Orat oret mengenai Tan Malaka, bisa dibilang sosok ini termasuk fenomenal di 
jamannya ( mulai dari Sumpah Pemuda  sd Kemerdekaan ), aku baca di wikipedia 
juga menonton cuplikan Kisah Tan Malaka di TV 7, sungguh sosok aneh, dimana 
pengembaraannya bisa dibilang sulit di ikuti oleh siapapun di saat itu, 
mulai dari Indonesia, Belanda, Jerman, RRT, Rusia, Singapore, Thailand, dan 
dari banyaknya pengembaraan yang membuat bertambah bobotnya ternyata masih 
juga banyak menulis buku, serta masih sempat juga menjadi guru di RRT.

Baru baru ini aku bertemu dengan 'seseorang' yang mengenal sosok Tan Malaka 
dari sudut pandang lain, dan sedikit cocok dengan apa yang tertulis mengenai 
Tan Malaka di paragraf terakhir.
Mistis yang tidak mistis.
Bila membaca tulisannya ( manilog dan satu lagi, yang sering aku lupa ), 
sosok Tan memang tidak percaya Mistis, Islam tulen dilain pihak memang 
memiliki kemampuan mistis.
Dengan menggabungkan semua tulisan yang ada mengenai Tan Malaka ( google, 
buku karangannya, hasil study ), minimal sosok Tan Malaka adalah sosok yang 
penuh dengan kejutan, dan .........konon pencetus ide mengapa Indonesia 
harus merdeka pada Tgl 17 Agustus 1945, padahal pada saat itu Belanda 
melalui Van Mook sudah hampir sepakat setuju untuk " memberi kemerdekaan 
kepada Indonesia ", dan ini didahului oleh kelompok Tan Malaka karena 
kemerdekaan berdasarkan pemberian bukanlah kemerdekaan.

Aku sebenarnya sudah sering bertanya mengenai sosok ini sejak lama ( gara 
gara buku sejarah mengenai pahlawan Hang Tuah, Hang Lekir dan Hang Lekiu, 
jadi merembet ke sosok Tan Malaka yang sama sama berkisah mengenai Malaka 
biarpun kurang nyambung ).

Semakin kemari sosok Tan Malaka sedikit demi sedikit terkuak, biarpun akan 
tetap penuh dengan kontroversi, semisal menurut orang yang aku kenal, beliau 
bilang bahwa Tan Malaka tidak mati karena di tembak, melainkan 
'menghilangkan diri' dan tidak muncul lagi karena memang lelakonnya untuk 
Indonesia sudah tamat.
Juga kurang cocok dengan Jendral Sudirman yang dimata Tan Malaka terlalu 
loyo, entah mana yang sahih.

Sayang memang Cang Ato memberangus kisah manusia manusia Indonesia sejak 
Soempah Pemoeda sampai ke 65-an, sehingga sejarah yang sering terbaca hanya 
korban G30S semata.

Eniwe terima kasih atas beberapa Info mengenai Tan Malaka, bila memang ada 
lagi informasi tambahan aku sangat berterima kasih.

sur.
http://indolobby.blogspot.com
----- Original Message ----- 
From: "danarhadi2000" <[EMAIL PROTECTED]>


--- In [EMAIL PROTECTED], ANDREAS MIHARDJA
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tan Malaka kelahiran Suliki diSumatera Barat dan keturunan ningrat
setempat. Nama lengkapnya adalah Datuk Ibrahim gelar Sutan Malaka.
Mendapat bea-siswa pemerintah belanda dan sekolah diHaarlem - the
Netherlands. Dia disana mendapat inspirasi dari revolusi Russia dan
sisanya kalian tahu.
> Andreas
>

******  Ini ada tulisan mengenai tempat kelahiran Tan Malaka:

Mengunjungi Rumah Tan Malaka

Oleh: Febrianti


MENCARI rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten
Limapuluh Kota, sebenarnya cukup mudah. Ikuti saja Jalan Tan Malaka,
salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota.

Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota
Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan
dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan
Gadang. Berhenti di Nagari Pandan Gadang, semua orang tahu di mana
rumah Tan Malaka.

Nagari Pandan Gadang, seperti banyak pedesaan di Ranah Minang,
perbukitan yang hijau permai. Terletak di lembah di kaki bukit dengan
sawah yang berundak-undak serta puluhan pohon kelapa di pinggirnya,
benar-benar hijau permai. Air yang mengalir juga jernih dan dingin.

Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari
jalan raya itu. Ada rumah adat minang bergonjong  dan tua. Di bagian
depan teras tertulis "Tan Malaka".

Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh
keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di
Minangkabau.

Rumah ini terlatak di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang
tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Suasana begitu tenang. Di depan
rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, namun berair
jernih. Di depan rumah kelihatan bukit batu putih, ditumbuhi pinus
dan perdu.

Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya
suara air yang mengaliri sawah yang terdengar.  Di rumah itu kini
tinggal Indra Ibnur Ikatama, 38 tahun, bersama keluarganya, seorang
istri bernama Erni Erlina, dengan empat anak yang paling besar 14
tahun dan paling kecil 2 tahun. Indra sehari-hari mengolah sawah,
ladang, dan kolam di tanah warisan. Istrinya guru SD Negeri 01 Pandan
Gadang, tak jauh dari rumah itu.

Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis
ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan
dari ibu Tan Malaka. Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua
anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya
Kamaruddin.

Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah
cicit dari Janah. Beberapa cicit lainnya tinggal di daerah lain,
umumnya di Jakarta.

"Sebagai laki-laki sebenarnya saya tidak berhak tinggal di rumah ini,
membawa keluarga tinggal di sini, tapi karena tak ada lagi keluarga
yang berada di kampung selain saya, saya dipaksa menghuni rumah ini,
setelah ibu saya meninggal," kata Indra.



Lahir di Surau

Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri.
Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri.
Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu.
Lantainya juga kayu.

"Rumah ini dibangun sejak 1826, Tan Malaka dibesarkan sampai remaja
di sini, yang pernah diganti hanya tonggak bagian bawah yang
berhubungan dengan tanah karena lapuk dan atap, selebihnya masih asli
dari kayu surian," katanya.

Selain Nagari Pandan Gadang, rumah inilah satu-satunya warisan yang
masih bisa dilihat berhubungan dengan Tan Malaka. Sebenarnya Tan
Malaka tidak lahir di sana, pahlawan kemerdekaan Indonesia itu lahir
pada 1897 di surau tak jauh dari rumah gadang itu. Waktu itu surau
kecil tersebut juga dijadikan rumah tempat tinggal.

Surau yang tak jauh dari rumah gadang itu juga tempat ia lebih banyak
menghabiskan waktu "diasah" sebagai lelaki minang. Namun surau itu
tak ada lagi, tinggal tanah lokasi tempatnya berdiri, yang telah
berubah menjadi sawah.

Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ada ruang
tamu dan ruang keluarga di sebelah kiri tangga. Di ruang keluarga itu
ada 4 ruangan yang dulunya untuk kamar. Ruangan itu disulap jadi
kamar tanpa sekat papan, tetapi hanya diberi kelambu, termasuk bekas
kamar Tan Malaka di kamar utama.

Hingga saat ini kamar tempat Tan Malaka itu masih diberi kelambu,
ruangannya berukuran 3 x 6 meter. Diisi tempat tidur tua dari besi.

Tidak seperti Rumah Bung Hatta di Bukittinggi yang penuh dengan benda-
benda kenangan masa kecilnya, di rumah Tan Malaka hanya ada satu
lukisan pensil hitam putih Tan Malaka menyamping yang selama ini kita
kenal, tergantung di dinding. Di bagian bawah lukisan itu
tertulis "Tan Malaka Bapak Republik dan Murba". Lukisan itu hanya
reproduksi.



Lama Tanpa Buku

Buku-buku tulisan Tan Malaka atau buku lainnya yang berhubungan
dengannya atau benda-benda lainnya yang pernah digunakan Tan Malaka
sama sekali tak ada di rumah itu, hingga rumah tersebut diresmikan
sebagai museum dan pustaka Tan Malaka 21 Februari lalu. Namun
koleksinya masih sedikit.

Di rumah ini menurut Indra, kerap berkunjung peneliti, termasuk Harry
A. Poeze yang sempat tinggal di sana beberapa bulan. Selain peneliti,
beberapa turis umumnya bekas veteran dari Jakarta juga tampak
berkunjung, dari buku tamu.

Dulu di zaman Soeharto sejarah Tan Malaka ditutup-tutupi karena ia
dikaitkan oleh pemerintah berkuasa dengan PKI dan komunis. Tak hanya
keluarga Tan Malaka, penduduk Pandan Gadang pun akhirnya memilih
tertutup.

"Ketika salah seorang keluarga kami bernama Abdul Muis diberi gelar
Datuk Tan Malaka (lanjutan dari gelar datuk Tan Malaka), banyak tamu
yang datang, termasuk sejumlah pejabat juga dari Jakarta, tapi dalam
acara itu mereka bertanya-tanya seakan mengatakan Tan Malaka itu PKI
dan komunis, akhirnya Abdul Muis emosi, membalas dengan kata-kata
yang keras, pejabat-pejabat tersebut tidak bagus pulangnya, sejak itu
hubungan keluarga kami dengan pejabat pemerintah kurang bagus," kata
Indra.



Si Anti Mistik Punya Kisah Mistik

Bagi masyarakat Pandan Gadang sendiri Tan Malaka tak hanya sekadar
tokoh nasional. Tetapi juga orang yang memiliki ilmu gaib pengirim
pesan yang sering menghubungi keluarganya.

"Tan Malaka sering datang ke sini, tapi tidak menampakkan wujudnya
karena ia punya `kepandaian' (ilmu batin-red) atau tidak, itu juga
kami tidak tahu," kata Indra.

Dikisahkan Indra, pada zaman Jepang ketika Tan Malaka dalam pelarian
mungkin di luar negeri, ibunya tiba-tiba mendengar suara Tan Malaka
di dalam rumah. "Den ka poi lain May, pitih balanjo di bawah banta."
(Saya hendak pergi lagi Bu, uang belanja saya taruh di bawah bantal."
Hanya suara yang terdengar, barulah ibunya sadar anaknya sebenarnya
tidak di rumah, tapi anehnya ada uang di bawah bantalnya.

Pada kakek Indra, Datuk Mangkuto juga pernah terjadi hal yang aneh,
kisah Indra. Pada zaman Jepang Datuk Mangkuto membawa taksi gelap ke
Padang. Ia kebetulan membawa penumpang seorang Jepang ke hotel. Saat
penumpang itu hendak turun tiba-tiba ia berbahasa Pandan Gadang
totok, " Alah tu, poi la hang lai, ko pitih balanjo ang, ko pitih
balanjo Amay," (Sudahlah, pergilah kamu lagi, ini uang belanjamu dan
belanja Ibu), sambil menyerahkan uang.

"Itu sering terjadi, setiap peristiwa aneh yang berhubungan dengan
Tan Malaka pasti yang muncul suaranya dengan bahasa totok Pandan
Gadang, dulu di surau dekat rumah,  pernah dikepung Belanda seolah-
olah ada mata-mata yang mengatakan di surau itu ada Tan Malaka,
ternyata orang lain," kata Indra.

Tan Malaka sering ke sini, tetapi tidak mau menampakkan wujud yang
asli.  Orang taunya, saat dia meninggalkan kata-kata, kepada ibunya
atau anak kemenakannya.

Cerita mistik seperti ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Tan
Malaka yang tak percaya takhyul dan mengikisnya dari bangsa Indonesia.

"Terkait ada yang mengatakan kuburan Tan Malaka di Kediri, kami minta
kuburannya dibongkar agar bisa dites DNA-nya, jika benar kami rela
kuburan Tan Malaka tetap di sana untuk sejarah," katanya. **


Selanjutnya, yang tertarik, silakan baca:

Tan Malaka : Pahlawan masa lalu, masa kini, dan masa depan
http://franova.multiply.com/journal/item/77

Salam sejarah

Danardono



------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links





------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke