--- In [email protected], "Sunny" <ambon@...> wrote:
>
> Refl: Apakah ada BUMN yang mendatangkan laba?

belasan tahun jadi loper koran di prol tapi ngga tau caranya nyari informasi.
penyebabnya pasti gara2 kurang asupan protein.

http://www.bumntrack.com/index.php/rubrik/show_rubrik_detail/28/235

BUMN Top 10 Laba Terbesar
Kamis, 12 Mei 2011 14:05
Tidak ada wajah baru pada daftar 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar. Bersama "Klub 
1 Triliun" dan 10 BUMN lainnya, mereka menjadi ujung tombak percepatan dan 
perluasan pembangunan ekonomi nasional.

Selama bulan April kemarin, susul menyusul BUMN melansir kinerja keuangan 2010 
audited. Dari paparan tersebut, ibarat klasemen liga sepak bola profesional- 
komposisi tim yang menghuni jajaran 10 besar klasemen akhir sudah bisa 
dipastikan. Komposisi 10 BUMN pencetak laba terbesar, khususnya yang bertengger 
di papan atas, tidak banyak mengalami perubahan. Empat tim yang bercokol di 
sana sama persis seperti tahun lalu, yaitu PT Pertamina (Persero), PT Telkom 
Tbk, PT BRI Tbk, dan PT PLN (Persero). Perubahan hanya terjadi pada PLN dan BRI 
yang bertukar posisi. Tahun lalu PLN ada di urutan tiga, tahun ini posisinya 
digantikan oleh BRI yang tahun lalu di posisi keempat.

Semestinya, dengan tambahan margin penjualan listrik subsidi dari 5 persen 
menjadi 8 persen, laba bersih PT PLN tahun 2010 bisa melesat jauh melampaui 
tahun 2009. Namun meningkatnya beban bunga, berkurangnya untung dari selisih 
kurs, serta beban lain-lain menyebabkan laba bersih PLN tergerus hingga 2,5%. 
Jika tahun 2009 laba bersih yang dibukukan sebesar Rp 10,355 triliun, laba 
tahun 2010 mentok di angka 10,086 triliun.

Acungan jempol layak diberikan kepada Bank BRI Tbk. Kinerja keuangan bank 
tertua di Indonesia ini makin mencorong saja. Tahun 2010 ditutup dengan catatan 
laba bersih sebesar Rp 11,472 triliun, melesat hingga 56.9% dibanding 
pencapaian pada periode yang sama tahun lalu. Dengan capaian angka laba bersih 
sebesar itu, BRI telah memecahkan dua rekor sekaligus, yaitu bank dengan laba 
bersih terbesar dan satu-satunya bank di Indonesia yang membukukan laba bersih 
double digit.

Di "papan tengah" kejutan besar terjadi setelah Bank BNI Tbk melonjak ke urutan 
tujuh, atau naik tiga peringkat dari urutan paling buncit tahun lalu. Tahun 
2009 BNI kembali masuk jajaran 10 Besar setelah membukukan angka laba bersih Rp 
2,4 triliun. Dengan raupan laba sebesar itu, BNI bertengger di urutan paling 
buncit, atau nomor 10. Tahun 2010 laba bersih BNI melejit hingga 65% ke angka 
Rp 4,103 triliun sehingga berhasil menyodok ke urutan tujuh BUMN pencetak laba 
terbesar.

Dua jempol layak diacungkan untuk jajaran manajemen BNI di bawah Direkur Utama 
Gatot Suwondo. Lompatan yang amat signifikan itu tidak lepas dari keberhasilan 
manajemen bank ini mejalankan right issue pada 2010 dengan sukses, tanpa 
gejolak, dan menangguk hasil maksimal.

Posisi buncit yang semula ditempati BNI, digantikan oleh PT Tambang Batu Bara 
Bukit Asam Tbk. Dibanding tahun 2009, laba bersih tahun 2010 perusahaan ini 
turun hingga 26,4%. Akibatnya, jika tahun 2009 PT BA masih bisa duduk di posisi 
ke-8 pada daftar 10 BUMN pencetak laba terbesar dengan laba bersih Rp 2,7 
triliun, maka dengan laba bersih sebesar Rp 2,009 triliun perusahaan ini harus 
puas ada di urutan ke-10. Selebihnya komposisi 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar 
masih dihuni oleh Bank Mandiri (urutan 5), PGN (6), Semen Gresik (8), dan Pusri 
Holding (9).

Kelompok 1 Triliun
Di luar BUMN Top 10, sejumlah BUMN mencatatkan kinerja yang tak kalah gemilang. 
Ambil contoh PT Timah Tbk. Perusahaan penambangan timah ini berhasil mencatat 
lonjakan laba bersih hingga 300 persen! Lonjakan harga logam timah di pasar 
global menyebabkan perseroan ini ketiban rejeki berlimpah.

Menutup tahun buku 2010, PT Timah menorehkan laba bersih mencapai Rp 947,9 
miliar atau Rp188,3 per lembar saham. Jumlah ini jauh melampaui angka tahun 
2009 sebesar Rp 313,8 miliar untuk laba bersih, atau Rp 62 per saham.

Lonjakan laba perseroan di sepanjang 2010 disebabkan oleh kenaikan penjualan 
komoditas akibat naiknya harga logam timah dunia, terutama pada tengah tahun 
kedua 2010. Pada pertengahan triwulan ketiga harga logam timah dunia merangkak 
naik pada kisaran US$ 22.000 per metrik ton, dari sebelumnya pada kisaran US$ 
16.000 per metrik ton pada triwulan I dan II. Kondisi in berdampak pada 
kenaikan margin usaha perusahaan pada akhir kuartal keempat 2010.

Laba usaha lebih tinggi 90%, dari Rp 688,5 miliar tahun 2009 menjadi Rp 1.310,8 
miliar di 2010. Laba sebelum pajak lebih tinggi 105% dibandingkan tahun 2009 
sebesar Rp 549,2 miliar menjadi Rp 1.127,3 miliar pada 2010. PT Timah juga 
berhasil meningkatkan total aktiva sebesar 21% dari Rp 4.855,7 miliar menjadi 
Rp 5.881,1 miliar.

BUMN yang berkantor pusat di Kepualauan Bangka Belitung ini menghasilkan 
produksi logam timah sebesar 40.413 mton pada tahun 2010, atau 10% lebih rendah 
dibandingkan dengan produksi tahun 2009 sebesar 45.086 mton. Penurunan volume 
produksi disebabkan persediaan bijih yang ada memiliki konsekuensi penurunan 
volume terak (barang dalam proses) sebesar 25% dari sebelumnya 8.215 ton (2009) 
menjadi 6.197 ton (2010).

Namun begitu, total produksi bijih timah tahun 2010 sebesar 37.615 ton Sn, 
relatif sama dengan produksi bijih timah tahun 2009 yakni sebesar 37.701 ton Sn.

Direktur Utama PT Timah Tbk Wahid Usman optimis tren menggiurkan masih akan 
berlanjut hingga tahun ini. Ia sudah memprediksi adanya peningkatan konsumsi 
logam timah di 2011 sebesar 10% dari tingkat konsumsi pada tahun 2010 sebesar 
330.000 ton. "Hal ini dilihat dari mulai pulihnya daya beli konsumen terutama 
terhadap produk-produk consumer goods dan elektronik. Dengan demikian 
diperkirakan produksi logam timah pada 2011 akan meningkat menjadi 345.000 ton, 
namun masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah permintaan pada tahun 
2011 yaitu sekitar 370.000 ton," jelasnya.

Harga rata-rata logam timah tahun 2011 yang diterima perseroan diprediksi 
sekitar US$ 23.000 per ton.

Kinerja menggembirakan juga dipertontonkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. 
Perusahaan yang melantai di bursa efek pada awal 2011 ini berhasil membukukan 
kenaikan laba bersih lebih dari 100% pada 2010. Tahun 2009 laba bersih yang 
dibukukan baru mencapai Rp 494,672 miliar. Tahun 2010 melonjak hingga ke angka 
Rp 1,062 triliun.

Pencapaian laba bersih tersebut didukung oleh penurunan beban pokok pendapatan 
dan beban bunga. Di sisi lain, pendapatan bersih perusahaan justru mengalami 
penurunan. Pada 2010, pendapatan bersih sebesar Rp 14,856 triliun, atau turun 
dibandingkan pada 2009 yang sebesar Rp 16,913 triliun.

Dengan pencapaian tersebut, PT Krakatau Steel kini bisa berbangga karena 
berhasil masuk ?Klub 1 Triliun?. Di luar 10 BUN Pencetak Laba Terbesar, BUMN 
yang berhasil membukukan laba bersih tahun 2010 di atas Rp 1 triliun 
berturut-turut adalah PT Askes (Persero) dengan laba bersih Rp 1,733 triliun, 
PT Antam Tbk (Rp 1,683 triliun), PT jamsostek (Rp 1,581 triliun), Perum 
Pegadaian (Rp 1,222 triliun), PT Krakatau Steel Tbk (Rp 1,062 triliun), dan PT 
Perkebunan Nusantara III (Persero) dengan laba bersih Rp 1,012 triliun.

Ujung Tombak MP3EI
Kementerian BUMN telah menetapkan 26 BUMN sebagai ujung tombak implementasi 
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Nasional (MP3EI). Ke-26 
BUMN tersebut adalah 10 BUMN Pencetak Laba Terbesar, 6 BUMN ?Klub 1 Triliun?, 
dan 10 BUMN lain yang memiliki kinerja menggembirakan dalam beberapa tahun 
terakhir.

Sepuluh BUMN tersebut berturut-turut adalah PT Timah Tbk dengan laba bersih 
2010 Rp 947,9 miliar, PT Bank BTN Tbk (Rp 916 triliun), Perum Bulog (Rp861 
miliar), PT Perkebunan Nusantara IV Persero (Rp 812 miliar), PT Taspen Persero 
(Rp 614 miliar), PT Garuda Indonesia Tbk (Rp 516 miliar), PT Kereta Api 
Indonesia (Rp 372 miliar), PT Wijaya Karya Tbk (Rp 285 miliar), PT Perusahaan 
Pengelola Aset Persero (Rp 243 miliar), dan PT Adhi Karya Tbk (Rp 189 miliar).

Ke-26 BUMN tersebut layak menjadi ujung tombak mensukseskan MP3EI karena 
merupakan 26 BUMN terbesar. Keseluruhan indikator kinerja 26 BUMN tersebut di 
tahun 2010 cukup merepresentasikan kinerja dan performa BUMN secara 
keseluruhan. Rinciannya:

? Total Pendapatan 26 BUMN Rp 1,021,095 triliun, setara dengan 90,4% total 
Pendapatan 142 BUMN sebesar Rp 1,129,015 triliun.
? Total Laba Bersih 26 BUMN Rp 91,511 triliun, setara dengan 92,9% total Laba 
Bersih 142 BUMN sebesar Rp 98,606 triliun.
? Total Aset 26 BUMN Rp 2,290,511 triliun, setara dengan 92,5% total Aset 142 
BUMN sebesar Rp 2,476,055 triliun.
? Total Ekuitas 26 BUMN Rp 547,574 miliar, setara dengan 88,7% total Ekuitas 
142 BUMN sebesar Rp 617,004 miliar.

Selama periode tahun 2006-2010, pertumbuhan rata-rata tahunan 26 BUMN terbesar 
relatif tinggi, yaitu pendapatan sebesar 10,04% dan laba bersih sebesar 17,80%. 
Disamping itu, per 31 Maret 2011, 14 BUMN Tbk dari 26 BUMN terbesar memiliki 
kapitalisasi pasar sebesar Rp 812 triliun atau setara dengan 26% kapitalisasi 
pasar modal Indonesia.

Menurut Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, dengan besarnya kontribusi ke-26 
BUMN dan lingkup operasional yang sangat strategis pada perekonomian Indonesia, 
pengembangan ke 26 BUMN tersebut akan menjadi katalisator utama dalam mendukung 
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke