Refle: Apakah  MUI, FPI, MMI  etc serta Depag tidak tersinggung perasaan 
melihat  wanita berjilbab membawa poster bertulisan " Arab Saudia  penjahat 
kemanusiaan "?  Bukankah Arab Saudia adalah tanah suci?

http://www.gatra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=773:darsem-dan-potret-buram-tki-kita&catid=1:nasional&Itemid=70


Darsem dan Potret Buram TKI Kita 
Kamis, 14 Juli 2011 06:00 
2 Komentar 
   
Aksi Unjuk Rasa oleh TKI (Yahoo! News/AFP)


Senyumnya mengembang, namun matanya penuh airmata. Isak tangis pun berhamburan 
saat Darsem binti Daud Tawar, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten 
Subang, Jawa Barat, tiba di rumahnya, Rabu (13/7) siang. Tampak jelas rona 
wajah kegembiraan terpancar dari anggota keluarga Darsem di antara gurat-gurat 
kelelahan karena kesibukan sejak pagi.

Kepulangan Darsem ke kampung halamannya disambut antusias oleh ratusan warga 
kampung yang telah menunggu kedatangannya sejak pagi hari. Di antara para tamu, 
tampak Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Subang Ade Rusmana, 
yang didampingi Kepala Seksi Informasi Tunggul Silaban dan Camat Pusakanagara 
Ela Nurlela yang turut menyambut kepulangan Darsem.

Hari itu, Darsem telah bebas dari ancaman hukuman pancung, dan kembali ke 
keluarganya. Darsem dipulangkan oleh Kementerian Luar Negeri dan tiba di 
Jakarta pada Rabu sekitar pukul 11.45 WIB menggunakan penerbangan Saudi Arabian 
Airlines SV 822 dari Riyadh. Darsem dipertemukan dengan pihak keluarga di 
kantor Kementerian Luar Negeri dan langsung diantar pulang ke daerah asalnya di 
Kampung Trungtum Desa Panimban RT 09/04, Pusakanagara, Kabupaten Subang, Jawa 
Barat.

Kebebasan Darsem lantaran pemerintah Indonesia membayar diyat (denda) sebesar 
Rp 4,7 miliar (2 juta real Saudi). pembayaran diyat untuk Darsem dilakukan 
dengan anggaran pos perlindungan WNI/TKI Kementerian Luar Negeri pada 21 Juni 
2011 dan lebih dulu ditransfer ke rekening Kedutaan Besar Republik Indonesia 
(KBRI) di Riyadh.

Dana tersebut kemudian disampaikan oleh KBRI ke ahli waris korban dalam bentuk 
cek melalui pengadilan di Riyadh pada 25 Juni 2011, yang disaksikan Lajnatul 
Ishlah wal-`Afwu (Komisi Jasa Baik untuk Perdamaian dan Pemberian Maaf). "Jadi, 
pembayaran diyat dilaksanakan tidak melebihi batas waktu tanggal 7 Juli 2011 
sebagaimana ditetapkan oleh pengadilan di sana," ujar Kepala Badan Nasional 
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Moh Jumhur Hidayat.

Sebelumnya, Darsem mendekam di penjara wanita Al-Malaaz, Riyadh. Ia menghadapi 
hukuman publik (kurungan penjara). Kedutaan Besar RI lalu mengupayakan agar 
Darsem mendapatkan pengampunan dari pemerintah Arab Saudi atau Raja Abdullah. 
Upaya tersebut akhirnya membuahkan pembebasan murni bagi Darsem sampai proses 
kepulangannya.

Hukum publik terkait antara Darsem dan pemerintah Arab Saudi memang dapat 
diintervensi oleh kerajaan, sehingga seseorang bisa dinyatakan bebas murni dari 
konsekuensi hukuman publik. Sementara perbuatan menghilangkan nyawa orang 
dengan vonis hukuman mati (qishash) merupakan hukum privat (jinayah) yang 
berlaku di Arab Saudi antara Darsem dengan keluarga korban, namun tidak dapat 
diintervensi oleh siapapun kecuali diperoleh pemaafan ahli waris korban untuk 
digantikan uang diyat.

Kasus Darsem pun berakhir bahagia berkat bantuan pemerintah RI. Namun, Darsem 
hanyalah satu dari banyak TKI yang kini terancam hukuman mati. Data Kementerian 
Luar Negeri RI menyebut, masih ada 303 TKI yang terancam hukuman mati di 
beberapa negara. Mereka, para pahlawan devisa itu, kini sedang berjuang 
menghindari maut.

Belum lama ini, hukum pancung Ruyati di Arab Saudi menjadi tragedi yang 
mewakili potret derita ribuan TKI di luar negeri. Sialnya, Ruyati dipancung 
tanpa sepengetahuan pejabat pemerintah RI. Kasus Ruyati itu menuai cemohan 
banyak pihak terhadap pemerintah RI yang dianggap kurang peduli terhadap nasib 
TKI.

Potret derita TKI terlalu sering membuat wajah kita muram. Sejak berangkat, 
mereka sudah menjadi objek eksploitasi. Saat di tempat kerja, sebagian mereka 
harus tahan menerima siksa. Begitu pulang, mereka harus melalui gerbang khusus 
di bandara agar lebih mudah 'dipalak'. Pengalaman membuktikan, tragedi yang 
menimpa TKI belum banyak memberi pengaruh signifikan bagi perbaikan nasib para 
pahlawan devisa itu.

Di aspek kenegaraan, banjir TKI di negeri orang membuat bangsa ini dicap 
sebagai bangsa babu. Sampai kapan derita TKI akan terhenti, dan bangsa ini bisa 
tegak membusungkan dada di depan bangsa lain? [HP, Ant]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke