--- In [email protected], "liver_duke" <endyonis...@...> wrote: > > sesuatu yg menyangkut sistem kepercayaan (faith), > biasanya akan lebih membutuhkan saluran perasaan serta > melibatkan faktor emosi. baik secara individual apalagi > kolektif, umumnya terikat dalam sebuah subjektifitas. > > secara umum serta sejarahnya, hal ini lekat dgn fenomena > yg disebut ritual khususnya "agama". "agama" tsb bisa berarti > perkara religius, sepak bola, (konser) musik, film, klub, dst. > sekali lagi baik secara individu maupun masif sbg kolektivitas. >
nah ini bedanya. gw tadinya juga berpikir seperti ini bahwa religion itu hampir mirip fanatismenya seperti sepakbola, terutama setelah membaca banyak orang inggris yang menaruh kata 'football' di kolom religion. pada saat gw berada di mekkah, terutama di masjidil haram, tentunya gw selalu bertabrakan dan kadang didorong orang lain dari negara keras seperti afrika, afghanistan, iran atau mesir karena saking penuh dan padatnya manusia. mereka kan badannya tinggi besar, jadi mereka seenaknya aja menabrak atau mendorong kita ketika sedang tawaf memutari kabah. atau ketika sedang sholat, mereka seenaknya aja menggeser kita keluar dari saf (barisan sholat) di mesjid. pertama kali sih gw nggak bisa terima, jadi gw dorong dia balik dengan bahu ketika dia berusaha mendorong atau gw sekalian dorong dia dengan tangan kalo mereka mudah kelewatan mau menerobos sambil dengan mata melotot. 'nobody push me around, man'. tapi, mereka semuanya nggak ada yang marah apalagi sampe terjadi perkelahian. sehingga gw jadi sadar, bahwa religion is totally different than football. mungkin saluran perasaan, emosi dan rasa kebersamaannya sama, tapi dalam sepak bola nggak ada tuh yang namanya sabar dan ikhlas seperti dalam agama. jadi, setelah gw berada disana 2-3 hari, barulah gw menyadari bahwa kalo terjadi 'pushing and shoving', it doesn't mean that they have no respect or bully to us. hal itu terjadi karena memang situasinya yang penuh sesak, karena juga kebudayaan yang berbeda, tapi mereka melakukan tersebut bukan karena out of respect or bully. semuanya mempunyai basic yang sama, sabar dan ikhlas. gw bisa ngebayangin fans sepakbola yang 'hanya' berjumlah ratusan pasti akan terjadi tawuran jika terjadi 'pushing and shoving' seperti di mekkah. kalo agama sama seperti sepakbola, tidak ada sabar dan ikhlas, maka mekkah akan bisa lebih ancur daripada tragedi heysel tuh karena menyangkut jutaan manusia sih. > maka agama (religius) membutuhkan tradisi yg mengikat, entah > yg rutin saban taon (sensasi lebaran, natal, el clasico kalo di > sepak bola, dst) maupun yg temporal seperti ziarah, masuk final. > kesemuanya adalah spiritual journey yg sanggup menembus sasaran > paling jitu dan terdalam, yakni 'hati' (beyond the head or body). > euphoria hanyalah lambang ungkapan, jauh dari hal objektivitas. > serta gak berurusan dgn "pelajaran sebelumnya". it's about mind. > yap. spiritual journey, it's all about mind and heart. karena itu setiap manusia pasti akan punya pengalaman yang berbeda pada saat melakukan spiritual journey. nggak bisa kita menceritakan pengalaman dan kesan2 spiritual journey karena semua pengalaman tersebut hanya bisa dirasakan secara sipitual aja. seperti kata si ayub, memang berbeda pergi ke eropa dan pergi ziarah (spiritual journey) karena pergi ke eropa atau ke amerika cuma melihat hal materi seperti eifel,musium dan hal lainnya yang bikin kagum doang, tanpa menyangkut libatan emosi, mind and heart. > misalnya banyak kisah, seseorang yg "keras hatinya" (sering > dipake buat drama ato sinetron religius), mendadak lumer lantas > "ingat kepada yg terlupakan" saat mendengar takbir lebaran ato > kidung natal lantas "insyaf". mungkin persis mourinho mendadak > jadi manusia biasa setelah spiritual journey ke cam neu barusan > untuk mendapati fakta "masih ada langit di atas langit". dia > pasti lupa sesumbarnya setaon lalu, "kekalahan yg terindah". > too bad, gw nggak nonton el classico. gw cuma nonton highlight nya aja rm dibantai abis ama barca. jm siap-siap aja dipecat oleh rm seperti don fabio. walaupun don fabio bisa membawa rm juara la liga, tapi kalah 2X el classico, tetep aja dipecat. anyway, kalo orang yang keras hatinya lalu lumer setelah mendengar takbir adzan atau kidung natal sih kayaknya cuman di tivi aja tuh. pada kehidupan realita yang sebenernya, nggak ada tuh hal yang kayak gitu. sisi spiritual musti diasah, dirawat, dan dipelihara. kayaknya nggak mungkin bisa langsung 'dong' ketika mendengar adzan atau kidung natal tanpa melalui proses. > ini memang perkara hati, keyakninan, emosi dan subjektivitas. > btw, sukses dan mabrur bro .. be who you are > > thank you broer. haji sih tidak merubah seseorang menjadi 'lebih' suci, lebih baik, lebih deket ke surga dan hal hal 'lebih' lainnya. haji itu hanya melengkapi rukun islam dan naik haji itu tidak diwajibkan bagi semua orang muslim. naik haji itu disyaratkan hanya kepada orang muslim yang mampu (financial dan sehat). ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
