw Myein dan Menteri Pertahanan U Ba Shwe dari golongan
etnik mayoritas bangsa Burma adalah tokoh-tokoh Partai Sosialis.

Tatkala tiba di Bandara Rangoon misi disambut oleh diplomat Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI). Aboe Bakar Loebis memberikan kartu
tanda pengenal kepada masing-masing delegasi sebab untuk mengikuti
protokol pada saat misi mengunjungi Presiden tiap anggota meninggalkan
kartu tanda pengenalnya di istana.

Malam harinya delegasi dijamu makan di kediaman resmi Perdana Menteri
U Kyaw Myein. Kami duduk bersama di halaman belakang di bawah langit
terbuka. Laki-laki Burma biasa pakai "lunghi" atau sarung, dengan baju
warna polos hitam atau putih. Semua itu membuat suasana santai. Sultan
Yogya dan anggota rombongan memakai kemeja lengan panjang tanpa dasi.
Kemeja batik ketika itu belum dikenal.

Yang banyak bicara U Kyaw Myein. Menteri Pertahanan U Ba Shwe agak
pendiam mungkin karena kurang lancar berbahasa Inggris. Juga hadir
Panglima Tentara Burma Jenderal Ne Win.

Sedikit gambaran tentang Ne Win: dia dan Aung San bersama 30 mahasiswa
lain yang disebut Thakin (nama kehormatan seperti Raden di Jawa)
secara diam-diam pergi ke Taiwan sebelum Perang Pasifik 1941 untuk
mendapat latihan militer dari Dai Nippon. Sekembalinya dari latihan
itu mereka membentuk tentara yang tidak mau kerjasama dengan Jepang,
juga menentang tentara Inggris bila mau menjajah Burma lagi.

Ne Win tinggi semampai, cakap, juga sarungan. Pada malam jamuan itu ia
mengundang saya, Mochtar Lubis, dan Dayat Hardjakusuma berkunjung ke
markasnya keesokan hari.

Markas itu sebuah gedung batu sederhana, tidak ramai dengan orang
militer. Kami masuk ke ruang kerja Ne Win yang tidak pula begitu
besar. Pertanyaan-pertanya an kami dijawabnya dengan terus terang
mengenai keamanan di dalam negeri, ketegangan dengan golongan etnik
minoritas.

Ia menunjuk kepada sebuah "velbed" (ranjang) yang terletak di pojok
kamar. Di sana Jenderal Ne Win biasa tidur atau beristirahat sejenak.
Kami terkesan oleh kesederhanaan Ne Win.

Setelah Rangoon, kami mengunjungi kota Mandalay, naik perahu motor di
sungai telaga Shan State. Kami pergi ke selatan daerah pertanian
lumbung padi Burma. Di mana-mana misi muhibah disambut dengan ramah 
tamah.

Seorang pengantar misi kami ialah Sekjen Kementerian Penerangan U
Thant yang kelak menjadi Sekjen PBB pertama yang mewakili Asia.

Kami tinggalkan Burma dengan kesan menyenangkan dan sejak itu saya
membawa dalam benak saya citra orang Burma sebagai insan yang baik
hati dan lembut.

Maka bayangkan alangkah terkejutnya saya mendengar Ne Win melakukan
kudeta tahun 1962 terhadap pemerintahan Perdana Menteri U Nu. Sejak
itu Burma diperintah dengan "cara sosialis Burma". Ia merupakan suatu
"hermit state", negara kaum pertapa, dipencilkan dari dunia luar.

U Kyaw Myein, U Ba Shwe, U Nu sirna dari panggung politik. Ne Win jadi
diktator selama puluhan tahun.

Setelah dia mengundurkan diri pada 1988, junta militer terdiri atas 12
jenderal yang bergabung dalam Dewan Perdamaian dan Pembangunan Negara
di bawah Jenderal Saw Maung meneruskan kekuasaan absolut.

Sejak 1992 hingga kini junta berada di bawah Jenderal Senior Than Shwe
(74), mantan pegawai kantor pos yang pada tahun misi muhibah Indonesia
mengunjungi Burma dia baru satu tahun masuk tentara negara itu.

Para jenderal yang berkuasa ternyata korup dan tidak peduli pada nasib
rakyat. Than Shwe, menurut keterangan seorang Burma yang kini hidup di
Indonesia dan sekali-kali "pulang kampung", adalah orang yang
berperilaku seperti raja-raja dari zaman kerajaan Burma dahulu.

Than Shwe membiarkan keluarganya hidup serba mewah di tengah rakyat
yang miskin. Tentara Burma berjumlah sekitar 450 ribu orang tetapi
menguasai kehidupan sekitar 48,7 juta (perkiraan Juli 2007) rakyat
Burma. Mengapa tentara Burma bisa begitu kejam dan menindas?(*)

Copyright © 2007 ANTARA

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke