Refleksi : Para penguasa mengetahui apa yang mereka kerjakan dan oleh karena 
itu mereka sikat apa saja yang bisa disikat untuk memenuhi kantong mereka, agar 
kelak apabila  kepunahan atau malapetaka tiba, mereka bisa selamat, sebab sudah 
banyak fulus ditampung di berbagai bank dalam dan luarnegeri seperti  apa yang 
dilakukan Soeharto dan konco-konco kentalnya.


http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2011/02/01/ekonomi-cara-sesat-indonesia-terancam-punah/

Selasa, 01/02/2011 | 02:26 WIB 

Ekonomi Cara Sesat, Indonesia Terancam Punah
Oleh: Ir Liem Siok Lan  MSc  *) 

INDONESIA memiliki potensi untuk membentuk model ekonomi baru, yaitu people 
cybernomics. Suatu sistem baru untuk mengembangkan kedaulatan ke tangan rakyat 
secara konkret. Dalam hal ini rakyat terorganisir dalam bentuk korporasi. 
Konsep ini mempertemukan antara kapitalisme dan sosialisme dalam korporasi 
kerakyatan.

Jadi, ke depan itu akan menjadi model ekonomi baru yang berbasis kerakyatan 
tetapi dengan teknologi dan sistenm seperti halnya multinasional corporation. 
Karena negara yang bisa memfasilitasi hal ini, maka harus Negara yang merubah 
system ekonominya dengan kembali ke uang mas, atau komoditi lainnya. Ini butuh 
kepemimpinan nasional yang mampu melihat global itu sudah bergerak sampai ke 
sana. Sehingga rakyatnya tidak terus disengsarakan oleh kebodohan sang pemimpin.

Dengan cara ini, perubahan dilakukan secara total seperti yangt elah dilakukan 
Presiden Thaksin di Thailand, Ahmadinejad di Iran, dan Hugo Chavez di 
Venezuela, Mahathir di Malaysia bias terwujud. Secara sistemik, holistik, tidak 
tumpang tindih seperti yang dilakukan Indonesia sampai sekarang ini.

Dari perspektif persyaratan "corporate restructuring", Indonesia wajib 
melakukannya kalau ingin NKRI tetap utuh. Kalau hal ini tidak terjadi, maka 
yang terjadi saya rasa adalah skenario kedua yakni adanya perpecahan seperti di 
Aceh, Riau, Kaltim yang ingin berdiri sendiri-sendiri karena tidak merasakan 
manfaat berIndonesia.

Indonesia tidak punya pilihan, karena system lama yang digunakan adalah jebakan 
internasional ala IMF. Sebetulnya Duni menghendaki Indonesia lebih baik, tetapi 
IMF dkk ingin bertahan, menjadi satu-satunya lembaga yang masih bercokol di 
Indonesia, saat di negara lain IMF sudah diusir.



Sementara di Indonesia, IMF sudah dilunasi tapi kroni-kroninya makin 
merajalela. Utang yang diciptakan oleh pemerintahan SBY jumlahnya lebih besar 
dari jumlah utang yang dibuat dari jaman Bung Karno plus utang jaman Pak Harto 
plus utang jaman Habibie plus utang jaman Gus Dur plus utang jaman Megawati.



Utang luar negeri Indonesia (pemerintah dan swasta) sebesar Rp 
2.500.000.000.000.000 (dua ribu lima ratus triliun rupiah) diantaranya dibuat 
selama 5 tahun pemerintahan SBY sebesar Rp 300-an triliun. Bunga dan cicilan 
pokok Rp 450 triliun. Sri Mulyani Insdrawati (IMF) saat itu selaku Menteri 
Keuangan RI, merangkap sebagai 'sales girl'-nya IMF berhasil menjual produk 
perbankan Grup IMF berupa "loan" sebesar itu kepada Indonesia.



Di dunia pasar keuangan global, layaknya Sri Mulyani Indrawati mendapatkan 
"success fee" sebesar 1-3% dari nilai pinjaman yang berhasil dijualnya atau 
sekitar Rp 3-9 triliun. Sebagai contoh, Februari 2009 Menteri Keuangan RI saat 
itu menjual Global MTN (Medium Term Notes) semacam, SUN (Surat Utang Negara) di 
pasar global, sebesar USD 3 miliar dengan bunga 11,75% (sementara di pasaran 
interest rate dalam USD hanya sekitar 2-3%). Ini hanya slaah satu modus yang 
belum tersentuh oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pertanyaan para ekonom klasik: Lantas modal uang dari mana agar ndonesia bias 
membiayai rencana "Corporate Restructuring" tersebut? Jawaban saya: Uang itu 
hanya sarana. Contohnya Thailand yang tidak punya tambang dan sumberdaya 
sebanyak kita terbukti bisa bangkit dari keterpurukan dan melunasi 
utang-utangnya (mengusir IMF) hanya dalam waktu 6 bulan. Berarti ada caranya.

Itu hanya bagian sebuah model, China misalnya mengambil satu model yang awalnya 
tidak menganut hukum "supply and demand" sebagaimana sistem kapitalisme. Bagi 
China, yang penting mengatur bagaimana rakyatnya semua bekerja dari jam tujuh 
pagi sampai jam lima sore. China pun terbukti bisa memproduksi barang apa pun 
mulai dari peniti sampai satelit dengan tidak ikut model mekanisme pasar.

China, rakyatnya lebih dari 1,5 miliar makan semua. Kesehatan ditanggung 
negara, pendidikan semua gratis, semua anak sekolah, semua kerja. Kalau China 
menerapkan sistem kompetisi bebas, seperti negara-negara Barat, rakyat China 
bisa mati bunuh-bunuhan hanya untuk sekedar cari makan.

Coba lihat, 86% perusahaan yang terdaftar di 10 besar pasar uang dunia 
dibanjiri oleh perusahaan-perusahaan China yang terdaftar di berbagai negara. 
Dengan cara ini, China berhasil mengeruk devisa hampir 2 triliun dolar AS (atau 
sekitar Rp 18.000 triliun). Jadi, jangan tanya soal uang. Uang itu hanya alat. 
Apa susahnya membikin satu dolar itu sama dengan satu rupiah (Rp 1) kalau 
disepakati modelnya. Contohnya, Malaysia saja bisa bikin 1 dolar senilai 3,8 
ringit. Itu kan hanya soal modelling.

Yang menjadi masalah Indonesia adalah sesame elit sekarang ini berpikir hanya 
uang sehinga jadi kufur (tertutup). Mereka tertipu oleh sistem besar ini. 
Padahal, hal itu hanya alat. Presiden Thailand, Thaksin terbukti dengan 
caranya, Mahathir terbukti dengan caranya, Hugo Chavez terbukti dengan caranya, 
Ahmadinejad tebrukti dengan caranya, China terbukti dengan caranya. Indonesia 
saja yang masih melanjutkan cara sesat yang jelas-jelas telah menyengsarakan 
rakyat hingga saat ini.

Satu lagi syarat kepemimpinan dalam "corporate restructuring", Indonesia 
memiliki kultur seperti engara-negara Amerika Latin. Dimana tentara dipakai 
oleh kroni penguasa untuk dimanfaatkan mengamankan kepentingan jkapitalsime 
sehingga mencengkeram rakyat. Para konglomerat memanfaatkan tentara sebagai 
backing mereka. Adalah Hugo Chavez yang bisa membalikkan sejarah dimana tentara 
untuk kepentingan rakyat.

Dicari, sosok tentara seperti Chavez yang mengembalikan peran tentara untuk 
kepentingan rakyat dalam mengawal "corporate restructuring" menuju Korporasi 
Rakyat Indonesia. Yang jelas jangan LANJUTKAN model lama, nanti Indonesia bakal 
punah. (***)

*) Ir Liem Siok Lan MSc (Justiani) adalah Mantan Penasihat Presiden Thailand, 
Thaksin; Presiden CEO Asia Pasific SMarT Development and FInacing; Lulusan S2 
McGill Canada; Jebolan S3 Cybernomics/Greenomics eDinar University.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke