Refleksi : Mungkin hanya di NKRI para wiasatawan diterima dengan tari-tarian 
apabila dibandingkan dengan negeri-negeri dimana tourisme merupakan usaha yang 
mendatang banyak duit seperti, Spanyol, Portugal, Thailand, Turki, Yunani, 
Mesir etc. Di negeri-ngeri ini tidak ada hal tsb di bandar udara atau tiba di 
hotel. Kalau mau lihat tarian ada acara tersendiri.


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/12/03/09020534/Apa.Pun.Bisa.Dijual


MALAYSIA
Apa Pun Bisa Dijual
Jumat, 3 Desember 2010 | 09:02 WIB
 
KOMPAS/YURNALDI
Perempuan Bali dengan kostum adat Bali, siap menyambut wisatawan.

KOMPAS.com - Orang Indonesia yang telanjur geregetan melihat tingkah polah 
Malaysia dalam berjiran barangkali sebaiknya tak usah berkunjung ke Kuala 
Lumpur. Apalagi, jika Anda termasuk salah seorang yang bernafsu mengutuk 
Malaysia karena dianggap "mencuri" produk budaya Indonesia, seperti kesenian 
reog dan lagu "Rasa Sayange".

Sekarang lupakan dulu soal klaim hak kepemilikan atas produk seni dan budaya. 
Lupakan juga cerita soal Tentara Diraja Laut Malaysia yang sering kali 
melanggar wilayah perairan Indonesia. Bukan apa-apa kalau hal-hal yang 
menyakitkan kita sebagai bangsa Indonesia ini dilupakan.
Toh, kita tak mampu jualan produk budaya lokal yang kaya raya itu, seperti 
Malaysia menayangkannya berkali-kali lewat iklan di jam utama saluran 
internasional, seperti Discovery Channel atau National Geographic Channel. Kita 
pun hanya bisa gemas melihat kekuatan militer Indonesia masih segan untuk main 
tembak meski konon militer asing yang melanggar wilayah kedaulatan republik ini.

Untuk soal jualan apa yang ada di dalam negerinya, agar bisa didatangi orang 
asing, Malaysia memang jago. Meski demikian, jika kita sadar, jualan mereka 
sebenarnya tak menarik. Sejak kampanye "Malaysia Truly Asia" tahun 1999, negeri 
jiran ini merengkuh devisa sangat besar dari sektor pariwisata.

Tahun 2009 Malaysia bisa meraih devisa dari sektor pariwisata sebesar 15,6 
miliar dollar Amerika Serikat. Negara Asia Tenggara yang bisa menandingi 
Malaysia pada tahun itu hanya Thailand, yang perolehan devisa dari sektor 
pariwisatanya mencapai 16,1 miliar dollar AS. Singapura yang luasnya sama 
dengan Jakarta malah berada di peringkat ketiga dengan 8,9 miliar dollar AS.

Apa yang dibanggakan oleh Malaysia dan dijadikan jualan pariwisata mereka 
sebenarnya bisa diperoleh hanya di satu provinsi di Indonesia. Apabila tak 
percaya, cobalah blejetin brosur Malaysian Tourism Board dan lihat apa saja 
event yang mereka tawarkan.

Jika hanya sekadar ecotourism tentang hujan hutan tropis, yang ditawarkan di 
bagian utara Pulau Kalimantan oleh Malaysia, tentu tak sebanding dengan luas 
wilayah berbagai taman nasional milik Indonesia yang ada di Pulau Sumatera atau 
Kalimantan. Kalau hanya festival gourmet internasional di Kuala Lumpur, 
menjelajahi kekayaan kuliner di kota Bandung atau Medan saja bisa bikin gempor 
kaki.

Jangan pula terpancing dengan tayangan yang menampilkan pemandangan menakjubkan 
pantai dan lautan dalam iklan "Malaysia Truly Asia". Surga menyelam di 
Indonesia tersebar dari Sabang di Aceh hingga Raja Ampat di Papua.

Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, jadi pantai 
seindah apa pun yang ada di Malaysia pasti kalah dengan milik Indonesia. Dan, 
yang pasti, Malaysia tak punya tempat berselancar yang bagus seperti Indonesia 
yang punya Nias, Mentawai, Banyuwangi, dan Bali.

Lantas mengapa devisa pariwisata Indonesia hanya 6,3 miliar dollar AS. Kurang 
dari separuh yang didapat Malaysia pada tahun yang sama. Jawaban sederhananya, 
yaitu karena Pemerintah Indonesia tak bisa "menjual" kekayaan negeri ini. 
Lupakan dulu Bali, yang tak usah dijual pun orang berduyun datang ke sana. 
Meski pariwisata Bali sempat luluh lantak karena bom, magnet pariwisata Bali 
tetap kuat.

Inilah bedanya Indonesia dengan Malaysia. Sebelum kampanye "Truly Asia", 
Malaysia sadar betul bahwa tak banyak yang bisa mereka jual agar turis asing 
datang ke negaranya. Tagline "Malaysia Truly Asia" begitu mengena. Malaysia 
merasa bangga, tiga kelompok ras besar Asia, yakni Melayu, China, dan India, di 
negara itu. Padahal, Indonesia memiliki lebih banyak lagi kelompok ras yang 
tersebar dari Sumatera hingga Papua.

Jualan "Truly Asia" ini tentu saja slogan. Jangan bayangkan ketiga ras besar 
yang dimaksud dalam kampanye ini memiliki hak yang sama di Malaysia. Ada cerita 
menarik ketika rombongan jurnalis dari Indonesia yang meliput balapan MotoGP di 
Sirkuit Sepang, Malaysia, dibawa mengunjungi Putra Jaya, ibu kota baru 
pengganti Kuala Lumpur itu. Kebetulan, selama tiga hari di Malaysia, rombongan 
jurnalis dari Indonesia ini ditemani seorang pemandu wisata keturunan India 
bernama Arumugan AL Chelliah, yang biasa dipanggil Aru.

Saat bus sampai di jalan utama menuju pusat pemerintahan Malaysia, Aru dengan 
antusias menjelaskan berbagai gedung dan kelengkapan yang sophisticated dari 
Putra Jaya. Mulai dari desain bangunan kantor kementerian kerajaan hingga tiang 
lampu jalan yang semuanya menggunakan tenaga matahari. Tentu tak lupa Aru 
menjelaskan, betapa dekatnya Putra Jaya dengan Silicon Valley versi Malaysia, 
yaitu Cyber Jaya.

"Di Cyber Jaya banyak perusahaan IT (teknologi informasi) yang melabur 
(berinvestasi), termasuk Bill Gates dengan Microsoft-nya yang melabur 1 juta US 
dollar," kata Aru. Meski soal angka investasi Bill Gates ini kami pikir Aru 
setengah ngawur, tak pelak rombongan jurnalis asal Indonesia ini tetap dibuat 
tertegun dengan setiap detail penjelasannya.

Aru pun menjelaskan betapa di antara sekian banyak gedung kementerian yang baru 
dibangun di Putra Jaya tersebut dia terkagum-kagum dengan gedung kementerian 
kehakiman, yang menurut dia "Mirip Taj Mahal di India".

Begitu sampai di ujung jalan utama Putra Jaya, tak jauh dari tempat Dato Sri 
Najib Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Malaysia, berkantor, Aru dengan 
bersemangat menjelaskan Masjid Putra yang berwarna merah jambu dan terlihat 
seperti mengambang di tengah danau buatan. "Inilah masjid yang sangat indah 
apabila dinikmati menjelang sunset," katanya.

Namun, Aru tercekat ketika salah seorang rombongan wartawan Indonesia bertanya, 
"Aru, kamu, kan, keturunan India dan beragama Hindu. Apakah di Putra Jaya ada 
pura tempat kamu beribadah yang juga semegah masjid itu?" Sambil tersenyum, Aru 
menjawab singkat, "Mungkin ada di luar Putra Jaya."

Sebenarnya, penjelasan pemandu wisata seperti Aru soal Putra Jaya yang begitu 
antusias seakan menjelaskan betapa memang Malaysia punya keahlian menjual 
tempat wisata, tak peduli tempat tersebut diskriminatif bagi si penjualnya 
langsung. Inilah salah satu kepintaran Malaysia mengemas citra elok mereka 
sebagai tujuan wisata utama dunia. (KHAERUDIN)

TERKAIT:
  a.. Firman: Lupakan Kemenangan atas Malaysia! 
  b.. Gagal, Penyelundupan Pakaian Bekas Dari Malaysia
  c.. Terima Kasih "Merah Putih"
  d.. Malaysia Kunci Indonesia Melambung 
  e.. Indonesia Waspadai "Set Piece" Malaysia









[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke