http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/negara-gagal-melindungi-rakyatnya-sendiri/

Selasa, 21 September 2010 13:05 
Negara Gagal Melindungi Rakyatnya Sendiri
OLEH: PHILIP MATIAS GIRI



Kupang - Kekerasan dan pelarangan beribadah terhadap jemaat Huria Kristen Batak 
Protestan (HKBP) PTI Ciketing - Bekasi, Minggu (12/9), dan sebelumnya 
penyerbuan kompleks Jemaah Ahmadyah di Kuningan, Jawa Barat, membuktikan bahwa 
pemerintah sesungguhnya gagal dalam melindungi rakyatnya

     
Serta menjamin kebebasan beribadah menurut agama dan kepercayaannya (amanat 
Pancasila, Alinea Keempat Mukadimah, dan Pasal 29 UUD 1945).


Hal disampaikan Solidaritas Masyarakat Sipil Nusa Tenggara Timur (NTT) Pro 
Kebebasan Beribadah dan Beragama di Indonesia (Somasi NTT Pro KBBI) yang 
terdiri dari BP Pemuda GMIT Sinode, DPD GAMKI NTT, BPC GAMKI Kupang, Fopemkri 
NTT, PIAR NTT, Rumah Perempuan, FKPGK NTT, yayasan Cemara, CIS Timor, Kontras 
NT, BEM UKAW, BEM Fakultas Hukum UKAW, BEM Fakultas Ekonomi UKAW, BEM Undana, 
BEN STIM Kupang, We Can Region NTT, KoAR Kupang, Formasi NTT, ESEM TTS, GMA 
TTS, Forum Akademia NTT, NTT Policy Forum dan Ikmaban TTS ketika diterima Ketua 
DPRD NTT Ibrahim Agustinus Medah, di ruang kerjanya di Gedung DPRD NTT, Senin 
(20/9) siang.


"Kami atas nama SOMASI NTT pro KBBI sebagai warga negara Indonesia (WNI) 
de­ngan ini menyatakan sikap dan keteguhan prinsip kami sebagai berikut: 
menyesalkan pernyataan Presiden RI yang meminta semua pihak untuk menjaga 
kerukunan (14/9). Seharusnya, Presiden bertindak tegas, sekarang dan segera, 
untuk melindungi rakyatnya dari kekerasan. Bukan justru terus-menerus menebar 
peso­na dan pencitraan dengan mengimbau rakyat untuk menjaga kerukunan," papar 
Ketua BP GMIT Sinode, Winston Rondo, yang  bertindak sebagai juru bicara.


Somasi NTT pro KBBI, kata Rondo, mendesak Presiden mengambil tindakan nyata 
untuk membuktikan janji kampanye dan pidato-pidatonya selama ini, bahwa 
pemerintah telah memberi jaminan kebebasan dan perlindungan bagi warga negara 
yang menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, sebagaimana 
disampaikan pada pidato kenegaraan di hadapan DPR RI pada 16 Agustus 2010 lalu. 
Mereka menuntut Presiden memerintahkan menteri terkait untuk segera mencabut 
SKB Dua Menteri yang jadi sumber dan sarana kekerasan atas komunitas kristiani, 
Ahmadiyah, dan kelompok lainnya selama ini. Termasuk dalam hal ini, menegur 
keras Wali Kota Bekasi karena telah gagal melindungi warganya sendiri.


Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan penyesalan yang mendalam kepada 
Kapolri, Kapolda Metro Jaya, dan aparaturnya yang terburu-buru mengatakan bahwa 
kejadian ini adalah kriminal murni, tanpa investigasi serius dan mendalam. 
Mereka juga menuntut pemerintah menindaklanjuti laporan Kapolri Jenderal 
Bambang Hendarso Danuri pada 30 Agustus 2010 tentang organisasi-organisasi 
ke­ma­sya­rakatan yang berbuat anarkistis. 


Menurut laporan Kapolri, beberapa organisasi itu terlibat 49 tindakan kekerasan 
pada 2010 dan total 107 tindakan kekerasan pada beberapa tahun 
terakhir."Pernyataan dan peneguh­an sikap kami ini, disampaikan oleh WNI kepada 
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pernyataan yang me­nuntut respons 
dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," kata Koordinator Badan Pekerja Kontras 
Nusa Tenggara, Marthen Salu, kepada SH.

Ketua DPRD Sependapat
Ketua DPRD NTT, Ibrahim Agustinus Medah, sependapat agar pemerintah segera 
menindak para pelaku kekerasan di Bekasi yang menodai kehidup­an beragama di 
Tanah Air dan mempertegas Somasi sebagai representasi masya­rakat NTT. SKB Dua 
Menteri juga perlu ditinjau kembali. Selain itu, tidak perlu ada dikotomi 
antara mayoritas dan minoritas dalam kehidupan beragama di Indonesia. Paul 
Bolla dari GAMKI meminta  Pemprov NTT undang DPRD dan Pemkot Bekasi untuk 
berkunjung ke NTT guna melihat kondisi ke­rukunan beragama di sana. n


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke