Refleksi : Negeri untuk semua, tetapi harta kekayaannya bukan untuk semua!

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=32235

RABU, 18 Januari 2011 | 364 Hits


Prof. Nurhajati: Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

Negeri Untuk Semua

BELUM lama ini majalah Forbes merilis 40 orang Indonesia masuk daftar terkaya 
di dunia. Tahun ini tujuh nama miliarder muda, Sri Prakash Lohia, Kiki Barki 
Makmur, Benny Subianto, 

Agus Lasmono Sudwikatmono, dan Tahir, masuk deretan nama-nama beken seperti 
Budi Hartono dan Michel Hartono (Djarum) serta Susilo Wonowidjojo (Gudang 
Garam). Catatan fantastis lainnya, jumlah kekayaan 40 orang itu mencapai US$71 
miliar (Rp639 triliun), meningkat hampir dua kali lipat dari tahun lalu, US$42 
miliar (Rp378 triliun). Suatu prestasi memapankan dan mengembangkan status 
elitisme yang fantastis. Di satu sisi, tentu prestasi fantastis itu dibaca 
sebagai indikasi positif ekonomi pascakrisis. 

Namun di sisi lain, itu tetap menimbulkan pertanyaan besar, khususnya dari 
komunitas 'awam', seperti bagaimana dengan kondisi perekonomian secara 
keseluruhan yang tidak mengalami perubahan signifikan? Monopoli oleh sekelompok 
tertentu masih dominan atau mudah terbaca, meski orde reformasi telah mengusung 
paradigma ekonomi berbasis kerakyatan, atau dijargonkan menepis teori 
pertumbuhan atau efek penitisan dari atas ke bawah. Paradigma itu dijual untuk 
membiaskan atau membelokkan hasrat publik yang bermaksud 'tergesa-gesa' menuai 
bagian dari pemerataan dan kemakmuran. Pernah, Prof David Ellwood, saat ke 
Indonesia, mengingatkan teori itu sebagai kejahatan ekonomi, dengan memberi 
peluang besar kepada usaha besar untuk merajalelakan kapitalnya, atau 
menciptakan pola politik ekonomi monopolistik yang berbasis neohegemonisme 
bernapas keserakahan dan ketidakmanusiawian. Ellwood mengingatkan tentang 
'bencana ekonomi' yang menyakiti masyarakat. 

Kondisi itu telah sedemikian rupa menciptakan jurang kesenjangan (disparitas) 
antara para penggerak kapital skala besar dan sebagian besar warga. Yang kaya 
makin kaya, dan yang miskin tak beranjak. Himawan (2010) misalnya menyebut 
bahwa di kisaran 20% warga ini dari 240 juta atau 48 juta orang yang menikmati 
kemajuan pembangunan, suatu kondisi paradoksal sekali jika dikaitkan dengan 
realitas keprihatinan yang sedang menimpa masyarakat Indonesia. Terbukti, 192 
juta warga lainnya hanya menonton, tetap dalam hegemoni kemiskinan, 
ketelantaran, tunawisma, buta huruf, terasing, bahkan kelaparan di sejumlah 
daerah pedalaman atau komunitas marjinal. Walaupun pemerintah mengaku jumlah 
warga miskin hanya 31,03 juta orang dengan kriteria pendapatan maksimal 
Rp3.972.000/tahun, atau terus mengalami penurunan, potret ketidakberdayaan 
ekonomi (ecomomics empowerless) masyarakat tak terbantahkan. Kalau sudah 
seperti itu kondisinya, kearifan model apa yang seharusnya ditunjukkan 
pemerintah (negara)? 

Haruskah negara membiarkan kondisi paradoksal dan kesenjangan semakin parah? 
Atau akankah pemerintah hanya membiarkan dan memuluskan jalan bagi pemilik 
modal besar dalam melicinkan jalannya menjadi manusia super kaya, sedangkan 
ratusan juta rakyatnya terpuruk dalam kemiskinan, malanutrisi, dan mati 
kelaparan? Ironisnya lagi, mereka terbiarkan menjalani dan mengakrabi status 
mereka sebagai penonton kemakmuran (prestasi kekayaan) segelintir orang. Mereka 
dikondisikan sebagai kumpulan manusia yang sebatas bisa melihat, menyaksikan, 
dan membandingkan perbedaan tajam antara dirinya dan komunitas elite. Itu bisa 
terjadi, tak terlepas dari kegagalan pemimpin kita dalam memahami dan 
memperjuangkan secara objektif dan maksimal penderitaan ekonomi orang kecil. 

Mereka tidak sungguh-sungguh menjalankan amanat sebagai pembebas kesulitan 
ekonomi yang diderita jutaan elemen masyarakat. Bangunan bangsa ini dipilari 
banyak segmen sejarah yang tidak suci, tidak tulus, tidak setia, dan tidak 
punya komitmen kuat untuk membela, memperjuangkan, dan menjaga kemaslahatan 
rakyat secara empirik. Realitas ketidakberdayaan masyarakat bukannya dijadikan 
objek juangnya, melainkan diamnesiakannya atau bahkan diperlakukan sebagai 
komoditas politik yang menguntungkannya. Mereka itu tak benar-benar menunjukkan 
tanggung jawabnya sebagai penyangga dan pencerah republik. Bagaimana mungkin 
mereka bisa ikut mendesain dan mengantarkan ratusan juta rakyat Indonesia ke 
wilayah kesejahteraan, meminjam istilah Nurcholis Majid, golden era (era 
keemasan), kalau sikap dan perilaku yang ditunjukkan tak pernah bernilai emas. 
Perilaku bernilai emas adalah wujud perilaku yang berharga, layak diagungkan, 
dan jadi pilihan. Perilaku yang digelar seharusnya lebih menyuratkan kemuliaan 
pribadi dan bukan keterhinaan. 

Perilaku agung tersebut tentulah jenis perilaku yang mengedepankan semangat 
persatuan, mengutamakan kejujuran, suka meringankan beban umat, tidak 
menghadirkan dan membenarkan tindakan yang menyakiti rakyat, tak takut 
mengkritik dan mengoposisi 'kezaliman struktural', dan tak gentar 
mengimplementasikan etos jihad atas kompilasi dan akumulasi penindasan. Segmen 
elite bangsa Indonesia itu ternyata tak memberikan teladan kejuangan struktural 
yang layak dijadikan kiblat. Perilaku-perilakunya bercorakkan penyimpangan yang 
mengakibatkan negeri ini merana karena dirajam kesengsaraan dan penderitaan 
moral, politik, ekonomi, budaya, dan hukum. 

Negeri ini seperti wilayah tidak bertuan, tak punya pemimpin, tak ada tatanan, 
dan dilanda 'kemiskinan' serius jiwa kenegarawanan. Disebut wilayah tidak 
bertuan karena negeri ini seperti tak punya majikan, wilayah kosong yang 
aset-asetnya seperti sumber daya hutan menjadi 'halal' untuk ditebang, dibakar, 
dijarah, dan dieksploitasi secara tak terkendali. Negeri ini seperti kesulitan 
atau gampang gagap untuk memberi yang terbaik kepada masyarakat, atau sebagai 
negeri yang elemen fundamentalnya kehilangan etos juang yang membumikan 
Indonesia sebagai state for all (negeri untuk semua). 

Hukum rimba pun tampil ke permukaan, siapa yang kuat, dialah yang berhak 
menentukan segalanya, termasuk menjual dan membagi-bagi keuntungan dengan 
investor, pemilik modal kuat, atau siapa pun yang mau jadi kroni dan punya 
keistimewaan untuk memperoleh 'lisensi' politik-ekonomi. Disebut negeri 
layaknya tak punya pemimpin karena punya banyak pemimpin yang gagal 
memperagakan kepemimpinan. Di mana-mana berebut ingin jadi pemimpin, jadi 
ketua, kepala, penanggung jawab, atau posisi apa saja di legislatif, eksekutif, 
dan yudikatif serta di berbagai 'pos basah'. 

Namun, pola dan strategi-strategi yang digunakan lebih konsentrasi pada 
pencarian dan pengamanan proyek-proyek yang menguntungkan diri, kerabat, dan 
partai yang menguntungkannya. Kekuatan strategis yang membawa baju sebagai 
pemimpin umat itu telah menjadikan negeri ini hanya ladang untuk berburu dan 
mengail keuntungan sebanyak-banyaknya, mengisi 'pundi-pundi' anak-istri. Tak 
ada tanggung jawab moral untuk mendahulukan keberpihakan pada umat (publik). 
Umat hanya dijadikannya sebagai kendaraan untuk mengantarkan ambisi dan 
keserakahannya ke pelabuhan kemewahan atau penguatan gaya hidup eksklusifnya. 
Rakyat hanya jadi objek sapi perah untuk mendulang kedigdayaan martabatnya dan 
mengamankan arogansi strukturalnya. Kondisi itu tak akan pernah mengalami 
perubahan, manakala mentalitas memimpinnya tak pernah ditunjukkan dengan 
totalitas kemampuannya.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke