tertalu sederhana konklusinya

  ----- Original Message ----- 
  From: Umar Said 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, January 03, 2011 10:09 AM
  Subject: [proletar] Siapa anti Bung Karno berarti anti Pancasila dan Bhinneka 
Tunggal Ika


    
  Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

  yang sampai sekarang sudah dikunjungi 699 320 kali

  ================

  Tulisan menyambut Tahun Baru 2011

  Siapa anti Bung Karno berarti anti

  Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

  Tulisan kali ini dimaksudkan sebagai sambutan terhadap tahun baru 2011.
  Tahun baru, yang mulai menghembuskan -- sedikit-sedikit dan
  perlahan-lahan - angin kebangkitan kembali nasionalisme atau kebanggaan
  sebagai bangsa. Memang, judulnya bisa dianggap oleh sebagian pembaca
  sebagai asal « njeplak » saja, atau hanya asbun (asal bunyi) , atau ngawur
  saja. Kepada mereka yang berang atau merasa tidak senang atau « gondok »
  dengan judul di atas, penulis mohon supaya dengan fikiran jernih membaca
  lebih lanjut tulisan ini, dan dengan nalar yang sehat merenungkan
  bersama-sama berbagai hal yang dipaparkan di dalamnya.

  Sebab, dalam tulisan ini diutarakan (walaupun hanya secara singkat-singkat)
  berbagai fikiran atau pendapat yang bisa saja, bagi orang-orang tertentu,
  terdengar terlalu kasar, atau terlihat terlalu lugas, atau terasa terlalu
  keras, atau « kurang sopan ».

  Dengan menggeloranya lagu « Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku » oleh
  jutaan orang di seluruh tanair air baru-baru ini, maka timbul secercah
  harapan bahwa kebangkitan kembali nasionalisme, dan kecintaan kepada
  Pancasila (yang asli) dan Bhinneka Tunggal Ika, yang dipecut oleh dunia
  sepakbola kita, akan kembali menjulang tingggi, seperti ketika Indonesia
  masih ada di bawah pimpinan Bung Karno.

  Bagi penulis, yang selama 10 tahun bekerja sebagai salah satu dari pimpinan
  Persatuan Wartawan Asia-Afrika (dari tahun 1963 sampai 1973, sebagian di
  Jakarta dan sebagian lagi di Peking) menyaksikan dengan pengalaman pribadi
  sendiri betapa tingginya pandangan yang penuh hormat (dan kebanggaan) dari
  rakyat berbagai negeri terhadap perjuangan rakyat Indonesia di bawah
  pimpinan Bung Karno.

  Manifestasi besar-besaran yang ditunjukkan akhir-akhir ini oleh rakyat
  (sekali lagi, oleh rakyat, dan terutama oleh kalangan muda) terhadap timnas
  Garuda, terhadap lambang besar kita Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila,
  terhadap Merah Putih, menunjukkan dengan jelas adanya kebangkitan kembali
  nasionalisme yang menggebu-gebu, patriotisme yang sudah lama pudar, dan
  tumbuhnya kembali kebanggaan menjadi orang Indonesia.

  Fenomena yang demikian ini mengingatkan banyak sekali orang kepada masa-masa
  ketika bangsa dan negara ada di bawah pimpinan Bung Karno. Pada waktu itu
  kebanggaan bangsa Indonesia menjulang tinggi berkat adanya gagasan-gagasan
  besar Bung Karno. Di bawah pimpinan Bung Karno-lah rakyat atau bangsa
  Indonesia dihormati oleh rakyat berbagai dunia.

  Berbagai kegiatan di lebih dari 47 negeri

  Kebanggaan dan respek berbagai rakyat terhadap perjuangaan rakyat Indonesia
  itu dirasakan dan dilihat secara langsung oleh penulis ketika ia melakukan
  kegiatan (sebagai pengurus PWAA) ke berbagai negeri di Asia dan Afrika
  (lebih dari 47 negeri) dan menghadiri banyak konferensi-konferensi
  internasional (Untuk lebih jelas lagi harap simak CV singkat dan riwayat
  hidup penulis di website A. Umar Said yang berjudul « Perjalanan hidup
  saya »)

  Berkat kegiatan-kegiatan professionalnya sebagai wartawan pendukung politik
  Bung Karno selama menjadi Pemimpin Redaksi Harian Ekonomi Nasional (terbit
  di Jakarta 1960-1965, dan dilarang oleh militernya Suharto sesudah
  terjadinya G30S) dan menjadi bendahara PWI Pusat sejak 1963-sampai 1965 dan
  juga pernah ikut beberapa kali sebagai anggota rombongan Presiden Sukarno ke
  luarnegeri, maka penulis (82 tahun) adalah sisa-sisa wartawan (yang tinggal
  sedikit) dari angkatan pra-G30S yang masih hidup.

  Dengan latar belakang sejarah hidup dan professional yang demikian, maka
  banyak hal yang bisa diceritakan tentang pengalaman-pengalaman dalam
  kehidupan bangsa dan negara selama Indonesia ada di bawah pimpinan Bung
  Karno sebelum G30S, selama pemerintahan Orde Baru, dan sampai sekarang.
  Hal-hal itu akan selanjutnya diusahakan disajikan dalam tulisan-tulisan,
  untuk bahan pemikiran dan renungan atau pertimbangan bagi semua pembaca,

  Tindakan-tindakan Bung Karno yang menjadi kebanggaan

  Tulisan kali ini mengambil thema soal Bung Karno, Pancasila dan Bhinneka
  Tinggal Ika, karena (sekali lagi) adanya gejala kebangkitan kembali
  nasionalisme dan kecintaan kepada lambang Garuda (lengkapnya Garuda
  Pancasila) berkat prestasi besar tim nasional sepakbola Indonesia
  akhir-akhir ini. Perkembangan yang demikian menggembirakan ini belum pernah
  terjadi selama puluhan tahun sejak Bung Karno digulingkan secara khianat
  oleh Suharto (beserta para pendukung-pendukugnya di dalam maupun di luar
  negeri) dan amat penting sekali diamati dan disambut hangat oleh seluruh
  rakyat.

  Pada masa-masa yang lalu, kebanggaan bangsa Indonesia bukan saja oleh karena
  proklamasi kemerdekaan di mana Bung Karno (beserta Bung Hatta dan
  pemimpin-pemimpin lainnya) memainkan peranan utama, melainkan karena
  (antara lain) lahirnya Pancasila, pembuatan lambang Garuda Pancasila,
  pembangunan Gelora Bung Karno, Konferensi Asia-Afrika di Bandung,
  pembangunan mesjid Istiqlal, pembangunan Monas, konferensi non-blok, pidato
  Bung Karno di PBB « To build the world anew », dan berbagai ajaran-ajaran
  revolusioner Bung Karno yang termuat dalam buku « Di bawah Bendera
  Revolusi ».

  Dalam semua tindakan Bung Karno dalam perjuangan menentang imperiaslisme dan
  kolonialisme, dan mempersatukan seluruh bangsa, beliau selalu dibimbing oleh
  dasar pemikiran atau jiwa pokok yang terdapat dalam Pancasila dan Bhinneka
  Tunggal Ika. Ini tidak bisa lain !!! Sebab Bung Karno adalah satu-satunya
  sumber asli Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah pengejawantahan
  jati-diri Bung Karno.

  Apa yang dibangun Bung Karno dihancurkan oleh Suharto

  Sayangnya, justru akibat ciri-ciri Bung Karno yang demikian besar dan
  revolusioner inilah ia digulingkan oleh Suharto beserta
  pendukung-pendukungnya. Dan sayangnya lagi, sebagian besar dari apa yang
  telah dibangun oleh Bung Karno untuk persatuan bangsa dan negara selama 20
  tahun (dari 1945 sampai 1965) telah dihancurkan atau dirusak oleh Suharto
  selama 32 tahun. Namun sejarah juga membuktikan, dengan jelas sekali, bahwa
  sampai wafatnya (dalam status sebagai tahanan) Bung Karno tetap dengan
  gigih memegang erat-erat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dan berbagai
  ajaran-ajaran revolusionernya.

  Kiranya, para pakar di berbagai bidang ilmu bisa menyatakan dengan tegas
  bahwa Bung Karno adalah satu-satunya pemimpin Indonesia yang paling agung
  yang pernah dimiliki rakyat Indonesia, sampai sekarang !!! Tidak ada
  pemimpin Indonesia lainnya yang bisa menyamai kebesaran sosok Bung Karno.
  Tidak ada juga pemimpin lainnya yang bisa menandinginya. Apalagi, tidak ada
  pemimpin lainnya yang bisa menggantikannya. Untuk selama-lamanya !!!

  Kiranya perlulah diulang-ulang bahwa Bung Karno adalah perwujudan Pancasila
  dan Bhinneka Tungal Ika. Itulah sebabnya mengapa memusuhi Bung Karno
  berarti sama saja dengan memusuhi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan,
  itulah praktek atau keadaan yang sesungguhnya terjadi sejak selama rejim
  militer Suharto selama puluhan tahun, sampai sekarang. Selama Orde Baru
  dikoar-koarkan setinggi langit Pancasila, Pancasila, dan Pancasila (antara
  lain demokrasi Pancasila, Ekonomi Pancasila, moral Pancasila dan
  seabreg-abreg omongkosong lainnya), tetapi dalam prakteknya malahan
  melanggar atau merusak, memalsu dan melacurkan isi dan arti sejati
  Pancasila.

  Sejarah sudah membuktikan dengan jelas sekali ( !!!) bahwa Bung Karno telah
  dikhianati, digulingkan, dan akhirnya « dibunuh » oleh Suharto beserta
  pendukung-pendukungnya, di dalam negeri maupun di luar negeri (terutama
  imperialisme AS beserta sekutu-sekutunya). Atas nama Pancasila (yang palsu
  !) selama 32 tahun lebih, nama baik Bung Karno telah dicemarkan oleh Suharto
  beserta pendukung-pendukungnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar,
  fitnahan-fitnahan yang jahat, dan segala macam rekayasa dan praktek yang
  bathil.

  Karenanya, dosa-dosa Orde Baru ,yang amat besar dan tidak bisa dima'afkan
  atau dilupakan oleh rakyat kita, adalah pengkhianatan besar-besaran oleh
  Suharto terhadap Bung Karno, di samping kejahatan-kejahatan besarnya
  (sekali lagi, luar biasa besarnya) terhadap golongan kiri pendukung politik
  Bung Karno.

  Golongan Suharto yang munafik dan pura-para cinta Pancasila

  Dewasa ini, ada kalangan yang memasang lambang Garuda di baju mereka, dan
  ikut menyuarakan dengan lantang « Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku »,
  namun yang sebenarnya adalah orang-orang dari kalangan yang anti-Bung Karno
  dan pendukung Suharto dengan Orde Barunya. Jadi, mereka adalah sesungguhnya
  orang-orang munafik, penipu, orang-orang reaksioner, yang terdiri dari
  kalangan atas sampai bawah. Mereka itulah, yang dalam masa-masa lalu yang
  lama sekali, telah bersatu dengan Suharto dalam menghancurkan kekuatan
  politik Bung Karno beserta pendukung-pendukungnya.

  Di antara mereka ada yang dewasa ini selalu menyatakan diri sebagai orang
  yang mencintai Pancasila dan menjunjung tinggi-tinggi Bhinneka Tunggal Ika,
  tetapi tidak menghormati Bung Karno dan bahkan melawan ajaran-ajaran
  revolusionernya, dengan berbagai dalih atau alasan. Dan jumlah mereka tidak
  sedikit.

  Kalau ada orang atau kalangan yang munafik semacam itu berarti bahwa mereka
  tidak mengerti sama sekali arti Pancasila atau tidak faham tentang isi
  Bhinneka Tunggal Ika, atau sama sekali tidak tahu -- atau tidak mau tahu
  -- sejarah hidup dan sejarah perjuangan Bung Karno. Atau, mereka itu
  sebenarnya mengerti arti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi
  bersikap tidak jujur karena mempunyai berbagai kepentingan-kepentingan yang
  bathil atau haram dan anti-rakyat banyak.

  Mereka yang mencintai Pancasila mestinya juga pro Bung Karno

  Bolehlah kiranya dikatakan bahwa orang-orang atau golongan yang betul-betul
  ( !) menghayati Pancasila, dan sungguh-sungguh ( !) menjunjung tinggi
  Bhinneka Tunggal Ika, dan menghormati ajaran-ajaran pro-kepentingan rakyat
  banyak, akan bersikap pro Bung Karno, dan anti-Suharto beserta Orde Barunya.
  Dan juga bolehlah kiranya dikatakan bahwa orang-orang yang mendukung
  Suharto adalah - pada hakekatnya - anti Pancasila dan anti Bhinneka Tunggal
  Ika.

  Jadi, lambang Garuda yang menggambarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,
  yang dipasang di baju merah oleh begitu banyak orang (terutama anak-anak
  muda) sebenarnya bukanlah sekedar pajangan yang kosong dan tidak mempunyai
  arti yang besar sekali bagi seluruh bangsa dan negara.

  Kalau ditelaah secara serius atau direnungkan dalam-dalam, sebenarnya
  fenomena membludaknya orang memakai labang Garuda dan menggeloranya lagu «
  Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku » adalah sutu pertanda bahwa sedang
  terjadi perkembangan yang penting dan menarik di opini rakyat kita, terutama
  sekali di kalangan anak muda. Yaitu pertanda bahwa Bung Karno hadir kembali
  di dalam dada dan kepala banyak orang.

  Sebagian (sekali lagi, sebagian) dari orang-orang yang memasang Garuda di
  baju merah atau menyanyikan « Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku » tidak
  mengerti, atau kurang memahami, atau tak acuh, bahwa pada hakekatnya (atau
  sebenarnya) mereka sadar atau tidak, dan secara tidak langsung, sedang
  mengelu-elukan kembali dan menghormati bapak bangsa kita, Bung Karno.

  Namun demikian, adalah suatu hal yang menggembirakan dan patut disambut
  dengan positif sekali oleh kita semua bahwa lambang Garuda sudah begitu
  populer atau sungguh-sungguh dicintai rakyat banyak, walaupun sebagian orang
  masih tidak (belum) mengerti banyak atau tidak (belum) faham tentang
  arti, sejarah, dan kedudukan simbul agung atau pedoman besar bangsa kita
  itu. Dan terutama sekali tentang eratnya hubungan atau satunya lambang
  Garuda, dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dan dengan Bung Karno

  Menghormati lambang Garuda berarti menghormati Bung Karno

  Lambat laun, dan pada waktunya, banyak orang akhirnya akan mengetahui bahwa
  menghormati lambang Garuda, adalah juga berarti -- sebenarnya ! --
  menghormati Bung Karno. Sebab, dalam lambang Garuda ini terlukis dengan
  jelas gambar-gambar yang melambangkan Pancasila (gagasan besar Bung Karno)
  dan yang diperjelas lagi dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika, yang diusulkan
  oleh Bung Karno untuk dibubuhkan juga di dalam lambang Garuda tersebut..

  Pada dewasa ini, sikap politik pro Bung Karno dan anti Suharto adalah soal
  yang masih relevan atau erat berkaitan dengan situasi politik, sosial,
  ekonomi, kebudayaan dan moral ( !!!) yang dihadapi rakyat. Sikap politik pro
  Bung Karno adalah sikap yang menganjurkan kepada seluruh bangsa untuk
  mengobarkan revolusi rakyat terus-menerus, demi kepentingan rakyat banyak
  menuju masyarakat adil dan makmur, atau masyarakat sosialis à la Indonesia.

  Fenomena yang menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat kita menghormati Bung
  Karno adalah amat penting, bahkan maha penting, bagi negara dan bangsa kita,
  untuk dewasa ini dan apalagi untuk masa depan kita bersama.

  Sebab, pengalaman bangsa kita sejak dikhianatinya Bung Karno oleh Suharto,
  sampai sekarang ( !!!)) menunjukkan dengan jelas bahwa semua pemerintahan
  yang menjalankan berbagai politik yang serba anti-Bung Karno adalah pada
  hakekatnya - dan dalam praktek sesungguhnya -- adalah anti Pancasila dan
  anti Bhinneka Tunggal Ika, dan karenanya juga anti-rakyat.

  Sejarah bangsa Indonesia sudah menunjukkan dengan jelas -- dan akan terus
  menunjukkan dengan lebih terang lagi di kemudian hari -- bahwa semua
  politik dan praktek rejim Suharto dan segala pemerintahan yang berbau Orde
  Baru, tidaklah mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat
  banyak, melainkan hanya keuntungan bagi kaum elite yang korup dan bagi
  kepentingan neo-liberalisme beserta para pendukungnya.

  Hanya politik yang didasari jiwa ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno-lah
  yang akan menyelamatkan bangsa dan negara kita. Hanya kesetiaan yang
  sungguh-sungguh dan tulus kepada Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika-lah
  yang dapat mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada rakyat banyak.

  Tulisan untuk menyambut Tahun Baru 2011 ini diakhiri dengan harapan bahwa
  angin yang mulai membawakan benih-benih kebangkitan kembali nasionalisme dan
  menghidupkan kembali kenang-kenangan kepada berbagai ajaran revolusioner
  Bung Karno akan lebih bergelora lagi di masa-masa datang.

  Paris, 3 Januari 2011

  A. Umar Said

  * * *

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke