Sumber: 
http://17-08-1945.blogspot.com/2010/09/koran-digital-buku-stigmatisasi-dan.html

Minggu, 26 September 2010 
[Koran-Digital] Buku: Stigmatisasi dan Narasi Sejarah 1965 

[ Minggu, 26 September 2010 ]


Stigmatisasi dan Narasi Sejarah 1965 TRAGEDI 1965 berlalu, ingatan tak 
menghilang, trauma masih tersisa, dan stigma  terus menghantui. Sejarah 
berdarah 
itu memang luka besar, aib untuk  Indonesia. Kita mengenang dengan gambaran 
tentang kekerasan, penculikan,  penyiksaan, dan pembunuhan. Gambaran buruk, 
kelam, hitam ditampilkan  Orde Baru dalam produksi buku sejarah, buku 
pelajaran, 
film, pidato,  atau penataran. Propaganda Orde Baru ingin membuat ''hitamnya 
hitam''  PKI, kendati harus mengorbankan jutaan orang: dipenjara, diasingkan,  
didiskriminasikan, atau dimatikan. 


Episode arogansi Orde Baru  secara politik berakhir, tapi model sebaran dan 
internalisasi stigma  atas peristiwa 1965 masih mengendap dalam diri 
masyarakat. 
Stigma seolah  mau diabadikan. Segala bentuk penghitaman disahkan melalui 
represi  ingatan. Politik-militer dijadikan sumber untuk memunculkan  
pendefinisian pelaku, korban, dalang, atau pahlawan. Peristiwa 1965  mirip 
pementasan teater. Jadi, perhitungan tokoh, alur, konflik, atau  latar memang 
sengaja ditampilkan pemilik otoritas tertinggi atas nama  dominasi kekuasaan. 
Orde Baru berhasil memanipulasi teater sejarah itu  dengan menakjubkan 
sekaligus 
mengenaskan.

Jejak-jejak sejarah  kelam, ulah Orde Baru, konsekuensi indoktrinasi atas 
ingatan sejarah  mendapatkan penjelasan apik dan kritis dalam buku Kuasa Stigma 
dan Represi Ingatan garapan Tri Guntur Narwaya. Buku ini tidak dimaksudkan 
sebagai kajian  sejarah. Penulis sekadar menempuhi ''jalan sejarah'' untuk 
menguak  pelbagai manipulasi sejarah oleh rezim Orde Baru. Sorotan hermeneutika 
 
digunakan dengan kemauan mencari terang tafsiran, menyingkap dominasi  politis, 
dan penyadaran atas pelbagai kepalsuan sejarah.

***

Penulis mengingatkan, publik selama ini terpaku pada puncak kisah  pembunuhan 
dan kudeta pada peristiwa 1965. Padahal, itu sekadar bagian  kecil dari narasi 
besar sejarah. Pandangan tersebut seolah mengabaikan  episode-episode lanjutan 
usai tragedi. Produksi stigma atas para anggota  dan simpatisan PKI menjadikan 
mereka menanggung dosa sejarah selama  puluhan tahun. Orde Baru sengaja 
menciptakan mitos, membangun monumen,  dan menulis ''sejarah resmi'' untuk 
menghabisi PKI. Represi ingatan pun  dilakukan untuk menjamin lakon politik 
Orde 
Baru. Narasi-narasi  tandingan dibungkam, dihancurkan, dan dipinggirkan dengan 
dalih  subversi, anti-Pancasila, atau anti-NKRI.

Monopoli sejarah  berlangsung sejak Orde Baru dilahirkan dan setelah kejatuhan. 
Hari ini  kita masih merasa segala stigma dan represi ingatan, kendati haluan  
politik berubah dan penyadaran ideologis digulirkan dengan spirit  reformasi. 
Kondisi ganjil itu membuat penulis mengajukan perspektif  hermeneutik untuk 
menggenapi, mengimbangi, mengkritisi pelbagai kajian  tentang tragedi 1965. 
Kerja atau model penafsiran sejarah tersebut  diacukan pada kegelisahan, 
empati, 
dan motivasi ilmiah atas problem  korban arogansi-politik Orde Baru. Penulis 
menginginkan riset (kerja  penelitian) tidak sekadar memenuhi hasrat akademik, 
tapi sanggup  mengantarkan orang untuk menyentuh realitas sosial. Interpretasi 
kritis  pun mesti disadari bakal dihadapkan pada politik kepentingan dominan.  
Kutipan atas pemikiran Paul Ricouer merepresentasikan spirit buku ini:  
''Interpretasi selalu akan membuka ruang untuk perbedaan dan konflik.''

***

Pergumulan tafsir memerlukan penelisikan dan pembongkaran ideologi.  Penulis 
mendasarkan analisis ideologi dengan memakai konsepsi besar John  B. Thompson 
dalam mengolaborasi pelbagai ideologi mutakhir. Mekanisme  sebaran dan 
penanaman 
ideologi oleh Orde Baru dibongkar dengan sasaran  untuk mengetahui stigmatisasi 
atas para korban, PKI, dan komunisme.  Jadi, kerja tafsiran ada dalam pelbagai 
tahap dan memerlukan kejelian.  Penulis mesti bergulat untuk memilih, memilah, 
dan menilai pelbagai  data. Hasrat pembongkaran ideologis itu bisa 
terepresentasikan melalui  model kebijakan, pengetahuan publik, dan permainan 
simbol. 


Contoh pelik dari ketegangan tafsir adalah pemunculan simbol palu dan  arit. 
Simbol itu terus termaknai secara politik, identik dengan ulah  PKI, kudeta, 
juga menandai kebangkitan komunisme. Jadi, bentuk  pelarangan buku dan aksi 
kekerasan gara-gara penggunaan simbol palu dan  arit biasa terjadi setelah 
kejatuhan rezim Orde Baru. Dominasi ideologi  dan stigmatisasi terjadi dalam 
pembacaan dan tafsir simbol. Thompson  menjelaskan bahwa konsep ideologi 
menunjukkan usaha mobilisasi makna.  Simbol jadi lahan pertarungan untuk 
kepentingan dominasi atas segala  resistansi dalam tafsir dan tindakan. 
Ungkapan 
dari Kathryn Tanner bisa  jadi acuan: ''Sejarah penafsiran adalah sejarah 
pergulatan.''

***

Buku ini seolah ingin menarik pembaca pada pergulatan intim dalam  membaca dan 
menafsirkan narasi besar sejarah 1965. Dominasi politik Orde  Baru kentara 
memberikan efek ideologis mendalam, efek berkepanjangan,  dan menghuni dalam 
bawah sadar publik kendati rezim berganti. Baskara T.  Wardaya dalam pengantar 
menjelaskan: ''Jika korban pembunuhan masal  mencapai sekitar setengah juta 
orang, buku ini mengingatkan kita bahwa  stigmatisasi itu korbannya lebih 
banyak 
dan kurun waktunya lebih  panjang.'' Jadi, buku ini bisa menjadi pemicu 
penyadaran untuk menilik  ulang cara membaca dan menafsirkan tragedi 1965 dan 
ulah Orde Baru. 


Stigmatisasi adalah model penghancuran dan pembinasaan sistematis. Kita  kerap 
mengabaikan itu karena indoktrinasi Orde Baru, represi politik,  dan keburaman 
ingatan. Metafor komunis, orang kiri, Gestapu telah  menciptakan gambaran kejam 
dalam sejarah Indonesia. Pemaknaan politis  oleh Orde Baru membuat kita 
terjebak 
pada stigmatisasi dengan pamrih  ideologis. Buku ini menyapa kita untuk 
mengoreksi, mengkritisi, dan  mengubah tafsiran agar ada pemahaman komprehensif 
tentang sejarah 1965  dan efek-efek lanjutan. Buku ini mengingatkan kita untuk 
peka sejarah  dan melawan tafsir dominasi ideologis. Begitu. (*)

*)  Bandung Mawardi  , pengelola Jagat Abjad Solo   

Judul Buku: Kuasa Stigma dan Represi Ingatan

Penulis : Tri Guntur Narwaya

Penerbit: Resist Book, Yogyakarta

Cetakan: September 2010

Tebal: xlii + 250 halaman

http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=detail&nid=157122

 
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke