Refleksi : Bencana bagi orang Mukmin menurut Muhamadun, ktua HTI, adalah cobaan.
Susahnya ialah dari dulu Alloh melakukan percobaaan terhadap umatnya hingga kini belum juga ada konklusi terakhir yang diperoleh. http://riaupos.com/news/2010/11/05/bencana-di-atas-bencana-oleh-muhammadun/ Bencana di Atas Bencana Oleh Muhammadun - 5 November 2010Posted in: Opini Negeri berjuta bencana. Itulah mungkin julukan untuk negeri ini. Betapa tidak, baik bencana kemanusiaan maupun bencana alam terus melanda negeri yang dijuluki zamrut khatulistiwa ini. Indonesia pun terus menangis. Indonesia makin berduka. Ya, negeri ini pantas menangis dan layak berduka. Belum lama rasa sedih hilang dari ingatan akibat bencana kecelakaan kereta di Pemalang yang menewaskan puluhan orang dan puluhan lainnya terluka, tiba-tiba muncul banjir bandang dan longsor di Wasior-Papua yang menewaskan lebih dari 100 orang, dan puluhan lainnya dinyatakan hilang, selain ratusan bangunan luluh-lantak. Belum tuntas pemerintah mengevakuasi dan menyelamatkan penduduk di Wasior dan membenahi akibat banjir di Jakarta, tiba-tiba datang pula gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, yang mengakibatkan lebih dari 400 orang meninggal, dan ratusan lainnya dinyatakan hilang. Seolah belum puas, alam kembali datang menghantam negeri ini. Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus, memuntahkan lahar panas. Akibatnya, puluhan orang kembali tewas dan luka-luka, sementara sebagian lain terpaksa hidup di pengungsian. Jika dihitung sejak bencana maha dahsyat, yakni Tsunami Aceh di akhir tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang, hingga tahun 2010 ini, negeri ini memang pantas disebut dengan negeri bencana. Dua Macam Bencana Jika kita cermati, ada 2 macam bencana: bencana alam dan bencana kemanusiaan. Bencana alam terjadi memang murni karena faktor alam. Misal: gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kekeringan karena kemarau panjang, dll. Bagi seorang Mukmin, bencana alam merupakan cobaan/ujian atas kesabaran: "Sungguh Kami akan menimpakan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS al-Baqarah 155). Adapun bencana kemanusiaan terjadi memang karena ulah manusia. Intinya, manusialah sesungguhnya yang sadar ataupun tidak mengundang datangnya bencana atas mereka. Bencana banjir dan longsor, misalnya, adalah akibat hutan terus mereka gunduli. Kecelakaan kereta api yang terus terjadi-rata-rata 6 hari sekali selama 2009-2010 saja adalah akibat pemerintah tetap lalai menyediakan sarana transportasi yang aman. Jangan dilupakan juga sejumlah bencana kemanusiaan lain seperti maraknya kasus korupsi, kerusakan moral remaja, tingginya angka kriminalitas, mewabahnya penyakit kelamin dan AIDS akibat pergaulan bebas, meningkatnya akan pengangguran dan angka putus sekolah, dan masih banyak yang lainnya. Semua bencana kemanusian ini pada dasarnya adalah akibat ulah manusia yang terus-menerus melakukan berbagai pelanggaran terhadap aturan-aturan Sang Pencipta, Allah SWT. Mereka bahkan tetap enggan menerapkan hukum-hukum (syariah)-Nya. Bagi seorang muslim, berbagai bencana ini harus dipahami sebagai peringatan/teguran dari Allah SWT agar segera kembali (taat) kepada-Nya: "Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah (kemasiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat ulah mereka itu agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS ar-Rum [30]: 41). Mewaspadai Bencana Baru Selain karena merupakan akibat manusia yang tetap enggan menerapkan syariah Allah SWT, berbagai bencana kemanusiaan yang terjadi di dunia, termasuk di negeri ini, sebetulnya karena penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, sebagai pengemban utama Kapitalisme global. AS-lah, dengan sekutu-sekutunya, yang nyata-nyata telah menciptakan bencana kemanusiaan di Irak, Afganistan dan Pakistan sampai hari ini. AS pun terus mendukung secara penuh penjajahan Israel di Palestina sekaligus membunuhi ratusan ribu penduduknya selama puluhan tahun. Amerika pula yang saat ini, langsung ataupun tidak langsung (antara lain melalui IMF, Bank Dunia, USAID), melakukan penjajahan baru (terutama penjajahan ekonomi) atas Indonesia. Akibatnya, melalui sejumlah modus penjajahan AS, termasuk lewat legislasi UU di DPR, berusaha terus menguras habis kekayaan alam negeri ini (minyak, gas, emas, perak, dan barang tambang lain) melalui perusahaan-perusahaan mereka seperti Freeport, Exxon Mobile, dll. Tambang emas di Papua dikeruk oleh PT Freeport dan 90 persen keuntungannya masuk ke AS. Blok Natuna yang diperkirakan memiliki kandungan gas hingga 222 TCF (triliun kubik kaki), 76 persennya dimiliki oleh Exxon Mobile. Blok Cepu yang diprediksi memiliki kandungan minyak lebih dari 600 juta barel sehingga bisa menjadi andalan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, 45 persennya juga dimiliki oleh Exxon Mobile. Selain itu, masih banyak perusahaan major AS yang secara keseluruhan menguasai 90 persen minyak dan gas, seperti Total Fina Elf, BP Amoco Arco, Texaco, Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex dan Japex. Terkait dengan ini, buku The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007), mengungkap secara gamblang bagaimana kaum kapitalis (yang dipimpin Amerika) melakukan aksi-aksi jahatnya terhadap bangsa dan negara lain. Buku ini pun menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia. Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar. Hasilnya, hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini. "Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam lima puluh tahun terakhir," kata ekonom Robert Wade. Itulah secuil bencana kemanusiaan yang telah diciptakan Amerika Serkat atas dunia, termasuk di negeri ini. Mengundang Bencana Karena itu, jika kemudian pemerintah dalam waktu dekat akan menerima kedatangan Obama-Presiden AS sang penjajah di tanah air, jelas pemerintah seperti sedang mengundang bencana baru. Pasalnya, sebagai pemimpin negara penjajah, Presiden AS Obama tentu bakal makin mengokohkan penjajahan barunya atas negeri ini. Apalagi sebelum kedatangan Obama pemerintah sudah menandatangani kerja sama kemitraan menyeluruh dengan AS. Kemitraan menyeluruh dengan negara penjajah seperti AS tentu harus dibaca sebagai penjajahan menyeluruh AS atas negeri ini. Pasalnya, kemitraan Indonesia-AS ini mencakup kerja sama kedua negara di bidang politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, sosial, budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenyataannya, sebelum ini pun setiap kesepakatan atau perjanjian kerja sama Indonesia dengan AS sesungguhnya lebih merupakan penjajahan AS atas negeri ini. Inilah yang perlu disadari oleh bangsa ini, terutama penguasa dan elit-elit politiknya. Sangat aneh jika kaum muslim menerima dan menyambut pemimpin penjajah dengan penuh kehangatan. Jika ini yang terjadi, sungguh hanya akan mengundang bencana lain yang lebih dahsyat. Bencana di atas bencana. Allah SWT berfirman: "Ketahuilah bahwa Allah benar-benar menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka." (QS al-Maidah [5]: 49). Naudzu billah min dzalik.*** Muhammadun, Ketua Hizbuttahrir Indonesia (HTI) Wilayah Riau. Did you like this? Share it: [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
