Ustadz-ustad itu takut kehilangan jemaat, sebab dibutuhkan dan sekarang perlu 
dipersiapkan apabila kelak minyak di Arab habis masih saja ada orang yang 
datang sebagai turis agama pembawa sumber pendapatan bagi penduduk di Mekkah 
dan sekitarnya.  Sekarang Arab Saudia sudah mulai bicara tentang pembangunan 
fasilitas tourisme.


  ----- Original Message ----- 
  From: ndeboost 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, November 07, 2010 10:54 PM
  Subject: [proletar] Re: Beragama Secara Otentik


    
  Klau Ustadz bicara agama, tak denger. Kalau pastor bicara masalah
  pernikahan,
  keknya ada yang kurang, kalau kafir mengenai iman? Kwkwkwk ...... tak
  tinggal
  lunga

  --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:
  >
  > Refleksi : Apakah ada yang beragama secara tidak otentik?
  >
  > http://www.gatra.com/artikel.php?id=142579
  >
  >
  > Beragama Secara Otentik
  >
  >
  > Bagi kita yang terlibat dalam pengembaraan (journey) antar-agama pasti
  mendengar ungkapan to be religious today is to be inter-religious.
  Friedrich Max Muller memberikan ungkapan lain yang sangat terkenal: "He
  who knows one religion knows none.? Dalam konteks masyarakat yang
  semakin majemuk secara agama (dan budaya), kalimat itu juga menunjukkan
  bahwa kegagalan di dalam terlibat dengan pluralisme adalah suatu
  tindakan peminggirin diri (self-marginalization) di dalam konteks sosial
  kita sendiri. Bahwa tanpa memahami iman tetangga, orang atau komunitas
  beragama yang hidup dalam masyarakat yang majemuk bahkan tidak dapat
  memahami dirinya sendiri.
  >
  > Dengan demikian, pemahaman terhadap agama-agama sangatlah penting
  karena kekuatannya yang luar biasa, yang tak seorang pun dapat
  mengingkarinya. Kita pun bisa bertanya, apakah kita dapat memahami
  budaya dan sejarah --politik atau sosial-- tanpa kita memahami
  agama-agama yang relevan? Hal ini benar adanya, bukan hanya mengenai
  ?holy Roman Empire? atau ?penaklukan Islam? dalam sejarah masa lampau.
  Apalagi, dunia sekarang ini bahkan sangatlah religius, sebuah fenomena
  yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Maka, tidak berlebihan jika kita
  mengatakan, pada era sekarang ini agama merupakan satu kekuatan yang
  paling kuat dan bersifat invasif di bumi ini.
  >
  > Teori kemajuan global dan sekularisasi berpendapat bahwa modernisasi
  akan membawa agama pada posisi yang tidak penting dalam persoalan
  publik. Tetapi munculnya aktivisme politik dan sosial keagamaan di
  berbagai kawasan menunjukkan kesalahan prediksi ini. Kini, setelah
  Bernard Lewis dan Samuel Huntington memperkenalkan ulang agama sebagai
  suatu kategori yang relevan untuk memahami geopolitik pasca-Perang
  Dingin di dalam tesis mereka clash of civilizations, maka di Barat
  banyak orang yang kembali pada diskursus Barat yang lebih tua, yaitu
  diskursus tentang "ancaman Islam" (the Islamic threat).
  >
  > Agama, sekali lagi, memainkan peran sangat besar. Di Amerika,
  misalnya, kita tidak akan dapat memahami politik, kecuali kita memahami
  bahwa agama memainkan peran. K.S. Sandhu, ISEAS, Singapura, mengatakan
  bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, faktor-faktor agama dan
  etnis telah membingungkan banyak analis sosial karena perannya yang
  tetap ada. Kenyataan menunjukkan, agama dan etnis tetap ada pada hampir
  setiap segi kehidupan masyarakan Asia Tenggara. Dalam kondisi seperti
  inilah kompleksitas etnis, agama, dan bahasa tampaknya makin menantang
  untuk dipahami dibandingkan dengan masa sebelumnya.
  >
  > Munculnya gerakan interfaith dan intercultural dialogue dalam satu
  atau dua dasawarsa terakhir ini merupakan bukti bahwa sekarang ini
  agama-agama dunia berinteraksi dalam skala yang luar biasa besar yang
  tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Kini terlihat ada keingintahuan
  (curiosity) yang meningkat mengenai agama yang dipeluk orang lain --yang
  kadangkala positif, kadangkala juga negatif. Misalnya, penomena saling
  membaca kitab suci masing-masing tampak tumbuh lebih populer.
  >
  > Dalam perspektif ini, saya ingin mendukung diktum yang berbunyi bahwa
  pada masa sekarang ini to be authentically religious one must be
  authentically interreligious. Argumen dasar bahwa tantangan untuk kerja
  sama antara agama yang otentik adalah inheren di dalam tantangan menjadi
  seorang muslim di zaman sekarang ini adalah sangat kuat: konsep keadilan
  (adl) sebagai satu konsep kedua setelah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa
  (tawhid) adalah satu dari ajaran Al-Quran terpenting. Menurut Al-Quran,
  Islam sendiri adalah mengenai bekerja untuk keadilan di dalam setiap
  relasi, di mana manusia menemukan dirinya dalam hubungan dengan
  Pencipta, sesama manusia, dan dengan semua ciptaan-Nya.
  >
  > Di dalam masyarakat yang bertekstur pluralis seperti Indonesia,
  kompleksitas identitas agama dan budaya dapat membawa keselarasan atau
  harmoni. Tetapi, pada saat yang sama, juga dapat membawa pada konflik.
  Pada masa lampau, Indonesia dengan keanekaragaman etnis, budaya, dan
  agamanya telah dipandang sebagai satu contoh negara yang harmonis dan
  toleran, di mana orang-orang dengan latar belakang agama dan budaya yang
  beraneka ragam dapat hidup bersama secara rukun. Prestasi dan reputasi
  ini harus dijaga dan dikembangkan, sehingga Indonesia dapat menjadi
  model bagi dunia.
  >
  > Basam Tibi, penulis buku The Crisis of Modern Islam, misalnya, dalam
  salah satu tulisannya berpendapat, karena negara-negara pusat budaya
  Islam tidak punya fondasi budaya, etnis, dan agama yang semacam itu, dan
  tidak pula memberikan model pengembangan demokrasi serta ekonomi yang
  sukses, maka pertanyaannya kemudian: apakah Indonesia yang akan menjadi
  pusat peradaban Islam pada abad ke-21 yang akan datang karena
  kapabilitasnya yang dapat menjadi model? Bisakah kita mencapainya?
  Semoga!
  >
  > Hajriyanto Y. Thohari
  > Wakil Ketua MPR-RI
  > [Perspektif, Gatra Nomor 50 Beredar Kamis, 21 Oktober 2010]
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >



  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke