Mungkin bentar lagi perusahaannya dijual ke asing kayak Lapindo, hehehe...

Tp terus dibeli lagi pake nama lain, jadi ga usah tanggung jawab, tp 
perusahaannya tetap milik sendiri, kayak Lapindo.





>________________________________
> From: rezameutia <[email protected]>
>To: [email protected] 
>Sent: Monday, December 5, 2011 10:10 AM
>Subject: [proletar] Fw Kompasiana: Ada Bakrie di Balik Runtuhnya Jembatan Kukar
> 
>
>  
>
>http://hankam.kompasiana.com/2011/12/04/ada-bakrie-di-balik-runtuhnya-jembatan-kukar/
>
>Ada Bakrie di Balik Runtuhnya Jembatan Kukar
>
>Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan bahwa dari hasil penyelidikan 
>awal diketahui bahwa penyebab runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) 
>adalah rusaknya bagian koneksi kabel hanger dengan klem.
>
>Berdasarkan pengamatan, ternyata sebagian besar pin klem yang berfungsi 
>menyambung kabel utama denga hanger rusak. "Juga, ada beberapa lengan hanger 
>yang patah dan pin lengan hanger putus geser. Tim teknis PU melihat, 
>penyebabnya ada di sambungan (klem), " ujar Djoko (Jawa Pos, 3 Desember 2011).
>
>Dari mana, atau buatan pabrik manakah klem-klem tersebut?
>
>Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Direktur Utama PT Hutama 
>Karya Tri Widjayanto Joedosastro menjelaskan bahwa klem-klem yang dipakai di 
>Jembatan Kukar tersebut berasal dari pabrik PT Bakrie Tosanjaya. Pabrik baja 
>tersebut adalah salah satu anak perusahaan dari Grup Bakrie.
>
>"Kerusakan Jembatan Kutai Kartanegara terjadi pada bagian koneksi kabel hanger 
>dengan klem. Bagian koneksi dengan klem tersebut berasal dari pabrik Bakrie 
>Tosanjaya," katanya di Jakarta, 2 Desember 2011.
>
>Di Metro TV, 2 Desember 2011, juga memberitakan pernyataan Dirut Hutama Karya 
>ini.
>
>Bahwa Dirut PT Hutama Karya tersebut mengaku, ada puluhan klem penyangga kabel 
>utama dan kabel hanger yang dibeli dari PT Bakrie Tosan Jaya rusak sebelum 
>waktunya. Kerusakan klem diyakini sebagai salah satu penyebab runtuhnya 
>jembatan itu.
>
>Menurut Tri, saat dibeli dar PT Bakrie Tosan Jaya, secara fisik klem itu 
>terlihat sesuai dengan standar dan kriteria yang ditetapkan kontraktor. Dia 
>mengaku tidak mengerti, kenapa klem yang seharusnya bisa digunakan puluhan 
>tahun ke depan itu, tiba-tiba rusak.
>
>Sedangkan dari pihak Bakrie, Head of Public Relations PT Bakrie & Brothers 
>Tbk, Bayu Nimpuno, berjanji akan mempelajari informasi tersebut sebelum 
>mengambil sikap.
>
>Kalau benar-benar dapat dipastikan kerusakan bagian koneksi kabel hanger 
>dengan klem itu dikarenakan kualitas produk yang tidak memenuhi standar 
>keamanan tentu saja pihak Bakrie harus bertanggung jawab.
>
>Tetapi karena ini di Indonesia, maka yang namanya "seharusnya, atau harus, 
>bertanggung jawab", dalam kenyataannya, kalau yang "diharuskan" itu adalah 
>pihak yang mempunyai kekuatan (power) baik karena kekuatan uang, dan/atau 
>kekuasaan, maka akan berubah menjadi "Tidak harus bertanggung jawab".
>
>Contoh kongkrit adalah dalam kasus Lumpur Lapindo. Kebetulan pihak yang 
>seharusnya bertanggung jawab adalah dari pihak anak perusahaan Grup Bakrie 
>juga , tetapi karena – ya, itu tadi – karena Bakrie punya kekuatan besar baik 
>uang, maupun kekuasaan, maka faktanya adalah mereka tidak harus bertanggung 
>jawab.
>
>Hal ini semakin lengkap dan menyenangkan mereka karena di saat bersamaan 
>sampai sekarang punya Presiden yang lemah. Maka negara pun yang harus menerima 
>beban tanggung jawab tersebut, dengan membebankan sebagian besar beban 
>tanggung jawab tersebut kepada pihak pemerintah. Anggaran dari APBN pun 
>terpaksa dipakai. Pemerintah pun pusing tujuh keliling membangun berbagai 
>infrastruktur vital yang rusak diterjang lumpur panas Lapindo.
>
>Informasi tentang klem kabel yang rusak sebagai salah satu penyebab runtuhnya 
>Jembatan Kukar, dan bahwa bagian tersebut berasal dari pabrik anak perusahaan 
>Grup Bakrie , ternyata tidak ada beritanya di Kompas. Kenapa begitu? 
>Mudah-mudahan bukan karena ada unsur "Bakrie" di situ. Sebagaimana tempo hari 
>ketika media massa lainnya menggunakan istilah "Lumpur Lapindo" dalam 
>kasus-kasus lumpur panas yang menenggelamkan sebagai wilayah Kabupaten 
>Sidorajo itu, Kompas malah terkesan menghindari istilah tersebut, dengan 
>menggunakan istilahnya sendiri, "Lumpur Sidoarjo". Yang diberi singkatan 
>"Susi". 
>
>Ketika banyak yang protes, karena istilah tersebut, dianggap seolah-olah 
>hendak memenimalisir tanggung jawab pihak Bakrie. Seolah-olah lumpur petaka 
>itu tanggung jawabnya pada kabupaten Sidoarjo. Barulah Kompas menggunakan 
>sebutan yang sama: "Lumpur Lapindo". Karena munculnya lumpur panas dari perut 
>bumi Porong, Sidoaro itu, terkait erat dengan tanggung jawab PT Lapindo 
>Brantas (milik Grup Bakrie waktu itu) sebagai pelaksana pengeboran di lapangan.
>
>Sekarang, seolah terulang kembali, dengan skala yang jauh lebih kecil,namun 
>tidak bisa dipandang enteng ini: Runtuhnya Jembatan Kukar. Ternyata "Ada 
>Bakrie di Balik Runtuhnya Jembatan Kukar tersebut".
>
>Tapi, seandainya pun runtuhnya Jembatan Kukar penyebab utamanya, selain karena 
>tidak pernah dilakukan perawatan untuk memenuhi standar keamanan, adalah 
>karena kualitas bagian koneksi kabel hanger dengan klem itu di bawah standar 
>buatan PT. Bakrie Tosanjaya itu, maka mampukah, atau beranikah pemerintah 
>mendesak supaya mereka ikut bertanggung jawab? Karena mengingat bahwa ternyata 
>sebenarnya baru selesai jembatan itu dibangun sudah timbul masalah di bagian 
>ini.
>
>Sangat diragukan. Kalau dalam kasus sangat besar, Lumpur Lapindo saja Penguasa 
>SBY tidak berdaya di kaki Pengusaha Bakrie, apalagi dalam kasus yang jauh 
>lebih kecil daripada itu, runtuhnya Jembatan Kukar ini. Apalagi "hanya" 
>gara-gara klem. Lagi, apalagi hanya sebuah jembatan saja yang runtuh. 
>Sedangkan di Porong, Sidoarjo mereka "sukses" menenggelamkan ratusan desa dan 
>berbagai infrasruktur vital, termasuk jalan tol, dengan ribuan orang yang 
>mendadak kehilangan rumah dan mata pencahariannya.
>
>Sedangkan belasan orang yang tewas, termasuk satu keluarga yang terdiri dari 
>sepasang orangtua bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil, karena 
>runtuhnya jembatan itu, pasti tidak akan mampu menggugah perasaan baik 
>penguasa, maupun pengusaha macam begini.
>
>Lihat saja, selain sejak awal proyek ternyata diabaikan perawatannya, dan 
>diduga kuat terjadi praktik manipulasi dan korupsi di baliknya, setelah 
>malapetaka itu terjadi pun, para penguasa itu bukannya bahu membahu mengatasi 
>masalah, tetapi malah satu sama lain saling menyalahkan, lepas tangan.
>
>Kompas, 30 November 2011 mencatat: Djoko Murjanto, Direktur Jenderal Bina 
>Marga Kemneterian Pekerjaan Umum, mengatakan pada 28 November lalu, bahwa yang 
>harus bertanggung jawab adalah Pemerintah Kabupaten Kartanegara. Katanya, 
>"Pengawasan terhadap Jembatan Kartanegara bukan tugas Kemnetrian PU karena 
>jembatan tersebut merupakan milik Kabupaten Kutai Kartanegara".
>
>Lanjur Djoko, " Ada tanggung jawab kontraktor terhadap konstruksi dan 
>pemeliharaan, di mana masa pemeiiharaan setelah konstruksi biasa 1 atau 2 
>tahun saja. Tapi, jaminan terhadap konstruksinya 10 tahun. Jadi, PT Hutama 
>Karya masih diminta pertanggungjawabannya."
>
>Gubernur Kaltim, AwangFaroek Ishak: "Harus ada pihak bertanggung jawab 
>terhadap runtuhnya jembatan itu. Jembatan jika diperbaiki seharusnya ditutup."
>
>Kalau tahu begitu, kenapa waktu jembatan itu sedang diperbaiki, tetapi tidak 
>ditutup, Pak Gubernur ini tidak memberi peringatn seperti ini sejak awal?
>
>Didi Ramyadi, Kepala Dinas PU Kabupaten Kutai Kartanegara: "Jembatan 
>Kartanegara ambruk saat berusia 10 tahun. Usianya semestinya sampai 25 tahun."
>
>Ari Widiyantoro, Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya: "Kami sudah 
>melaksanakan proyek dan sudah diserahterimakan, jadi seharusnya sudah tidak 
>ada masalah. Tanggung jawab kami selesai setelah kontrak selesai"
>
>Rita Widyasari (jpnn.com)
>Irsal Kamaruddin, Presiden Direktur PT Bukaka Teknik Utama: "Dalam proyek 
>pemeliharaan Jembatan Kartanegara terdapat permintaan penggantian dan 
>pemeliharaan baut klem atas dan bawah jembatan. Bukaka hanya melakukan 
>pengencangan baut sesuai dengan permintaan pemeliharaan dalam kontrak senilai 
>lebih dari Rp 2 miliar."
>
>Sedangkan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, di Jawa Pos, pun tak mau 
>kalah dalam berkilah: Dia mengatakan bahwa soal perawatan Jembatan Kukar itu 
>adalah tanggung jawab pemerintah pusat. "Saya tidak tahu-menahu mengenai itu … 
>Saya sendiri tidak pernah pegang yang namanya baut jembatan, dan sebagainya." 
>(jpnn.com, 2 Desember 2011).
>
>Sebuah pernyataan yang sama sekali tidak menunjukkan mentalitas seorang 
>pimpinan yang baik, sekaligus tidak menunjukkan adanya rasa empati dan 
>simpatik terhadap korban.
>
>Jadi, apa yang bisa kita harapkan dari mereka? ***
>
>Sumber gambar klem/baut yang patah diambil dari:
>
>http://www.kaskus.us/showpost.php?p=564893164&postcount=652
>
>========
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke