*KTT PERUBAHAN IKLIM*
** Jangan Hanya Untungkan* Negara Industri Maju*

Rabu, 14 Nopember 2007

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia harus memainkan peranan penting pada
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB yang akan digelar di
Bali awal Desember nanti.

Itu perlu dilakukan karena konferensi tersebut dinilai tidak akan menjawab
akar permasalahan perubahan iklim global dan tidak akan menjawab kebutuhan
masyarakat kecil yang menjadi korbannya.

Keuntungan hanya akan dirasakan negara-negara industri, sedangkan dunia
ketiga tetap akan buntung. Keuntungan hanya akan dirasakan segelintir pihak,
seperti negara-negara kapitalis-neoliberal, perusahaan-perusahaan asing
lintas negara, dan juga lembaga kreditor internasional.

"Miliaran rakyat di seluruh dunia akan terus ditindas secara struktural.
Atau dalam perspektif lingkungan, kondisi ini dinamakan ketidakadilan
iklim," kata juru bicara Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme dan
Imperialisme (Gerak Lawan), Dani Setiawan, kepada wartawan, di Jakarta,
Selasa (13/11).

Gerak Lawan merupakan gabungan organisasi-organisasi Federasi Serikat Petani
Indonesia (FSPI), Koalisi Anti Utang (KAU), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi),
Sarekat Hijau (SH), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Federasi
Serikat Buruh Jabotabek (FSBJ), KAM LAKSI 31, dan LS ADI.

Dani menambahkan, negara-negara industri maju seperti Amerika, Uni Eropa,
dan Australia terus memacu pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Ini membuat
mereka menjadi penyumbang paling besar emisi karbondioksida di dunia.

Laju industrialisasi yang menyerap kebutuhan energi yang sangat besar serta
pola hidup boros memperlihatkan bahwa negara-negara tersebut telah
mempraktikkan model pembangunan yang salah dan tidak adil. "Kondisi ini
memperburuk iklim pada tingkat global," katanya.

Karena itu, lanjut Dani yang juga perwakilan KAU, ketidakadilan iklim ini
bisa diakhiri dengan asas tanggung jawab dan pengakuan atas praktik salah di
masa lalu yang dilakukan negara-negara kapitalis-neoliberal.

"Tanggung jawab itu tidaklah cukup dengan menyediakan dana kompensasi bagi
upaya rehabilitasi dan mitigasi perubahan iklim. Negara-negara industri maju
harus mengakui kesalahannya dengan memberikan penghapusan 100 persen utang
luar negeri bagi negara-negara miskin dan berkembang tanpa syarat," katanya.

Menurut dia, itu sebagai bentuk dukungan kongkret mempromosikan pembangunan
yang adil, setara, mensejahterakan rakyat, serta menjunjung tinggi
pelestarian lingkungan.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah negara-negara dunia ketiga atau
negara-negara yang terbelakang akibat praktik imperialisme baru itu harus
merapatkan barisan, bersatu, dan menyatakan sikap bahwa tidak ada model
pembangunan tunggal, yang selama ini dipaksakan.

Rakyat di seluruh dunia harus melawan model pembangunan yang
berkarakteristik kapitalistik-neoliberal seperti saat ini. (Joko Sriyono)



http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=186364


-- 
Yuyun Harmono
Outreach Koalisi Anti Utang (KAU)/Anti Debt Coalition Indonesia
Jl. Tegal Parang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 Indonesia
Telp. 021-79193363,Fax. 021-7941673,
Hp. 081807867506
website : www.kau.or.id
blog : antiutang.wordpress.com


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke