Refleksi : Bagamaina kalau hanya pendidikan ilmu pengetahuan tanpa kebencian 
dan agama?

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/03/192502/68/11/Pendidikan-Agama-tanpa-Kebencian


Pendidikan Agama tanpa Kebencian 


Senin, 03 Januari 2011 00:01 WIB    Pada 2010, laporan sejumlah lembaga yang 
bergiat di bidang antikekerasan dan perdamaian tingkat nasional maupun 
internasional menunjukkan masih tingginya tingkat kekerasan yang bermotifkan 
agama. Beberapa bulan lalu, dalam sebuah sesi les privat, seorang murid 
bercerita tentang sesuatu yang bagi saya tak terduga. Murid ini, yang 
bersekolah di salah satu sekolah menengah di sebuah negara Eropa, menyampaikan 
guru agamanya, yang sekaligus mengajar beberapa agama yang dianut murid, 
menyatakan Islam adalah agama orang-orang teroris. 

Tidak sulit memang untuk mencari pembenaran terkait dengan pernyataan itu. Kita 
tahu bahwa pelaku pengeboman di sebuah stasiun dan bus double-decker pada 7 
Juli 2005 di London adalah muslim London keturunan Pakistan dan Jamaika. Atau 
yang lebih terkenal tentu saja bahwa setiap tahun kini orang-orang di Amerika 
memperingati peristiwa 9/11, pengeboman tragis yang menewaskan ribuan orang 
yang juga dilakukan mereka yang mengaku berjihad demi Islam. 

Satu hal yang pasti, si guru agama, yang bukan muslim dan juga mungkin tidak 
beragama Buddha, atau bahkan seorang ateis, sudah pasti mengajar agama sebagai 
ilmu pengetahuan semata, suatu subjek yang tidak berurusan dengan soal ritual 
atau spiritual. Atau jika kita berpikir lebih negatif lagi, pengetahuan sang 
guru tentang agama, sesuai dengan kisah si murid dan orang tuanya, boleh saja 
tak lebih dari kulit luar, bukan atas dasar kompetensi akademis yang sesuai. 
Namun, yang paling menyedihkan di sini bukanlah itu, melainkan bagaimana 
mungkin sebuah sekolah di negara yang dipandang maju dan berperadaban gagal 
memastikan lisensi mengajar telah diberikan kepada orang yang tepat, yang 
seharusnya mengerti pedagogi dan konsep pendidikan damai, hak-hak minoritas, 
dan seterusnya. Bagaimana mungkin pengajaran agama di sekolah menengah 
direduksi dengan melepaskannya dari konteks etis-historis dan keterkaitannya 
dengan subjek-subjek lain. 

Meskipun ada permintaan maaf dari pihak sekolah dan kasus serupa tak terulang 
lagi, orang tua murid ini bercerita, tidak tertutup kemungkinan bahwa ada 
kasus-kasus lain yang luput karena tak seorang pun menyampaikan keluhan. 
Bukankah jika demikian yang mungkin terjadi adalah stigmatisasi karena 
generalisasi yang tidak pas terhadap suatu agama atau pemeluknya? 

Dalam kasus ini ada satu hal yang paling mencemaskan: kebencian bisa jadi akan 
tumbuh di hati murid. Bagi mereka yang muslim, keterhinaan akan menyemai 
kebencian dalam bentuknya yang paling primitif. Bagi murid nonmuslim, stereotip 
dan prejudice akan menjadi penghuni memori yang sama sekali tak mudah dihapus. 


Ada cerita lain dari Indonesia, yang bermula di saat Amerika mulai menyerang 
Afghanistan secara frontal menghadapi kelompok Taliban setelah serangan 11 
September 2001. Seorang guru senior kolega saya menyatakan niatnya untuk ikut 
berjihad di Afghanistan dengan pertimbangan bahwa itu merupakan kewajiban 
setiap muslim. Bagi dia, berkorban seperti itu merupakan cara untuk 
bereksistensi dalam beragama dan pada akhirnya memastikan dengan cepat satu 
tempat di surga. 

Di samping itu ada yang agak komikal terkait dengan alasannya yang lain: 
orang-orang Amerika itu kafir dan menyerang Afghanistan sebagai sebuah negara 
muslim sehingga harus diperangi dengan cara apa pun juga. Namun, saat itu, dia 
tidak tahu bahwa di kalangan tentara Amerika sendiri terdapat orang-orang 
muslim yang berperang justru melawan orang-orang muslim juga. 

Niat teman itu kemudian batal karena ada persuasi dari beberapa orang yang 
berwawasan luas sekaligus berpengaruh pada dirinya. Tak lama setelah itu dia 
menikah. Meski tetap ada keinginan untuk berjihad di medan perang, seperti 
terungkap jika kami mengobrol sambil makan siang, teman ini sekarang ternyata 
lebih sibuk memikirkan side job untuk memastikan uang buat beli susu dan 
asuransi anaknya. Bahkan di hampir setiap pertemuan dia menawarkan obat-obat 
herbal 'islami' yang menurutnya bagus buat kesehatan. Strategi pemasarannya 
adalah menggunakan ayat, hadis, dan nama Tuhan. Tapi, ada yang tetap tak bisa 
hapus dari ingatannya: kebencian akan Amerika dan apalagi pada Israel atau 
orang Yahudi. Dalam khotbah, obrolan, dan pengajarannya hal itu masih terus 
disampaikan sedemikian rupa. 

Yasmina Khadra, pseudonim dari Mohammed Moulessehoul, mantan tentara Aljazair, 
menulis sebuah novel, The Attack, 2006, yang di dalamnya ia bercerita tentang 
kebencian yang menyebabkan seorang perempuan 'baik-baik' rela menjadi pelaku 
bom bunuh diri. Yasmina Khadra berkisah perihal seorang dokter di Israel, 
bernama Amin Jaafari, yang tidak saja sukses dalam karier dan materi, tetapi 
juga telah mencapai status sosial yang jauh berjarak dari orang-orang Israel 
keturunan Arab lainnya. Dia yakin bahwa dengan menjadi seorang yang apolitis 
dan areligious dia tidak akan bersusah hati dan pikiran dengan terlibat dalam 
konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan. Dia cukup fokus pada hidupnya 
sendiri dan tugas sebagai dokter untuk menyelamatkan hidup orang lain, siapa 
pun itu. Namun, asumsinya tentang hidup tak sepenuhnya tepat. Istrinya sendiri 
kemudian terbukti melakukan bom bunuh diri di sebuah restoran tempat puluhan 
anak sekolah tengah berpesta. Kenapa bisa, pikir Jaafari penuh kepahitan, 
seorang yang terlihat demikian bahagia, berkecukupan, dan terpandang memilih 
akhir hidupnya tunduk pada doktrin seorang imam tentang kebahagiaan di dunia 
lain dan semu dengan membunuhi orang lain? 

Tetapi, jawabannya tak rumit-rumit amat. Sinem, istri sang dokter, ternyata 
suatu ketika pernah sangat terhina sebagai seorang Palestina. Itu menumbuhkan 
kebencian yang mendekam dalam dirinya selama puluhan tahun. Tanpa sepengetahuan 
suaminya, dia terus-menerus membantu dengan cara apa pun kegiatan perlawanan 
kekerasan bawah tanah terhadap Israel sampai tiba saatnya dia menjemput 
kebahagiaan yang dijanjikan sang imam dengan membunuh dirinya sendiri serta 
anak-anak sekolah yang sedang bersukaria. 

Dia hendak menunjukkan kepada dunia bahwa 'kami' ada dan mampu melampiaskan 
kebencian dengan cara 'kami' sendiri. "Tetapi", kata Amin Jafaari putus asa, 
"kenapa si imam tak mau mengorbankan hidupnya sendiri?" Mungkin inilah 
sejatinya kehidupan seorang ideolog, dalam wajah imam, guru agama, atau siapa 
pun yang mengajarkan radikalisme agama berdasar kebencian. Baginya, 
berpropaganda (atau berdakwah) merupakan tugas mulia yang harus dilakukan murni 
atas dasar pemahamannya yang radikal bahwa nyawa seseorang atau bahkan seribu 
orang, terlepas dia bersalah atau tidak bersalah, menjadi tidak berharga ketika 
berhadapan dengan misi religius atau primordialnya. Tapi, penting dicatat, 
nyawanya sendiri dihitung lebih berharga daripada jemaahnya. 


Ideolog-ideolog seperti itu bisa jadi selalu hadir di dekat kita. Sebagai 
seorang muslim, umpamanya, saya tak habis pikir kenapa topik permusuhan orang 
Islam dengan orang Kristen atau Yahudi demikian sering diulang-ulang dalam 
khotbah Jumat, pengajian majelis taklim, atau bahkan ceramah keagamaan di 
sekolah? Apakah tidak ada topik lain? 


Beberapa bulan yang lalu, ada rasa takut ketika saya hendak mendaftarkan anak 
bersekolah. Ketika di rumah kita mengajarkan semua manusia itu setara, bahwa 
tak berarti orang lain agama itu jelek, apakah hal yang sama juga akan 
diajarkan di sekolah? Apakah yang bisa kita katakan kepada anak, kalau suatu 
hari dia datang dengan wajah tegang dan amarah, menyatakan 'kita' harus 
berhati-hati dengan 'si Anu' karena dia beragama beda? 


Mungkin tak salah kiranya kalau kita memang harus berhati-hati dalam memilih 
sekolah atau memilih guru yang akan mengajar anak kita, terutama jika itu 
berkaitan dengan hal-hal yang sensitif seperti agama. Syukur jika semuanya 
baik-baik saja, tetapi bagaimana jika tidak, apalagi kalau nasi sudah menjadi 
bubur? Apa lagi yang bisa dilakukan kalau anak kita, umpamanya, di usianya yang 
ke-18 tiba-tiba saja bertemu seorang ideolog (yang mungkin kita carikan 
sendiri) dan kemudian meremehkan atau bahkan memusuhi bapak-ibunya sendiri? 

Tak kalah pentingnya, tentu saja, perlu ada fungsi pengawasan sebagai orang 
tua, baik terhadap anak maupun institusi pendidikannya atau bahkan guru-guru 
yang mengajarnya. Komunikasi yang terus-menerus dengan anak akan lebih 
memastikan bahwa dia 'aman', ketika komunikasi dengan orang-orang yang 
memfasilitasi pendidikannya akan meyakinkan kita bahwa dia berada dalam 
lingkungan yang tepat bagi perkembangannya. Padi tumbuh tak berisik, kata 
pepatah, dan radikalisme dengan ajaran kekerasan juga sering tumbuh seperti 
itu. 

Oleh Khairil Azhar, Praktisi pendidikan dan peneliti di Yayasan Wakaf 
Paramadina, Jakarta 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke