catatan:
saya bisa membaca maksud yang menulis ini...

ini bagus, bertujuan melakukan rasionalisasi kultur islam, dengan menggunakan
Bung Karno sebagai simbolnya...

artinya yang menulis dibawah akan memasukan nilai-nilai rasionalisme
melalui/menggunakan figur bung karno (karena bk adalah figur yang paling
dihormati oleh orang indonesia)...ini namanya langkah taktis dan cerdik...maklum
yang menulis adalah jurnalis...

kalau saya karakternya ganyang dan selesei...hehehe...


==================================

TEMPO Interaktif, Jakarta - Di bulan Ramadhan ini, Komunitas Salihara menggelar
seri kuliah ramadhan bertema Islam dalam pandangan filsuf dan pemikir besar.
Seri kuliah ketiga pada Sabtu pekan lalu, membahas Islam dalam pandangan
Soekarno, yang disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Kuliah umum kali ini adalah
seri terakhir yang sebelumnya telah dibahas Islam dalam pandangan Voltaire dan
Goethe. Berikut materi kuliah ramadhan yang disampaikan.



----



Bung Karno lahir dan dibesarkan dari keluarga yang tak membaca Al Qur'an sebagai
bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi.
Sedangkan ibunya seorang perempuan Bali.



Pada masa itu, ajaran theosofi berpengaruh cukup berarti di Jawa. Perhimpunan
theosofi didirikan di New York pada 1875 yang kemudian berpusat di Madras,
India. Perhimpunan ini mengajarkan semangat pluralis, yaitu ingin membentuk satu
inti persaudaraan universal yang tak memandang ras, keyakinan maupun gender. Di
kalangan intelektuil Indonesia, pengikut theosofi yang aktif antara lain Moh
Yamin, Sanusi Pane, dan Dr. Amir.



Meski sesekali Bung Karno memakai ajaran India dalam tulisannya, tak nampak
pandangan theosofi dalam pemikirannya. Bahkan Bung Karno lebih terpikat pada
pemikiran Karl Marx.



Bung Karno memang bukan pemikir Islam seperti halnya Moh. Nasir. Bukan pula
seorang pemikir Jawa. Tetapi lebih dari semuanya. Ia seorang penerus semangat
modernitas, yang dalam hal ini dibentuk oleh Marxisme. Ketika itu, Bung Karno
diwawancarai oleh koresponden Antara yang kemudian dimuat dalam Pandji Islam
tahun 1939. "Saya adalah murid dari Historische School van Marx," katanya.



Wawancara itu dilakukan setelah diberitakan Bung Karno meninggalkan rapat umum
Muhammadiyah sebagai protes. Dalam rapat umum ini ada tabir yang memisahkan
pengunjung perempuan dan laki-laki. Baginya, tabir adalah simbol dari perbudakan
perempuan. Namun, Bung Karno melihat penggunaan tabir secara historis dan
disitulah ia menunjukkan pandangan dasarnya tentang Islam.



Sebagai seorang Marxis, ia memandang tafsir agama sebagai sesuatu yang tak tentu
(contingent) terhadap sejarah sosial dimana tafsir itu dikemukakan. Pertautan
tafsir dengan sejarah itu berarti juga pertautan tafsir dengan perubahan. Sebab
dalam sejarah, kata Bung Karno, ada garis dinamis yang makin lama makin
meningkat ke arah terang. Sejarah dan zaman terus bergerak. Tak akan pernah
berhenti.



Islam bagi Bung Karno, pada awalnya adalah sebuah energi politik pembebasan.
Tatkala Sarekat Islam mengalami perpecahan organisasi, Bung Karno melihat
kejadian itu sebagai hal yang menyedihkan. Tetapi ia tetap memandang Islam lebih
sebagai satu elemen dalam perjuangan antikolonial. Tapi tidak sebagai sumber
gagasan.



Ketika ia berbicara tentang Islamisme dalam risalahnya "Nasionalisme, Islamisme
dan Marxisme", yang diuraikannya terutama bukan pandangan yang ditoreh dari
Qur'an dan Hadist. Ia lebih banyak menunjukkan semangat dan pemikiran Jamaluddin
Al Afghani yang menurutnya adalah pertama-tama membangunkan rasa perlawanan di
hati sanubari rakyat muslim terhadap bahaya imperialisme Barat.



Bung Karno menganjurkan pilihan rasionalisme. Rasionalisme diminta "kembali
lagi" duduk diatas singgasana Islam. Kata "kembali lagi" tidak mengacu kepada
Qur'an dan Hadits, melainkan kepada sebuah zaman ketika pahlawan-pahlawan akal
hidup bebas. Yaitu zamannya kaum Mu'tazillah, zaman Al Kindi, Al Farabi, Ibnu
Sina, Ibnu Rusyd. Pada masa itu, orang-orang Islam membuka diri kepada filsafat
Yunani, matematika Hindi dan sumber-sumber keilmuan lain. Yang kemudian
melahirkan filsafat, teori aljabar, ilmu kimia, kedokteran dan lainnya. Dan
ilmu-ilmu itu kemudian dipungut dan berkembang di Eropa.



Jika kita ikuti argumen Bung Karno tentang kemajuan, sejarah dan perlunya
perubahan tafsir bahkan hukum, nampak bahwa ia sebenarnya lebih cenderung
menyambut pandangan yang mengintegrasikan empirisme dengan rasionalisme. Atau
dengan kata lain adalah pragmatisme.



Pragmatisme Bung Karno tentu saja tak menafikan iman. Pragatisme itu menilai
agama bukan benar atau tidak. Melainkan menilai agama dari manfaatnya bagi
manusia. Itulah sebenarnya dasar pandangan Bung Karno tentang Islam. Baginya,
Islam akan terus ada bukan karena ditakdirkan abadi dengan ajaran yang kekal,
melainkan karena ia terus menerus bisa menjadi berharga.



Dalam masa perjuangan antikolonialisme, harga itu terletak dalam perannya untuk
menggerakkan manusia untuk menumbangkan apa yang tak adil. Dalam abad modern,
harga itu terletak dalam kemampuannya jadi bagian zaman bergerak.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke