gak kebayang pala orang yang baca postingan wawan trus baca
statemennya Din Syamsudin...

Wawan ngomong : agama hanya cocok buat orang gak cerdas..
sementara Din ngajak Tingkatkan prestasi Ramadhan...

http://id.news.yahoo.com/antr/20100918/tpl-din-umat-islam-harus-tingkatkan-pres-cc08abe.html


Wan.. wan, butuh iman yang kuat neh..ehehehehe


---On Sat, 9/18/10, wawan <[email protected]> wrote:


catatan:

saya rasa agama itu hanya cocok bagi orang yang tidak punya kecerdasan



============================

http://www.apakabar.ws/content/view/3345/88888889/



Tulisan ini memberikan pembetulan atas beberapa miskonsepsi orang awam terhadap 
sains dan posisi sains terhadap agama.



Beberapa orang mencoba menghubung-hubungkan sains dengan agama, atau sains 
dengan mitos atau yang terbaru, mengatakan kalau sains hanyalah budaya barat. 
Karena itu, kita harusnya paham apa saja sifat sains sesungguhnya. Berikut saya 
sertakan sembilan sifat sains yang telah diterima luas di kalangan ilmuan.



1. Sains menuntut Bukti



Semua penjelasan ilmiah pada akhirnya harus berdasarkan pada bukti yang sah. 
Tanpa bukti, penjelasan yang diajukan tidak lebih dari spekulasi saja. Saat 
anda mengatakan bahwa keimanan anda di dukung bukti yang kuat, maka anda 
sebenarnya tidak beriman, karena anda memerlukan bukti. Dengan mengatakan hal 
yang demikian pula, anda telah memposisikan sains sebagai keimanan. Anda 
mengalami miskonsepsi. Sains menuntut bukti, jadi sains bukan keimanan.



2. Sains memakai landasan berpikir kritis



Kemajuan sains tidak akan terjadi seandainya ilmuan tidak mempertanyakan asumsi 
lama, memeriksa dan menguji kembali data lama, dan mencari kesalahan teori lama 
sehingga membawa pada penjelasan yang baru dan lebih baik. Bila anda mengatakan 
keyakinan anda didukung sains modern, anda menempatkan keyakinan anda pada 
posisi berbahaya. Keyakinan anda akan mengalami proses pemikiran kritis seperti 
dipertanyakan, diperiksa dan dicari kesalahannya. Selain itu, hal ini membawa 
pada posisi bahaya seandainya dukungan sains modern tersebut di kemudian hari 
terbukti salah akibat proses berpikir kritis sains.



3. Penjelasan sains bersifat sementara



Tidak peduli seberapa kuatnya bukti dan hasil eksperimen, semua penjelasan 
ilmiah bersifat sementara. Ia diterima untuk masa kini namun dapat ditolak atau 
diperluas bila ada bukti baru yang berhasil menyangkalnya. Dalam hal ini, sains 
menatap ke masa depan. Bila anda memasukkan keyakinan anda dengan dukungan 
sains, anda membuat sifat keyakinan anda menjadi sementara dan anda harus siap 
suatu saat mengakui kalau keyakinan anda salah.



4. Sains tidak relevan dengan tradisi



Dalam sains, fakta yang disediakan tradisi adat istiadat tidaklah relevan. 
Sains tidak peduli dengan tradisi. Bila anda punya tradisi makan harus di 
tanah, dan sains menemukan kalau tradisi makan di tanah itu berbahaya, maka 
sains tidak akan menerima tradisi tersebut sebagai sesuatu yang benar untuk 
dilakukan. Sejarah sains penuh dengan tradisi dari berbagai suku bangsa yang 
berserakan karena telah terbukti gagal dan salah. Bila anda mencoba 
mempertahankan tradisi anda, jangan mencoba mengkaitkannya dengan sains. Karena 
hal demikian, akan membawa pada penilaian ilmiah. Tradisi anda berada dalam 
posisi bahaya. Bila penilaian ilmiah ternyata menemukan kalau tradisi anda 
salah, anda mau tidak mau harus menerima kalau dunia ilmiah tidak mendukung 
tradisi anda.



5. Sains berlandaskan pada matematika



Matematika adalah alat berpikir yang dibangun oleh logika. Matematika 
independen terhadap realitas. Ada matematika yang sesuai realitas, ada yang 
tidak sesuai realitas. Matematika yang sesuai realitas inilah yang digunakan 
oleh sains. Dan sains terus mengamati perkembangan matematika dan bila ada yang 
dapat diambil untuk penjelasan ilmiah, maka sains akan memakainya. Sebagai 
contoh, sebelumnya orang mengira kalau aljabar linier adalah matematika yang 
tidak sesuai realitas. Tapi kemudian dengan mencobakan aljabar linier dalam 
teka-teki fisika kuantum, para ilmuan berhasil meramalkan berbagai hal dan 
menunjukkan kalau aljabar linier ternyata dapat digunakan untuk menjelaskan 
realitas. Semua rumus dibangun dari definisi yang jelas. Matematika bukanlah 
permainan angka seperti numerologi. Matematika adalah sistem bernalar yang 
melibatkan persamaan-persamaan yang saling terikat dalam aksioma, definisi, 
teorema, lemma, konjektur dan postulat. Bila anda mencoba
 menerapkan matematika dalam keyakinan anda, maka anda membuatnya rentan 
terhadap analisa. Sedikit saja ditemukan tidak adanya konsistensi, maka 
keyakinan anda dapat runtuh.



6. Sains bersifat sekuler



Sains tidak memandang ras, agama, budaya, gender maupun bahasa. Sains dapat 
dilakukan oleh siapapun tanpa mengalami diskriminasi. Tidak ada yang namanya 
sains yunani, sains islam, sains china, sains perempuan, sains kulit putih, 
sains barat dan sebagainya. Prinsip-prinsip sains diturunkan murni dari daya 
intelektual manusia, bukan berdasarkan ras dll yang disebutkan di atas. 
Beberapa negara tampak lebih baik dalam sains, karena mereka lebih menghormati 
dan menyuburkan sains dalam masyarakatnya, bukan karena mereka kulit putih, 
atau karena mereka ateis. Sains mungkin dapat disamakan dengan olahraga. Setiap 
orang berhak untuk berolah raga. Singkatnya, sains adalah salah satu Hak Asasi 
Manusia.



7. Sains bukan agama



Kekuatan sains terletak pada berpikir kreatif dan kritis secara selaras. Satu 
pihak mengajukan sesuatu yang baru, yang lain mengkritik. Agama sebaliknya, 
bebas dari kritik dan bertopang sepenuhnya pada ketetapan masa lalu yang tidak 
boleh diubah.



8. Sains bertujuan memajukan kesejahteraan umat manusia



Sepanjang sejarah, sains telah menghasilkan begitu banyak kemajuan bagi umat 
manusia. Sains dapat dibagi dua menjadi sains dasar dan sains terapan. Dalam 
fisika misalnya, sains dasar mempelajari elektromagnetik dan membawa pada 
terapannya yaitu radio, televisi, ponsel, internet dsb. Dalam kimia, sains 
murni mempelajari sifat-sifat molekul metana, terapannya mencoba menjadikan 
metana sebagai bahan bakar untuk memasak. Dalam biologi, sains murni 
mempelajari evolusi virus, terapannya mencoba menemukan obat yang mampu 
menghancurkan rantai evolusi virus tersebut. Beberapa pihak dapat saja 
memanfaatkan sains untuk membuat bom seperti bom bunuh diri atau menabrakkan 
produk sains, seperti pesawat terbang, ke gedung bertingkat. Tapi sains tidak 
akan pernah mau menerima tujuan jahat ini. Semua paper ilmiah tidak akan 
menulis dalam bagian Manfaat Penelitiannya yaitu untuk menghancurkan 
negara/agama/ras/gender tertentu. Tapi akan hampir selalu ditemukan kalau bagian
 Manfaat Penulisan bertujuan untuk memajukan kesejahteraan, baik dalam penemuan 
obat baru, teknologi baru atau hal lainnya. Sisanya kadang menambahkan ajakan 
untuk melakukan penelitian lebih lanjut.



9. Tuhan bukan bagian dari Sains



Sains bersifat materialistik dan naturalistik. Sesuatu yang tidak dapat 
dibuktikan ada atau tidak ada secara prinsip, seperti tuhan, tidak dapat 
digunakan sebagai penjelasan. Sebagai contoh, saat hujan turun, sains tidak 
akan menerima penjelasan kalau hujan turun disebabkan oleh rahmat tuhan. Sains 
akan mempelajari proses turunnya hujan tersebut, kenapa bisa turun dsb. Saat 
terjadi bencana alam, sains tidak menerima pernyataan kalau bencana disebabkan 
oleh amarah tuhan, tapi sains akan mencari penjelasan kenapa itu bisa terjadi 
secara alami seperti proses kejadiannya, sebab-sebab terjadinya dan kemudian 
memberikan saran untuk menghindari kejadian yang serupa terulang kembali.



Dengan adanya pemahaman sifat-sifat sains ini, saya harap pembaca dapat 
memposisikan dengan tepat antara keyakinan, mitos, otoritas, ramalan tokoh 
kharismatik dan sebagainya sebagai sumber pengetahuan. Sains adalah salah satu 
sumber pengetahuan manusia, dan selama ini, merupakan sumber yang terbaik.



Bibliografi



1. Angier, N. 2007. The Canon: A Whirligig Tour of the Beautiful Basics of 
Science. Houghton Miffin Harcourt

   2. Banner, M.C. 1990. The Justification of Science and The Rationality of 
Religious Belief. Clarendon Press.

   3. Brooke, J. H. 1991. Science and Religion : Some Historical Perspectives. 
Cambridge University Press

   4. Chemla, K. 2004. History of Science, History of Text.

   5. Gregorios, P. 1992. A Little Too Bright: The Enlightenment Today, An 
Assessment of the values of the European Enlightenment and a search for new 
foundations. SUNY Press

   6. Griffin, D. R. 2000. Religion and Scientific Naturalism: Overcoming the 
Conflicts. SUNY Press.

   7. Jevons, W.S. 1913. The Principles of Science: A treatise on logic and 
Scientific Method. Macmillan.

   8. Korzybski, A. 1994. Science and Sanity: An Introduction to 
Non-Aristotelian Systems and General Semantics. Institute of General Semantics.

   9. Starr, C., McMillan, B. 2008. Human Biology. Cengage Learning.

  10. Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar, Pengantar ke Beberapa Masalah 
Filsafat dan Pengetahuan. Kanisius.

  11. Wattimena, R.A.A. 2003. Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. Grasindo.

  12. Weyl, H., Wilczek, F. 2009. Philosophy of Mathematics and Natural 
Science. Princeton University Press.





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke