Yuri, Putri Venezuela menemukan Islam 
Kisah Mualaf - Kisah Foreigner
Wednesday, 06 February 2008 00:00
Ketika hadir pertama kali di Islamic Forum for non Muslims di Islamic
Center of New York, gadis ini nampak lugu dan pemalu. Dia hanya diam,
mengamati dan sesekali menganggukkan kepala. Senyumnya pun jarang
terlihat. Mungkin karena pernah mendengar bahwa senyuman wanita di
tempat umum bisa dianggap tidak etis.

Yuri, itulah nama yang disebutkan di saat ditanya tentang namanya. "my
parents are very strong Catholics" katanya suatu saat. "My father is
Venezuelan, but my mother is an Irish origin". Mungkin campuran itulah
yang menjadikan Yuri lebih mirip gadis Asia.

Datang kedua kalinya, Yuri kini lebih agresif. Beberapa pertanyaan
yangt diajukan sangat tajam dan mengena. Suatu kali dia menanyakan "if
Muslims believe in Jesus and the Gospel, why don't you guys accept him
(Jesus) as Christians do". Ketika saya jawab bahwa mengimaninya harus
sesuai dengan Al-Qur'an dan bukan dengan apa yang disebutkan di Bible,
dia berargumentasi "That for me means, you don't really believe in the
Bible that you claim".

Dari pertemuan ke pertemuan, alhamdulillah, Yuri nampak serius dan
banyak mengalami perubahan. Saya masih ingat, ketika pertama kali
datang Yuri seperti tidak serius dan seolah acuh dengan ceramah yang
disampaikan. Hingga suatu ketika, bersamaan dengan hari Paskah di kota
New York, saya membahas kembali mengenai Isa A.S. Diskusi yang memakan
waktu lebih 3 jam mengenai Isa itu ternyata awal perubahan drastis
yang dialami oleh Yuri. Sejak itu, kerap kali meminta untuk
direkomendasikan buku-buku yang dianggap "reliable" untuk dibaca.

Dua bulan terakhir Yuri nampak semakin bersemangat. Bahkan tidak
jarang kini menyampaikan keragu-raguannya terhadap apa yang selama ini
dia sebut sebagai "my father's inheritance" (warisan ayah). Walhasil,
seringkali dia sendiri mempertanyakan konsep-konsep dasar agama
Katolik. Sebagai misal, suatu ketika ada pertanyaan dari seorang
peserta tentang "Dosa asal dan karakter dasar manusia". Menurutnya,
secara umum manuswia itu cenderung untuk jahat. Kalau saja tidak ada
"hukum" maka manusia akan lebih jahat dari binatang buas di
hutan-hutan. Maka, dosa asal itu memang ada dan terbukti dari prilaku
manusia.

Yuri yang sebenarnya pendiam itu segera menjawab: "What? I don't think
any rational human beings will accept that concept. From any human
senses, that is simply irrational" katanya tegas tanpa penjelasan
lebih jauh.

Saya seperti biasa, di saat diskusi sudah menghangat tinggal
mengarahkan saja. Seolah moderator diskusi yang mengarahkan arah
diskusi ke tujuan yang dinginkan. Tidak jarang memang diskusi-diskusi
di kelas ini, khususnya jika telah menyentuh masalah-masalah teologis,
menjadi panas. Tidak jarang pula, diskusi-diskusi panas inilah menjadi
awal pijakan "introspeksi" bagi para peserta.

Yuri, yang hingga kini belum sempat saya tanyakan nama lengkapnya,
sejak itu pula nampak seperti seorang Muslimah yang setiap saat siap
membela berbagai miskonsepsi mengenai Islam. Saya masih ingat, seorang
peserta lain mempertanyakan konsep kemurnian tauhid dalam Islam.
Menurutnya, orang-orang Islam itu jika shalat dan tidak menghadap
Mekah tidak diterima shalatnya. Menurutnya lagi, bangunan yang ada di
Mekah (Ka'bah) itu dianggap oleh kaum Muslim sebagai sesuatu yang
dihormati. "Isn't it a kind of polytheism?" tanyanya.

Tiba-tiba saja Yuri yang pemalu itu mengangkat tangan dan mengatakan:
"Don't you know that Muslims do not worship any object beside God?
That is a symbol of direction to God but Muslims do not worship it at
all" jelasnya.

Demikianlah hari-hari Yuri bersama the Islamic Forum di Islamic Center
of New York. Hingga pada awal bulan Mei ini, di mana bersamaan dengan
persiapan "Matrimonial Match Makin" yang akan dilaksanakan di Jamaica
Muslim Center dua minggu silam, saya mendedikasikan sebulan penuh
(Mei) membicarakan mengenai "Perkawinan dalam Islam" dari berbagai
sudut. Yuri yang masih belia itu ternyata punya perhatian besar
terhadap keluarga dan konsep pernikahan itu. Sampai pada akhirnya,
minggu kedua dari diskusi tentang nikah itu dia mengatakan "This is
the most interesting to me. I was kind of confused about how will it
be as a Muslim to marry".

Alhamdulillah, tepat Sabtu keempat bulan Mei lalu, nampak Yuri tenang
tapi sesekali memperlihatkan wajah yang sepertinya gusar. Diskusi yang
biasanya memakan waktu sekitar 3 jam itu ternyata molor hingga 4 jam
karena memang masalah yang didiskusikan adalah hak dan kewajiban suai
isteri. Ternyata bagi kebanyakan peserta hal ini menarik karena asumsi
mereka isteri selalu tunduk dan patuh kepada suami. Sebaliknya suami
selalu berada pada posisi yang superior. Ternyata apa yang mereka
dapat adalah sebaliknya, di mana Islam menempatkan suami dan isteri
pada posisi yang "sederajat" sesuai kodrat masing-masing pihak.

Tapi yang paling menarik adalah konsep "poligami" versus pergaulan
bebas di Amerika. Sedemikian serunya pembahasan ini hingga beberapa
kali pihak security datang karena menyangka ada pertengkaran.
Alhamdulillah, pada akhirnya semua pihak dapat memahami bagaimana
sesungguhnya kedudukan poligami dalam Islam.

Yuri yang hari itu agak diam, hanya sesekali tersenyum jika mendengar
argumentasi yang lucu. Hingga pada akhirnya kelas berakhir dan semua
meninggalkan. Saya biasanya tidak langsung meninggalkan kelas, selain
membenahi buku-buku rujukan, juga terkadang ada beberapa murid yang
perlu konsultasi secara individu.

Tidak beberapa lama setelah kelas bubar, Yuri dengan nampak berlinang
airmat dan malu-malu masuk kembali ditemani 3 orang temannya.
Ketiganya adalah muallaf yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya
langsung tanya "what's happening?" Teman-teman itu hampir serentak
menjawab "she is ready, Imam Shamsi". Saya tidak sadar tentang Yuri
dan kembali bertanya "ready for what?". Yuri yang kini duduk sambil
mengusap airmata mengatakan "I can not delay this any more. I want to
be a Muslim right now!" katanya mantap.

Saya pun memulai dengan kembali mengingatkan Yuri ketika pertama kali
datang ke kelas. Bagaimana dia pemalu, nampak lugu, dan kelihatannya
nampak sangat belia. Mendengar itu, Yuri hanya tersenyum sambil
mengusap air mata.

Saya kemudian memulai menuntun Yuri bersyahadah: "Ash-hadu an laa
ilaaha illa Allah- wa-ash hadu anna Muhammadan Rasul Allah". Dengan
airmata berlinang diiringi pekik takbir teman-teman yang ada, Yuri
secara resmi kembali ke pangkuan fitrah asalnya.
Saya hanya berpesan kepada Yuri bahwa "in fact this is the beginning
of your journey. Be prepared and willing to sacrifice in the way to
pursue the pleasure of your Creator". May Allah bless and strengthen
you, Yuri!

Shalom,
Tawangalun.


------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke